Posted in

SELAMA TIGA TAHUN AKU DIAM-DIAM MEMBUAT KOSTUM COSPLAY UNTUK TEMAN-TEMANKU DI MANILA DENGAN HARGA SANGAT MURAH

SELAMA TIGA TAHUN AKU DIAM-DIAM MEMBUAT KOSTUM COSPLAY UNTUK TEMAN-TEMANKU DI MANILA DENGAN HARGA SANGAT MURAH
Sampai suatu hari, seorang wanita baru dari Cebu menertawakanku di group chat:

“Serius? Dua ribu peso untuk satu set cosplay? Jadi kalian sudah ditipu bertahun-tahun?”

01

Dua minggu sebelum festival cosplay terbesar di Manila, ponselku hampir panas karena notifikasi yang terus berdatangan.

Group chat “Luzon Dream Team” sedang kacau.

Yang memulai semuanya adalah Mia Velasco.

Dia baru sebulan bergabung di grup setelah ditambahkan oleh leader kami, Nico. Isi Facebook-nya penuh café mewah di BGC, shopping di Makati, dan selfie sempurna.

Saat itu, aku sedang duduk di lantai apartemen kecilku di Quezon City.

Di sekelilingku berserakan lace fabric, rhinestones, dan armor EVA yang belum selesai kucat untuk karakter milik Aileen.

Aku baru saja menempelkan potongan metal terakhir ketika ponselku menyala.

—“Tunggu guys…”

Mia mengirim emoji malu.

—“Aku baru lihat rincian biaya yang dikirim Kak Dani. Makeup, wig, dan fixing costume totalnya lebih dari dua ribu peso per orang?”

—“Kupikir cosplay itu buat senang-senang aja?”

Begitu pesannya terkirim, group chat langsung hening.

Awalnya aku kira dia akan menganggap hargaku sudah sangat murah.

Selama tiga tahun aku hampir tidak mendapat keuntungan yang layak.

Tapi tak lama kemudian muncul pesan berikutnya:

—“Di Cebu aku kenal artist terkenal, cuma sekitar seribu dua ratus peso.”

—“Kita kan teman, masa segitu mahal sih?”

Dia bahkan mengirim sticker kelinci sedih.

Tanganku langsung berhenti menjahit.

Nico yang pertama setuju.

—“Iya juga ya…”

—“Baru sadar ternyata lumayan mahal.”

Teman-teman dekat Nico ikut bersuara.

—“Waktu event di MOA dulu aku cuma bayar seribu lima ratus.”

—“Kak Dani memang bagus, tapi kalau ada yang lebih murah ya lebih baik.”

Ada dua orang yang mencoba membelaku.

Tapi pesan mereka langsung tenggelam oleh chat Mia.

—“Aku bukan bilang karya Kak Dani jelek.”

—“Tapi cosplay kan cuma hobi, nggak perlu kayak studio profesional.”

—“Uang sisanya bisa buat beli figure atau photobook baru.”

Lalu dia mengirim pesan lagi:

—“Biar aku aja yang bikin buat kalian kali ini.”

—“Seribu peso per orang aja.”

—“Aku baru lulus, nggak cari untung kok. Aku cuma pengen cari teman~”

Group chat kembali sunyi.

Lalu Nico bicara lagi.

—“Eh itu ide bagus!”

—“Dani, event kali ini nggak perlu repot dulu ya.”

Balasan langsung membanjir.

—“Yessss!”

—“Aku pindah ke Mia!”

—“Bisa hemat banyak!”

—“Cantik lagi, baik pula!”

Aku menatap layar tanpa bicara.

Rasanya seperti ada sesuatu yang dingin menusuk dadaku.

Tiga tahun.

Tiga tahun aku begadang sampai jam tiga atau empat pagi untuk memperbaiki wig mereka.

Pernah tanganku terbakar parah kena glue gun, tapi aku tetap menjahit karena mereka membutuhkannya keesokan hari.

Kostum angel milik Nico pernah robek sebelum performance di panggung.

Aku sendiri duduk di lantai SM North EDSA menjahitnya dengan tangan.

