“Aku bisa pergi sendiri!” jawabku tegas. Aku mengambil kunci mobilku, lalu menggendong Nadhira sambil menuntun tangan Nazifah.
“Bibik, tidak perlu memasak hari ini. Kami akan makan di Pondok nanti,” ucapku pada asisten rumah tanggaku, yang selama ini juga selalu membantu menjaga anak-anakku saat aku sedang sibuk mengurus kegiatan di pesantren.
“Kalau begitu, biarlah aku ikut kalian saja, ya. Sayang… ayo ikut Abi dulu,” kata Haris, lalu ia berusaha mengambil Nadhira dari gendonganku.
“Tolonglah! Kau bisa datang dengan mobilmu sendiri. Aku tidak ingin ada pertengkaran di sini, apalagi di hadapan anak-anak!” tegasku sambil memundurkan langkah agar Nadhira tidak terjangkau olehnya.
“Hasna, percayalah, sampai kapan pun aku tidak akan berniat memutuskan hubungan denganmu. Aku sangat menyayangimu,” ucapnya dengan nada lembut. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung menggandeng Nazifah dan membawanya menuju mobilnya.
“Berhenti! Jangan bawa putriku masuk ke kendaraanmu itu! Aku tidak tahu berapa banyak wanita yang pernah kau ajak ke sana, dan apa saja yang pernah kalian lakukan berdua di dalamnya!” seruku dengan suara meninggi.
“Hasna, berhentilah selalu merasa curiga dan menuduhku sembarangan!” bantahnya.
“Aku tidak menuduh sembarangan. Dengar baik-baik, Haris. Aku sudah sangat paham seperti apa dirimu yang sebenarnya,” jawabku tegas. Aku segera membuka pintu mobilku, mendudukkan Nadhira di kursi pengaman khusus bayi, lalu kembali mengambil Nazifah dari gendongannya dan membawanya masuk ke mobilku.
Saat ia berusaha mendekat lagi, aku langsung menyalakan mesin dan melaju pergi, meninggalkannya berdiri sendirian di depan pagar rumah dengan wajah yang tampak kesal.
Aku tersenyum tipis melihat ekspresi kecewa di wajahnya dari kaca spion.
Aku menginjak pedal gas sedikit lebih dalam, membawa mobil melintasi jalanan pagi yang mulai ramai dilalui kendaraan. Nazifah duduk tenang di kursi belakang, menatap pemandangan di luar jendela dengan tatapan polosnya, sementara Nadhira yang kutinggal di sampingku mulai merengek pelan, mungkin karena merasa sedikit terguncang.
Hatiku bergemuruh hebat, bukan karena rasa takut atau gugup, melainkan karena tekad yang sudah mengeras seperti batu karang. Hari ini, aku harus menyelesaikan semuanya. Hari ini, aku akan benar-benar mengakhiri segala kebohongan dan rasa sakit yang selama ini ia berikan padaku.
Dari kaca spion tengah, aku melihat mobil Haris terus mengikuti di belakang. Jaraknya tak pernah lebih dari lima meter. Sesekali ia menyalakan lampu jauh dan mematikannya berkali-kali, seolah memberi isyarat agar aku menepi dan berhenti. Namun, aku bertekad tidak akan memberi celah sedikit pun untuk ia bicara.
Begitu sampai di depan gedung Kantor Pengadilan Agama, aku memarkirkan mobil di tempat yang cukup dekat dengan pintu masuk. Baru saja aku selesai menurunkan anak-anak, mobil Haris berhenti mendadak tepat di belakangku. Ia keluar dengan wajah tegang dan melangkah cepat menghampiriku.
“Hasna… ini apa maksudnya? Kenapa kau malah ke sini?” tanyanya dengan suara meninggi, dan terdengar jelas ada nada panik di dalamnya.
Aku tidak membalas sepatah kata pun. Dengan sigap aku kembali menggendong Nadhira dan menggenggam tangan Nazifah, lalu melangkah lurus masuk ke dalam gedung itu.
“Hasna! Hasna, jawab aku dulu!” serunya lagi dari belakang, tapi aku terus berjalan maju tanpa menoleh.
Petugas keamanan di pintu menyapaku dengan ramah. “Ibu mau ke bagian pendaftaran permohonan perceraian? Lewat sebelah kiri saja, Bu,” tunjuknya.
Aku mengangguk singkat sambil menjawab, “Terima kasih banyak, Pak.” Lalu aku mempercepat langkahku, dengan keyakinan penuh bahwa keputusanku ini adalah jalan yang benar.
Di dalam ruangan administrasi, udara dingin dari pendingin ruangan langsung menyentuh kulit, namun keringat dingin di pelipisku tetap mengalir. Aku duduk di kursi depan meja petugas, seorang wanita berjilbab rapi yang langsung menatapku dengan senyum ramah dan profesional.
“Selamat pagi, Ibu. Ada yang bisa saya bantu?” tanyanya lembut.
“Saya ingin mengajukan permohonan perceraian terhadap suami saya,” jawabku dengan suara tegas dan jelas.
Haris yang baru saja masuk ke ruangan itu langsung bergegas mendekat. “Hasna! Jangan lakukan ini… segala hal masih bisa kita bicarakan baik-baik di rumah,” katanya, sambil tangannya berusaha meraih lenganku agar aku berubah pikiran.
