Gaji Suami Puluhan Juta, Istri malah ngutang telur di warung. Iyalah! Istri cuma dijatah 10 rb sehari.
“Heh, Rina! Jangan sombong kamu! Istri itu harusnya nurut sama suami. Yudi mau nikah lagi itu hak dia karena kamu tidak becus mengurus suami dan mertua! Lihat niih!, perut Mama sampai sakit karena belum makan!”masa cuma ada. Rebusan ubi. Doank…!
Rina beralih menatap mertuanya.
“Mama lapar? Bukannya Mama punya kalung emas 15 juta di leher? Jual saja satu gram, bisa buat makan mewah satu bulan. Kenapa harus minta ke menantu yang cuma dikasih uang 10 ribu sehari?”
”Kurang ajar, kamu ya!”
Bu Tati hendak menampar Rina, tapi Rina dengan cepat menangkap pergelangan tangan mertuanya.
”Cukup, Mah. Selama ini aku diam bukan karena takut, tapi karena aku masih menghargai Mas Yudi sebagai suami. Tapi sekarang? Rasa hormat itu sudah habis dimakan kepelitan kalian.”
Rina melepaskan tangan Bu Tati dengan kasar hingga mertuanya terhuyung ke sofa.
……..
TELEPON YANG MASIH TERHUBUNG
Suara Siska di telepon terdengar bingung.
“Mas? Mas Yudi? Itu suara siapa? Kok ribut-ribut? Katanya kamu jadi pengawas proyek, kok jatah makan istri kamu, cuma 10 ribu…?”
Wajah Yudi memerah padam. Gengsinya runtuh di depan mantan kekasihnya.
“Siska, bukan begitu… nanti aku telepon lagi ya.” KLIK.
Yudi mematikan telepon dengan terburu-buru
”Kenapa dimatikan, Mas?
“Takut ketahuan kalau kamu cuma ngasih jatah 10 ribu ?”
“DIAM!” Sudahlah, Mah! Aku pusing! Mending aku ke kantor proyek saja daripada di rumah ribut terus sama Mama!” bentak Yudi sambil menyambar kunci motor.
”Terus Mama, gimana, Yud? Mama lapar! Masa kamu tega ninggalin orang tua sendirian tanpa makanan?”
Bu Tati merengek, wajahnya dibuat semelas mungkin ….
Yudi merogoh dompet, menarik selembar uang merah seratus ribu, dan menyodorkannya kasar..
“Nih! Seratus ribu buat Mama makan hari ini, “oh yaa, Aku pulang malam, mau urusan proyek sekalian mau sewa orang buat mata-matai Rina. Aku yakin itu uang 50 juta ada di tangan dia!”
”Ya sudah, hati-hati! Ingat ya Yud, cari tahu ke mana dia pergi. Siapa tahu dia lagi foya-foya pakai uang kamu!”
seru Bu Tati puas setelah mengantongi ua ng itu.
Setelah Yudi berangkat, Bu Tati melangkah keluar dengan angkuh. Tujuannya bukan cuma cari makan, tapi cari muka. Ia sampai di warung sayur Bu Siti yang sedang ramai dikerumuni ibu-ibu komplek.
”Eh, Bu Tati! Tumben belanja sendiri? Mana menantunya, si Rina? Sudah tiga hari tidak kelihatan di pasar,” sapa Bu RT yang sedang memilah kangkung.
….~ Bu Tati langsung memasang wajah masam, membuang napas kencang-kencang agar semua orang menoleh.
“Duh, Jeng… jangan tanya menantu kurang ajar itu! Tahu tidak, saya datang jauh-jauh, cuma disuguhi mie instan!
Ibu-ibu di warung langsung berhenti memilih sayur. Telinga mereka tegak.
”Masa sih, Bu? Padahal Rina kelihatannya kalem ya,” .

sahut salah satu warga.
”Kalem di luar, aslinya pelit luar biasa!”
sikut Bu Tati berapi-api.
“Nasi tinggal sisa kemarin saja dibagi tiga. Rumah berantakan seperti kapal pecah, dia malah asyik pergi entah ke mana. Kayaknya sih lagi poya-foya habis nemu ‘harta karun’ tapi mertua sendiri dibiarkan kelaparan. Benar-benar menantu durhaka!”
Tiba-tiba, Bu Siti si penjual sayur berhenti menimbang cabai. Ia menatap Bu Tati dengan tatapan heran,
”Loh, poya-foya gimana maksudnya, Bu Tati?” potong Bu Siti keras.
“Wong setiap hari, Rina itu kalau belanja ke sini cuma beli tempe satu papan, tahu dua biji, sama beras sekilo. Itu pun kadang dia nanya, ‘Bu Siti, ada tulang ayam sisa tidak buat kaldu?’
Ibu-ibu lain mulai berbisik-bisik, menatap Bu Tati dengan curiga.
”Iya benar,” timpal Bu RT. “Bukannya Nak Yudi itu kerja kantoran ya? Masa istrinya belanja CUMA, lima ribu begitu?
Kita saja yang suaminya buruh masih bisa beli ayam seminggu dua kali.”
Wajah Bu Tati mendadak panas. Merah padam seperti udang rebus. “Itu… itu kan sandiwara dia saja biar dikasih kasihan! Aslinya dia itu simpan uang banyak, tapi pelitnya minta ampun sama saya!”
”Tapi Bu Tati…”
sela seorang ibu muda yang sedang memegang tempe.
“Kalau rumah berantakan, bukannya selama ini yang saya lihat, Rina itu kerja sendirian ya? ‘Keluar masuk bawa belanjaan, cuci baju sendiri, sapu halaman sendiri. Lah, Ibu kan di sana, masa tidak bantu-bantu sedikit?”
Bu Tati gelagapan. Keluar Gengsinya,
“Kalian ini,kok malah bela dia?! Saya ini mertuanya! Saya yang lebih tahu!”