Posted in

Judul: Harga Sebuah Keserakahan

“Bagaimana, Mas? Bagaimana hasilnya? Apakah Aruna luluh? Apakah kamu sudah minta maaf padanya?” desak Lisa, suaranya dipenuhi harap.

Noah hanya menggelengkan kepalanya perlahan. “Semua sudah berakhir, Lisa. Aku tidak bisa mengejar Aruna lagi. Bima memegang kendali penuh. Dia mengancam akan menghancurkan karierku.”

“Apa? Menghancurkan kariermu? Apa maksudmu, Mas? Ancaman apa lagi ini?!” tuntut Lisa, kemarahan dan ketakutan bercampur aduk dalam suaranya.

Noah menceritakan semua yang terjadi di kafe, mulai dari Bima yang mengetahui isi pesan pribadinya hingga ancaman untuk menyebarkan bukti perselingkuhan dan rekaman saat Noah menampar Aruna ke Komite Etik Kedokteran.

“Dia tidak main-main, Lisa. Dia bilang, jika aku mendekati Aruna lagi, dia akan memastikan besok aku kehilangan lisensiku dan karierku hancur total. Aku terpaksa setuju. Aku janji padanya aku akan menjauhi Aruna,” jelas Noah, suaranya serak dan putus asa.

Wajah Lisa yang tadinya dipenuhi harap, kini berubah menjadi merah padam karena amarah yang meluap-luap.

“Apa?!”

Bab 1: Topeng yang Terbuka

Teriakan Lisa melengking memecah keheningan ruang tamu apartemen mewah itu—tempat yang dulu ia duga akan menjadi sarang cinta megahnya setelah berhasil menendang Aruna keluar dari kehidupan Noah. Wajah Lisa yang tebal dengan riasan mahal kini berkerut dan berubah bentuk karena marah dan terkejut. Ia menerjang maju, mencengkeram kerah kemeja Noah dan menariknya dengan kuat, seolah ingin menyeret pria itu keluar dari rasa pengecut yang melingkupinya.

“Kamu gila, Mas?! Kamu takut pada bocah ingusan seperti Bima itu? Lisensi praktik? Karier? Lalu bagaimana denganku? Bagaimana dengan anak di dalam kandungan ini?! Apa kamu tega membiarkan kami hidup dalam status gelap ini selamanya?!”

Noah dengan lelah menepis tangan Lisa. Ia menghempaskan tubuhnya ke sofa, menyatukan jemarinya, dan menumpukan siku di atas lutut. Rambutnya yang biasa tertata rapi kini acak-acakan. Keangkuhan seorang kepala departemen rumah sakit yang berbakat dan karismatik telah lenyap tanpa bekas, menyisakan seorang pria malang yang gemetar ketakutan menghadapi risiko kehilangan segalanya.

“Kamu tahu apa?!” Noah membentak, matanya merah padam memotong keluhan selingkuhannya. “Bima bukan bocah ingusan! Dia adalah bagian dari keluarga Lim yang berkuasa! Apa kamu tahu seberapa besar pengaruh satu kata darinya bagi dewan direksi rumah sakit? Belum lagi semua bukti itu. Jika video aku menampar Aruna dan riwayat pesan kita bocor ke Komite Etik Kedokteran, aku tidak hanya akan dipecat, tapi reputasi ‘dokter humanis’ yang kubangun akan menjadi lelucon! Aku tidak akan pernah bisa mengangkat kepalaku lagi di dunia medis!”

Lisa terhuyung mundur selangkah. Keserakahan dan kelicikan di dalam otaknya mulai bekerja dengan kecepatan penuh. Lisa tidak pernah benar-benar mencintai Noah apa adanya. Yang ia cintai adalah label dokter sukses, mobil mewah yang menjemputnya, apartemen megah, dan liburan mewah yang dulu dinikmati Aruna. Sekarang, jika Noah kehilangan segalanya dan berubah menjadi pecundang yang terlilit utang, lalu untuk apa ia menanggung malu dicap sebagai pelakor? Hanya demi pria tidak berguna?

