Posted in

BARU SAJA SUAMIKU PERGI UNTUK “PERJALANAN BISNIS,” ANAKKU YANG BERUSIA ENAM TAHUN BERLARI PADAKU DAN BERBISIK:

BARU SAJA SUAMIKU PERGI UNTUK “PERJALANAN BISNIS,” ANAKKU YANG BERUSIA ENAM TAHUN BERLARI PADAKU DAN BERBISIK:
“MAMA… KITA HARUS KABUR. SEKARANG.”

Aku terkejut. “Ada apa?”

Tubuhnya gemetar saat menjawab,
“Sudah nggak ada waktu. Kita harus keluar dari rumah sekarang juga.”

Aku langsung mengambil barang-barang kami dan memegang gagang pintu—tapi tiba-tiba…

itu terjadi.

Pagi saat hidupku runtuh tidak dimulai dengan teriakan atau api.
Semua dimulai dengan sangat sunyi.

Putriku, Lia, sedang menuangkan sereal ke mangkuknya.
Kipas angin kecil berdengung pelan di sudut ruangan.
Dan suamiku, Marco Reyes, sedang menutup koper untuk apa yang dia sebut sebagai “perjalanan bisnis penting ke Cebu.”

Dia mencium pipiku, memeluk Lia, lalu keluar rumah seolah itu hanyalah hari biasa.

Aku melihat mobilnya pergi meninggalkan kompleks perumahan—tanpa tahu bahwa semua yang kupercaya tentang dirinya… tentang pernikahan kami… sebentar lagi akan hancur.

Aku baru dua langkah kembali ke dapur saat Lia berlari ke arahku.

Bukan berjalan.
Dia berlari.

Wajahnya pucat.
Tangan kecilnya gemetar.

“Mama… kita harus kabur. Sekarang.”

Aku berlutut di depannya.
“Sayang, ada apa?”

Dia menggeleng kuat-kuat.
“Sudah nggak ada waktu. Kita harus pergi dari rumah sekarang juga.”

Perutku langsung terasa melilit.
“Kamu mimpi buruk?”

“Bukan,” katanya sambil menelan ludah.
“Aku dengar Daddy telepon semalam. Daddy bilang…
‘Kalau mereka sudah nggak ada, semuanya jadi milikku.’
Daddy bilang semuanya harus terlihat seperti kecelakaan.”

Dadaku seakan kehilangan udara.

“Lia,” bisikku, “Daddy bicara sama siapa?”

“Sama Grandma Rosa,” jawabnya pelan.
“Daddy bilang sistemnya sudah siap. Pintu dan jendela bisa dikunci dari luar.”

Seluruh tubuhku langsung dingin.

Beberapa minggu terakhir Marco memang bilang sedang memasang “storm shutters” baru.
Katanya untuk menghadapi badai.
Katanya demi keamanan kami.

Tapi sekarang… semuanya terdengar berbeda.

Aku mengambil ponsel, dompet, dan amplop darurat—uang tunai, kartu identitas, paspor.

Ada sesuatu dalam diriku yang berkata: anakku tidak mengarang cerita.

Lia menarik lenganku.
“Tolong, Mama… kita harus pergi sebelum bunyinya mulai.”

“Bunyi apa?”

“Aku nggak tahu,” katanya,
“tapi Daddy bilang timer-nya mulai saat kamu mendengar bunyi itu.”

Jantungku berdetak sangat cepat.
“Oke. Kita pergi sekarang.”

Aku mengangkat Lia dan berlari menuju pintu belakang.

Aku memutar gagang pintu.

Tidak bergerak.

Terkunci.
Dari luar.

Sebelum aku sempat bereaksi—

CLANG.

Suara besi keras menggema di lorong rumah.
Lalu satu demi satu suara berikutnya.

Aku menoleh—dan melihat semua jendela rumah tertutup oleh shutter besi, menutup sendiri satu per satu… seolah kami dikurung di dalam brankas raksasa.

Lia mulai menangis.
“Itu bunyinya, Mama…”

Tiba-tiba hidungku mencium sesuatu.

