Posted in

Ibuku bilang dia selalu dijadikan babu oleh istriku. Dengan marah, kutampar istriku. Karena penasaran dan marah, diam-diam aku tidak bekerja untuk melihat apakah benar yang dibilang ibuku. Tapi aku menyesal saat melihat yang terjadi adalah….

Ibuku bilang dia selalu dijadikan babu oleh istriku. Dengan marah, kutampar istriku. Karena penasaran dan marah, diam-diam aku tidak bekerja untuk melihat apakah benar yang dibilang ibuku. Tapi aku menyesal saat melihat yang terjadi adalah….

***

PLAK!

“Kurang ajar kamu, Dinda! Istri macam apa kamu, berani-beraninya menjadikan ibuku sebagai babu di rumah ini?!”

Tangan kananku masih bergetar di udara, menyisakan rasa kebas yang menjalar.

Namun, rasa itu tidak sebanding dengan amarah yang mendidih di dadaku saat melihat Ibu menangis tersedu-sedu di sudut ruang tamu.

Tangan keriputnya memegang sapu, sementara bajunya basah oleh keringat.

Di hadapanku, Dinda tersungkur ke lantai. Tangannya gemetar memegangi pipi kirinya yang memerah karena tamparanku. Air mata langsung luruh dari pelupuk matanya yang membulat terkejut.

“Mas, apa yang kamu lakukan? Aku nggak pernah—”

“Halah, diam kamu!” bentakku memotong ucapannya.

“Aku banting tulang kerja di luar sana supaya kamu bisa hidup enak, dan ini balasanmu? Menyuruh ibuku mencuci, menyapu, dan memasak sementara kamu cuma ongkang-ongkang kaki di kamar?!”

Ibu melangkah tertatih, meraih lenganku dengan wajah penuh air mata.

“Sudahlah, Arya. Jangan marahi istrimu. Ibu memang cuma numpang di sini. Gak apa-apa Ibu yang mengerjakan semuanya, asal kalian berdua rukun. Ibu ikhlas, Nak.”

Mendengar suara parau Ibu, hatiku semakin hancur. Aku menatap Dinda dengan tatapan jijik.

Dulu aku menikahinya karena kelembutan hatinya, tapi ternyata di belakangku dia hanyalah menantu durhaka.

Malam itu, aku membiarkan Dinda tidur di lantai kamar, tak sudi menyentuhnya sedikit pun.

Namun, entah kenapa, saat subuh menyapa, ada perasaan mengganjal di dadaku.

Dinda menangis dalam diam sepanjang malam. Tatapan matanya saat kutampar semalam bukanlah tatapan wanita licik yang ketahuan, melainkan tatapan seseorang yang hancur karena ketidakadilan.

Rasa penasaran bercampur sisa amarah membuatku mengambil keputusan gila.
Pagi harinya, aku bersiap mengenakan kemeja rapi dan menenteng tas kerjaku seperti biasa.

“Aku berangkat,” ucapku dingin tanpa menatap Dinda yang sedang menyiapkan sarapan. Ibu mengantarku sampai ke teras dengan senyum lembutnya.

Aku memanaskan motor, lalu melaju membelah jalanan kompleks. Namun, alih-alih menuju kantor, aku memutar balik motorku dan memarkirkannya di warung kopi ujung gang yang tertutup rimbunnya pohon mangga.

Aku mengirim pesan ke atasanku, beralasan tidak enak badan dan meminta izin setengah hari.

Dengan langkah mengendap-endap bak pencuri di rumah sendiri, aku menyusup masuk melalui pintu belakang yang mengarah langsung ke dapur.

Jantungku berdebar kencang. Setengah hatiku berharap Ibu benar dan Dinda memang pantas diberi pelajaran. Tapi setengahnya lagi ketakutan.

Rumah terasa hening. Aku melangkah perlahan menuju sekat ruang tengah.

Tiba-tiba, suara tawa yang begitu nyaring menghentikan langkahku. Itu bukan suara tangisan, melainkan tawa kemenangan.

Aku mengintip dari balik tirai pembatas dapur. Mataku terbelalak hebat hingga rasanya nyaris melompat dari rongganya.

Dadaku serasa ditimpa godam raksasa melihat pemandangan di ruang TV.
Dinda sedang berlutut di lantai, menggosok karpet dengan sikat cuci sambil berlinang air mata.

Sementara itu, Ibu yang semalam menangis tertatih-tatih, kini duduk bersandar santai di sofa empuk sambil mengunyah camilan dan menonton sinetron.

Kaki Ibu bahkan dengan sengaja menendang ember berisi air kotor hingga tumpah mengenai baju Dinda.

