Posted in

Ketika Anakku Meninggal Karena Disembunyikan oleh Suamiku yang Miliarder, Dia Justru Menggelar Pesta Rp34 Miliar untuk Anak Perempuan Lain—Tapi Dia Tidak Tahu, Anakku Meninggalkan Sesuatu yang Akan Menghancurkan Kerajaannya

Ketika Anakku Meninggal Karena Disembunyikan oleh Suamiku yang Miliarder, Dia Justru Menggelar Pesta Rp34 Miliar untuk Anak Perempuan Lain—Tapi Dia Tidak Tahu, Anakku Meninggalkan Sesuatu yang Akan Menghancurkan Kerajaannya

Pada malam Tahun Baru, aku hanya ingin membuat anakku yang sakit parah merasa bahagia.

Walau cuma satu kembang api kecil. Walau cuma satu cahaya di langit agar dia merasa dunia belum melupakannya.

Tapi suamiku yang miliarder, Adrian Monteverde, hanya menatapku seperti aku sampah di lantai.

“Anak itu pantas melihat fireworks?” tanyanya dingin. “Mira, kalau kamu keluar dari rumah ini untuk menemuinya, aku akan menghentikan semua bantuan yang tersisa untuk rumah sakit.”

Dia tidak bercanda.

Aku sudah tahu itu sejak lama.

Namaku Mira Salcedo-Monteverde, istri sah salah satu pebisnis terkaya di Makati. Di atas kertas, aku adalah Mrs. Monteverde. Dalam kehidupan nyata, kedudukanku bahkan lebih rendah dari pembantu di rumahku sendiri.

Anak kami, Liam, tujuh tahun, tubuhnya lemah sejak lahir. Dulu, sebelum ada perempuan lain di antara kami, Adrian berjanji akan melakukan apa pun agar putra kami tetap hidup.

Tapi sejak cinta pertamanya, Celina Aragon, kembali ke Filipina, semuanya berubah.

Celina adalah perempuan yang katanya tidak pernah bisa dia lupakan.

Dan ketika perempuan itu melahirkan seorang bayi perempuan bernama Amara, Liam tiba-tiba menjadi kesalahan terbesar dalam hidupnya.

“Aku tidak punya anak selemah itu,” katanya berkali-kali. “Kalau dia benar-benar Monteverde, dia akan bertahan.”

Tapi bagaimana anak yang hampir tidak bisa bernapas bisa bertahan?

Malam itu, aku berlutut di lantai marmer mansion kami di Forbes Park, memegang sekotak kecil fireworks murahan yang kubeli dari sisa uang ongkos.

“Adrian, tolong,” bisikku hampir tak terdengar. “Liam cuma ingin melihat fireworks dari jendela rumah sakit. Aku nggak akan meminta apa pun lagi. Aku cuma mau menemuinya.”

Adrian duduk santai di sofa sambil memegang segelas wine. Di TV, ada siaran langsung persiapan pesta mewah perayaan satu bulan Amara di hotel bintang lima di BGC.

Nama bayi itu terpampang di semua banner.

Wajah Celina muncul di setiap wawancara.

Dan aku, istri sahnya, berlutut seperti pencuri.

Adrian berdiri. Dia berjalan mendekat perlahan lalu menginjak kotak fireworks itu sampai hancur.

“Kamu tidak pergi ke mana-mana.”

“Dia anakmu,” kataku dengan suara gemetar.

Tiba-tiba dia tertawa. Tidak ada kehangatan. Tidak ada belas kasihan.

“Anakku?” Dia membungkuk hingga wajahnya hampir menyentuhku. “Anakku sedang berada di BGC sekarang, memakai gelang emas dan dipuji seluruh kalangan elite. Anak yang di rumah sakit itu? Itu bebanmu.”

Sebelum aku sempat menjawab, dia memberi isyarat pada dua bodyguard.

Mereka memegang kedua lenganku.

“Ajari dia supaya patuh,” perintah Adrian.

