Aku Hanya Diam Saat Tunanganku Membela Sekretarisnya di Depan Seluruh Keluarga di Manila
Dia bilang pikiranku sempit dan aku suka mengadu pada orang tua.
Tapi dia tidak tahu bahwa tiga jam lagi… aku akan meninggalkan Filipina untuk selamanya.
Di pesta ulang tahun ke-70 taipan properti terkenal di Makati, Alejandro Villanueva, Caleb Santos datang hampir satu jam terlambat.
Dan bukan cuma itu.
Dia juga membawa sekretaris muda yang cantik dan lembut.
“Kamu duduk dulu di meja sebelah ya, Vy,” katanya santai sambil menarik kursi untuk perempuan itu. “Mara pemalu kalau di tengah banyak orang. Dia sudah terbiasa duduk di sampingku.”
Aku tidak mengatakan apa-apa.
Aku hanya berdiri perlahan dari kursi yang disediakan untuk calon istri pewaris keluarga Santos… lalu pindah duduk di samping Kakek Alejandro yang jelas-jelas mulai tidak senang.
Caleb sempat terdiam.
Beberapa detik dia menatapku sebelum akhirnya menyuruh Mara duduk di tempatku seolah tidak terjadi apa-apa.
Ponselku bergetar.
[Kamu ngambek lagi? Aku kan cuma ngajak Mara jalan-jalan. Jangan mikir macam-macam.]
Aku tidak membalas.
Aku hanya menyesap red wine dengan tenang.
Tak lama kemudian, satu pesan lagi masuk.
[Setelah pesta selesai, temani aku ukur wedding ring baru di Greenbelt. Aku pesan khusus buat kamu.]
Aku tersenyum tipis.
Dari meja seberang, Caleb melihat senyumku lalu ikut tersenyum.
Dia tidak tahu…
Aku tidak akan pernah memakai cincin itu.
Lima belas menit sebelum dia datang ke pesta ini, pembicaraanku dengan Kakek Alejandro sudah selesai.
Pertunangan kami juga sudah selesai.
Tiga jam lagi, aku akan terbang ke Singapura.
Setelah malam ini…
tidak akan ada lagi “kita.”
1
“Kakek, happy birthday.”
Dengan santai Caleb mengangkat gelas wine-nya.
“Oh iya, ini Mara De Leon, sekretaris baruku. Dia pintar, jadi aku ajak ke sini sekalian buat mengucapkan selamat.”
Mara langsung berdiri.
“Happy birthday, Sir Alejandro.”
Tapi pria tua itu tidak tersenyum.
Dia meletakkan gelasnya cukup keras.
“Caleb.”
Suasana langsung membeku.
“Sebenarnya rumah ini kamu anggap apa?”
Wajah Mara langsung pucat.
“Kamu membawa perempuan sembarangan ke sini sementara tunanganmu sendiri kamu abaikan?”
Mata Mara langsung memerah.
Dia menggigit bibir sambil menatap Caleb seperti meminta pertolongan.
Aku tetap makan dengan tenang.
Tapi Caleb justru langsung menatapku tajam.
“Kamu ngomong apa sama Kakek?”
“Anak itu bahkan tidak menyebut namamu,” jawab Alejandro dingin.
“Aku belum terlalu tua untuk melihat kebodohan yang kamu lakukan.”
Wajah Caleb menggelap.
“Aku dan Mara cuma pergi ke Cebu untuk urusan kerja.”
Aku tertawa kecil.
Kerja?
Hanya karena Mara mengunggah story bahwa dia ingin pergi ke pantai di Cebu…
Caleb membatalkan business deal dengan keluargaku di Quezon City demi memindahkan meeting ke Cebu.
Seluruh lingkaran bisnis di Manila tahu itu.
Termasuk kedua orang tuaku.
Dan itulah alasan mereka akhirnya setuju ketika aku memutuskan membatalkan pernikahan.
“Apa yang lucu?” tanya Caleb dingin.
Aku menatapnya lurus.
“Kamu benar-benar pikir tidak ada yang tahu kenapa venue meeting itu dipindahkan?”
Ekspresinya langsung menegang.
“Vy, berhenti bersikap cemburuan.”
“Itu keputusan perusahaan. Wajar kalau sekretaris ikut business trip.”
Aku menatapnya lama.
