“Mas, cepat pulang! Tagihan utang pesta mewahmu sudah menunggu untuk dibayar!”
Aku gagalkan bulan madu suami dan pelakornya di Maldives. Aku cabut semua fasilitas milikku yang selama ini dia nikmati. Siapa suruh nikah lagi saat istri terbaring di rumah sakit. Alamat gagal dapat jatah saham dariku, malah jadi g3mbel bareng istri barunya itu! Rasakan itu!
___
“Kesalahan terbesar seorang pengkhianat… adalah merasa sudah menang, padahal permainan baru saja dimulai.”
Pintu kamar rawatku kembali terbuka. Suara engselnya pelan, tapi cukup untuk membuat seluruh kesadaranku menegang.
Langkah kaki masuk. Lebih dari satu. Aku mengenali satu di antaranya. Tegas. Penuh kendali.
Sinta. Ibu dari suamiku. Wanita yang sejak awal… tidak pernah benar-benar menerimaku.
“Lan, gimana? Kamu sudah ngomong? Dia ada reaksi apa tidak?” Suaranya tajam. Tidak ada nada khawatir. Tidak ada empati. Hanya… penasaran.
Seolah aku bukan menantunya. Hanya objek yang sedang menunggu keputusan.
Aku tetap diam. Tak bergerak. Tak bernapas lebih cepat sedikit pun. Padahal di dalam dadaku… sesuatu mulai membakar.
“Sudah, Ma,” jawab Alan cepat. “Sepertinya sudah tidak ada harapan lagi untuk Amara bisa siuman.”
Seketika—, amarah itu meledak. Sialan! Dia mendoakan aku tidak akan sadar lagi.
Kalimat itu bergaung di kepalaku. Menghantam berulang-ulang.
Aku ingin membuka mata. Menatap wajahnya.
Menanyakan bagaimana bisa dia mengatakan itu… setelah semua yang pernah kami lewati.
Tapi aku menahan diri. Aku tidak boleh terburu-buru. Belum.
“Bagus,” sahut Sinta ringan. Ringan. Seolah kabar tentang kemungkinan kematianku… adalah sesuatu yang melegakan.
“Jadi kita bisa segera lanjut ke tahap berikutnya.”
Tahap berikutnya? Aku menahan napas. Mendengarkan lebih saksama.
Calista berbicara pelan, suaranya terdengar lebih hati-hati dibandingkan sebelumnya.
“Ma, Mas Alan bilang setelah kami menikah, Mas Alan akan tetap bertanggung jawab atas biaya perawatannya Mbak Amara.”
Ada jeda sesaat.
Seolah dia sedang menunggu reaksi.
Dan reaksi itu… datang dengan sangat cepat.
“Benar itu, Lan?” suara Sinta berubah tajam.
Tidak lagi tenang. Tidak lagi santai.
“Kamu taruh di mana otak kamu?”
Aku bisa membayangkan tatapan tajamnya mengarah ke Alan.
“Dia itu mayat hidup yang nggak akan pernah bisa bangun! Mau buang-buang duit kamu?”
Setiap kata seperti cambuk. Menghantam tanpa ampun. Aku tetap diam. Tapi di dalam… aku menggenggam sesuatu yang mulai terbentuk.
Dingin. Berbahaya.
“Susah payah kita nyingkirin dia biar kamu bisa menguasai hartanya,” lanjutnya tanpa ragu, tanpa sedikit pun berusaha menurunkan suara.
“Eh, kamu malah mau bikin dia tetap hidup?”
Dunia seakan berhenti. Semua suara lain lenyap. Yang tersisa hanya satu kalimat itu—
Susah payah kita nyingkirin dia…? Napas dalam dadaku terasa berat. Dingin menjalar ke seluruh tubuhku. Kurang ajar…
Apa yang baru saja aku dengar? Apa mungkin…kecelakaanku itu—, jatuh dari tangga—bukan kecelakaan? Pikiranku berputar cepat. Mengingat. Mencari celah.
Hari itu… aku memang sendirian di rumah. Tangga itu licin. Aku terpeleset. Semua terasa begitu cepat. Terlalu cepat. Dan sekarang…kalimat itu mengubah segalanya.
Kalau benar itu terjadi…awas saja kalian…
Sesuatu dalam diriku bangkit sepenuhnya. Bukan lagi rasa sakit. Bukan lagi kesedihan. Tapi kemarahan yang dingin. Yang tidak meledak, melainkan mengendap. Dan menunggu waktu yang tepat.
Akan aku buat pembalasan yang setimpal.
“Ma…” suara Alan terdengar lebih rendah sekarang. “Alan cuma nggak mau orang-orang kepercayaannya Amara curiga.”
Nada suaranya hati-hati. Berbeda dengan sebelumnya. Seolah ia sedang berusaha menenangkan situasi.
“Atau kalau tiba-tiba Amara benar-benar bangun… kita bisa dalam posisi tidak aman.”
Hening. Beberapa detik berlalu.
Aku bisa merasakan bagaimana udara di ruangan ini berubah.
Sinta mendengus pelan. “Kamu ini penakut banget.” Kalimat itu dingin. Penuh penghinaan.
“Perusahaan itu otomatis akan jadi milik kamu. Kamu yang akan berkuasa.” Setiap katanya semakin jelas. Semakin terang. Semakin mengungkap… wajah asli mereka.
“Kita bisa singkirkan semua orang yang tidak mau berpihak sama kita.” Aku hampir tersenyum. Hampir.
Betapa percaya dirinya mereka. Betapa mudahnya mereka membicarakan segalanya di depan “tubuh tak bernyawa” ini. Mereka pikir aku tidak mendengar. Mereka pikir aku tidak tahu. Padahal…aku menyimpan semuanya. Dengan rapi. Dengan sempurna.
