AKU DITERTAWAKAN OLEH SUAMI DAN ANAKKU HANYA KARENA MEMBELI KRIM SKINCARE MURAH
SEMENTARA MEREKA MENGHABISKAN TABUNGAN KELUARGA DEMI MEMPERTAHANKAN “GAYA HIDUP MEWAH”
HINGGA AKHIRNYA RAHASIA DI DALAM BUKU CATATANKU TERBONGKAR DI DEPAN SELURUH KELUARGA…
Saat kami sedang makan malam, suamiku, Ramon, tiba-tiba membanting sumpitnya ke meja lalu menyeringai dingin.
“Hebat juga kamu menyembunyikan uang, ya? Gaji kita gabungan lebih dari Rp24 juta per bulan, semua kartu ATM ada di tanganmu, pasti kamu menyimpan uang rahasia.”
Aku belum sempat menjawab ketika anak kami, Jiro, langsung menyela.
“Papa benar. Teman-temanku selalu punya sepatu baru, sementara aku masih pakai yang lama. Tapi Mama malah beli dress dan skincare. Nggak adil banget.”
Aku terdiam menatap ayah dan anak itu.
Hanya karena minggu lalu aku membeli dress diskon dan krim murah… di mata mereka aku sudah jadi wanita egois.
Aku berdiri tanpa suara, masuk ke kamar, lalu meletakkan dua kartu ATM dan buku catatan pengeluaran di atas meja.
“Kalau kalian merasa aku tidak becus mengatur uang, mulai sekarang kamu saja yang pegang semuanya.”
Ramon langsung mengambilnya cepat-cepat, seolah takut aku berubah pikiran.
Dia tersenyum mengejek.
“Harusnya dari dulu begini. Perempuan itu terlalu pakai perasaan soal uang. Kalau aku yang pegang, kita pasti bisa nabung besar tiap tahun.”
Aku menatapnya lurus.
“Bayar rumah, listrik, uang sekolah Jiro, obat ibumu, cicilan mobil… hampir tidak ada sisa tiap bulan. Kamu pikir uang bisa bertambah sendiri?”
Dia mengembuskan napas keras.
“Tidak ada sisa karena kamu tidak tahu cara hemat. Sepatu untuk anak sendiri saja pelit. Tapi untuk dirimu sendiri, ada uang.”
Aku tertawa pahit.
“Dress-ku bahkan tidak sampai Rp450 ribu karena diskon. Sepatu yang Jiro mau hampir Rp6 juta.”
Ramon langsung memukul meja keras.
“Anak kita laki-laki! Dia harus bisa mengikuti teman-temannya! Kamu nggak ngerti arti harga diri?”
Aku menatapnya lama.
Setiap minggu dia menghabiskan jutaan rupiah untuk minum-minum bersama teman dan menyebutnya “networking”.
Jiro ganti ponsel terus karena “lagi tren”.
Sementara aku… sudah enam tahun tidak pernah ke salon. Tapi cuma beli krim murah saja sudah dianggap salah.
Tiba-tiba Jiro menyeringai.
“Mama memang kampungan. Kalau Mama seperti ibu-ibu teman sekolahku yang elegan dan pintar cari uang, mungkin aku masih bisa hormat.”
Dadaku terasa sesak.
Ini anak yang dulu berkali-kali kugendong ke rumah sakit saat hujan deras karena demam tinggi.
Anak yang tidak pernah kutinggalkan satu malam pun waktu kecil.
Tapi sekarang… aku seperti aib dalam hidupnya.
Ramon berdiri lalu merangkul Jiro.
“Ayo, Nak. Papa traktir kamu makan steak.”
Setelah mereka pergi, ponselku langsung berbunyi.
Jiro mengunggah foto makanan mahal.
[Memang paling keren Papa! Ayah seperti ini yang benar-benar tahu cara menyayangi keluarga!]
Aku menatap foto itu lama.
Lalu kubuka buku catatanku dan perlahan menulis:
Makan steak: Rp2.500.000
Sisa anggaran bulan ini: Rp6.300.000
…
Tiga hari kemudian, Ramon mengajak seluruh keluarganya liburan ke resort pantai.
Bukan cuma orang tuanya.
Saudara, sepupu, teman-temannya… hampir satu keluarga besar ikut semua.
Dia bahkan menyewa yacht kecil untuk pesta makan malam.
Total tagihannya hampir Rp30 juta.
Tanganku gemetar saat melihat aplikasi bank.
“Ramon… bagaimana dengan uang sekolah dan cicilan bank kita?”
Dia menjawab dengan kesal.
“Berisik sekali kamu. Ini uangku. Aku pakai sesukaku.”
Suasana meja langsung hening.
Perlahan ibu mertuaku, Teresa, menurunkan gelas wine-nya.
“Perempuan jangan bicara soal uang terus.”
Adik iparku ikut tertawa.
“Kak, belajar menikmati hidup dong. Cari uang itu memang susah.”
Mereka semua tertawa bersama.
Aku hanya duduk diam.
Menatap layar ponselku.
Saldo rekening kami bahkan tidak sampai Rp1 juta lagi.
Tak lama kemudian, seorang staf resort mendekat.
“Maaf, Pak Ramon… kartu Anda ditolak.”
Senyum Ramon langsung hilang.
Dia buru-buru mengeluarkan kartu lain.
“Coba yang ini.”
Beberapa detik berlalu.
“Maaf… saldo juga tidak mencukupi.”
Ekspresi semua orang perlahan berubah.
Ibu mertuaku terpaku.
Jiro langsung pucat.
Dan Ramon… menatapku penuh amarah.