Aku bahkan tidak ingat berapa kali tubuhku jatuh ke lantai. Yang kuingat hanya suara tangisku sendiri, nyeri di kakiku, dan dinginnya lantai basement tempat mereka mengunciku.

Setiap hari ada makanan hampir basi yang diantar.

Setiap hari ada pelayan yang memandangku seperti orang gila.

Setiap hari aku menelepon rumah sakit memakai ponsel lama yang kusembunyikan di dalam bantal robek.

“Mrs. Monteverde,” kata seorang perawat suatu sore dengan suara gemetar, “putra Anda harus segera dioperasi. Obat saja tidak cukup lagi.”

“Berapa biayanya?” tanyaku.

“Deposit lima ratus ribu peso harus dibayar hari ini juga.”

Aku terduduk di sudut ruangan gelap.

Lima ratus ribu peso.

Bagi Adrian, itu cuma harga satu botol wine mahal.

Bagiku, itu nyawa anakku.

Aku mencoba meneleponnya lebih dari tiga puluh kali. Tidak dijawab. Ketika akhirnya dia mengangkat telepon, aku mendengar musik, tawa, dan suara Celina di belakangnya.

“Adrian, tolong,” nafasku nyaris habis. “Liam kritis. Dia butuh operasi. Anggap saja pinjaman. Potong dari apa pun yang kamu mau. Dia anakmu.”

Beberapa detik hening.

Aku pikir mungkin masih ada sedikit sosok ayah di dalam dirinya.

Tapi yang kudengar hanya helaan napas penuh kesal.

“Aku nggak punya waktu untuk dramamu.”

“Dia akan mati.”

“Kalau dia mati, masalahnya selesai.”

Rasanya seperti ada sesuatu meledak di dadaku.

“Adrian…”

“Dengar, Mira. Kalau kamu memakai namaku lagi di rumah sakit untuk meminta uang, aku akan mempermalukanmu di seluruh negeri. Dan kalau kamu pergi ke sana, aku akan menutup akun anak itu. Coba saja.”

Lalu dia memutus telepon.

Malam itu, aku merangkak keluar dari basement.

Aku bahkan tidak bisa berjalan normal. Kakiku bengkak, tanganku gemetar, tapi rasa sakit sudah tidak terasa lagi. Hanya ada satu hal di pikiranku.

Liam.

Aku tiba di rumah sakit di Quezon City dalam keadaan basah kuyup karena hujan, membawa ₱1.200 hasil menjual darah dan beberapa perhiasan yang kusimpan diam-diam.

Tapi di ruang emergency, yang menyambutku hanyalah suara monitor panjang tanpa denyut.

Tidak ada detak jantung.

Tidak ada napas.

Tidak ada anak kecil yang tersenyum sambil berkata, “Mama, aku nggak apa-apa.”

Liam terbaring di tempat tidur, sangat kurus, sangat pucat, seperti hanya tertidur karena terlalu lelah.

Aku mendekat perlahan.

“Liam?” bisikku.

Tidak ada jawaban.

Aku menyentuh tangannya. Dingin.

“Nak, Mama sudah datang.”

Di situlah aku runtuh.

Aku tidak tahu berapa lama aku menangis. Aku tidak tahu berapa banyak perawat mencoba mengangkatku. Yang kutahu, beberapa menit setelah anakku meninggal, ponselku bergetar.

Adrian.

Aku mengangkatnya.

“Kamu di mana?” bentaknya. “Keluarga kami mau berangkat ke hotel. Celina butuh asisten untuk mengurus bayi. Cepat pulang.”

Aku menatap wajah anakku yang sudah tidak bernyawa.

“Aku nggak akan pulang lagi,” jawabku.

“Drama apa lagi ini?”

“Liam sudah meninggal.”

Sunyi.

Satu detik.

Dua detik.

Lalu dia berkata dengan dingin, “Kalau dramamu sudah selesai, pulang sekarang. Aku nggak bisa membuat tamu menunggu hanya karena anak mati itu.”

