Kalimat itu keluar pelan dari bibir Nayla.
Tapi justru suara pelan itulah yang membuat semua orang di ruang makan membeku.
Sendok di tangan ibu mertuanya jatuh berdenting.
Sedangkan Faris—suaminya—langsung berdiri dari kursi dengan wajah pucat.
“Nay… kamu jangan bercanda.”
Nayla tertawa kecil.
Tawa hambar yang terdengar jauh lebih menyeramkan daripada teriakan.
“Menurut kamu aku sedang bercanda?”
Hujan deras mengguyur kaca apartemen mewah di kawasan Sudirman malam itu.
Di atas meja masih ada kue anniversary yang belum sempat dipotong.
Lima tahun pernikahan.
Dan hadiah yang Nayla dapat malam ini adalah—
suaminya pulang membawa perempuan lain.
Perempuan muda bernama Keisha.
Masih dua puluh tiga tahun.
Cantik. Lembut. Dan… sedang hamil tiga bulan.
Ibu mertua Nayla, Bu Ratih, langsung bangkit sambil menunjuk wajah menantunya.
“Kamu jangan kurang ajar ya, Nayla! Faris itu suamimu!”
“Masih,” jawab Nayla cepat.
Ruangan langsung hening.
Faris menelan ludah.
“Nay, dengar dulu penjelasanku—”
“Penjelasan apa?” Nayla menatap suaminya tajam. “Bahwa selama aku sibuk bantu bisnis kamu dari nol, kamu malah sibuk hamili perempuan lain?”
Keisha langsung menunduk ketakutan.
Sedangkan Bu Ratih mendecakkan lidah kesal.
“Kalau kamu bisa kasih anak, Faris juga nggak akan cari perempuan lain!”
Kalimat itu menghantam dada Nayla begitu keras.
Namun anehnya…
kali ini ia tidak menangis.
Tidak seperti biasanya.
Wanita itu malah tersenyum tipis.
Senyum dingin yang membuat Faris mulai gelisah.
“Oh… jadi sekarang semua salahku lagi?”
“Nggak usah playing victim!” bentak Bu Ratih. “Kamu itu istri terlalu sibuk kerja! Pulang malam terus! Perempuan itu tugasnya melayani suami dan kasih keturunan!”

Nayla mengangguk pelan.
“Menarik.”
Ia berjalan menuju rak kecil dekat televisi.
Mengambil sebuah map hitam.
Lalu melemparkannya ke meja.
Brak!
“Apa ini?” tanya Faris bingung.
“Buka.”
Dengan tangan gemetar, Faris membuka map itu.
Dan wajahnya langsung berubah putih.
Karena isinya—
sertifikat apartemen. BPKB mobil. Surat saham perusahaan.
Semuanya.
Atas nama Nayla Pradipta.
“Faris,” suara Nayla pelan sekali sekarang. “Kamu masih ingat waktu kita nikah?”
Pria itu diam.
“Kamu datang cuma bawa satu koper baju dan utang hampir dua ratus juta.”
“Nay…”
“Aku yang bayar utangmu.”
Nayla melangkah mendekat.
“Aku yang bangun bisnis kamu.”
Satu langkah lagi.
“Aku yang kenalin kamu ke klien-klien besar.”
Dan langkah terakhir—
“Aku juga yang membiarkan harga diriku diinjak ibumu selama lima tahun penuh.”
Bu Ratih langsung berdiri marah.
“Kamu menghitung-hitung pengorbanan sama suami sendiri?! Dasar istri nggak ikhlas!”
“Ikhlas?” Nayla menoleh cepat. “Ibu mau bicara soal ikhlas?”
Matanya mulai memerah.
“Saya ikhlas waktu perhiasan mama saya dijual buat nutup utang Faris!”
“Saya ikhlas waktu dihina mandul setiap hari!”
“Saya juga ikhlas waktu Faris pulang pagi terus bilang lembur!”
Suara Nayla mulai bergetar.
“Tapi saya nggak akan ikhlas rumah saya dipakai buat masukin perempuan simpanan!”
Keisha langsung menangis.
“Saya nggak tahu apa-apa, Kak…”
“Oh ya?” Nayla tertawa miris. “Dia bilang belum punya istri?”
Keisha langsung diam.
Tangisnya terhenti.
Karena memang sejak awal ia tahu.
Faris mendekat panik.
“Nay, aku mohon jangan begini. Kita bisa bicara baik-baik.”
Namun Nayla mundur.
Tatapannya berubah jijik.
“Jangan sentuh aku.”
Faris membeku.
Untuk pertama kalinya sejak menikah…
ia melihat istrinya benar-benar kehilangan rasa cinta.
“Mulai malam ini,” ujar Nayla dingin, “kalian bertiga keluar dari apartemenku.”
“Kamu nggak bisa usir suami sendiri!” bentak Bu Ratih.
Nayla tersenyum tipis.
Lalu mengambil ponsel.
“Security?”
Wajah Bu Ratih langsung berubah.
“Saya mau tiga orang tamu saya dikeluarkan malam ini juga.”
“NAYLA!” Faris membentak.
Namun wanita itu malah menatap lurus ke arah suaminya.
“Kenapa marah?”
Air mata akhirnya jatuh dari mata Nayla.
“Tadi sore aku masih milih kue anniversary buat kita, Mas.”
Suasana mendadak sunyi.
“Aku bahkan masih mikir… mungkin setelah lima tahun, akhirnya kita bisa mulai hidup lebih tenang.”
Tangannya mengepal kuat.
“Tapi ternyata selama ini aku cuma bodoh.”
Faris terlihat ingin mendekat lagi.
Namun suara pintu lift terbuka lebih dulu.
Dua petugas keamanan masuk.
Dan di situlah…
untuk pertama kalinya…
Faris sadar.
Perempuan yang selama ini selalu diam, mengalah, dan sabar itu—
sudah benar-benar hancur.
Dan orang yang hancur…
biasanya tidak takut kehilangan apa pun lagi.