Lalu postingan Mara beberapa hari terakhir langsung muncul lagi di kepalaku.
[Kira-kira harus berdoa di gereja mana supaya dapat bos setampan ini?]
[Aku cuma bilang ingin ke Cebu, langsung dia ubah jadwalnya.]
[Kami cuma booking satu kamar di beach hotel… tapi dia nggak protes kok.]
Foto dua gelas wine di balkon hotel bahkan masih dipin di profilnya.
Dan di pantulan pintu kaca…
terlihat bayangan seorang pria.
Kolom komentarnya penuh.
“Bosmu suka sama kamu.”
“Rebut aja!”
“Bukannya dia sudah punya tunangan?”
Tapi Mara me-like semuanya satu per satu.
Dan selama lima hari mereka bersama…
tidak satu pun pesanku dibalas Caleb.
Aku cuma menelepon sekali.
Tapi yang mengangkat justru Mara.
“Mau bicara dengan Sir Caleb?”
“Dia masih mandi.”
2
Di detik itulah…
aku mengakhiri hubungan kami yang sudah berjalan dua belas tahun.
Mungkin Caleb sadar dia sudah keterlaluan.
Dia mendekat lalu memegang bahuku seperti biasanya.
“Hari ini ulang tahun Kakek. Jangan bikin drama.”
“Aku bawa oleh-oleh buat kamu dari Cebu.”
Aku perlahan menyingkirkan tangannya.
“Aku nggak butuh.”
“Mulai sekarang… aku juga nggak peduli lagi soal hidupmu.”
Setelah itu aku membungkuk hormat pada Alejandro.
“Kakek, saya pamit dulu.”
Tatapan pria tua itu langsung melembut.
“Kalau bajingan itu menyakitimu lagi, kembali ke sini.”
Dadaku terasa sedikit sesak.
Aku hanya tersenyum tipis.
Sementara Caleb malah mengerutkan kening melihat kami.
Beberapa saat kemudian dia malah tertawa kecil seolah sudah mengambil kesimpulan sendiri.
“Kakek terlalu memanjakannya.”
“Makanya dia jadi terlalu posesif.”
Alejandro tidak menjawab.
Dia hanya berdiri lalu pergi.
Mara berbicara pelan.
“Miss Vy… kalau saya melakukan kesalahan, saya minta maaf.”
“Saya cuma karyawan…”
Aku mengangkat tangan menghentikannya.
“Kamu nggak perlu menjelaskan.”
“Kalau kamu benar-benar peduli pada Caleb… kenapa nggak sekalian saja rebut dia?”
Wajah Mara langsung pucat.
“Bukan begitu maksudnya—”
“Sudah cukup.”
Caleb langsung membelanya.
“Vy, jangan memakai statusmu untuk merendahkan orang lain.”
“Mara baik. Dia nggak seperti yang kamu pikirkan.”
Aku memandangnya dalam diam.
Pria yang kucintai sepanjang masa mudaku.
Pria yang dulu rela berlari di tengah hujan hanya untuk membelikanku taho hangat saat aku demam.
Pria yang begadang semalaman membuat ayunan kayu untukku di villa kami di Tagaytay.
Tapi sekarang…
rasanya aku bahkan tidak mengenalnya lagi.
Aku berjalan ke halaman belakang.
Udara malam Manila terasa dingin.
Langkahku berhenti di ayunan tua dekat taman.
Itu hadiah dari Caleb saat kami berusia delapan belas tahun.
“Ini cuma buat kamu.”
“Bahkan Kakek nggak boleh duduk di sini.”
“Serius?”
“Iya.”
“Kalau begitu ukir namaku.”
“Anything for Princess Vy.”
Kenangan itu bahkan belum hilang—
“Wow! Cantik banget!”
Tiba-tiba Mara berlari lalu duduk di ayunan itu.
“Sir Caleb! Dorong aku dong!”
Caleb sempat terdiam.
Dia menatapku.
Mungkin dia menunggu aku cemburu seperti dulu.
Tapi aku hanya berdiri diam.
Tanpa emosi.
Beberapa detik kemudian, Caleb tersenyum miring.
“Oke.”
Dia berdiri di belakang Mara.
“Siap?”
Kalimat yang sama.
Tapi kali ini terasa sangat berbeda di hatiku.
“Vy, mau lebih tinggi lagi?”