“Tidak… itu tidak boleh terjadi,” gumam Lisa, matanya berkilat penuh kedengkian. “Aruna… ini pasti hasutan wanita jalang itu! Dia berpura-pura suci dan menderita hanya untuk menunggu hari ini, kan? Mas, kamu tidak boleh menyerah. Kamu harus pergi memohon pada Aruna. Hati wanita itu sangat lembek. Asalkan kamu berlutut, menangis, dan mengungkit sepuluh tahun kenangan kalian, dia pasti akan menyuruh Bima berhenti!”

Noah mendongak menatap Lisa. Untuk pertama kalinya, kilatan rasa muak yang teramat sangat muncul di matanya. Melihat wanita di depannya, Noah tiba-tiba teringat pada Aruna.

Aruna selalu lembut, selalu menyambutnya pulang dengan senyuman hangat dan hidangan segar, tidak peduli seberapa larut ia pulang dari rumah sakit. Aruna tidak pernah menuntut kekayaan, tidak pernah bersikap pragmatis meminta hadiah mewah di luar kemampuannya. Bahkan ketika mendapati dirinya dikhianati, Aruna hanya menangis dalam diam dan berbalik pergi dengan harga diri tertinggi.

Sedangkan Lisa? Di saat ia tertimpa musibah, hal pertama yang dipikirkan wanita ini bukanlah menenangkannya, melainkan mendesaknya untuk kembali menginjak-injak harga diri mantan istrinya demi mengamankan keuntungan pribadi mereka.

“Cukup, Lisa!” Noah berdiri dengan kasar, suaranya sedingin es. “Sadar lah! Aruna bukan lagi orang yang bisa aku kendalikan sesuka hati. Di sampingnya sekarang ada Bima. Pria itu melindunginya seperti sebuah permata. Baru saja aku mencoba menyentuh tangan Aruna, Bima hampir mematahkannya. Aku tidak ingin bunuh diri!”

Bab 2: Pengkhianatan di Atas Pengkhianatan

Hari-hari berikutnya bagi Noah dan Lisa bagaikan mimpi buruk yang tak berkesudahan. Meskipun Noah menepati janjinya untuk menjauh dari Aruna, tekanan tak kasat mata dari Bima tetap terasa sangat berat.

Di rumah sakit, Noah merasa tatapan rekan-rekan kerjanya berubah. Ada bisik-bisik di belakang punggungnya dan tatapan penuh selidik. Posisi Wakil Direktur Rumah Sakit yang 90% hampir pasti menjadi miliknya tiba-tiba ditunda tanpa batas waktu dengan alasan “perlu peninjauan lebih lanjut mengenai perilaku dan kehidupan pribadi”. Noah tahu betul, ini adalah peringatan keras dari jaringan Bima. Salah melangkah sedikit saja, jurang kehancuran siap menelannya.

Stres di tempat kerja membuat Noah meluapkan seluruh emosinya di rumah. Apartemen yang dulunya menjadi “surga tersembunyi” bagi perselingkuhan mereka kini berubah menjadi medan perang dengan pertengkaran yang tiada henti.

“Mana uang bulanan untuk ibuku? Kenapa jumlahnya berkurang setengah dari bulan lalu?” Lisa melemparkan tumpukan tagihan ke atas meja dengan wajah cemberut.

“Sudah kubilang, bulan ini semua bonus proyekku dipotong! Pengeluaran rumah tangga harus dihemat. Kurangi membeli tas-tas tidak berguna itu!” jawab Noah lelah sambil memijat pelipisnya.

“Tidak berguna? Kamu bilang aku tidak berguna?!” teriak Lisa histeris. “Aku sedang mengandung anakmu! Kamu tega membuat kami hidup menderita, padahal kamu berjanji akan memberiku pernikahan abad ini dan kehidupan bak ratu? Lihat dirimu sekarang, apa bedanya kamu dengan pria pecundang yang lemah?!”

