Posted in

AKU MEMBERIKAN TEMPAT DUDUKKU DI JEEP KEPADA SEORANG WANITA TUA, DAN DIA BERBISIK PADAKU: “KALAU SUAMIMU MEMBERIMU KALUNG, RENDAM DULU DI AIR.” MALAM ITU, AKU MENYADARI BAHWA HADIAH ITU BUKAN CINTA—MELAINKAN VONIS.**

AKU MEMBERIKAN TEMPAT DUDUKKU DI JEEP KEPADA SEORANG WANITA TUA, DAN DIA BERBISIK PADAKU: “KALAU SUAMIMU MEMBERIMU KALUNG, RENDAM DULU DI AIR.” MALAM ITU, AKU MENYADARI BAHWA HADIAH ITU BUKAN CINTA—MELAINKAN VONIS.**

**BAGIAN 1**

“Kalau suamimu memberimu kalung, rendam dulu di air sebelum dipakai.”

Wanita tua itu mengatakannya di dalam jeep seolah-olah dia sudah mengenalku sejak lama. Aku hampir tertawa, tetapi ada sesuatu di matanya yang membuat bulu kudukku langsung meremang.

Namaku Daniela Vargas, tiga puluh lima tahun, dan aku bekerja sebagai asisten akuntansi di sebuah perusahaan konstruksi di bagian utara Manila.

Rutinitasku sederhana—melelahkan dan sunyi.

Aku pulang malam dari kantor, naik jeep yang penuh sesak dan dorong-dorongan, lalu kembali ke apartemen kontrakan kami di sebuah barangay tempat para tetangga tahu siapa yang bertengkar dan siapa yang berbohong.

Di mata orang lain, hubunganku dengan Mauricio terlihat normal.

Kami sudah bersama selama delapan tahun.

Tidak punya anak.

Membayar tagihan.

Tidur berdampingan.

Dan setiap bulan, percakapan kami semakin sedikit.

Awalnya dari kebiasaannya pulang larut malam.

Lalu telepon-telepon yang dia jawab di lorong.

Setelah itu, ponselnya selalu diletakkan terbalik dan dia mandi lama begitu sampai di rumah.

Tidak pernah ada bukti jelas soal perselingkuhan.

Jadi aku diam saja.

Seperti banyak perempuan lain, aku mengira bertahan adalah cinta dan kebiasaan adalah keteguhan.

Sore itu, jeep sangat penuh.

Aku duduk di dekat jendela ketika seorang wanita tua naik dengan tongkat dan dua tas belanja dari pasar.

Aku memberikan tempat dudukku kepadanya.

Dia memegang pergelangan tanganku sebelum turun.

“Kalau suamimu memberimu kalung, rendam semalaman di dalam segelas air.”

“Jangan percaya pada sesuatu yang berkilau.”

Aku ingin bertanya apa maksudnya, tetapi dia sudah hilang di tengah keramaian.

Saat tiba di rumah, aku menganggap itu hanya salah satu kejadian aneh yang akan terlupakan sebelum makan malam.

Tetapi pukul sebelas tiga puluh malam, Mauricio pulang dengan senyum yang sudah lama tidak kulihat.

Dia membawa sebuah kotak kecil berwarna biru.

“Jangan lihat aku begitu.”

“Ini untukmu.”

Aku terdiam.

Mauricio bukan tipe pria yang suka memberi hadiah.

Dia tipe laki-laki yang hanya mengingat tanggal penting kalau ada keuntungan untuk dirinya sendiri.

Aku membuka kotak itu dan melihat sebuah kalung emas dengan liontin kecil berbentuk tetesan air.

Kalung itu indah.

Terlalu indah—lebih mahal dari kemampuan keuangan kami.

“Pakai.”

“Aku ingin melihatmu memakainya.”

Bukan kata-katanya yang membuatku tidak nyaman.

Melainkan cara dia mengatakannya.

Itu tidak terdengar romantis.

Terdengar seperti terburu-buru.

“Nanti saja.”

“Aku rapikan barang-barang dulu.”

Senyumnya sedikit menegang.

“Jangan lama-lama.”

Dia masuk ke kamar, meninggalkanku sendirian di dapur, menatap kalung itu seolah benda itu bernapas.

Tiba-tiba aku teringat wanita tua tadi.

Aku malu pada diriku sendiri, tetapi tetap mengambil gelas, mengisinya dengan air, lalu merendam kalung itu.

Aku tidur dengan perasaan cemas yang tidak bisa dijelaskan.

Pukul enam pagi, aku terbangun karena bau aneh.

Asam bercampur logam—seperti koin basah.

Aku berjalan tanpa alas kaki menuju dapur, lalu tubuhku langsung membeku.

Air di gelas itu tidak lagi bening.

Warnanya berubah kehijauan dan kental.