Aku tidak langsung menjawab.

Aku melihat ke jendela.

Di langit yang jauh, fireworks meledak bersamaan. Cahaya-cahaya itu membentuk tulisan yang terlihat jelas dari rumah sakit:

Happy First Month, Princess Amara Monteverde.

Aku tersenyum.

Bukan karena bahagia.

Tapi karena pada saat itu, bagian terakhir dari diriku yang masih bisa memaafkan akhirnya ikut mati.

“Adrian,” kataku pelan di telepon, suara sudah tenang. “Kita cerai.”

Dia tertawa.

“Kamu nggak punya hak menceraikanku.”

“Sekarang aku punya.”

Aku mematikan telepon.

Keesokan harinya, aku mengkremasi Liam dengan cara termurah. Aku bahkan tidak mampu membeli guci, jadi staf funeral home memasukkan abunya ke kotak putih kecil.

Aku memeluk kotak itu saat keluar dari tempat kremasi.

Kupikir semuanya sudah selesai.

Tapi sebelum aku sampai ke ujung jalan, empat SUV hitam berhenti di depanku.

Bodyguard Adrian keluar dari mobil.

“Ma’am,” kata salah satu dari mereka tanpa ekspresi. “Sir Adrian meminta Anda kembali.”

Aku memeluk kotak Liam lebih erat.

“Tidak.”

Mereka mendekat.

Aku mundur, tapi kakiku lemah. Sebelum sempat lari, sesuatu menghantam belakang kepalaku.

Hal terakhir yang kulihat sebelum semuanya gelap adalah kotak putih kecil itu terlepas dari tanganku—

…dan menghantam trotoar, tutupnya terlempar, membiarkan sebagian abu Liam terbawa angin malam yang dingin.

Ketika aku terbangun, ruangan di sekelilingku sangat terang. Wangi parfum mahal dan aroma lilin aromaterapi menyeruak masuk ke hidungku. Aku tidak berada di basement lagi. Aku berada di salah satu kamar tamu mewah di hotel bintang lima tempat pesta Amara digelar.

Pintu terbuka, dan Adrian masuk bersama Celina yang menggendong bayi mereka. Keduanya memakai pakaian formal yang berkilauan. Pesta senilai Rp34 miliar itu sedang berlangsung meriah di ballroom lantai bawah; guncangan bas dari musiknya bahkan terasa sampai ke lantai kamar ini.

“Akhirnya bangun,” ucap Adrian dingin, menatapku tanpa rasa bersalah sedikit pun. “Kamu membuat kekacauan di jalanan, Mira. Untung anak buahku cepat bergerak sebelum ada wartawan yang melihat.”

“Di mana… abu anakku?” suaraku serak, tenggorokanku terasa seperti terbakar.

Celina mendengus, membuang muka dengan ekspresi jijik. “Aduh, Adrian, singkirkan wanita ini. Dia membawa sial di hari bahagia Amara. Dan kotak putih murahan yang dia bawa tadi? Isinya cuma debu kotor. Sudah kusuruh pelayan membuangnya ke tempat sampah.”

Mendengar kata-kata itu, sesuatu di dalam dadaku mati total. Tidak ada lagi air mata. Yang tersisa hanyalah kekosongan yang teramat dingin—dan sebuah tekad bulat untuk menghancurkan pria di depanku ini sampai ke akar-akarnya.

“Kenapa kamu membawaku ke sini, Adrian?” tanyaku, bangkit berdiri dengan tenang. Ketenanganku membuat Adrian sedikit mengernyit heran.

“Kamu adalah istri sahku di mata hukum,” jawab Adrian tegas. “Malam ini, seluruh rekan bisnis internasional dan investor Monteverde Corp hadir. Kamu akan turun ke bawah, berdiri di sampingku dan Celina, lalu tersenyum di depan kamera. Kamu akan mengatakan pada media bahwa kita adalah keluarga besar yang bahagia dan kamu merestui Amara sebagai pewaris masa depan. Jika kamu patuh, aku akan memberimu uang pesangon perceraian yang cukup untuk seumur hidupmu.”

