Posted in

Malam ini Raisa tidur di rumah mertuanya Farra, makanya Farra bisa berbicara di luwes pada Dirga. Farra sangat menjaga kondisi dan suasana rumah.

Tengah sel*njoran sambil mem3riksa jadwal kuliah esok hari ponsel Farra tiba-tiba dib4njiri chat oleh nomor baru.

[Mbak, ini aku Mayang.]

[Barusan Mas Dirga m4rah-m4rah karena Mbak m1nta pis4h sama dia]

[Tahu nggak, gara-gara Mbak ngomong gitu, aku yang kena m4r4h sama Mas Dirga]

[Gini aja deh, Mbak. Besok bisa ketemu?]

[Nanti aku shareloc ke Mbak nya]

Farra hanya tersenyum membaca pesan dari Mayang.

“Oh ternyata kamu ngambil t1nd4kan buat ng3j4uhin Mayang ya, Mas?”

“Hmm … tapi sayang, aku juga sudah tidak peduli.”

“Kalau misalnya aku tidak mengatakan dan berbicara seperti tadi, mungkin Mayang tidak akan mengirim pesan padaku.”

Farra tidak terlihat shock sama sekali. Apa mungkin hati Farra sudah m4ti rasa sampai-sampai saat membaca pesan dari Mayang biasa saja. Bahkan dia memb4las pesan itu.

[Ok] jawabnya s1ngk4t.

***

“Semalam aku udah hubungi Mayang dan aku udah mem1nta dia mengakhiri hubungan terl4rang ini,” ucap Dirga saat suami istri bertemu di ruang tamu.

Farra hendak pergi ke k4mpus, sedangkan Dirga berangkat ke kantor. Mereka berdiri berhadapan.

“Tidak perlu, Mas!” jawab Farra sembari mengul4s senyum.

“Apanya yang tidak perlu, kamu nggak ngeh4rgain aku soal kep*tus4n ini?” Suara Dirga mulai agak men1nggi. Seolah dia tidak suka dengan apa yang terlont4r dari mulut istrinya itu.

“Kamu tidak perlu emosi. Memang seharusnya tidak perlu menjauhi Mayang. Apalagi selama ini, kamu berus4ha k3r4s bertemu dia di belakangku.”

“Ya wajarlah aku em*si, g1liran aku berusaha buat lepasin dia, kamu malah seperti ini.”

“Kamu tidak sedang b3rus4ha k3r4s, Mas. Kamu hanya tidak ingin dis4lahkan.”

“Apa yang terjadi sekarang itu adalah kons3kuensi yang kamu terima.”

“Berarti kamu memang eg*is, kamu sengaja ny3r4ng aku, dan sekarang kamu berl1ndung di balik kata-katamu sendiri.”

“Belajarlah menerima apapun itu, Mas. Termasuk kons3kuensi dari sikapmu sendiri.”

“Jangan selalu meny4lahkan orang lain, atas apa yang tidak sesuai dengan keinginan kamu.”

“Sejak awal menikah hanya aku yang ingin m3mpert4hankan rumah tangga ini, bukan kamu.”

“Kamu, kamu hanya tidak ingin ibumu kec3wa, bukan karena ingin mempert4hankan aku sebagai istrimu.”

“Kamu perlu aku hanya untuk status. Dan, sejak tadi malam, aku lep4skan status itu, dan silakan perjuangkan Mayang sebagai istrimu. Bukankan bersatu dengan cinta pertamamu, adalah impianmu?”

“Kamu tetap mau kita berpisah? Hanya karena masalah itu? Kenapa harus menunggu sampai lima tahun?”

Bukannya tersadar, Dirga malah seolah menyerang balik istrinya.

“Hanya katamu, Mas? Harusnya kep*tus4nku tidak perlu kamu perd3b4tkan, Mas. Sama halnya dengan h*b*nganmu dan Mayang, yang tak pernah aku perd3b4tkan.”

“Apanya yang nggak kamu perd3b4tkan? Ini apa jadinya? Ini karena kamu komplein semalam ‘kan?”

“Semalam aku hanya mengutarakan jika aku ingin berpis4h dengan kamu, Mas. Dan, apa yang kukatakan itu, sudah sangat kupikirkan dalam segala hal.”

Suara Farra terdengar penuh pen3k4nan.

“Berbesar hatilah menerima semua kep*tus4nku, Mas. Jika ini membuatmu s4kit, jelas tidak seb4nding dengan s4kit dan kekec3w4an yang kur4sakan selama kita menikah.”

“Aku ke kampus dulu.”

“Far … Farra … Aku belum selesai berbicara!” seru Dirga.

Namun, Farra tetap melanjutkan langkahnya menuju garasi mobil.

Brakk

Dirga men3nd4ng kursi kayu jati yang ada dekat sofa ruang tamu. Napasnya tampak naik-turun. Dirga l3pas kendali.

Dia sangat em*si, tidak terima akan kep*tus4n berpis4h. Dirga tidak mau namanya h4nc*r di mata keluarga besar, apalagi mau tak mau rekan kantornya juga akan tahu.

Belum lagi, Dirga baru saja menjabat sebagai direktur perus4ha4n yang berg3rak di bidang pendistribusian obat.

Hari ini Farra mengajar seperti biasa meskipun dalam suasana hati yang agak berbeda. S4kit tapi sudah terl3p4skan, yang mana selama ini dia pendam dan rasakan sendiri.

[Aku di parkiran kampus kamu, Mbak]

[Mari kita bertemu]

Kening Farra mengk3rut saat membaca pesan dari Mayang. Apalagi pesan Mayang masuk disaat Farra sudah selesai proses perkuliahan, tidak ada jadwal lagi, karena jadwal hari ini hanya 3 sesi saja.

[Saya tidak akan menemui kamu, selagi kamu masih di kampus ini]

[Jika mau bicara, silakan atur tempat lain]

Tak perlu banyak b4sa-b4si, Farra langsung membalas pesan to the point.

[Kamu takut, Mbak?]

[Terserah pilih yang mana!]

[Keduanya ada konsekuensi, yang jelas bukan mer*gik4n saya]

balas Farra detik menit kemudian.

[Oke]

[Yang jelas aku tahu kamu pec*nd4ng, Mbak]

[Kita ketemu di kafe dekat per3mpatan sebelum komplek perum4han kamu.] balas Mayang lagi.

Pesan yang dikirim Mayang hanya centang dua biru saja. Tidak ada balasan apapun dari Farra.

Judul Novel Kembalilah Pada Cinta Pertamamu, Mas!

Penulis Dwi Nella Mustika