Saat foto-fotonya viral online, ribuan orang bilang dia seperti idol K-pop.

Tak seorang pun tahu kalau jariku saat itu masih berdarah.

Dan sekarang…

Dua ribu peso dianggap mahal.

Padahal sebenarnya itu bahkan belum menutup biaya material.

Aku hanya tersenyum.

—“Baik.”

Group chat langsung meledak penuh kegembiraan.

—“Yayyy!”

—“Mia number one!”

—“Dompet kita selamat!”

Aku meletakkan ponsel kembali ke meja.

Di depanku ada sepasang sayap malaikat silver yang kubuat selama empat hari.

Awalnya untuk Nicole.

Sekarang sudah tidak diperlukan.

Pelan-pelan aku mencabut satu per satu bulunya.

Masih bisa kupakai untuk project lain.

02

Malam itu aku tidur lebih awal.

Tapi sekitar jam satu pagi, ponselku kembali bergetar.

Mia.

—“Kak Dani jangan marah ya.”

—“Aku nggak berniat merebut client Kakak.”

—“Aku cuma merasa nggak benar kalau teman sendiri dikenakan harga terlalu mahal.”

Aku belum sempat membalas ketika dia mengirim pesan lagi.

—“By the way, bisa kasih supplier Kakak?”

—“Aku nggak nemu kualitas bahan seperti yang Kakak pakai.”

Aku tertawa pelan.

Sambil menuduhku menipu…

dia justru ingin memakai resource yang sama.

Aku sebenarnya ingin memakinya.

Tapi aku hanya menarik napas panjang.

Tidak sepadan.

Aku mengirim tiga supplier milikku di Pasig dan satu manufacturer wig di Davao.

Sepuluh menit kemudian, pesannya muncul lagi.

—“??? Kok mahal banget?”

—“Kakak salah kirim ya?”

—“Wig sama rhinestones aja hampir lima ribu!”

Aku menatap layar cukup lama.

Ya.

Itulah kenapa selama tiga tahun aku sering nombok.

Karena aku menganggap mereka teman.

Aku belum sempat menjawab ketika Ate Selena menelepon.

Dia salah satu supplier wig terbesar di komunitas cosplay Manila.

—“Anak yang tadi chat aku itu teman grupmu?”

Aku berbaring sambil menatap langit-langit.

—Iya.

—“Kamu nggak bikin kostum buat mereka lagi?”

Aku diam sebentar.

—Nggak.

Dia menghela napas panjang.

—“Anak itu bahkan minta diskon padaku.”

Aku tersenyum pahit.

—“Anak-anak itu terkenal juga karena hasil karyamu.”

—“Sekarang cuma karena nemu yang lebih murah, mereka langsung membelakangimu?”

Aku memotong ucapannya.

—“Nggak apa-apa.”

—“Aku nggak akan kehabisan client.”

Dan itu benar.

Selain grup Nico, sejak lama aku juga menerima commission lain memakai identitas berbeda.

Tak ada yang tahu.

Di TikTok Philippines, aku punya akun dengan hampir setengah juta followers.

Namanya:

“Moonveil Atelier.”

Nama itu sangat terkenal di komunitas cosplay.

Tapi tak seorang pun tahu siapa orang di baliknya.

Aku membuka inbox.

Di paling atas masih ada pesan dari sebuah tim cosplay profesional Manila.

—“Miss Moonveil, kalau Anda bersedia mensponsori tim kami di CosCon tahun ini, kami akan berterima kasih seumur hidup.”

Aku menatap pesan itu cukup lama.

Lalu mulai mengetik.

—“Baik.”

—“Aku menerima tawaran itu.”

03

Dua hari kemudian, Mia mulai membanjiri group chat dengan screenshot.

—“Guys lihat wig ini! Cuma delapan ratus peso!”

—“Armor set ini ready-made di Shopee, nggak perlu custom!”

Awalnya semua masih sangat antusias.

Tapi lama-kelamaan mereka mulai gugup.

Seseorang membuat GC terpisah tanpa Mia dan Nico.

Aku ada di dalamnya.

