Aku yang baru keluar dari dapur langsung tersentak. Tanganku gemetar, nampan berisi gelas-gelas teh hangat itu hampir saja terlepas dan jatuh ke lantai. Detak jantungku mendadak tak beraturan.
Sempat terlintas di benakku—bahwa berkumpulnya seluruh saudara Ibu hari ini adalah untuk melepas rindu padaku, yang baru saja pulang dari negeri orang setelah sekian lama pergi.
Ternyata, aku salah besar.
Tante Isti, kakak ipar Ibu, menegakkan tubuh. Senyum miringnya muncul bersama tatapan tajam.
“Nggak ada istilah saudara kalau sudah urusan harta,” katanya pelan, namun nadanya terdengar penuh kepuasan.
Aku meletakkan nampan di meja dan menatapnya tak percaya. Tante Isti yang dulu sering menumpang makan di rumah ini, kini dengan angkuh berbicara soal harta.
“Apa maksudnya, Tante?” tanyaku, mencoba tetap sopan.
“Maksud Tante, rumah ini terlalu besar. Nggak adil kalau cuma kalian yang menikmati. Memang seharusnya dijual. Lagipula, kalian bakal keenakan tinggal di sini tanpa susah payah bangun rumah sendiri,” jawab Tante Isti dengan nada sinis.
Ia melirik ke arah keluarga lain, seolah menuntut dukungan.
“Iya, kamu benar,” sahut Paman Jabir singkat.
“Memang nggak adil. Aku cuma dapat sawah sepetak, sementara kalian dapat tanah rumah yang luas. Pantas kamu ngotot merawat orang tua kita dulu, Mbak. Ternyata dari awal kamu sudah mengincar tanah ini! Harusnya dulu rumah ini jadi bagianku!” seru Bibi Nura dengan wajah masam.
“Kamu benar, Nur. Sebagai anak bungsu, memang seharusnya rumah ini jadi milikmu,” ucap Tante Wati, ipar Ibu yang tinggal bersebelahan.
Padahal, semua saudara Ibu tahu betul bagaimana kondisi rumah ini sebelum menjadi seperti sekarang.
Aku masih ingat dengan jelas—dulu ketiga saudara Ibu selalu punya seribu alasan saat Kakek dan Nenek meminta dirawat. Hanya Ibu dan Ayah yang dengan tulus maju, ikhlas mengurus keduanya sampai tutup usia.
Namun saat pembagian warisan tiba, tak ada satu pun dari mereka yang protes ketika Kakek memutuskan menyerahkan rumah ini kepada Ibu—rumah tua yang dulu nyaris roboh.
Aku menatap wajah Ibu yang berusaha tegar.
Aku tahu, hatinya pasti perih—bukan karena harta, tetapi karena dikhianati oleh darah daging sendiri.
“Nanti kalian bisa beli rumah lain kalau rumah ini laku. Jangan terlalu serakah,” tambah Tante Wati dengan nada santai.
“Serakah?” aku hampir tertawa getir.
“Rumah ini jadi besar seperti sekarang karena kerja kerasku, Tante! Dulu, sebelum direnovasi, rumah ini hampir roboh—dan kalian semua tahu itu!”
Tatapanku menyapu satu per satu wajah di hadapanku, menembus mata mereka yang pura-pura tidak bersalah, sementara amarah perlahan mendidih di dadaku.
Begitu mataku bertemu dengan Tante Wati, ia buru-buru mengalihkan pandangan. Wajahnya berubah masam, seperti ketahuan menyembunyikan sesuatu.
Aku tahu, percikan api dari semua kekacauan hari ini bermula darinya—dari lidah manis yang pandai menghasut dengan cara paling halus dan menyakitkan.
“Ah, mana mungkin kamu bisa membangun rumah sebesar ini? Gaji dari luar negeri juga tak cukup untuk semua ini. Pasti ibumu menjual perhiasan nenekmu waktu dia masih hidup, iya kan?” ujar Tante Isti, menekan setiap kata dengan penuh tuduhan.
Aku menatapnya tajam.