“Kerja yang bersih! Kalau sampai Arya pulang dan lantai ini masih kotor, awas kamu!”

Aku menahan napas. Tanganku mengepal kuat hingga buku-buku jariku memutih.

Ini … ini ibuku?

Dinda mengusap air matanya, berusaha membereskan tumpahan air itu dengan tangan gemetar.

“Ibu, uang belanja bulan ini sudah habis. Kenapa Ibu malah membelikan perhiasan emas untuk Mbak Rini? Nanti kalau Mas Arya tanya ke mana uangnya, aku harus jawab apa, Bu?”

Ibu mendengus kasar, lalu menunduk menatap Dinda dengan senyum sinis yang belum pernah kulihat seumur hidupku…

“Jawab saja kamu yang pakai untuk foya-foya! Lagipula, Arya itu anakku. Sudah kewajiban dia membiayai ibunya dan membantu kakaknya. Kamu itu cuma orang asing yang menumpang hidup dari keringat anakku!” cetus Ibu dengan nada ketus yang menusuk telinga.

“Tapi semalam Mas Arya sampai menampar saya, Bu… Hati saya sakit sekali,” isak Dinda, suaranya bergetar hebat menahan perih yang teramat dalam.

Ibu justru tertawa terbahak-bahak, seolah penderitaan Dinda adalah sebuah lelucon. “Itu bagus! Memang itu rencanaku. Arya itu bodoh, dia sangat berbakti dan penurut denganku. Sekali saja aku menangis dan berpura-pura jadi korban, dia pasti akan langsung membencimu. Sadar diri, Dinda, sampai kapan pun, Arya akan lebih percaya kata-kataku dibanding kata-katamu!”

Deg!

Duniaku serasa runtuh seketika. Jantungku berdegup begitu kencang hingga menimbulkan rasa ngilu di dada. Rasanya seperti ada petir yang menyambar tepat di atas kepalaku di siang bolong.

Tangan yang semalam kugunakan untuk menampar Dinda mendadak terasa luar biasa dingin dan gemetar. Aku menatap telapak tanganku sendiri dengan rasa benci dan jijik yang tak terhingga. Pria macam apa aku ini? Suami macam apa yang dengan ringannya melayangkan tangan ke pipi wanita yang paling tulus mencintainya, hanya karena hasutan dan sandiwara busuk seorang ibu?

Air mataku runtuh tanpa bisa kubendung lagi. Penyesalan yang teramat besar menghimpit dadaku hingga aku hampir sulit bernapas.

Saat melihat Ibu kembali mengangkat kakinya, bersiap untuk menendang bahu Dinda yang sedang memeras kain pel, akal sehat dan amarahku meledak. Aku tidak bisa tinggal diam lagi.

BRAAAKKK!

Aku menendang pintu pembatas dapur dengan sangat keras, membuat engselnya berderit nyaring.

Suara itu membuat Ibu dan Dinda serentak menoleh. Detik itu juga, waktu seolah berhenti. Camilan yang dipegang Ibu jatuh berserakan di atas karpet. Wajahnya yang tadi penuh keangkuhan mendadak berubah menjadi pucat pasi seperti mayat. Bibirnya bergetar hebat melihatku berdiri di sana dengan air mata yang membasahi pipi dan tatapan mata yang menyala penuh amarah.

Sementara Dinda, ia langsung menutup mulutnya karena syok. Ia menatapku dengan pandangan tidak percaya.

“A-Arya? Kamu… bukannya kamu kerja, Nak?” tanya Ibu dengan suara mencicit, mencoba memaksakan senyum di wajah keriputnya yang kini tampak begitu mengerikan di mataku. Ibu buru-buru menurunkan kakinya dari sofa dan mencoba melangkah mendekatiku. “Arya, ini… ini tidak seperti yang kamu lihat, Nak. Tadi Dinda yang—”

“CUKUP, IBU!” bentakku histeris. Suaraku menggema, membelah keheningan rumah hingga membuat Ibu tersentak mundur.

“Arya tidak menyangka… Arya benar-benar tidak menyangka kalau wanita yang selama ini Arya agung-agungkan sebagai malaikat, ternyata adalah seorang monster!” ucapku dengan suara bergetar menahan tangis yang membuncah.

“Arya, jaga tokomu! Aku ini ibumu!” Ibu mencoba membela diri, wajahnya mulai panik.

“Ibu yang tidak menjaga kehormatan Ibu sendiri sebagai seorang ibu!” teriakku lagi, air mataku mengalir semakin deras. “Aku mendengar semuanya, Bu! Aku melihat dengan mata kepalaku sendiri bagaimana Ibu memperlakukan Dinda seperti binatang! Aku melihat bagaimana Ibu membuang uang belanjaanku untuk membelikan perhiasan Mbak Rini, lalu memfitnah istriku sendiri!”

