Posted in

BARU SAJA AKU PULANG KE MANILA, PRIA YANG BERJANJI MENUNGGUKU SELAMA SEPULUH TAHUN MALAH JADI ORANG PERTAMA YANG MEMINTAKU JANGAN MENYAKITI WANITA BARUNYA…

Di hari pertama kepulanganku ke Filipina setelah empat tahun di Paris, pria yang menungguku di VIP exit Bandara Ninoy Aquino langsung mengatakan ini:

—Mika, Isabel itu hatinya lemah. Tolong jangan membuatnya takut.

Aku terpaku beberapa detik.

Pengumuman bandara menggema di seluruh ruangan, tapi itu tidak mampu menutupi rasa dingin yang menjalar di dadaku.

Empat tahun kami tidak bertemu.

Tidak ada “welcome home.”

Tidak ada juga pertanyaan apakah aku lelah setelah penerbangan lebih dari dua belas jam.

Dia masih berdiri di depanku seperti dulu—tinggi, berwajah dingin, lengan polo hitamnya digulung sampai siku. Jam tangan pemberianku saat kami berusia dua puluh tahun masih melingkar di pergelangan tangannya.

Tapi ada satu hal yang berubah.

Kalimat pertama yang dia ucapkan setelah empat tahun kepergianku adalah untuk melindungi wanita lain.

Aku melepas sunglasses-ku dan menatapnya langsung.

—Rafael, aku baru turun dari pesawat tapi kamu sudah memperingatkanku?

Alisnya sedikit berkerut.

Seolah dia sendiri sadar kata-katanya salah.

Tapi pada akhirnya dia tetap menjawab pelan:

—Bukan itu maksudku.

—Kalau begitu, apa maksudmu?

Dia mengambil koperku.

—Isabel sedang sensitif beberapa hari ini. Katanya semalam dia bahkan tidak bisa tidur setelah tahu kamu akan pulang.

Aku tertawa kecil.

Waktu kami masih muda, aku pernah jatuh dari kuda di Tagaytay dan lenganku patah. Semalaman dia menjagaku di rumah sakit.

Saat aku demam tinggi, jam tiga pagi dia masih memanggil dokter pribadi untukku.

Dulu, seluruh kalangan elite Manila tahu:

Kalau Gabriella Valencia terluka, Rafael De Villa seperti kehilangan akal sehatnya.

Tapi sekarang?

Yang lebih dia khawatirkan justru apakah wanita lain akan ketakutan karenaku.

—Baiklah.

Aku membetulkan scarf di bahuku sambil tersenyum dingin.

—Aku akan bersikap baik semampuku.

Sepertinya dia masih ingin mengatakan sesuatu, tapi akhirnya memilih diam.

Dia membawaku keluar tanpa suara.

Udara Manila terasa panas.

Roxas Boulevard penuh kendaraan.

Aku duduk di kursi belakang mobil sambil memandangi lampu kota yang lewat di balik jendela.

Aku dan Rafael sebenarnya tidak terlalu jauh.

Tapi rasanya ada jarak yang sangat besar di antara kami.

—Di mana Carlos dan Ethan?

Tanyaku santai.

Rafael tetap fokus pada jalan.

—Carlos di Cebu. Ethan ada meeting di Makati.

—Semuanya sibuk ya.

Aku tertawa pelan.

—Terlalu sibuk untuk menjemputku, tapi punya waktu untuk khawatir aku akan menindas pacarmu.

Mobil langsung sunyi.

Beberapa detik kemudian dia baru berbicara.

—Ada welcome party nanti malam di The Glass Loft. Kamu datang?

—Tentu saja.

Aku membuka ponselku.

Notifikasi langsung membanjir.

Pesan pertama datang dari Sofia.

“Jangan masuk dulu ke group chat lama kita. Kekacauannya lebih parah dari sinetron beberapa hari ini.”

Lalu muncul sederet screenshot.

GC lama kami berlima.

Carlos:
“Benarkah Gabriella akan pulang?”

Ethan:
“Confirmed.”

Satu menit kemudian.

Lucas:
“Jangan kasih tahu Isabel dulu.”

Rafael:
“Dia pasti cepat tahu juga.”

Carlos:
“Aku deg-degan dengan yang bakal terjadi nanti.”

Ethan:
“Kalian tahu sendiri sifat Mika.”

Lucas:
“Kita lihat situasinya dulu.”

Dan pesan terakhir, dua jam sebelum pesawatku mendarat.

Rafael:
“Aku yang akan jemput dia.”

Carlos:
“Bilangi dia langsung. Jangan sampai Isabel nangis.”

Aku menatap layar cukup lama.

Jari-jariku yang memegang ponsel mulai pucat.

Bahkan sebelum aku menginjakkan kaki lagi di Manila…

Mereka sudah menjadikanku tokoh antagonis.

