SELAMA EMPAT HARI, AKU MEMERCAYAKAN ISTRIKU DAN BAYI KAMI YANG BARU LAHIR KEPADA KAKAKKU. SAAT AKU PULANG TANPA MEMBERI TAHU, APA YANG KULIHAT DI DALAM RUMAH HAMPIR MEMBUATKU GILA…
Namaku Adrian Reyes, tiga puluh enam tahun, pemilik sebuah perusahaan pengiriman kecil di Cebu.
Tiga tahun lalu aku bertemu Mirella di sebuah kafe dekat pelabuhan Mactan. Dia bukan perempuan kaya—hanya seorang guru preschool sederhana dari Bohol yang merantau ke kota. Tapi karena kelembutan dan kebaikannya, aku memperjuangkan untuk menikahinya meski semua orang menentang.
Yang paling keras menentang adalah kakakku, Veronica.
Sejak orang tua kami meninggal lebih awal, dialah yang hampir menjadi sosok ibu bagiku. Karena itu dia yakin Mirella hanya mengincar uang keluarga Reyes.
“Suatu hari nanti kamu akan menyesal, Adrian. Perempuan miskin seperti itu pandai berpura-pura,” katanya dingin waktu itu.
Kami berkali-kali bertengkar karena hal tersebut.
Namun ketika Mirella hamil, Veronica tiba-tiba berubah.
Dia sering membawa makanan untuk Mirella, membelikan vitamin, bahkan dengan bangga mengatakan kepada tetangga bahwa dia akan menjadi tante.
Aku pikir akhirnya dia menerima istriku.
Sampai minggu lalu.
Mirella melahirkan lewat operasi caesar di sebuah rumah sakit swasta di Cebu City. Kami dikaruniai seorang bayi laki-laki sehat. Kami menamainya Nathan.
Namun di saat yang sama, bisnis kami mengalami masalah. Salah satu kapal kargo kami tertahan di Iloilo karena persoalan dokumen. Aku harus pergi ke sana secara langsung.
Sebenarnya aku tidak ingin meninggalkan Mirella.
Tetapi Veronica menepuk bahuku sambil tersenyum.
“Pergilah dulu. Aku yang akan menjaga Mirella dan bayi itu. Fokus saja pada pekerjaanmu.”
Bahkan Mirella sendiri bilang dia akan baik-baik saja.
Jadi meskipun berat hati, aku pergi.
Selama empat hari di Iloilo, aku terus menelepon Mirella. Tapi Veronica selalu yang menjawab.
“Mirella sedang tidur.”
“Dia capek menyusui.”
“Dia sedang di kamar mandi.”
Perlahan aku mulai merasa gelisah.
Tapi karena pekerjaan sangat kacau, aku meyakinkan diriku sendiri bahwa istriku memang hanya butuh istirahat.
Pada hari keempat, masalah itu selesai lebih cepat dari perkiraan.
Jadi aku langsung mengambil penerbangan malam kembali ke Cebu tanpa memberi tahu siapa pun.
Hampir pukul sebelas malam ketika aku tiba di rumah kami di Maria Luisa.
Dan seketika bulu kudukku meremang.
Semua lampu di lantai bawah mati.
Rumah itu sunyi.
Terlalu sunyi.
Saat masuk, aku langsung mencium bau asam susu basi dan makanan busuk.
“Veronica?” teriakku.
Tidak ada jawaban.
Aku melihat botol susu bayi tergeletak di lantai, isinya sudah mengering.
Jantungku langsung berdetak lebih cepat.
“Mirella?”
Masih tidak ada jawaban.
Aku segera berlari ke lantai atas.
Saat membuka pintu kamar kami, rasanya seperti disiram air es.
Ruangan itu panas karena AC dimatikan.
Jendelanya terkunci.
Dan di atas tempat tidur…
Mirella memeluk bayi kami erat-erat seolah ada yang ingin merebutnya.
Rambutnya berantakan.
Wajahnya pucat.
Bibirnya pecah-pecah.
Dan ada noda darah di bajunya dari luka operasi yang belum sembuh.
Tapi yang paling mengguncangku…
adalah matanya.
Penuh ketakutan.
Kelelahan.
Dan keputusasaan.
Saat melihatku, dia langsung berteriak dan memeluk Nathan lebih erat lagi.
“Jangan… jangan serahkan anakku pada mereka…” katanya gemetar sambil menangis.
Aku langsung mendekat.
“Ya Tuhan, Mirella! Apa yang terjadi?!”
Dia mencengkeram bajuku dengan tangan dingin.
“Kakakmu… dia mengurungku di sini…” bisiknya lirih.
Duniaku seperti berhenti berputar.
“Dia bilang aku tidak pantas menjadi ibu Nathan…”
Seluruh tubuhku terasa dingin.
“Dan selama empat hari… mereka hanya memberiku makan sekali sehari…”
Aku tidak bisa bernapas.
Aku tidak sanggup menerima apa yang kudengar.
Lalu dengan tangan gemetar, Mirella menunjuk kamera kecil di atas lemari.
“Buka… tolong… lihat itu…”
Aku menoleh.
Lampu merah kamera itu masih berkedip.
Dan tepat pada saat itu…
pintu di belakangku perlahan terbuka.

Veronica berdiri di sana dalam gelap.
Dan di tangannya…
ada kunci kamar itu.
Aku perlahan membalikkan tubuhku. Darah di dalam sekujur tubuhku serasa mendidih, mendesak ke kepala hingga telingaku berdenging hebat.
Veronica berdiri di ambang pintu. Tatapannya yang semula tenang seketika berubah tegang saat melihatku, namun dengan cepat ia mencoba menguasai diri. Ia menyembunyikan kunci di balik punggungnya dan memaksakan sebuah senyuman.