Aku menatapnya, lalu perlahan menyunggingkan senyuman tipis yang membuat Adrian tampak tidak nyaman.

“Baik,” kataku pelan. “Aku akan turun.”

Dia mengira dia menang. Dia mengira uang dan kekuasaannya bisa membeli segalanya, bahkan martabat seorang ibu yang anaknya baru saja meninggal karena kekejamannya.

Tapi Adrian tidak tahu satu hal.

Sebelum aku merangkak keluar dari basement mansion malam itu, aku sempat membongkar bantal robek tempatku menyembunyikan ponsel lama. Di dalam bantal itu, bukan hanya ada ponsel. Ada sebuah flashdisk hitam kecil yang dititipkan oleh Liam kepadaku dua minggu lalu, sebelum kondisinya memburuk dan dia dilarikan ke rumah sakit.

Liam adalah anak yang sangat genius. Di usianya yang baru tujuh tahun, karena tidak bisa bermain di luar, dia menghabiskan seluruh waktunya di depan komputer rakitan di kamarnya. Dia meretas sistem internal Monteverde Corp bukan untuk berbuat jahat, melainkan karena dia merindukan ayahnya dan ingin melihat apa yang dikerjakan ayahnya setiap hari.

Namun, apa yang ditemukan anak pintar itu justru adalah monster. Liam menemukan seluruh data skimming pajak, pencucian uang kartel internasional, aliran dana suap untuk pejabat tinggi negara, serta bukti bahwa Adrian secara sengaja menyabotase proyek-proyek kompetitornya hingga menyebabkan kecelakaan fatal yang merenggut nyawa orang lain.

Lebih dari itu, Liam merekam sebuah video pendek untukku. Video yang dia rekam sendiri dari balik pintu ruang kerja Adrian beberapa bulan lalu, memperlihatkan Adrian dan Celina yang tertawa terbahak-bahak sambil menandatangani dokumen pengalihan aset Monteverde Corp ke rekening rahasia di luar negeri—sebuah tindakan penggelapan dana investor yang bisa menghancurkan kerajaan bisnisnya dalam semalam.

Di dalam ambulans saat aku membawa flashdisk itu, aku telah menjadwalkan pengiriman otomatis seluruh data tersebut ke server Kepolisian Federal, Komisi Pemberantasan Korupsi, serta puluhan media massa internasional terbesar.

Waktu pengirimannya? Tepat pukul 22.00 malam ini. Di puncak pesta Rp34 miliar milik Adrian.


Puncak Perayaan: Pukul 21.55

Aku berjalan di samping Adrian memasuki ballroom yang megah. Lampu gantung kristal berkilauan, dinding-dinding dilapisi bunga mawar segar, dan ratusan taipan serta pejabat tinggi bertepuk tangan menyambut sang miliarder. Celina berjalan di sisi lain Adrian dengan dagu terangkat tinggi, memamerkan bayi Amara yang dibungkus selimut sutra.

“Tersenyum, Mira,” bisik Adrian tajam di telingaku saat kami menaiki panggung utama. “Jangan hancurkan malamku.”

“Aku tidak akan menghancurkannya, Adrian,” bisikku kembali, menatap langsung ke matanya. “Aku hanya menonton.”

Pembawa acara mulai berbicara di mikrofon, memuji keagungan keluarga Monteverde. Layar LED raksasa berukuran 20 meter di belakang panggung bersiap menampilkan video kilas balik perjalanan hidup Adrian dan sambutan untuk Amara.

“Dan sekarang, mari kita saksikan persembahan video spesial dari Mr. Adrian Monteverde untuk putri tercinta!” seru pembawa acara.

Lampu ballroom meredup. Semua mata tertuju pada layar raksasa.