Mobil berhenti di depan mansion keluarga kami di Forbes Park.

Mama sudah menunggu di luar.

Begitu melihatku, dia langsung memelukku.

—Anakku…

Aku hampir menangis mencium aroma parfumnya yang familiar.

Papa pura-pura membaca koran di ruang tamu.

Tapi saat melihatku masuk, dia langsung menurunkannya.

—Ternyata kamu masih ingat jalan pulang.

Aku tertawa sambil memeluknya.

—Bagaimana kalau tidak?

Dia mendengus.

—Coba saja.

Sore harinya, Mama membantuku memilih pakaian untuk pesta.

—Katanya keluarga Del Rosario juga datang.

Aku meliriknya sekilas.

—Siapa mereka?

—Anak keluarga Del Rosario baru pulang dari Eropa. Katanya sekarang dia jadi CEO baru De Luxe Holdings.

Awalnya aku tidak terlalu peduli.

Sampai Mama menyebut namanya.

—Alejandro Del Rosario.

Aku sedikit terdiam.

Aku pernah mendengar namanya di Paris.

Pebisnis muda terkenal di Eropa.

Dingin.

Berbahaya.

Dan mustahil didekati.

Jam tujuh malam saat Lamborghini silver-ku berhenti di depan The Glass Loft di BGC.

Lampu-lampu gedung berkilauan.

Musik dan tawa langsung terdengar dari dalam.

Sofia berdiri di dekat pintu masuk.

Begitu melihatku, dia langsung menarikku masuk.

—Akhirnya ratu Manila kembali juga.

Tapi sebelum aku sempat menjawab…

Seluruh pesta tiba-tiba hening.

Semua mata tertuju padaku.

Carlos.

Ethan.

Lucas.

Dan…

Rafael.

Di sampingnya berdiri seorang wanita bergaun putih.

Rambut panjang.

Wajah pucat.

Dan tangannya menggenggam erat lengan Rafael sambil menatapku.

Udara di seluruh ruangan terasa berat.

Carlos yang pertama berbicara.

—Mika… long time no see.

Aku tersenyum tipis.

—Iya.

Tiba-tiba Isabel menunduk.

—Kak Mika… maaf ya…

Aku mengernyit.

—Untuk apa?

Suaranya pelan.

—Kalau bukan karena aku… mungkin Kakak masih bersama Rafael…

—Isabel.

Rafael langsung menghentikannya.

Seolah dia sangat melindunginya.

Persis seperti caranya memandangku dulu.

Dadaku langsung terasa nyeri.

Tapi tepat di saat itu…

Pintu elevator terbuka di belakang kami.

Seorang pria dengan setelan hitam masuk.

Tinggi.

Aura dingin.

Dan kehadirannya saja cukup membuat seluruh ruangan diam.

Carlos bahkan hampir berdiri.

—Alejandro? Cepat sekali kamu datang.

Pria itu tidak menjawab.

Tatapannya perlahan menyapu seluruh ruangan.

Sampai akhirnya berhenti padaku.

Dan dalam sekejap…

Wajah Rafael langsung berubah.

Karena Alejandro berjalan lurus ke arahku.

Lalu…

Dia menarikku erat ke sisinya di depan semua orang.

Dan dengan suara dingin berkata:

—Kamu meninggalkanku selama empat tahun, Gabriella… apa kamu juga lupa kalau kamu punya tunangan?

Baca bagian selanjutnya dari cerita ini di kolom komentar.

Suasana di dalam The Glass Loft mendadak seperti membeku. Denting gelas sampanye dan musik jaz yang tadinya mengalun lembut di latar belakang seolah lenyap, digantikan oleh kesunyian yang mencekam.

Tangan Alejandro yang kokoh berada di pinggangku, kehangatannya menembus gaun sutra hitam yang kukenakan. Aromanya—campuran antara kayu cedar dan tembakau mahal—sangat kukenali. Pria ini tidak sedang bersandiwara. Tatapan matanya yang tajam menancap lurus ke manik mataku, menuntut jawaban atas “kepergian empat tahunku.”

“A-Alejandro? Apa maksudmu?” Carlos adalah yang pertama memecah keheningan, suaranya naik satu oktav karena syok. “Gabriella… tunanganmu?”

Rafael maju satu langkah, melepaskan pegangan tangan Isabel di lengannya tanpa sadar. Matanya yang biasanya dingin kini menyala oleh emosi yang campur aduk—antara tidak percaya, marah, dan… rasa kehilangan yang mendalam.

“Mika, apa-apaan ini?” suara Rafael bergetar, tertahan di tenggorokan. “Kamu… dan Alejandro?”

