Aku menyelamatkan wanita yang kucintai dan membiarkan istriku dibawa masuk ke gudang oleh para penculik.
Istriku tidak memohon saat kutinggalkan. Tapi siapa sangka, wanita yang selalu perhatian dan mengejar cintaku tiba-tiba berubah. Ternyata dia …..
Part 1
“Aku pilih dia. Lepaskan dia sekarang.”
Aku menunjuk wanita yang kucintai, tapi itu bukan istriku.
Dan di detik itu juga aku tau, aku baru saja menghancurkan sesuatu yang mungkin tak akan pernah bisa diperbaiki lagi.
Gudang tua itu sunyi, hanya suara kipas rusak yang berdecit di langit-langit. Dua wanita duduk terikat di kursi. Tangan mereka di belakang, kaki mereka di s e r e t tali plastik. Lampu menggantung tepat di atas kepala mereka, menciptakan bayangan ke j am di wajah masing-masing.
Yang pertama, gaun krem lembut, rambut panjang terurai berantakan. Wajahnya pucat, tubuhnya gemetar, matanya merah seolah sudah menangis sejak lama.
Alena, pacarku.
Yang kedua, mengenakan blus sederhana yang kini kotor. Rambutnya juga berantakan, pipinya lebam tipis, tapi punggungnya tetap tegak.
Nayra, istriku.
Tiga tahun.
Tiga tahun dia menjadi istriku, tiga tahun dia bangun lebih pagi dariku, menyiapkan sarapan bahkan ketika aku tak pernah menyentvhnya.
Tiga tahun dia menungguku pulang larut malam, menyodorkan handuk tanpa pernah bertanya aku dari mana.
Tiga tahun dia mengurus rumah, pakaianku, oba-tku saat demam, bahkan kopi yang selalu dia hafal takarannya.

Dan tiga tahun itu aku tetap memilih wanita lain.
“Cepat!” bentak salah satu pria bertubuh besar.
“Satu orang satu miliar. Kau punya u a n g, kan? Jangan buang waktu.”
Aku memang punya u a n g.
Bahkan lebih dari cukup untuk menyelamatkan keduanya. Namun, aku tidak melakukannya.
Entah karena ego.
Entah karena aku terlalu terbiasa menganggap Nayra akan selalu ada atau karena aku tak pernah benar-benar melihatnya.
Tanganku mengangkat koper hitam.
“Ini satu miliar.”
Pria itu membuka koper, memeriksa sekilas, lalu tersenyum puas.
“Yang mana?”
Aku menatap mereka berdua.
Alena terisak. “Rayyan … aku takut … t-tolong … aku nggak kuat .…”
Tubuhnya gemetar, kepalanya menunduk seperti hampir pingsan.
Sementara Nayra hanya diam.
Matanya menatapku lurus. Tidak memohon, tidak marah, tidak bertanya seolah dia sudah tau jawabannya.
Aku mengalihkan pandangan.
“Aku pilih dia.”
Aku menunjuk Alena.
Suara tawa kecil terdengar dari para pencvlik.
“G i l a! Istri ditinggal.”
Mereka melepas Alena. Wanita itu langsung berlari tertatih ke arahku, tangannya memelukku erat, tubvhnya masih gemetar.
“Aku pikir … aku m a t i …,” bisiknya.
Aku menepuk punggungnya, tapi mataku tanpa sadar kembali ke arah Nayra.
Dia masih duduk di kursi dalam keadaan masih terikat. Dan sekarang dia tersenyum.
Namun air matanya jatuh satu per satu tanpa suara.
Salah satu pencvlik menarik rambut Nayra pelan. “Kalau mau yang ini, tambah satu miliar lagi.”
Aku terdiam.
Aku bisa.
Aku sangat bisa.
U a n g itu bahkan bukan masalah. Namun aku hanya berkata, “Aku kembali.”
Nayra mengangguk pelan.
Tidak ada protes.
Tidak ada kata.
Hanya anggukan kecil yang terasa seperti perpisahan.
Aku menggenggam tangan Alena dan mulai berjalan keluar.
Langkahku terasa aneh, terasa berat. Namun aku tetap melangkah.
Satu langkah.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Sampai akhirnya aku berhenti.
Entah kenapa.
Aku menoleh ke belakang.
Dan pemandangan itu membuat jantungku berhenti berdetak.
Para pencvlik sudah berdiri mengelilingi Nayra.
Satu orang berdiri di belakang kursinya, satu lagi menarik dagunya ke atas, yang lain tertawa pelan sambil mendekat.
Nayra melihatku.
Dia tersenyum.
Senyum yang sama seperti tadi. Namun kali ini … matanya benar-benar basah.
Air mata jatuh pelan menyusuri pipinya.
Dia tidak berteriak.
Tidak memohon.
Tidak menyuruhku kembali.
Dia hanya menatapku dan tersenyum.
Tanganku mengepal, kakiku hampir melangkah kembali. Namun, Alena menceng-kram lenganku erat.
“Rayyan ayo, aku takut,” bisiknya lemah.
Dan aku .…
Aku kembali berbalik. Berjalan keluar meninggalkan istriku di belakang, meninggalkan senyum terakhirnya.
Dan tepat sebelum pintu gudang tertutup, aku mendengar suara kursi Nayra dise-ret kasar diikuti suara tawa para pria itu.
Lalu ….