“Mau!”
“Kamu nggak takut?”
“Kan ada kamu.”
…
“Sir Caleb! Tinggi banget!”
Mara tertawa bahagia.
“Makanya kubilang pegangan.”
Di bawah cahaya lampu kuning…
mereka terlihat seperti pasangan sungguhan.
Aku menunduk melihat ponselku.
Kubuka foto yang baru dikirim asisten Daddy beberapa menit lalu.
Bandara NAIA.
Dan pria yang baru turun dari first class cabin itu…
adalah Adrian Lim.
Pewaris Lim Holdings.
Pria yang ingin dikenalkan kedua keluarga kami padaku setelah pertunangan ini dibatalkan.
Ada pesan lain menyusul:
[Mr. Adrian sudah tiba di Manila. Beliau sendiri yang akan menjemput Miss.]
Dan tepat pada saat itu—
teriakan keras terdengar dari dalam mansion.
“Sir Caleb!”
“Ada seseorang masuk ke kamar Anda di lantai dua!”
…“Ada seseorang masuk ke kamar Anda di lantai dua! Dia membongkar brankas Anda!”
Teriakan pelayan itu memecah tawa manja Mara di atas ayunan. Caleb seketika menghentikan dorongannya. Wajahnya berubah panik, dan dia langsung berlari masuk ke dalam mansion, diikuti oleh Mara yang terengah-engah mengejarnya.
Aku tidak ikut berlari. Aku hanya berjalan santai di belakang mereka.
Ketika kami tiba di kamar Caleb di lantai dua, ruangan itu sudah berantakan. Namun, tidak ada pencuri di sana. Yang ada hanyalah asisten pribadi Daddy-ku, bersamaku dua orang pengacara keluarga Villanueva dan Santos. Di tangan mereka, ada tumpukan dokumen yang baru saja dikeluarkan dari brankas pribadi Caleb.
“Apa-apaan ini?!” bentak Caleb, matanya menyala penuh amarah saat melihat asisten Daddy-ku. “Vy! Apa maksudnya ini?! Kenapa orang-orangmu berani menyentuh barang-baharku?!”
Aku berdiri di ambang pintu, melipat kedua tanganku di dada dengan tenang.
“Itu bukan barang-mu, Caleb,” kataku datar. “Itu adalah seluruh dokumen kerja sama investasi, hak paten teknologi, dan sertifikat tanah di Bonifacio Global City yang selama ini diletakkan di atas namamu atas jaminan pertunangan kita.”
Caleb tertegun, wajahnya mendadak kaku. “Apa maksudmu?”
Salah satu pengacara maju selangkah, membenulkan letak kacamatanya. “Mr. Santos, berdasarkan klausul nomor 14 dalam draf perjanjian pranikah dan kontrak investasi bersama antara keluarga Villanueva dan Santos: Jika hubungan pertunangan batal sebelum pernikahan resmi digelar, maka seluruh aset, dana suntikan, dan hak kelola yang bersumber dari pihak Miss Vy harus dikembalikan secara mutlak dalam waktu 1×24 jam.“
“Batal?!” Caleb tertawa sumbang, meski matanya menyiratkan kepanikan yang mulai menjalar. “Vy, drama apa lagi ini? Hanya karena aku membawa Mara ke pesta Kakek, kamu sampai membawa pengacara dan mengancam membatalkan pernikahan? Jangan kekanak-kanakan!”
“Ini bukan ancaman, Caleb. Ini eksekusi,” jawabku sambil melirik jam tangan. Dua jam empat puluh lima menit lagi sebelum pesawatku lepas landas.
Mara yang berdiri di belakang Caleb mencoba angkat bicara, suaranya bergetar sok polos. “Miss Vy, kalau ini karena saya… saya bersedia mengundurkan diri dari perusahaan. Tolong jangan hancurkan bisnis Sir Caleb…”
“Diam, Mara,” potongku tanpa menoleh padanya. “Kamu terlalu tinggi menilai dirimu sendiri. Kamu bukan alasan aku menghancurkan Caleb. Caleb-lah yang menghancurkan dirinya sendiri sejak dia berpikir bahwa posisinya di atas langit Manila adalah karena kehebatannya sendiri, bukan karena aku yang menopangnya.”
Aku menatap Caleb untuk terakhir kalinya.