Aku segera menarik lenganku menjauh. “Sudah tidak ada lagi hal yang perlu dibicarakan di antara kita.”
Petugas itu menatap wajah Haris sekilas, lalu kembali menatapku dengan tenang. “Baik, Ibu. Mohon siapkan KTP, Kartu Keluarga, dan Buku Nikah. Jika ada bukti pendukung lain, bisa juga dilampirkan bersama berkasnya.”
Aku mengeluarkan map berwarna biru dari dalam tas. Semua dokumen yang kubutuhkan sudah tersusun rapi di dalamnya. “Semua kelengkapan sudah ada di sini,” kataku sambil menyerahkannya ke atas meja.
Haris berusaha menyela, kali ini suaranya terdengar memelas. “Hasna… demi masa depan anak-anak kita, jangan lakukan langkah ini. Aku berjanji akan berubah menjadi lebih baik, sungguh aku berjanji.”
Aku menatapnya dalam-dalam, hingga mata kami saling bertemu. “Haris… aku sudah terlalu sering mendengar janji manis dari mulutmu. Tapi janji yang tidak dibuktikan dengan perbuatan nyata hanyalah kebohongan yang hanya diulang-ulang saja.”
Petugas mulai mengetik di komputernya, memasukkan data satu per satu dari dokumen yang kuserahkan. Suara ketikan itu terdengar seperti detak jam yang menandai berakhirnya satu bab panjang dalam perjalanan hidupku.
“Abi… kenapa Ibu terlihat serius sekali?” tanya Nazifah dengan suara kecil yang polos.
Aku tersenyum tipis kepadanya. “Ibu tidak sedang marah, sayang. Ibu hanya ingin kita semua bisa hidup lebih tenang dan damai ke depannya,” jawabku lembut, lalu aku langsung memeluknya erat.
“Astaghfirullah…” desis Haris, lalu ia berjalan keluar ruangan dengan langkah yang terasa berat dan putus asa.
Beberapa menit kemudian, petugas itu menyerahkan selembar kertas bukti pendaftaran kepadaku. “Baik, Ibu. Laporan dan berkas permohonan Ibu sudah kami terima dengan lengkap. Jadwal sidang pertama akan kami atur, nanti pihak kami akan menghubungi Ibu kembali sesuai prosedur yang berlaku.”
Aku mengangguk pelan, menerima kertas itu, dan segera memasukkannya ke dalam tas.
Baru saja aku melangkah keluar dari kantor itu, Haris tiba-tiba berlutut tepat di hadapanku. Matanya memerah, dan suaranya terdengar pecah saat ia berbicara. “Hasna… tolong… aku memohon padamu. Tarik kembali permohonan itu. Aku sungguh tidak bisa hidup tanpamu.”
Beberapa orang yang ada di sekitar sana mulai memperhatikan kami. Beberapa pegawai berhenti sejenak di teras, menatap ke arah kami dengan rasa penasaran. Namun, aku sama sekali tidak merasa malu atau ragu.
“Aku sebenarnya sudah lama hidup seperti tanpa kamu, Haris. Secara fisik memang kamu ada di dekatku, tapi hatimu dan perhatianmu sudah lama berada di tempat lain,” kataku pelan namun tegas, dan setiap kata yang terucap seolah menjadi tamparan keras bagi egonya.
“Aku… aku sungguh menyayangimu, Hasna. Aku berjanji tidak akan lagi berpikir untuk memiliki pendamping lain. Hanya kamulah yang akan menjadi istriku, baik di dunia maupun di akhirat,” ucapnya lagi, kali ini suaranya semakin bergetar penuh harap.
Aku menatapnya cukup lama, lalu menarik napas panjang untuk menenangkan diri. “Jika kau benar-benar memiliki rasa sayang itu padaku, maka kau akan membiarkanku pergi dengan tenang. Itu satu-satunya hal yang bisa kau lakukan sekarang sebagai bukti rasa sayangmu,” tantangku dengan nada mantap.
Lalu aku berjalan melewati tubuhnya yang masih tertunduk di lantai, kembali menggendong Nadhira dan menggenggam tangan Nazifah. Sinar matahari siang menyentuh kulitku saat aku melangkah keluar gerbang, namun untuk pertama kalinya setelah sekian lama, aku benar-benar merasa lega dan bebas. Meskipun proses perceraian kami belum selesai sepenuhnya, hatiku sudah terasa damai.

Dengan gerakan yang cepat namun tetap hati-hati, aku menempatkan kedua putriku kembali ke tempat duduk mereka di dalam mobil, lalu segera melaju meninggalkan halaman kantor pengadilan itu. Di balik kaca jendela, aku sempat melihat raut wajah yang penuh kekalahan dan penyesalan di wajahnya.
Namun aku sadar, ini baru permulaan dari bab baru hidupku. Aku sudah menyiapkan segalanya dengan matang, termasuk rencana dan jaminan masa depan yang cerah untuk kedua putriku, yang jelas-jelas akan kujalani sepenuhnya tanpa ada lagi campur tangan darinya.
Bersambung …