Bensin.

Lututku langsung lemas.
“Ya Tuhan…”

Dan setelah itu—

bunyi klik kecil.

Bukan dari kompor.
Bukan dari listrik.

Api.

Ada seseorang yang sedang membakar rumah.

Marco.

Dia tidak pergi untuk perjalanan bisnis.
Dia ada di dekat sini.
Menunggu sampai api melahap kami hidup-hidup.

Lia memelukku erat.
“Mama… aku tahu jalan keluar. Aku pernah lihat pintu yang Daddy nggak tahu.”

“Pintu? Di mana?”

“Di pantry,” bisiknya.
“Kecil… di belakang rak-rak.”

Api semakin besar.
Lantai mulai panas.

Aku menatap anakku—matanya penuh ketakutan, tapi juga keberanian.

Dan saat itu aku tahu:

Ini bukan sekadar rasa takut.
Ini bukan kecelakaan.
Ini adalah perjuangan untuk bertahan hidup.

“Tunjukkan jalannya,” kataku.
“Sekarang.”

Kami merangkak menembus asap hitam yang mulai memenuhi langit-langit dapur. Udara terasa panas menyengat, dan setiap tarikan napas membuat tenggorokanku perih luar biasa. Di luar, suara kobaran api terdengar menjilat dinding-dinding rumah, siap melahap brankas besi tempat kami dijebak.

Lia terbatuk-batuk, tetapi tangan kecilnya terus menarikku menuju ke dalam pantry—ruang kecil tempat penyimpanan stok makanan.

Di dalam pantry, hawa panas sedikit berkurang, namun asap mulai merangsek masuk dari sela-sela pintu. Lia merangkak ke sudut paling belakang, di mana sebuah rak kayu besar berisi tumpukan kaleng makanan berdiri kokoh.

“Di sini, Mama! Di belakang ini!” seru Lia sambil menunjuk celah sempit di balik rak.

Aku mengerahkan seluruh sisa tenagaku untuk menggeser rak kayu berat itu. Tanganku melepuh saat menyentuh dinding yang mulai memanas, tetapi adrenalin membuatku mati rasa. Begitu rak tergeser, aku melihatnya—sebuah pintu servis kecil berukuran satu meter, pintu tua yang terhubung dengan saluran pembuangan udara dan jalur pipa air halaman belakang. Pintu itu sudah dicat sewarna dengan dinding, membuat Marco melewatkannya saat merencanakan pembunuhan ini.

Aku memutar engselnya yang berkarat. Terbuka!

“Lia, masuk duluan! Tiarap!” perintahku.

Kami merangkak keluar melalui lorong sempit yang kotor dan pengap. Tepat saat kaki terakhirku berhasil keluar dari lorong itu, sebuah ledakan keras menggema dari dalam dapur. Tabung gas atau saluran listrik rumah baru saja meledak, menghancurkan pantry yang baru saja kami tinggali.


Malaikat Maut di Balik Semak

Kami keluar di area semak-semak lebat di samping halaman belakang, tertutup oleh dinding beton tetangga. Seluruh rumah kami kini sudah diselimuti api merah yang membubung tinggi ke langit pagi.

“Mama… lihat,” bisik Liah sambil menunjuk ke arah gerbang samping.

Melalui celah dedaunan, aku melihat sebuah siluet pria. Marco.

Dia berdiri di sana, mengenakan jaket hitam dengan tudung yang menutupi kepalanya. Di tangannya ada sebuah jeriken bensin kosong. Dia tidak pergi ke Cebu. Dia berdiri dengan tenang, menatap rumah kami yang terbakar dengan senyuman dingin di wajahnya. Dia sedang memastikan bahwa istri dan anaknya benar-benar habis menjadi abu demi mendapatkan seluruh uang asuransi dan harta warisan yang beberapa bulan lalu dialihkan atas namaku.

“Kita harus diam, Lia,” bisikku sambil membekap pelan mulut putriku. Amarah di dadaku membakar lebih hebat daripada api di depan kami, tetapi aku tahu aku harus cerdik. Jika dia tahu kami selamat, dia tidak akan ragu menyelesaikan apa yang dia mulai.