“Dua belas tahun, Caleb. Aku memberikan seluruh masa mudaku, koneksi keluargaku, dan seluruh modal yang kamu butuhkan untuk membangun Santos Corp hingga sebesar ini. Tapi kamu malah menggunakan uang dan fasilitas dari keluargaku untuk memanjakan sekretaris yang mandi di kamar hotelmu di Cebu.”
“Vy, aku bisa jelaskan soal Cebu! Itu cuma bisnis!” Caleb melangkah maju, mencoba meraih tanganku. Wajahnya yang tadinya angkuh kini dipenuhi rasa takut yang nyata. Dia tahu betul, tanpa sokongan keluargaku, Santos Corp hanyalah cangkang kosong yang terlilit utang bank.
Aku mundur selangkah, menghindari sentuhannya. “Simpan penjelasanmu untuk sidang kebangkrutanmu besok pagi. Semua dana investasi dari keluargaku ditarik malam ini juga.”

Bandara Internasional Ninoy Aquino (NAIA): Pukul 23.15
Hujan gerimis mulai membasahi kaca-kaca besar Bandara NAIA saat mobilku tiba di area keberangkatan VIP Drop-off.
Begitu pintu mobil dibuka, seorang pria bertubuh tegap dengan setelan jas hitam yang rapi sudah berdiri menyambutku, memegang payung untuk menghalau rintik air. Wajahnya tegas, dengan garis rahang yang kuat dan mata yang memancarkan kecerdasan mutlak.
Adrian Lim.
“Selamat malam, Miss Vy,” suara baritonnya terdengar tenang dan menenangkan di tengah gemuruh badai di hatiku. “Semua barang Anda sudah masuk ke dalam kabin jet pribadi. Kita bisa berangkat kapan saja Anda siap.”
Aku menatapnya, lalu tersenyum—senyuman tulus pertama yang kurasakan setelah sekian lama. “Terima kasih sudah menjemputku, Mr. Lim.”
“Panggil Adrian saja,” sahutnya sambil membimbingku masuk ke dalam gedung terminal. “Keluarga kita di Singapura sudah menunggu. Dan… aku sudah menyiapkan tim hukum terbaik untuk mengurus sisa-sisa pembersihan asetmu di Manila. Kamu tidak perlu memikirkan bajingan itu lagi.”
Tepat saat kami berjalan menuju gerbang imigrasi khusus, ponsel di tas tanganku bergetar tanpa henti. Layarnya menyala, menampilkan puluhan panggilan tak terjawab dan ratusan pesan teks dari Caleb.
[Vy, tolong angkat! Aku salah! Aku sudah memecat Mara malam ini juga!]
[Vy, Kakek Alejandro mengusirku dari mansion! Bank baru saja membekukan rekening perusahaan!]
[Kamu di mana, Vy?! Tolong jangan tinggalkan aku! Aku mencintaimu, aku mohon kembali…]
Aku berhenti melangkah sejenak. Aku melihat ponsel itu, lalu melihat ke arah luar jendela besar, menatap gemerlap lampu kota Makati yang perlahan mulai memudar di balik kabut hujan.
Kota ini menyimpan seluruh kenanganku tentang pria yang dulu sangat kucintai. Pria yang membuatkan ayunan kayu untukku di Tagaytay, pria yang dulu menghangatkan tanganku saat kedinginan. Tapi pria itu sudah lama mati, digantikan oleh sosok asing yang penuh keangkuhan.
Dengan ibu jari yang mantap, aku menekan tombol block pada nomor Caleb, lalu mengeluarkan kartu SIM-ku dan menjatuhkannya ke dalam tempat sampah terdekat.
“Ada yang tertinggal?” tanya Adrian lembut yang menyadari langkahku terhenti.
Aku menoleh padanya, menghirup udara malam yang bersih, dan menggeleng kuat. “Tidak ada. Semuanya sudah selesai.”
Kami melangkah masuk ke dalam area boarding. Di belakangku, Manila dan seluruh masa lalunya tertinggal. Dan di depanku, bersama pria yang menghargaiku di sampingnya, sebuah lembaran baru yang jauh lebih cerah di Singapura telah menanti.
Tiga jam kemudian, roda pesawat terangkat dari landasan, membawa terbang seluruh sisa hidupku yang lama menuju langit yang baru.