Plakk!

Satu tamparan keras menggema. Noah menatap tangannya yang gemetar, lalu menatap Lisa yang sedang memegangi pipinya dengan tatapan tidak percaya.

“Tutup mulutmu!” napas Noah memburu. “Jika bukan karena keserakahanmu, jika bukan karena kamu merayuku dan merencanakan agar aku menceraikan Aruna, aku tidak akan terjebak dalam situasi hancur seperti ini! Kamulah yang menghancurkan keluargaku, kamulah yang menghancurkan hidupku!”

Lisa tertawa keras, tawa yang penuh racun dan kegilaan. Ia sadar, kapal bernama Noah ini akan segera tenggelam. Dan seorang wanita cerdik seperti dirinya tidak akan pernah sudi ikut tenggelam bersama kapal tersebut.

“Jadi kamu menyalahkanku? Hahaha! Noah, oh Noah. Pria seperti kalian saat sukses akan mengeklaim semua pujian, tapi saat gagal akan menyalahkan wanita. Baiklah, jika itu yang kamu pikirkan, kita selesai sampai di sini!”

Malam itu juga, memanfaatkan momen saat Noah tertidur lelap karena mabuk alkohol, Lisa menguras habis sisa uang tunai di brankas beserta seluruh perhiasan emas yang pernah dibelikan Noah untuknya. Ia melangkah pergi dengan koper tanpa meninggalkan sepatah kata pun. Anak di dalam kandungan? Itu hanyalah kartu truf yang ia gunakan untuk memeras Noah. Sekarang, karena kartu itu sudah kehilangan nilainya, ia tidak merasa perlu mempertahankannya lagi.

Keesokan paginya, saat Noah terbangun dengan kepala yang teramat pening, ia hanya mendapati rumah yang kosong, dingin, dan pintu brankas yang menganga lebar. Noah tertawa getir, air mata penyesalan yang terlambat mengalir membasahi pipinya. Ia telah menukar seorang istri setia yang mencintainya tanpa syarat dengan seekor ular berbisa yang haus harta. Kini, karma instan telah datang mengetuk pintunya.

Bab 3: Cahaya Baru Aruna

Berbanding terbalik dengan kehancuran pasangan pengkhianat itu, kehidupan Aruna seperti membuka lembaran baru yang cerah dan penuh tawa.

Setelah hari pertemuan di kafe itu, Aruna benar-benar melepaskan masa lalunya. Tidak ada lagi rasa sakit atau dendam setiap kali mengingat Noah. Baginya, pria itu kini hanyalah orang asing yang kebetulan pernah lewat dalam hidupnya, meninggalkan sebuah pelajaran berharga tentang sebuah kepercayaan.

Di bawah dukungan dan semangat yang tiada henti dari Bima, Aruna membuka sebuah toko kue kecil bernama “An”. Toko itu terletak di sudut jalan yang tenang, dengan desain warna yang hangat, selalu dipenuhi aroma mentega yang harum dan alunan musik akustik yang lembut. Ini adalah impian masa mudanya—impian yang dulu ia korbankan demi menjadi ibu rumah tangga penuh waktu untuk mengurus setiap kebutuhan Noah.

Hari ini adalah perayaan satu bulan pembukaan toko kue. Aruna sibuk di dapur dengan rambut yang disanggul rapi dan celemek yang terikat di pinggang. Tangannya yang terampil sedang menghias stroberi segar di atas kue tar bermotif bunga matahari. Auranya kini benar-benar berbeda: bersinar, percaya diri, dan penuh vitalitas. Tidak ada lagi Aruna yang kuyu dan muram dengan mata sembap akibat menahan penderitaan.