Ibu membeku, tidak mampu lagi mengeluarkan sepatah kata pun. Seluruh skenario busuk yang ia bangun hancur berkeping-keping dalam sekejap.

Aku menghiraukan Ibu yang mulai menangis ketakutan. Dengan lutut yang lemas dan hati yang hancur, aku melangkah menghampiri Dinda. Wanita itu masih bersimpuh di lantai yang basah, menatapku dengan tubuh yang bergetar.

Aku langsung menjatuhkan diriku berlutut di hadapannya. Tanpa memedulikan baju Dinda yang kotor dan basah karena air pel, aku memeluk tubuhnya dengan sangat erat. Aku menangis sejadi-jadinya di pundak istriku.

“Dinda… Maafkan Mas, Sayang… Maafkan Mas…” bisikku di sela tangisku yang tersedu-sedu. “Mas suami yang bodoh, Mas suami yang berengsek. Mas sudah gagal menjagamu… Maafkan pipimu yang sakit karena tamparan Mas semalam…”

Aku melepaskan pelukan, lalu meraih kedua tangan Dinda yang kasar karena bekerja kasar, lalu menciuminya berulang kali. Aku beralih menyentuh pipi kirinya yang masih menyisakan bekas kemerahan samar akibat perbuatanku semalam. Rasa bersalah ini begitu besar hingga rasanya aku ingin mati saja saat itu juga.

Dinda hanya diam, air matanya mengalir pelan, namun ia tidak menjauhkan tangannya dariku. Kelembutan hatinya justru membuatku semakin merasa menjadi pria paling berdosa di dunia.

Aku berdiri, lalu menoleh ke arah Ibu yang berdiri mematung di dekat sofa. Tatapanku padanya kini telah berubah total—tidak ada lagi kepatuhan buta, yang tersisa hanyalah kekecewaan yang mendalam.

“Mulai hari ini, Ibu tidak usah tinggal di sini lagi,” ucapku dengan nada suara yang mendadak sangat dingin dan datar.

Ibu terbelalak. “Arya! Kamu mau mengusir ibumu sendiri demi perempuan ini?!”

“Aku tidak mengusir Ibu. Rumah Ibu di kampung masih ada. Aku akan tetap mengirimkan uang bulanan untuk makan Ibu sebagai bentuk baktiku sebagai anak. Tapi untuk tinggal di sini dan menginjak-injak harga diri istriku, aku tidak akan pernah mengizinkannya lagi,” jawabku tegas tanpa keraguan.

“Mbak Rini yang Ibu belikan emas itu, suruh dia yang merawat Ibu sekarang. Jangan pernah lagi mengacaukan rumah tanggaku!” lanjutku.

Hari itu juga, aku memesankan taksi untuk Ibu. Tanpa drama, aku mengemasi seluruh pakaian Ibu ke dalam tas dan mengantarkannya keluar pagar. Ibu menangis dan memohon, namun hatiku sudah membatu. Kamar yang setahun ini terasa hangat karena kehadiran seorang ibu, kini terasa melegakan saat ia pergi, karena kebenaran akhirnya terungkap.

Setelah mobil taksi Ibu melaju pergi, aku kembali masuk ke dalam rumah. Aku mengunci pintu rapat-rapat, lalu kembali menghampiri Dinda yang sedang duduk di sofa, memeluk lututnya.

Aku berlutut kembali di hadapannya, menatap matanya yang sembap.

“Dinda, Mas tahu maaf saja tidak akan pernah cukup untuk menyembuhkan luka di hatimu dan bekas tamparan semalam. Tapi Mas berjanji, seumur hidup Mas, Mas akan menebus kesalahan ini. Mas tidak akan pernah membiarkan siapa pun—termasuk keluargaku sendiri—menyakitimu lagi. Berikan Mas satu kesempatan untuk memperbaiki semuanya, Dek…”

Dinda menatapku lama, mencari kesungguhan di mataku. Perlahan, tangan lembutnya terangkat, mengusap sisa air mata di pipiku, lalu mengangguk pelan sambil tersenyum tipis.

Malam itu, di rumah yang kini terasa lebih lapang dan damai, aku belajar sebuah pelajaran hidup yang sangat mahal: bahwa ikatan darah tidak selalu menjamin kebenaran, dan tugas utama seorang suami adalah menjadi pelindung bagi istrinya, bukan menjadi hakim yang menghakimi tanpa bukti.