Klik. Jam digital di pergelangan tanganku menunjukkan tepat pukul 22.00.

Layar LED itu berkedip, lalu mendadak berubah menjadi hitam. Detik berikutnya, bukan video bayi Amara yang muncul, melainkan wajah pucat Liam yang mengenakan selang oksigen di ruang perawatannya yang sepi.

Suara Liam yang kecil namun jernih menggema di seluruh pengeras suara ballroom yang canggih:

“Halo, Papa. Kalau Papa melihat video ini, artinya aku sudah tidak ada. Papa selalu bilang aku lemah dan bukan seorang Monteverde yang asli. Tapi aku tahu semua rahasia Papa. Aku tahu Papa mencuri uang dari perusahaan, aku tahu Papa menyuap orang, dan aku tahu Papa membiarkan aku mati agar Papa bisa hidup bahagia dengan Bibi Celina. Aku memberikan semua mainan rahasia Papa di komputer ini kepada Mama. Selamat tinggal, Papa.”

Seluruh ballroom mendadak senyap. Saking senyapnya, suara dentingan gelas wine yang jatuh dari tangan seorang investor terdengar sangat nyaring.

Wajah Adrian berubah pucat pasi, seketika kehilangan seluruh darahnya. “Apa-apaan ini?! Matikan! Cepat matikan layarnya!” teriaknya histeris kepada operator.

Namun layar tidak bisa dimatikan. Sistem hotel telah diretas sepenuhnya oleh program yang ditinggalkan Liam.

Layar langsung berganti menampilkan dokumen-dokumen rahasia: grafik pencucian uang, daftar nomor rekening luar negeri milik Adrian, dokumen palsu Monteverde Corp, hingga rekaman video Adrian dan Celina yang sedang merencanakan penipuan investor. Semua terpampang nyata, bergulir satu per satu dengan sangat jelas.

“Adrian… apa ini?!” teriak salah satu investor utama dari barisan depan, berdiri dengan wajah murka. “Kamu menggunakan uang investasi kami untuk mendanai akun pribadimu di Swiss?!”

Gemerisik kepanikan mulai melanda. Ponsel milik ratusan tamu di dalam ruangan tersebut tiba-tiba berdering bersamaan. Notifikasi berita Breaking News dari media-media terbesar di Asia Tenggara masuk secara serentak:

“SKANDAL TERBESAR ABAD INI: Miliarder Adrian Monteverde Diduga Melakukan Pencucian Uang dan Penggelapan Pajak Triliunan Peso, Bukti Valid Bocor ke Publik!”

“Tidak… Ini tidak mungkin! Ini fitnah!” Adrian berteriak seperti orang gila, menjatuhkan mikrofonnya. Dia berbalik menatapku, matanya merah penuh urat kemarahan. Dia menerkam dan mencengkeram pundakku dengan kasar. “Kamu! Jalang sialan! Apa yang kamu lakukan?!”

Aku tidak membalas dengan kemarahan. Aku hanya menatapnya dengan pandangan kosong dan dingin, lalu melepaskan cengkeramannya dengan satu sentapan kuat.

“Aku sudah bilang padamu, Adrian,” kataku, suaraku terdengar begitu tenang di tengah kekacauan itu. “Ketika kamu membiarkan Liam mati, masalahmu bukan selesai. Tapi baru saja dimulai.”

Sebelum Adrian sempat melayangkan tangannya untuk memukulku, pintu masuk ballroom didobrak terbuka.

Puluhan agen kepolisian federal berpakaian lengkap bersenjata masuk membelah kerumunan tamu yang panik. Di barisan depan, seorang komisaris polisi berjalan tegap dengan membawa surat perintah penangkapan.

“Adrian Monteverde,” suara polisi itu menggema tegas. “Anda ditahan atas tuduhan pencucian uang, penggelapan pajak berskala besar, penipuan publik, dan keterlibatan dalam konspirasi kriminal. Anda tidak memiliki hak jaminan. Bawa dia!”