Ting tong~

Lonceng pintu toko berbunyi diikuti suara langkah kaki yang sangat ia kenal. Aruna tidak perlu mendongak untuk mengetahui siapa yang datang.

“Permisi Ibu Pemilik Toko, saya mau pesan satu porsi kue paling manis dan satu pembuat kue paling menggemaskan!” suara berat dan penuh canda dari Bima terdengar.

Aruna tertawa kecil dan melangkah keluar dari dapur. Bima berdiri di sana, memeluk sebuket besar bunga matahari—bunga favoritnya. Pria itu selalu tampil karismatik dengan kemeja biru, namun tatapan matanya selalu dipenuhi kekaguman dan rasa hormat yang mendalam pada Aruna.

“Kamu datang lagi, Bima. Memangnya tidak ada pekerjaan di kantor? Seorang CEO tapi setiap hari bolos ke sini untuk menumpang makan?” goda Aruna sambil menerima buket bunga tersebut.

“Pekerjaan tidak ada apa-apanya dibandingkan mengisi energi dari kamu,” jawab Bima santai sambil mencuci tangan, lalu membantu Aruna membawa nampan kue ke etalase kaca. “Hari ini toko ramai? Aku lihat tempat parkir di luar penuh semua.”

“Iya, alhamdulillah hari ini ramai sekali. Ada beberapa anak muda yang berfoto dan memuji kue kita di media sosial. Aku senang sekali,” mata Aruna berbinar penuh kebahagiaan.

Bima menatapnya, hatinya bergetar. Ia telah mendampingi wanita ini di masa-masa tergelapnya, melihatnya hancur berkeping-keping, lalu perlahan bangkit memunguti serpihan itu untuk menyembuhkan dirinya sendiri. Ia menghargai ketegaran Aruna lebih dari apa pun di dunia ini.

“Aruna…” Bima tiba-tiba mengubah cara memanggilnya, suaranya berubah menjadi serius dan tulus. Ia menggenggam kedua tangan Aruna yang masih sedikit terkena noda tepung.

Aruna agak terkejut dan menatap langsung ke dalam manik mata Bima yang dalam. “Ada apa, Bima? Ada masalah serius?”

“Tidak, tidak ada masalah serius. Hanya saja… aku merasa satu bulan terakhir ini adalah waktu paling bahagia dalam hidupku sejak bertemu kembali denganmu. Aku tidak mau lagi hanya menjadi teman atau adik yang berdiri di sampingmu untuk melindungimu.” Bima perlahan mengeluarkan sebuah kotak beludru merah kecil dari saku kemejanya. Saat dibuka, di dalamnya terdapat sebuah cincin berlian yang indah, berkilau di bawah cahaya lampu kuning toko kue.

Aruna terpaku, napasnya tertahan sejenak.

“Aku tahu kamu pernah terluka hebat, dan mungkin kamu masih memiliki trauma terhadap pernikahan. Aku tidak memaksamu untuk langsung menerimaku menjadi suamimu sekarang. Cincin ini adalah janjiku. Janji bahwa mulai hari ini dan seterusnya, tidak peduli seberapa besar badai yang datang, aku, Lim Bima, akan berdiri di depanmu untuk melindungimu. Aku akan menggunakan sisa hidupku untuk membuktikan bahwa kamu layak dicintai sepenuhnya. Izinkan aku mengejarmu secara resmi, sebagai pria dalam hidupmu. Bagaimana, Aruna?”

Air mata Aruna tiba-tiba menetes. Namun, ini bukanlah air mata kesedihan seperti di masa lalu, melainkan air mata keharuan dan kebahagiaan yang membuncah. Menatap cincin itu, lalu menatap pria yang menatapnya dengan ketulusan seluas samudra, Aruna tahu hatinya telah sepenuhnya luluh.

Ia mengangguk pelan, menyunggingkan senyuman seindah bunga matahari yang menyambut rasi surya.

“Aku mau, Bima.”