Pesan langsung berdatangan.

—“Aku pernah beli di toko itu, wig-nya rontok kayak bulu anjing.”

—“Di foto kelihatan bagus, aslinya kayak mainan.”

—“Mati kita, warna rambutnya aja beda shade.”

Aku hanya diam sambil minum iced coffee membaca semuanya.

Tak berkata apa-apa.

Beberapa menit kemudian, Tasha men-tag aku.

—“Kak Dani…”

—“Barang pilihan Mia ini aman nggak sih?”

Aku menyeruput kopi.

—“Nggak tahu.”

—“Aku belum pernah pakai kualitas serendah itu.”

Group chat langsung sunyi.

Dan tepat di saat itu—

muncul foto baru di main group chat.

Mia.

Dia sedang live mencoba wig barunya.

Tapi yang membuat semua orang terpaku—

baru sekali disisir, setengah wig net-nya hampir langsung copot.

Dan setelah itu, Nico mengirim voice message dengan suara gemetar:

—“Guys…”

—“Organizer baru aja posting…”

—“Special guest CosCon tahun ini ternyata Moonveil Atelier…”

Group chat langsung meledak.

Karena di komunitas cosplay Filipina…

Moonveil Atelier adalah nama paling terkenal yang mereka idolakan selama tiga tahun terakhir.

Dan aku…

Hanya duduk diam di kegelapan sambil menatap private message dari Nico:

—“Dani… kamu tahu nggak siapa sebenarnya Moonveil Atelier?”

Baca bagian selanjutnya dari cerita ini di kolom komentar.

Aku menatap pesan privat dari Nico di layar ponselku. Di sudut kamar, manekin pameranku sudah terpasang gaun masterpiece terbaru yang belum pernah kuperlihatkan pada siapa pun—kostum yang akan kukenakan sebagai representasi resmi “Moonveil Atelier” di panggung utama CosCon minggu depan.

Aku mengetik balasan dengan santai.

—“Nggak tahu. Tapi kudengar dia sangat pemilih soal siapa yang mau dia sponsori.”

Nico langsung membalas dalam hitungan detik.

—“Sial, andai saja kita masih pakai kostum buatanmu, Dani! Kualitas jahitanmu kan rapi banget, siapa tahu kalau tim kita lewat di depan booth Moonveil, dia bakal notice kita!”

Aku hanya membaca pesan itu tanpa berniat membalasnya lagi. Sungguh sebuah ironi yang menggelikan.

Sementara itu, di main group chat, kepanikan mulai menjalar seperti wabah. Kostum-kostum murah yang dipesan Mia dari Shopee dan supplier abal-abal mulai berdatangan ke rumah anak-anak grup.

Aileen mengirim foto armor dada miliknya yang terbuat dari plastik tipis. Warnanya kuning kusam, jauh dari warna emas metalik yang ada di foto referensi karakter.

—“Mia, ini serius? Kok lecek begini? Pas kupakai langsung retak di bagian samping!” protes Aileen, menyertakan emoji menangis.

Mia langsung membalas dengan rentetan pesan defensif.

—“Ya ampun Aileen, kan aku sudah bilang harganya cuma seribu peso! Ekspektasimu jangan kayak kostum buatan studio Hollywood dong. Lagian kalau dari jauh dan kena lighting panggung, keretakannya nggak bakal kelihatan kok! Dipasang lakban bening aja dari dalam.”

Lakban bening. Untuk festival sebesar CosCon di SMX Convention Center.

Nico, sebagai leader yang paling terobsesi dengan validasi di media sosial, mulai kehilangan kesabaran. Wignya yang dipesan Mia datang dengan serat yang sangat kasar dan mengkilap seperti tali rafia.

—“Mia, wig ini nggak bisa dicatok! Pas kucoba, seratnya langsung meleleh dan baunya hangus banget! Gimana aku bisa tampil kalau rambut karakterku kayak sapu ijuk begini?” cecar Nico.

Mia mengirim sticker kelinci menangis lagi.