“Ma, tapi tetap saja kita harus hati-hati,” suara Calista masuk lagi.
Lebih lembut. Tapi jelas ada ambisi di baliknya.
“Nama Mbak Amara itu besar. Banyak yang masih loyal sama dia.”
Aku bisa merasakan bagaimana dia mencoba terlihat masuk akal. Cerdas.
Tidak seperti sebelumnya yang hanya terdengar manja.
“Mereka tidak akan diam kalau ada yang janggal.” Sinta tertawa kecil. Tawa yang membuat bulu kudukku meremang.
“Kamu terlalu khawatir.”
“Selama Alan ada di posisi suami sah, semua akan tetap di tangannya.”
Ada jeda. Lalu suara itu kembali—, lebih pelan, tapi lebih tajam.
“Dan kalau Amara benar-benar tidak pernah bangun… semuanya akan jadi lebih mudah.”
Sunyi.
Kalimat itu menggantung di udara. Dan untuk pertama kalinya sejak aku sadar—, aku merasa benar-benar… sendirian.
Aku terbaring di sini. Tak bergerak. Tak bersuara. Sementara di sekelilingku…orang-orang yang seharusnya menjadi keluargaku…sedang merencanakan bagaimana mengambil segalanya dariku. Bahkan… mungkin nyawaku.
Langkah kaki terdengar mendekat. Seseorang berdiri sangat dekat denganku. Aku bisa merasakan napasnya. Hangat. Dekat.
“Kasihan ya, Mbak Amara…” Itu suara Calista. Lembut.Pura-pura iba.
“Tapi hidup harus tetap berjalan.”
Aku ingin tertawa. Sungguh. Kalau saja aku membuka mata sekarang…aku ingin melihat ekspresinya.
Apakah dia benar-benar percaya dengan kata-katanya sendiri?
Atau itu hanya topeng… seperti yang dipakai Alan?
“Sudah, kita keluar saja,” kata Sinta akhirnya. “Biar dia ‘istirahat’.”
Kata “istirahat” itu terdengar seperti ejekan.
Langkah kaki mulai menjauh. Satu per satu.

Pintu terbuka. Lalu—, tertutup.
Sunyi kembali memenuhi ruangan.Hanya suara mesin yang masih setia berbunyi.
Aku masih diam.Masih tidak bergerak. Tapi di dalam—aku sudah berubah sepenuhnya.
Kalau sebelumnya aku masih berharap…bahwa semua ini hanya kesalahpahaman…maka sekarang—tidak ada lagi yang bisa disangkal. Ini nyata. Pengkhianatan. Keserakahan. Dan mungkin… percobaan pembunuhan…
Suara klik pintu yang tertutup rapat menjadi gong penanda bahwa sandiwara mereka telah usai, dan panggungku baru saja dimulai. Di balik kelopak mata yang masih terpejam, air mataku mengering, digantikan oleh kobaran api amarah yang murni.
Mereka pikir aku mayat hidup? Mereka pikir tangga licin itu cukup untuk melenyapkanku? Kurang ajar.
Dua hari setelah percakapan jahanam itu, dokter menyatakan ada “keajaiban”. Aku membuka mata secara bertahap, berpura-pura amnesia parsial dan lemah tak berdaya di depan Alan dan Sinta untuk membuai mereka dalam rasa aman yang palsu. Aku membiarkan Alan sibuk mengurus persiapan pernikahannya dengan Calista, membiarkan mereka berpesta di atas penderitaanku.
Namun, di balik punggung mereka, dengan bantuan pengacara setia peninggalan almarhum papaku dan tim IT tepercaya perusahaan, aku bergerak dalam senyap. Rekaman suara pembicaraan mereka di kamar rawatku—yang terekam sempurna oleh mikrofon tersembunyi yang kupasang lewat asistenku sebelum aku berpura-pura koma—menjadi kartu as pertamaku. Bukti sabotase tangga rumah oleh orang suruhan Sinta menjadi kartu as keduaku.
Dan puncaknya adalah hari ini. Hari di mana Alan dan Calista dengan jemawa terbang ke Maldives untuk bulan madu mewah mereka, menggunakan kartu kredit korporat dan fasilitas vila atas namaku.
Aku berdiri di ruang kerja rumahku, menatap layar laptop. Senyum dingin tersungging di bibirku saat jemariku menekan tombol ‘Send’ untuk memblokir seluruh rekening, menarik hak asuh aset, dan mengirimkan seluruh bukti kejahatan mereka ke pihak kepolisian serta dewan komisaris perusahaan.
Aku mengambil ponselku, mengetik satu pesan terakhir untuk suamiku yang tidak tahu diri itu.
To: Alan
“Mas, cepat pulang! Tagihan utang pesta mewahmu sudah menunggu untuk dibayar!”
Aku gagalkan bulan madu suami dan pelakornya di Maldives. Aku cabut semua fasilitas milikku yang selama ini dia nikmati. Siapa suruh nikah lagi saat istri terbaring di rumah sakit, bahkan berencana membunuhku?
Alamat gagal dapat jatah saham dariku, sekarang pihak bank dan polisi sudah bersiap menyita semua yang mereka miliki. Jangankan jadi bos di perusahaanku, malam ini mereka harus angkat kaki dari vila mewah itu karena kartu kreditnya sudah ku-suspend.
Biarkan mereka jadi gembel bareng di negeri orang, saling menyalahkan, sebelum mengenakan rompi tahanan oranye saat mendarat di bandara nanti.
Rasakan itu! Permainan baru saja berakhir, dan akulah pemenangnya.