Aku mengeluarkan ponselku dari saku celana. Layarnya retak, tetapi masih menyala. Aku segera menyalakan kamera, memperbesar fokus, lalu merekam wajah Marco yang sedang berdiri menikmati pemandangan rumah yang terbakar sambil memegang jeriken bensin. Rekaman video sepuluh detik itu sudah lebih dari cukup untuk mengirimnya ke kursi eksekusi.

Setelah mendapatkan bukti, aku menekan nomor darurat polisi dan pemadam kebakaran, lalu mengirimkan lokasi kami tanpa bersuara, membiarkan operator mendengar suara gemuruh api.


Pembalasan dari Balik Abu

Tidak butuh waktu lama sampai suara sirine mobil polisi dan pemadam kebakaran terdengar meraung-raung mendekati kompleks perumahan kami.

Begitu mendengar suara sirine, wajah Marco yang tadinya tenang langsung berubah panik yang dibuat-buat. Dia buru-buru melempar jeriken bensin ke dalam semak-semak yang jauh, lalu menjatuhkan diri ke tanah, mengucek matanya agar terlihat menangis, dan mulai berteriak histeris meminta pertolongan seolah-olah dia baru saja kembali karena melihat rumahnya terbakar.

“Althea! Lia! Di mana kalian?! Tolong selamatkan anak dan istriku!” teriaknya dengan akting yang sangat memuakkan.

Beberapa petugas pemadam kebakaran dan polisi langsung menahannya yang berpura-pura ingin menerobos masuk ke dalam api.

Saat itulah, aku keluar dari semak-semak sambil menggendong Lia. Tubuh kami penuh jelaga hitam, pakaian kami robek, dan napas kami terengah-engah, tetapi mata kami menatap lurus ke arahnya.

“Marco,” panggilku dengan suara lantang yang memecah kebisingan.

Semua orang menoleh. Wajah Marco yang tadinya berpura-pura menangis langsung membeku. Matanya terbelalak lebar, memancarkan ketakutan yang luar biasa seolah-olah dia sedang melihat dua hantu yang bangkit dari kubur. Tubuhnya bergetar hebat.

“Ya Tuhan, Anda selamat!” seorang petugas polisi langsung berlari menghampiri kami dan memberikan selimut.

“Petugas,” aku menunjuk langsung ke arah Marco dengan tangan yang gemetar karena amarah. “Pria itu yang mengunci kami dari luar. Dia memasang sistem besi di jendela untuk menjebak kami, dan dia yang membakar rumah ini.”

“Apa?! Althea, kamu bicara apa? Aku baru saja pulang karena panik!” Marco mencoba membela diri, mendekat dengan tangan terbuka. “Kamu pasti trauma karena asap—”

“Jangan sentuh kami!” teriakku. Aku langsung menyerahkan ponselku kepada komandan polisi yang ada di sana. “Ini video sepuluh menit lalu. Dia berdiri di pojok sana, tersenyum melihat rumah ini terbakar sambil memegang jeriken bensin sebelum kalian datang. Dan sidik jarinya pasti ada di jeriken yang dia lempar ke semak-semak sebelah kiri.”

Komandan polisi itu melihat video di ponselku, lalu menatap Marco dengan pandangan dingin.

“Marco Reyes, Anda ditahan atas tuduhan percobaan pembunuhan berencana dan pembakaran sengaja,” tegas petugas itu.

Dua polisi langsung memiting lengan Marco dan memborgolnya di tempat. Marco berteriak-teriak histeris, menyalahkan ibunya, memaki-maki kami, dan meronta bagai orang gila saat diseret masuk ke dalam mobil patroli. Panggung sandiwaranya telah runtuh sepenuhnya di atas abu rumah kami sendiri.

Aku memeluk Lia erat-erat di dalam dekapanku saat mobil polisi itu pergi. Rumah kami memang habis tak tersisa, tetapi kami membawa keluar sesuatu yang jauh lebih berharga: kebebasan dan kehidupan kami.