Liontinnya terbuka di bagian tengah.

Di dasar gelas, ada bubuk abu-abu dan selembar kertas kecil terlipat.

Perlahan aku mengambilnya.

Ternyata itu salinan asuransi jiwaku.

Namaku.

Tanda tanganku.

Jumlah uang pertanggungannya.

Dan di salah satu sudutnya, tulisan tangan Mauricio dengan empat kata yang membuat jantungku seakan berhenti berdetak:

“Besok malam.”

Pada saat itulah aku mendengar langkah kakinya mendekat dari lorong—dan aku sadar bahwa mimpi buruk yang sebenarnya baru saja dimulai

BAGIAN 2

Langkah kaki Mauricio terdengar berat di atas lantai linoleum yang dingin. Setiap detakan langkahnya terasa seperti hitungan mundur menuju kematianku.

Dengan tangan yang gemetar hebat, aku memasukkan kembali kertas kecil itu ke dalam saku dasterku. Aku menyambar gelas berisi air kehijauan itu, membuang isinya ke dalam saluran bak cuci piring, dan membilasnya secepat kilat. Hanya kalung itu yang tersisa di tanganku—terbuka, hancur, dan mengeluarkan bau logam yang menyengat.

Tepat saat aku menyembunyikan kalung itu di balik telapak tanganku, bayangan Mauricio muncul di ambang pintu dapur.

“Daniela? Sedang apa kamu sepagi ini?” tanya Mauricio. Matanya yang merah dan mengantuk langsung tertuju pada tanganku.

Aku memaksakan sebuah senyuman, meskipun rahangku terasa kaku. “Hanya… haus. Semalam aku bermimpi buruk.”

Mauricio melangkah mendekat. Tatapannya dingin, meneliti setiap gerak-gerikku. “Di mana kalung yang kuberikan semalam? Kenapa tidak kamu pakai?”

“Ah, itu…” Aku menelan ludah, mencoba menenangkan debaran jantungku yang menggila. “Pengaitnya sepertinya agak longgar, Mauricio. Aku takut jatuh kalau langsung kupakai sekarang. Aku berencana membawanya ke toko perhiasan di dekat kantor nanti siang untuk diperbaiki.”

Mauricio terdiam selama beberapa detik yang terasa seperti keabadian. Ia menatapku lurus, seolah mencoba membaca apakah aku sedang berbohong. Kemudian, senyum palsunya kembali mengembang—senyuman yang kini membuat bulu kudukku berdiri.

“Begitu ya? Ya sudah, bawa saja. Tapi pastikan kamu memakainya besok malam,” katanya, menekankan kata besok malam dengan nada yang teramat tenang. “Kita ada janji makan malam merayakan hari jadi kita yang kedelapan. Aku sudah memesan tempat khusus.”

“Tentu,” jawabku lirih. “Aku bersiap-siap kerja dulu.”

Begitu ia berbalik masuk ke kamar mandi, aku langsung berlari ke kamar, mengunci pintu, dan merosot ke lantai. Air mataku tumpah tanpa suara.

Delapan tahun. Delapan tahun aku berbagi tempat tidur dengan seorang pria yang diam-diam merencanakan pembunuhanku.

Bubuk abu-abu di dalam liontin itu pastilah racun—mungkin jenis logam berat atau arsenik yang akan terserap melalui kulitku saat aku berkeringat, atau racun yang meledak perlahan ketika terkena suhu tubuh. Dan kertas asuransi itu… dia memalsukan tanda tanganku demi uang pertanggungan senilai jutaan peso untuk membayar utang-utangnya atau untuk memulai hidup baru dengan wanita lain yang sering meneleponnya tengah malam.

Aku tidak bisa tinggal di sini lebih lama lagi. Aku harus pergi sekarang.

Memburu Sang Penyelamat

Aku memasukkan beberapa potong pakaian dan dokumen penting ke dalam tas ranselku secara terburu-buru. Sambil membawa kalung hancur itu, aku keluar dari apartemen bahkan sebelum Mauricio selesai mandi.

Aku tidak pergi ke kantor. Pikiranku hanya tertuju pada satu hal: wanita tua di dalam jeep.

Siapa dia? Bagaimana dia bisa tahu? Dan yang paling penting, bagaimana aku bisa menemukannya kembali di tengah kota Manila yang berpenduduk jutaan jiwa ini?

Satu-satunya petunjuk adalah tas belanjaan yang dibawanya kemarin. Tas itu bertuliskan nama sebuah pasar tradisional di dekat stasiun kereta api utara. Aku menghabiskan waktu empat jam di pasar itu, berjalan menyusuri kios-kios yang pengap, menunjukkan foto kalung hancur itu, dan menanyakan keberadaan seorang wanita tua dengan tongkat kayu.

