“Apa benar ini alamat rumah Pak Herman? Ada kiriman barang dari kota, Neng.”
Belum sempat aku menjawab, Ibu dan Teh Sekar sudah melesat keluar. Mata mereka berbinar melihat sebuah benda yang ditutupi plastik transparan di atas mobil bak itu. Sebuah sepeda listrik model terbaru berwarna pearl white yang tampak sangat mewah.
“Ya ampun, ini pasti dari Bagas!” pekik Ibu histeris. “Sekar, lihat! Calon suamimu perhatian banget, tahu aja kalau motormu sering boros bensin!”
Teh Sekar tersenyum lebar, wajahnya tampak sangat bangga. “Ih, A Bagas mah gitu, padahal Sekar nggak minta, lho.”
“Eh, Jeng Sumi! Sini, Jeng!” Ibu memanggil tetangga kami yang kebetulan lewat. “Lihat nih, kiriman dari calon menantu saya yang di kota. Sepeda listrik, Jeng! Biar Sekar nggak repot antri beli bensin!”
Dalam sekejap, halaman rumah kami penuh dengan ibu-ibu. Mereka mengerumuni sepeda itu layaknya melihat berlian jatuh dari langit.
“Wah, mahal ini mah, Jeng. Bisa sepuluh jutaan lebih,” celetuk Bu Sumi sambil menoleh ke arahku yang masih memegang sapu lidi. “Kalau Raras dapet apa dari calonnya yang kemarin? Mereka adik-kakak ‘kan?”
“Halah, Jeng.” Ibu menyahut dengan nada meremehkan. “Jeng Sumi ‘kan tahu sendiri kemarin cuma dikasih batu akik. Paling nanti kirimannya juga menyan atau keris.”
Seketika gelak tawa ibu-ibu itu pecah. Aku hanya bisa meremas gagang sapu, menahan sesak. Ingin rasanya aku masuk ke kamar, tapi mataku tak sengaja menangkap sebuah kartu kecil yang terselip di setang sepeda itu.
Begitu barang diturunkan, aku mendekat. Namun, Teh Sekar dengan cepat menyambar kartu itu.
“Apa tulisannya, Kar? Pasti kata-kata sayang, ya?” goda Ibu.
Teh Sekar membaca kartu itu pelan.
“Semoga ini bisa membantumu bergerak lebih cepat ke masa depan. Jangan menoleh ke belakang lagi.” Dia tersenyum malu-malu. “Tuh kan, A Bagas emang paling tahu cara bikin baper.”
“Tapi, Teh”. Aku memberanikan diri bicara. “Itu ‘kan belum jelas siapa pengirimnya. Kalau ternyata bukan dari Bagas, gimana? Bisa aja punya tetangga kita yang habis beli ‘kan?”
“Kamu nggak denger, tadi? Rumah Bapak Herman. Iri bilang, Ras!” sentak Ibu. “Mending kamu cuci piring di dapur sana. Jangan di sini, ngerusak pemandangan aja.”

“Iri? Kayak gitu doang, mah, aku juga bisa beli.”
“Halah, beli pake apa?!” sentak Ibu. “Kerjaan kamu cuman rebahan di kamar. Punya uang dari mana?!”
Aku membuang napas, lantas masuk dengan perasaan hancur.
Di dalam rumah, aku bertemu Bapak yang sedang menyeruput kopi. Beliau hanya melirikku sekilas, lalu kembali fokus pada korannya seolah aku tidak ada.
Tiba-tiba, ponselku bergetar. Sebuah pesan WhatsApp dari nomor asing masuk.
[Gimana sepedanya? Bagus, nggak? Sengaja aku pilih warna putih biar kalau Mbak pakai daster putih di malam hari, tetangga nggak ngira kuntilanak lagi jalan-jalan, tapi malah ngira bidadari naik awan.]
[Bercanda, maaf, ya, kemarin cuman kasih batu akik.]
Jantungku hampir copot. Aksa?
Aku segera berlari ke jendela, mengintip ke arah halaman di mana Teh Sekar masih sibuk pamer ke ibu-ibu. Jadi … sepeda itu dari Aksa? Untukku?
Baru saja aku akan membalas pesan itu, suara melengking Teh Sekar terdengar dari luar.