“Maksud Tante apa? Kami—”
“Sudah cukup memperkeruh suasana, Alita. Sebaiknya kamu diam. Jangan kurang ajar ikut campur dalam urusan orang tua,” potong Tante Wati dengan suara lantang.

Adik ipar Ibu itu memang piawai bersandiwara—selalu tampil paling bijak di depan orang, padahal dialah biang keributan yang sebenarnya.
Aku menatap mereka lama.
“Aku tidak akan diam dan membiarkan orang tuaku diinjak, Tante,” suaraku bergetar, namun tegas. “Selama ini aku diam karena masih menganggap kalian saudara. Tapi sekarang—aku tidak akan diam lagi.”
Ibu tiba-tiba menggenggam tanganku erat, tanda memintaku untuk diam.
“Bagaimanapun, dulu atau sekarang, rumah ini tetap harus dijual. Hasilnya akan dibagi rata,” ucap Paman Jabir enteng, seolah tak peduli.
“Tidak bisa sembarangan menjual, Paman! Ini rumah kami!” tegasku.
“Kamu bisa apa, Alita?” sahut Tante Isti cepat, dengan senyum sinis. “Selama tidak ada hitam di atas putih, rumah ini bukan milik kalian.”
“Pokoknya rumah ini tetap dijual!” suara Paman Jabir menggema keras di ruang tamu, membuat semua orang terdiam.
“Sudah, Nak…” suara Ibu terdengar pasrah.
Aku memandang Paman Jabir dengan perasaan campur aduk. Ia, saudara tertua Ibu, seharusnya menjadi penengah dan menegakkan keadilan. Namun nyatanya, justru dialah yang paling serakah.
Padahal semua harta peninggalan Kakek dan Nenek dulu sudah dibagi rata—tanah, kebun sawit, sawah di kampung—semuanya sudah mereka terima sesuai bagian masing-masing. Sementara Ibu hanya mendapatkan rumah tua ini.
Rumah yang kini berdiri megah seperti sekarang—hasil dari kerja kerasku.
Dari gajiku yang kukirim setiap bulan selama tujuh tahun menjadi pekerja di negeri orang.
Dan kini, ketika semuanya sudah indah… sudah bernilai… mereka datang untuk merebutnya.
“Sekarang jangan ada yang membantah. Kalau ada yang membantah, aku pastikan akan ada terjadi hal yang tidak diinginkan,” lanjut Paman Jabir dengan nada mengancam.
Aku menggenggam tangan Ibu yang mulai bergetar.
Ayah hanya duduk di samping Ibu, diam. Wajahnya tegang, bibirnya rapat seolah kehilangan suara. Entah kenapa ia tidak bersuara, tidak sedikit pun mencoba mempertahankan hak atas rumah yang dibangun dengan susah payah.
“Berkemaslah mulai sekarang, Yani. Kami akan segera mencari pembeli rumah ini,” ucap Tante Isti dingin, seolah dialah pemilik sah rumah ini.
Ibu menunduk. Bahunya bergetar pelan.
Aku bisa merasakan panas menjalar di dada—antara marah dan tidak percaya.
Bagaimana mungkin keluarga sendiri tega mengusir kami dari rumah yang justru berdiri karena jerih payah kami?
“Sudah tidak ada lagi yang perlu dibahas. Ayo, Mas. Kita pulang,” ucap Tante Isti.
Satu per satu mereka berdiri dan pergi.
Dalam sekejap, rumah ini kembali sunyi.
Kesunyian yang terasa menyesakkan.
“Kenapa Ayah cuma diam?” suaraku akhirnya pecah. “Ini rumah kita… kenapa Ayah—”
“Percuma, Nak,” potong Ayah lirih, nyaris seperti bisikan.
“Sertifikat rumah ini… belum dialihkan.”
Aku terpaku.
Suaraku tercekat.
“Maksud Ayah… jadi yang dikatakan Tante Isti tadi benar?”
“Selama ini rumah ini… bukan atas nama Ayah dan Ibu?”
Ayah hanya menunduk. Lalu mengangguk lemah.
“Kenapa Ayah tidak pernah bilang? Kenapa dari dulu tidak diurus, Yah?” suaraku bergetar.
“Sekarang… gimana?”