Hampir semua orang menggelengkan kepala, sampai seorang penjual tanaman herbal di sudut pasar menghentikanku.

“Kamu mencari Aling Marta?” tanya wanita penjual itu sambil berbisik. “Dia sering duduk di jeep jalur utara. Dia bukan orang sembarangan. Dia bisa ‘melihat’ hal-hal yang tidak bisa dilihat orang biasa.”

“Di mana dia tinggal?” tanyaku tidak sabar, mencengkeram lengan baju penjual itu. “Tolong, nyawaku taruhannya.”

Penjual itu menatapku dengan iba lalu menuliskan sebuah alamat di secarik kertas. “Pergilah ke daerah pinggiran dekat rel kereta tua. Rumahnya yang paling ujung dengan tanaman merambat hitam.”

Kebenaran yang Lebih Kelam

Aku tiba di sebuah gubuk kecil yang sunyi saat matahari mulai turun. Ketika aku mengetuk pintu, pintu itu terbuka dengan sendirinya. Di dalam ruangan yang remang-remang dan dipenuhi bau kemenyan, wanita tua itu sudah duduk di sebuah kursi goyang, seolah-olah dia memang sedang menungguku.

“Kamu datang lebih cepat dari yang kukira, Daniela,” ucapnya tanpa menoleh.

“Bagaimana Anda tahu namaku? Bagaimana Anda tahu tentang kalung itu?!” tanyaku setengah berteriak, air mata keputusasaan kembali mengalir di pipiku. Aku meletakkan kalung yang telah berubah hijau itu di atas mejanya.

Aling Marta menghentikan ayunan kursinya, lalu menatapku dengan mata keruhnya yang dalam.

“Aku tidak mengenalmu, Daniela. Tapi aku mengenal suamimu, Mauricio,” jawabnya pelan.

Kata-katanya membuat jantungku mencelos. “Apa maksud Anda?”

“Dua minggu lalu, seorang pria datang ke tempat ini membawa kalung itu. Dia tahu aku mengerti tentang racun herbal lama dan zat kimia kuno dari desa. Dia membayarku mahal untuk mengisi liontin itu dengan bubuk Sianida dosis rendah yang dicampur dengan zat perekat kulit. Dia ingin kematian istrinya terlihat seperti serangan jantung alami,” Aling Marta menghela napas panjang.

“Aku menerima uangnya karena aku butuh biaya untuk obat cucuku. Tapi setelah dia pergi, wajahnya terus menghantui mimpiku. Aku melihat bayangan kematian yang sangat gelap mengikutinya. Kemarin, saat aku naik jeep, aku melihatmu duduk di dekat jendela. Wajahmu sangat mirip dengan foto di dalam dompet pria itu yang sempat ia tunjukkan padaku untuk memastikan ukuran lehermu.”

Aku terduduk lemas di lantai semen gubuk itu. Jadi, wanita ini adalah orang yang meracik vonis matiku, namun hatinya nuraninya menolak untuk membiarkanku mati.

“Besok malam, dia akan membawamu ke restoran di tepi teluk,” lanjut Aling Marta, suaranya mendadak berubah menjadi tegas dan tajam. “Dia akan memaksamu memakai kalung itu, atau dia akan memasukkan sisa bubuk itu ke dalam minumanmu jika rencana kalungnya gagal. Dia sudah terdesak oleh lintah darat, Daniela. Dia tidak akan mundur.”

Aku mengepalkan tanganku hingga kuku-kukuku memutih. Rasa takutku perlahan-lahan menguap, digantikan oleh kemarahan yang membakar dada. Delapan tahun aku menjadi istri yang penurut, diam saat dikhianati, dan bertahan dalam kesunyian. Dan ini balasan yang kuterima?

“Aku tidak akan lari,” bisikku, menatap Aling Marta dengan pandangan yang kini penuh dengan tekad dingin. “Jika dia menginginkan sebuah akhir besok malam… aku akan memberikan akhir yang tidak akan pernah dia lupakan.”

Makan Malam Terakhir

Malam berikutnya.

Restoran di tepi Teluk Manila itu tampak sepi dan romantis, namun bagiku, rasanya seperti ruang eksekusi. Mauricio duduk di depanku, mengenakan kemeja terbaiknya. Di leherku, melingkar sebuah kalung emas dengan liontin tetesan air.

Mauricio terus menatap leherku sepanjang malam dengan binar mata yang penuh antisipasi. Ia tidak tahu bahwa kalung yang kupakai adalah kalung imitasi murah yang kubeli di pasar tadi siang—sangat mirip, namun sama sekali tidak beracun. Kalung yang asli, bersama dengan bubuk abu-abu yang tersisa, berada di dalam tas malamku, terjepit di antara ponselku yang sedang menyala dalam mode rekam suara di bawah taplak meja.