“A Bagas! Iya, A. Makasih, ya, kirimannya. Sekar suka banget! Heem, nanti kita jalan-jalan ke kebun pakai ini, ya!”
Dia sedang menelepon Bagas? Dan Bagas mengiyakan kalau itu darinya?
Tanganku gemetar. Bagas benar-benar tak tahu malu, dan Aksa, kenapa dia tidak menulis namanya di kartu itu? Apa dia sengaja membiarkanku dipermalukan seperti ini?
Tiba-tiba, suara motor butut terdengar berhenti di depan rumah. Aksa datang dengan kaos oblong dan celana pendek, gayanya benar-benar seperti gelandangan dibanding Bagas yang selalu necis.
“Pagi, calon Bapak mertua! Pagi, calon Ibu mertua yang galak!” teriaknya tanpa rasa bersalah.
Ibu mendengus kencang. “Ngapain kamu ke sini lagi? Lihat tuh, kakakmu, Bagas, kirim sepeda listrik buat Sekar. Kamu bawa apa? Batu akik lagi?”
Aksa melirik sepeda listrik yang sedang dikerubungi itu, lalu menatapku yang berdiri di balik pintu. Dia mengedipkan sebelah matanya, lalu tersenyum aneh.
“Oh, sepeda itu? Wah, bagus, ya. Bang Bagas baik banget bisa kirim barang sebagus itu,” ucap Aksa dengan nada yang menurutku sangat menyindir.
Aku menatapnya tajam, menuntut penjelasan, tetapi Aksa malah sibuk menyalami bapakku dan bertanya, “Pak, ada kopi nggak? Haus nih habis dorong motor dari depan gang.”
Aku menggeram. Lelaki ini benar-benar menyebalkan.
Aksa menyeruput kopi hitam milik Bapak tanpa permisi, lalu matanya kembali melirik ke arah sepeda listrik yang masih dipamerkan Teh Sekar di halaman.
“Oh iya, Gas—eh, Bang Bagas,” panggil Aksa dengan nada santai saat melihat Bagas baru saja turun dari mobilnya dan menghampiri Teh Sekar dengan wajah sok pahlawan.
Bagas menoleh, wajahnya terlihat gugup saat melihat Aksa ada di sana. “Apa?”
“Itu sepedanya, udah dicek belum remnya?” tanya Aksa sambil tersenyum miring. “Soalnya itu sepeda custom khusus. Kunci pengamannya pakai sistem remote jarak jauh. Kalau yang pegang remotenya bukan pemilik asli, biasanya, sih, bakal bunyi sendiri kalau dipaksa.”
Bagas terlihat mengernyit. “Ya, pastilah gue tahu. Kan gue yang beli. Remotenya … remotenya masih di toko, nanti dikirim.”
Aksa manggut-manggut, lalu merogoh saku celana pendeknya yang dekil. Dia mengeluarkan sebuah benda kecil berbentuk kunci mobil mewah dengan logo yang tidak kukenali.
Pip! Pip!
Seketika, sepeda listrik yang sedang diduduki Teh Sekar mengeluarkan suara alarm yang sangat nyaring dan lampunya berkedip-kedip liar. Teh Sekar terlonjak kaget sampai hampir terjatuh.
Ibu-ibu kampung langsung menutup telinga. Suasana jadi kacau.
“Lho, kok bunyi, A?!” teriak Teh Sekar panik. “A Bagas, matiin! Malu dilihat orang, A!”
Bagas gelagapan. Dia menekan-nekan ponselnya seolah-olah sedang mengontrol sesuatu, tapi alarm itu tetap menjerit memekakkan telinga. Wajah Bagas memerah padam, keringat dingin mulai mengucur di pelipisnya.
Aksa berjalan santai menghampiriku yang masih terpaku di pintu, lantas kemudian menyodorkan benda kecil itu ke tanganku.
“Mbak Rarasati, coba tekan tombol yang gambar gembok terbuka. Kasihan, tuh, Bang Bagas, muka sombongnya udah mau meledak gara-gara ketahuan bohong.”
Aku menatap Aksa, lalu menatap remote di tanganku, dan terakhir menatap Bagas yang sudah mati kutu.