Bima bersorak gembira. Ia menyematkan cincin itu di jari Aruna, lalu tanpa bisa membendung kebahagiaannya, ia mengangkat tubuh Aruna dan memutarnya di tengah toko kue. Suara tawa bahagia mereka menggema, menghapus semua konspirasi, kebohongan, dan penderitaan dari hari-hari yang telah lalu.

Akhir Kata: Menuai Badai

Satu tahun kemudian.

Di sebuah rumah sakit swasta kecil di pinggiran kota. Noah kini terlihat sepuluh tahun lebih tua. Rambutnya mulai memutih, wajahnya cekung, dan matanya memancarkan kelelahan yang amat sangat. Setelah skandal yang hampir merenggut izin praktiknya (yang sebenarnya sengaja diringankan oleh Bima agar Noah tidak langsung mati kutu, melainkan merasakan penderitaan dan kehinaan secara perlahan), Noah tidak bisa lagi bertahan di rumah sakit besar di pusat kota. Ia terpaksa pindah ke sini, menjadi dokter umum biasa dengan gaji kecil, menghabiskan hari-harinya dengan sif malam yang melelahkan.

Setelah selesai bekerja, Noah berjalan kaki sendirian menuju kamar kosnya yang sempit dan lembap. Saat melewati sebuah toko elektronik besar, langkahnya terhenti ketika melihat layar televisi besar yang sedang menyiarkan acara bincang-bincang tentang pengusaha muda yang sukses.

Di layar kaca, Bima tampil sangat gagah dengan setelan jas mahal, tersenyum sambil menggandeng tangan seorang wanita yang cantik dan anggun. Wanita itu mengenakan gaun putih bersih, memancarkan aura kebahagiaan yang luar biasa. Dialah Aruna. Acara tersebut sedang memberikan ucapan selamat atas kelahiran anak pertama mereka, sekaligus kesuksesan toko kue Aruna yang kini telah berkembang menjadi waralaba terkenal di seluruh negeri.

Noah berdiri mematung di tengah keramaian jalan. Melihat mantan istri yang dulu ia sia-siakan kini bersinar dan bahagia di samping pria yang jauh lebih baik darinya, hati Noah terasa diremas dengan rasa sakit yang luar biasa. Ia menyadari bahwa harga terbesar dari sebuah pengkhianatan bukanlah hukuman fisik, melainkan harus menyaksikan orang yang dulu mencintainya dengan tulus, kini hidup sangat bahagia… tanpa ada dirinya di sana.

Di saat yang sama, di sudut gelap lain di kota itu, di sebuah bar kelas bawah. Lisa dengan pakaian mencolok namun usang, wajahnya dipenuhi kerutan kasar yang ditutupi bedak murah, sedang mencoba merayu seorang pria paruh baya bertubuh tambun demi mendapatkan sedikit uang tip. Setelah membawa kabur uang Noah, ia terjebak dalam perjudian dan ditipu habis-habisan oleh pria hidung belang lain. Kandungannya pun gugur setelah terlibat perkelahian dengan penagih utang. Kini, ia harus menjalani hidup yang hina, menjual diri, kehilangan kecantikan, dan tanpa satu pun kerabat di sisinya.

Setiap kali melihat papan reklame besar jaringan toko kue milik Aruna yang terpajang di gedung-gedung tinggi, Lisa hanya bisa menggertakkan giginya dalam kecemburuan dan ketidakberdayaan. Ia telah menggunakan segala cara kotor untuk merebut kebahagiaan orang lain, dan pada akhirnya, yang ia dapatkan adalah kehidupan yang hancur tanpa jalan keluar.

Angin malam berembus dingin melewati kota. Hukum tabur tuai mungkin datang terlambat, namun ia tidak pernah melewatkan siapa pun. Mereka yang menabur angin kini harus menuai badai, sementara jiwa yang tulus, setelah melewati segala rintangan, akhirnya menemukan pelabuhan damai dalam hidupnya.