“Kamu terlihat sangat cantik malam ini, Daniela,” kata Mauricio, mengangkat gelas anggur merahnya. “Untuk delapan tahun kebersamaan kita. Dan untuk masa depan yang baru.”

“Ya. Untuk masa depan yang baru,” jawabku tenang, mengangkat gelasku sendiri. Aku berpura-pura meminumnya, namun sebenarnya hanya menempelkan bibirku di pinggiran gelas.

Satu jam berlalu. Mauricio mulai tampak gelisah. Ia berulang kali melihat jam tangannya, lalu menatap leherku yang sama sekali tidak menunjukkan gejala ruam atau melepuh.

“Apakah… lehermu tidak terasa gatal atau hangat, Daniela?” tanya Mauricio, suaranya mulai terdengar tidak sabar.

“Tidak. Kenapa? Apa harusnya terasa gatal?” tanyaku balik dengan nada polos.

Mauricio menggeram pelan, wajahnya mulai menegang. “Ah, tidak. Mungkin bahannya sangat bagus jadi terasa nyaman.” Ia kemudian menuangkan kembali anggur ke gelasku. “Minum lagi anggurmu, sayang. Malam masih panjang.”

Aku melihat ke dalam gelas anggurku. Di permukaan cairan merah pekat itu, ada sedikit sisa buih mikro yang tidak wajar. Dia telah memasukkan sisa bubuk racun itu saat aku berpura-pura melihat ke arah luar jendela tadi.

Aku meletakkan gelas itu kembali dengan perlahan. Aku menegakkan punggungku, menatap langsung ke dalam mata pria yang telah menghancurkan seluruh kepercayaanku.

“Mauricio,” panggilku lembut.

“Ya?”

“Bagaimana cuaca besok malam?”

Pertanyaanku yang acak membuat dahinya berkerut. “Apa maksudmu?”

Aku meraba saku tasku, mengeluarkan selembar kertas kecil yang sudah agak lecek dan meletakkannya di atas meja, tepat di depan piringnya. Kertas salinan asuransi jiwa dengan tulisan tangannya sendiri: Besok malam.

Wajah Mauricio langsung berubah pucat pasi, kehilangan seluruh warnanya dalam sekejap.

“Kamu… bagaimana bisa…” kalimatnya menggantung di udara. Tangannya mulai gemetar.

“Aku bertemu dengan Aling Marta, Mauricio,” bisikku dengan suara yang begitu tenang namun mematikan. “Aku tahu tentang racun di kalung ini. Aku tahu tentang asuransi ini. Dan aku tahu tentang semua utang-utang judi dan perselingkuhanmu di Manila utara.”

Mauricio berdiri dengan panik, kursinya bergeser ke belakang dengan bunyi mendecit yang nyaring. “Kamu… kamu menjebakku!” Ia mencoba meraih tas gantungnya untuk kabur, namun aku menahan lengannya dengan cengkeraman yang luar biasa kuat—kekuatan yang lahir dari rasa sakit seorang wanita yang dikhianati.

“Sudah terlambat, Mauricio,” kataku sambil mengangkat ponsel dari bawah meja, menunjukkan layar yang merekam seluruh percakapan kami sejak awal, termasuk pertanyaannya yang mencurigakan tentang efek racun di leherku.

Dari arah pintu masuk restoran, empat orang petugas kepolisian berpakaian preman yang sudah kuhubungi sejak sore tadi bergerak cepat. Mereka langsung mengepung meja kami dan memiting kedua tangan Mauricio ke belakang sebelum ia sempat melakukan perlawanan.

“Daniela! Lepaskan aku! Kamu tidak punya bukti!” teriak Mauricio histeris saat borgol besi mengunci pergelangan tangannya. Pengunjung restoran lain mulai berbisik-bisik dan menatapnya dengan pandangan jijik.

Aku berdiri, melepaskan kalung imitasi dari leherku, lalu melemparkannya tepat ke wajahnya yang kini dipenuhi ketakutan.

“Buktinya ada di dalam gelas anggur yang baru saja kamu isi racun, Mauricio. Dan di dalam rekaman ini,” kataku dingin, menatapnya tanpa ada lagi rasa cinta maupun benci—hanya ada kekosongan yang mutlak. “Kamu benar tentang satu hal semalam. Hari ini adalah awal dari masa depan yang baru. Tapi bukan untukmu. Melainkan untukku.”

Aku berbalik dan berjalan keluar dari restoran itu tanpa menoleh ke belakang lagi. Di luar, angin malam Teluk Manila menerpa wajahku, terasa begitu segar dan melegakan. Hadiah itu memang sebuah vonis—tetapi bukan vonis matiku, melainkan vonis kehancuran bagi pria yang mencoba bermain-main dengan hidupku. Aku akhirnya bebas.