Celina berdiri di ambang pintu seperti seseorang yang baru saja salah masuk ke dunia yang tidak seharusnya ia datangi.
Map cokelat di tangannya sedikit bergetar.
Rambutnya masih ditata rapi, tapi matanya… tetap sama seperti malam di lift itu.
Lelah.
Dan menahan sesuatu yang belum selesai.
Di belakangnya, sekretaris HR terdengar berkata pelan, “Silakan, Nona Celina. Ini ruang wawancara terakhir.”
Pintu tertutup.
Sunyi.
Hanya ada aku, dia, dan satu meja panjang yang terlalu besar untuk percakapan yang akan terjadi.
Aku tidak berdiri.
Aku hanya menatapnya.
Lama.
Sampai akhirnya dia yang lebih dulu menunduk.
“Selamat siang, Pak Nathan,” katanya sopan, terlalu sopan, seperti sedang mencoba menghapus malam itu dari sejarah.
Aku menyandarkan diri ke kursi.
“Selamat siang.”
Hening lagi.
Celina membuka mapnya, tapi tidak benar-benar melihat isinya.
Tangannya masih sedikit dingin—aku bisa melihatnya dari cara jemarinya menekan kertas terlalu kuat.
“Ini… saya melamar posisi sekretaris direksi,” katanya cepat, formal, seperti ingin menyembunyikan retakan dalam suaranya.
Aku mengangguk kecil.
“Kenapa Adikara Group?”
Pertanyaan standar.
Tapi untuk beberapa detik, dia tidak menjawab.
Matanya sempat naik, lalu turun lagi.
Karena dia tahu.
Aku bukan sekadar pewawancara.
Aku orang yang memeluknya saat dia hancur.
“Aku butuh pekerjaan,” jawabnya akhirnya, jujur tapi pendek. “Dan perusahaan ini… membuka posisi.”
Aku mengetuk meja pelan.
“Banyak perusahaan lain.”
“Tidak seperti ini.”
Kalimat itu keluar lebih pelan dari yang dia maksudkan.
Aku menatapnya lebih dalam.
“Apa yang berbeda di sini?”
Dia menarik napas.
Dan untuk pertama kalinya sejak masuk ruangan itu, dia tidak berusaha terlihat kuat.
“Di sini… aku tidak dikenal sebagai ‘tunangan Raka Wijendra’.”
Ruangan itu langsung terasa lebih dingin.
Nama Raka.
Masih menggantung di antara kami seperti bayangan yang belum pergi.
Aku berdiri perlahan.
Celina refleks mundur setengah langkah, tapi tidak lari.
Aku berjalan ke sisi meja, cukup dekat untuk membuatnya harus menatapku kalau ingin terus berdiri tegak.
“Dan kalau kamu diterima,” kataku pelan, “kamu siap bekerja di bawah orang yang pernah kamu peluk di lift hotel?”
Wajahnya langsung memerah.
“Pak Nathan, itu kejadian tidak sengaja—”
“Tidak ada yang bilang itu sengaja.”
Aku memotong, tenang.
Dia terdiam.
Aku bisa melihat konflik di matanya—antara ingin kabur, dan antara butuh kesempatan ini.
Lalu dia berkata lebih pelan,
“Aku profesional.”
Aku hampir tersenyum, tapi tidak jadi.
“Semua orang bilang begitu sampai mereka diuji.”
Sunyi lagi.
Detik berikutnya, interkom di meja menyala.
“Pak Nathan, Raka Wijendra ingin bertemu sekarang. Katanya ini mendesak.”
Celina langsung menegang.
Aku meliriknya sekilas.
“Masuk,” jawabku singkat.
Pintu terbuka lagi.
Raka masuk tanpa senyum.
Wajahnya tegang, seperti seseorang yang tidak suka kehilangan kontrol.
Dan ketika matanya menangkap Celina berdiri di sana—
ekspresinya berubah tajam.
“Kamu di sini?” katanya, lebih ke heran daripada marah.
Celina tidak menjawab.
Raka menoleh ke aku.
“Pak Nathan, saya rasa ini tidak tepat. Dia seharusnya tidak berada di lingkungan kerja Anda setelah kejadian di hotel.”
Aku menyilangkan tangan.
“Lingkungan kerja saya?” ulangku pelan.
Raka sedikit ragu, tapi tetap melanjutkan.
“Dia calon istri saya.”
Hening.
Celina langsung menatap lantai.
Aku mengangguk pelan, seolah mempertimbangkan kata itu.
“Calon,” aku mengulang.
Lalu aku menatap Raka.
“Menarik. Karena orang yang ‘calon’ seharusnya tidak membuat tunangannya menangis sendirian di lift hotel.”
Raka terdiam.
Rahangnya mengeras.
“Ini urusan pribadi.”
“Semua hal buruk selalu dimulai dari urusan pribadi,” jawabku datar.
Celina akhirnya mengangkat wajah.
“Cukup,” katanya tiba-tiba, suaranya kecil tapi tegas. “Aku di sini untuk wawancara kerja, bukan untuk jadi bahan diskusi kalian berdua.”
Untuk pertama kalinya, Raka terlihat kehilangan kata.
Aku menatap Celina lebih lama.
Ada sesuatu yang berubah.
Bukan dia yang menangis di lift.
Bukan dia yang hancur.
Tapi dia yang mulai berdiri sendiri.
Aku kembali duduk.
“Baik,” kataku. “Kita lanjutkan wawancara.”
Raka mengernyit.
“Pak Nathan—”
“Keluar,” potongku tanpa menoleh.
Raka membeku.
“Maaf?”
Aku menatapnya sekali.
Pendek.
Dingin.
“Keluar. Ini ruang seleksi internal. Dan kamu tidak diundang.”
Untuk beberapa detik, tidak ada yang bergerak.
Lalu Raka menghela napas tajam, menatap Celina seolah ingin mengatakan sesuatu—tapi akhirnya berbalik dan keluar tanpa sepatah kata pun.
Pintu tertutup.
Sunyi kembali.
Celina masih berdiri.
Aku menunjuk kursi di depannya.
“Duduk.”
Dia ragu sebentar.
Tapi akhirnya duduk.
Aku membuka satu file di meja.
“Kalau kamu diterima,” kataku pelan, “kamu akan bekerja langsung di bawah saya.”
Dia menegang.
“Kenapa?”
Aku menatapnya.
Dan untuk pertama kalinya hari itu, aku menjawab jujur.
“Karena saya ingin tahu…” jedaku singkat.
“…apakah perempuan yang menangis di lift itu benar-benar kuat seperti yang dia coba tunjukkan sekarang.”
Celina tidak langsung menjawab.
Tapi untuk pertama kalinya—
dia tidak menunduk.
Dan itu membuat ruangan ini terasa jauh lebih berbahaya daripada sebelumnya.