“Adrian? Kamu… sudah pulang? Kenapa tidak memberi tahu Kakak?” suaranya terdengar manis, namun bagiku kini tak lebih dari desisan ular yang berbisa.
Aku tidak menjawab. Aku berdiri, melangkah perlahan mendekatinya dengan rahang yang mengatup rapat dan kepalan tangan yang bergetar menahan amarah yang siap meledak.
“Apa yang kamu lakukan pada istri dan anakku, Kak?” tanyaku, suaraku begitu rendah dan dingin, menuntut penjelasan.
Veronica mundur selangkah, namun keangkuhannya kembali muncul. Ia melirik Mirella yang masih menangis ketakutan di atas ranjang. “Adrian, jangan bodoh. Kakak melakukan ini untuk kebaikanmu! Perempuan ini… dia mengalami postpartum psychosis. Dia gila! Dia hampir mencelakai Nathan. Kakak mengurungnya di sini demi keselamatan bayimu!”
“BOHONG!” Mirella menjerit dari atas kasur, suaranya serak dan menyayat hati. “Dia… dia sengaja mematikan AC agar aku lemah… dia membiarkan luka operasiku infeksi dan tidak memberiku obat… Dia ingin aku mati agar dia bisa mengambil Nathan!”
“Diam kamu, perempuan kampung!” bentak Veronica kasar, wajah aslinya akhirnya keluar. Ia menatapku tajam. “Adrian, dengarkan Kakak! Dia hanya berakting agar kamu kasihan! Siapa yang akan percaya pada perempuan miskin tanpa keluarga seperti dia? Darah Reyes tidak boleh diasuh oleh perempuan rendahan!”
Aku tidak mendengarkan makiannya lagi. Aku berjalan melewati Veronica begitu saja menuju lemari, mengabaikan teriakan protesnya. Dengan tangan gemetar, kuambil kamera tersembunyi yang ditunjuk Mirella tadi.
Kamera itu adalah kamera pemantau bayi (baby monitor) mandiri yang terhubung dengan kartu memori, yang dibeli Mirella sebelum melahirkan tanpa sepengetahuan Veronica.
Aku langsung menghubungkan perangkat itu ke ponselku. Veronica mencoba merebutnya dariku, “Adrian! Jangan lancang! Berikan pada Kakak!”
“DIAM!” bentakku begitu keras hingga suaraku mengguncang seluruh isi kamar. Veronica tersentak mundur, wajahnya memucat. Belum pernah sekalipun dalam hidupku aku membentaknya seperti itu.
Aku menyalakan rekaman tiga hari lalu di layar ponselku.
Di sana, di dalam kamar yang panas ini, terlihat jelas bagaimana Veronica merebut botol susu dari tangan Mirella yang lemas, membuang obat pasca-operasi ke tempat sampah, dan menggembok pintu dari luar sambil mencaci-maki Mirella.
“Menyerah sajalah, Mirella. Begitu Adrian pulang dan melihatmu sekacau ini, aku akan memastikan dia menceraikanmu dan memberikan hak asuh Nathan kepadaku. Kamu tidak punya apa-apa untuk melawanku,” suara Veronica di dalam rekaman itu terdengar begitu kejam dan penuh kemenangan.
Melihat rekaman itu, seluruh akal sehatku rasanya runtuh. Pria yang selama tiga puluh enam tahun kuhormati sebagai pengganti ibuku, ternyata adalah monster yang berniat membunuh istriku perlahan-lahan.
“Ini… ini bisa dijelaskan, Adrian…” suara Veronica mulai bergetar panik saat melihat bukti di tanganku. “Kakak hanya…”
“Keluar,” kataku lirih, namun penuh penekanan.
“Adrian, Kakak melakukan ini demi keluarga kita—”
“KELUAR DARI RUMAHKU SEKARANG JUGA, VERONICA!” teriakku, air mataku akhirnya runtuh karena rasa bersalah yang teramat besar pada istriku. “Jangan pernah sebut dirimu kakakku lagi! Mulai malam ini, hubungan kita selesai!”
Veronica menatapku dengan pandangan tidak percaya, lalu beralih menatap ponsel di tanganku. Ketakutan kini sepenuhnya menguasai wajahnya. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun lagi, ia berbalik dan berlari tunggang-langgang keluar dari rumah, ketakutan setengah mati jika aku langsung menyeretnya ke jalur hukum malam itu juga.
Begitu pintu bawah berdentum tanda ia telah pergi, aku langsung menjatuhkan diri berlutut di samping ranjang. Aku memeluk Mirella dan Nathan erat-erat, menangis sejadi-jadinya di dada istriku yang gemetar.
“Maafkan aku, Mirella… Maafkan aku telah meninggalkanmu dengan monster itu…” bisikku di sela tangis, mencium keningnya yang penuh keringat dingin dan bibirnya yang pecah-pecah.
Mirella membalas pelukanku dengan sisa tenaga yang ia miliki, menangis lega karena penderitaannya telah berakhir.
Malam itu juga, aku membawa Mirella dan Nathan kembali ke rumah sakit untuk mendapatkan perawatan medis darurat. Sambil menggenggam tangan istriku di dalam ambulans, aku menatap rekaman video di ponselku dengan tekad yang bulat.
Veronica mengira Mirella adalah perempuan miskin yang lemah dan bisa ditindas sesuka hati. Namun dia lupa, Mirella memiliki aku. Dan besok pagi, bukti video ini akan memastikan bahwa tempat tinggal Veronica selanjutnya bukanlah rumah mewah keluarga Reyes, melainkan sebuah sel penjara yang dingin.