Aku tidak langsung menjawab. Aku menatap Rafael, lalu melirik Isabel yang wajahnya kini benar-benar pucat—kali ini bukan karena pura-pura rapuh, tapi karena dia tahu status sosial keluarga Del Rosario jauh berada di atas keluarga mana pun di Manila. Jika aku kembali sebagai musuh, dia mungkin bisa mengandalkan Rafael. Tapi jika aku kembali sebagai wanita Alejandro Del Rosario, bahkan seluruh lingkaran elite ini tidak akan berani menyentuhku.

Aku mengulas senyum paling anggun yang kupelajari di Paris, lalu mendongak menatap Alejandro.

“Aku tidak lupa, Alejandro,” suaraku terdengar jernih di tengah ruangan yang sunyi. “Aku hanya butuh waktu untuk menyapa… beberapa teman lama.”

Alejandro tidak melepaskan pandangannya dariku, tapi sudut bibirnya terangkat membentuk senyuman tipis yang terlihat berbahaya. “Teman lama? Kurasa sambutan mereka tidak terlalu ramah untuk calon pengantin dari keluarga Del Rosario.”

Tatapannya beralih ke arah Rafael, dingin dan mengintimidasi. Tekanan aura dari Alejandro membuat Ethan dan Lucas yang berdiri di belakang Rafael kompak menundukkan kepala.

“De Villa,” panggil Alejandro, suaranya rendah namun penuh penekanan. “Kudengar kamu menjemput tunanganku di bandara hanya untuk memperingatkannya agar tidak menyakiti kekasihmu?”

Wajah Rafael mengeras. Rahangnya mengatup rapat. “Itu urusan pribadi antara aku dan Mika. Kami punya sejarah sepuluh tahun.”

“Sejarah?” Alejandro terkekeh, suara tawa yang tidak terdengar ramah sama sekali. “Sepuluh tahunmu berakhir saat kamu membiarkannya pergi ke Paris sendirian, Rafael. Dan empat tahun terakhir di Eropa, dialah yang menemaniku membangun De Luxe Holdings. Jadi, sejarahmu sudah kedaluwarsa.”

Isabel yang merasa terabaikan tiba-tiba terisak pelan, mencoba menarik kembali perhatian. “Rafael… aku pusing…”

Biasanya, Rafael akan langsung panik dan memeluknya. Tapi malam ini, mata Rafael masih tertuju padaku. Dia tampak linglung, seolah baru saja tersadar dari mimpi panjang bahwa aku, Gabriella Valencia, bukan lagi wanita yang akan menangis dan memohon perhatiannya. Aku sudah melangkah terlalu jauh ke depan, ke tempat yang tidak bisa dia jangkau.

“Bawa pacarmu pulang, Rafael,” kataku pelan, memotong drama Isabel sebelum sempat dimulai. “Seperti yang kamu katakan tadi siang, dia hatinya lemah. Dan jujur saja, melihat kalian berdua di sini… hanya merusak selera makanku.”

“Mika…” Rafael mencoba memanggilku dengan nama kecil yang dulu hanya miliknya. Ada penyesalan yang sangat besar kilat di matanya. Dia mungkin mengira aku akan kembali sebagai Mika yang terluka, yang bisa dia tenangkan dengan kata-kata manis setelah dia puas bermain pahlawan untuk Isabel. Dia salah besar.

“Ayo pergi, Alejandro,” aku berbalik, mengabaikan tatapan memohon dari Rafael dan bisik-bisik dari Carlos serta yang lainnya.

Alejandro melingkarkan lengannya di bahuku, membimbingku berjalan melewati kerumunan yang langsung membuka jalan dengan penuh hormat. Sebelum pintu elevator tertutup, aku sempat menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya.

Rafael masih berdiri di sana, menatapku dengan tubuh kaku. Di sampingnya, Isabel menangis, tapi kali ini Rafael bahkan tidak menoleh untuk menghapusnya.

Saat pintu elevator tertutup rapat, menyisakan aku dan Alejandro di dalam ruangan yang bergerak turun, pria itu melepaskan lengannya dari bahuku. Dia bersandar pada dinding lift, menatapku dengan senyum miring yang menawan.

“Sandiwara yang bagus, Gabriella,” katanya santai. “Jadi, berhubung aku sudah menyelamatkan harga dirimu di depan mantan kekasihmu yang tidak tahu untung itu… kapan kita akan meresmikan pertunangan palsu ini kepada orang tuamu?”

Aku merapikan kembali gaun hitamku, menatap pantulan diriku di cermin lift yang mewah. Ratu Manila tidak pernah kalah, dan mulai malam ini, aku akan memastikan Rafael De Villa merasakan bagaimana rasanya diabaikan selama sisa hidupnya.

“Malam ini juga, Alejandro. Mari kita buat seluruh Manila tidak bisa tidur.”