—“Maaf guys, namanya juga usaha… Aku kan cuma mau bantu kalian hemat uang. Kalau kalian nggak puas, kenapa nggak dari awal pesan yang mahal aja?”

Setelah pesan itu, Mia langsung meninggalkan grup chat. Dia leave group. Menghilang begitu saja setelah mengantongi uang seribu peso dari delapan orang anggota tim, menyisakan tumpukan barang rongsokan plastik dan kain perca yang tidak layak disebut kostum cosplay.

Suasana di grup mendadak mati total. Keheningan itu berlangsung selama dua jam sampai akhirnya Nico mengirim pesan privat lagi kepadaku. Kali ini, nadanya sangat memelas.

—“Dani… please, tolongin kami. Tolong perbaiki kostum kami. Kami bakal bayar dua ribu peso… nggak, tiga ribu peso per orang! Kami mohon banget, Dani. Panggung CosCon tinggal seminggu lagi, kami nggak bisa tampil memalukan di depan Moonveil Atelier.”

Aku melihat ke arah tumpukan bulu sayap silver yang sebelumnya kucabut dari kostum Nico. Bulu-bulu itu kini sudah tersusun rapi di kostum sayap malaikat yang jauh lebih megah—kostum yang dipesan oleh tim cosplay profesional peringkat satu di Manila yang resmi kusponsori pagi ini.

Aku menekan tombol voice note, berbicara dengan nada paling tenang yang kupunya.

—“Maaf, Nico. Waktuku sudah habis. Minggu ini aku harus fokus menyelesaikan project besar untuk tim perwakilan Manila yang disponsori langsung oleh Moonveil Atelier. Semoga lakban bening milik Mia bisa membantu kalian di panggung nanti.”

Aku langsung memblokir nomor Nico dan keluar dari seluruh grup chat “Luzon Dream Team”.


Hari H CosCon di SMX Convention Center, Manila.

Ribuan pencinta pop kultur memadati aula besar. Kamera flas menyala di mana-mana. Tim Nico juga ada di sana, berdiri di dekat koridor luar. Mereka terlihat sangat menyedihkan. Wig Nico miring dan tampak kusut, sementara armor Aileen yang ditambal lakban mulai longgar karena hawa panas konvensi. Mereka menjadi bahan tontonan, tapi bukan karena kagum, melainkan karena kasihan.

Tiba-tiba, suara MC menggema dari panggung utama, membuat seluruh atensi penonton beralih.

Ladies and gentlemen, please welcome… the grand sponsor of this year’s convention, the legendary crafter behind Moonveil Atelier!

Musik orkestra yang megah berdentum. Aku melangkah keluar dari balik tirai panggung.

Aku mengenakan kostum orisinal berdesain Gothic Valkyrie. Gaun hitam legam dikombinasikan dengan armor perak murni yang memantulkan cahaya lampu panggung dengan sempurna. Dan di punggungku, sepasang sayap silver raksasa mengepak dengan anggun—setiap helai bulunya berkilau, hasil dari kerja keras tangan yang mereka sebut “penipu dua ribu peso”.

Saat aku berjalan ke depan panggung dan membuka topeng perak yang menutupi separuh wajahku, seluruh aula bergemuruh meneriakkan nama Moonveil.

Di barisan penonton bagian depan, aku bisa melihat Nico, Aileen, dan mantan teman-teman grupku berdiri membeku. Mata Nico terbelalak sempurna, mulutnya menganga tak percaya. Wajahnya mendadak memucat, lebih pucat daripada wig rusak yang dipakainya. Dia menatapku, lalu menatap sayap silver di punggungku—sayap yang seharusnya menjadi miliknya jika saja dia tidak menukar ketulusan tiga tahunku dengan uang delapan ratus peso milik Mia.

Aku menatap lurus ke arah mereka dari atas panggung mewah, memberikan satu senyuman tipis yang dingin, sebelum berbalik untuk menyambut tim profesional Manila yang kini resmi berdiri di bawah naunganku.

Hari itu, seluruh Manila akhirnya tahu siapa Moonveil Atelier, dan Nico tahu bahwa dia baru saja membuang berlian demi sepotong plastik murahan.