“Apa yang kamu lakukan dengan uang kita?!”

Aku menatapnya perlahan.
Lalu mengeluarkan buku catatan pengeluaran yang tebal dari dalam tasku… dan meletakkannya di tengah meja.
“Kalian ingin tahu uang itu habis ke mana?”
“Malam ini… kita hitung satu per satu.”
Aku membuka halaman pertama buku catatan tersebut dengan tenang, mengabaikan tatapan tajam dan bisik-bisik panik dari keluarga besar Ramon yang mulai merasa tidak nyaman.
“Ramon, kamu bilang gaji gabungan kita Rp24 juta per bulan dan menuduhku menyembunyikan uang, kan? Mari kita lihat ke mana uang itu pergi selama lima tahun terakhir,” suaraku terdengar dingin, bergema di area restoran yacht yang mendadak senyap.
Aku mulai membaca dengan lantang, angka demi angka, tanggal demi tanggal.
Catatan Dosa Finansial
- Cicilan Mobil Mewah Ramon: Rp7.500.000 / bulan (Hanya demi gengsi di depan teman-teman kantornya).
- Gaya Hidup & ‘Networking’ Ramon: Rp5.000.000 / bulan (Biliar, minum-minum, dan mentraktir teman-temannya).
- Uang Jajan & Gadget Jiro: Rp4.500.000 / bulan (Mengikuti tren ponsel terbaru dan kopi kekinian).
- Obat-obatan & Perawatan Ibu Teresa (Ibu Mertua): Rp3.500.000 / bulan.
Aku berhenti sejenak, menatap ibu mertuaku yang langsung mengalihkan pandangan, wajahnya memerah karena malu.
“Total untuk kalian bertiga saja sudah Rp20.500.000,” ujarku sambil membalik halaman berikutnya. “Sisa Rp3.500.000 dari gaji kita digunakan untuk bayar listrik, air, internet, dan makan kita bertiga sehari-hari. Apakah ada sisa untukku? Tidak ada. Dress Rp450 ribu yang kuributkan minggu lalu? Itu adalah uang hasil aku berjualan kue online di sela-sela waktu tidurku!”
Ramon mencoba merebut buku itu. “Cukup! Jangan bikin malu di depan keluarga!”
“Kenapa harus malu kalau ini gaya hidup mewah yang kamu banggakan?” aku mengempaskan buku itu ke meja, tepat di hadapan Jiro.
“Dan kamu, Jiro…” Aku menatap anak kandungku yang kini menunduk dalam-dalam, seluruh kesombongannya runtuh. “Kamu bilang aku kampungan dan tidak pintar cari uang? Asal kamu tahu, uang pangkal sekolahmu yang mencapai puluhan juta itu bukan dari papamu. Itu adalah uang warisan dari almarhum ayahku yang kupakai demi masa depanmu. Tapi malam ini, kamu ikut menghabiskan Rp30 juta dalam semalam demi terlihat kaya di medsos.”
Kebenaran yang Menghancurkan
Staf resort masih berdiri di sana, berdehem canggung. “Maaf, Pak… jadi bagaimana pembayarannya? Jika tidak bisa dilunasi, kami terpaksa menghubungi pihak kepolisian atas tuduhan penipuan.”
Mendengar kata ‘polisi’, adik ipar dan sepupu-sepupu Ramon yang tadi tertawa paling keras langsung berdiri. Mereka mendadak pamit dengan berbagai alasan menggelikan, meninggalkan Ramon, Ibu Teresa, dan Jiro yang mematung.
“Ma… tolong Ma, pakai uang simpanan Mama dulu,” bisik Ramon, suaranya gemetar. Gengsinya runtuh total. “Kamu pasti punya uang darurat, kan?”
Aku tersenyum, sebuah senyuman paling merdeka yang pernah kurasakan dalam enam tahun terakhir. Aku mengambil tas tangan dan berdiri dari kursi.
“Uang darurat itu sudah habis untuk membayar cicilan mobilmu bulan lalu yang menunggak, Ramon. Sekarang, saldo di rekeningku benar-benar nol. Sama seperti rasa hormatku pada kalian.”
Jiro memegang ujung bajuku dengan mata berkaca-kaca. “Mama… Jiro minta maaf. Jiro salah…”
Aku melepaskan tangannya perlahan, namun tegas.
“Jiro, kamu bilang kamu ingin ibu yang elegan dan pintar cari uang. Mulai besok, Mama akan fokus menjadi wanita itu—tapi hanya untuk diri Mama sendiri. Silakan nikmati steak mewah dan yacht ini bersama Papamu tercinta.”
Akhir dari Sebuah Ilusi
Malam itu, aku berjalan keluar dari resort sendirian, meninggalkan kekacauan total di belakangku. Aku tahu Ramon harus menjaminkan jam tangan mewah palsunya dan menghadapi sanksi dari pihak bank karena kartu kreditnya yang mendadak diblokir. Aku juga tahu mereka harus pulang menggunakan kendaraan umum karena mobil mewah itu akhirnya ditarik oleh pihak leasing seminggu kemudian.
Sesampainya di kontrakan kecil yang sudah kusewa secara diam-diam sejak tiga hari lalu, aku duduk di depan cermin.
Aku membuka botol krim skincare murah yang sempat mereka tertawakan, mengoleskannya ke wajahku yang tampak lelah namun kini memancarkan kelegaan. Mulai besok, surat cerai akan sampai di tangan Ramon, dan aku akan memulai hidup baru. Hidup yang murah dalam materi, namun sangat mewah dalam kedamaian jiwa.