Indra menarik koper-koper yang menunggu di depan pintu, masuk kembali ke dalam kamar. Lastri menarik tangan suaminya untuk berhenti melakukan itu.
“Ada apa sih, kok ri but-ri but?” gerutu mama Indra begitu keluar dari dapur.
Mata wanita itu terbe lalak dengan dua koper yang ada di tangan menantunya.
“Kamu mau ming gat, Las? Biarkan saja dia pergi, Ndra!” ucap mama Indra tanpa perasaan.
“Ma!” teriak Indra sembari menggir ing istrinya untuk masuk ke kamar.
“Ayo kita bicara,” ucap Indra sembari menutup pintu kamar.
“Tidak ada lagi yang perlu kita bicarakan!” sahut Lastri tegas sembari mengeluarkan sebuah amplop coklat besar dari dalam tas tote-nya.
“Apa ini?” tanya Indra begitu menerima amplop itu.
Laki-laki itu terperangah setelah membaca isi lembaran dalam amplop.

“Aku sudah bubuh tanda tanganku. Tinggal bagianmu,” ucap Lastri dingin tanpa melihat padanya.
Indra melem par kertas itu ke ranj ang.
“Tidak! Aku tidak mau berce rai! Aku tidak akan menanda tangani do kumen itu!” ucap Indra tegas.
“Terserah. Aku tinggalkan do kumen itu di sini, kalau kamu belum bisa melakukannya sekarang. Jika sudah, tolong antar balik do kumen percer aian itu padaku,” kata Lastri pada Indra dan bergegas meninggalkan rumah.
“Tunggu! Kamu tidak boleh melakukan ini padaku, Las!” te riak Indra pro tes.
“Kenapa tidak boleh? Untuk apa aku hidup dengan suami pengkhianat? Tidak ada untungnya bagiku! Aku sudah memberi opsi, mau tetap bersamaku atau perempuan itu, tapi kamu lagi-lagi bersama perempuan sun dal itu! Semalaman aku menunggu kamu, tapi rupanya aku salah! Aku tahu semalam kamu bersama Sandra! Jadi cukup sudah, jangan kalian buat aku seperti orang bo doh! Jika Sandra lebih membuat kamu bahagia, hiduplah bersamanya!” tegas Lastri penuh ge ram.
Indra menghela napas panjang. Wajahnya terlihat frus trasi.
“Aku menemuinya untuk memberi dia pengertian, Las. Alih-alih mendengarkan perkataanku, dia malah berusaha bu nuh diri. Jadi aku semalaman tidak pulang karena menemani dia di rumah sakit. Bagaimanapun, dia mengan dung an akku, Las. Aku tidak mau terjadi hal yang tidak baik untuk calon ba yiku. Tolong mengertilah,” bujuk Indra.
“Aku istri sah kamu, aku juga tengah mengan dung! Dia mau bu nuh diri atau bagaimana bukan urusanku atau kamu! Salah dia sendiri main g ila dengan suami orang! Paling ja hat lagi dia sudah menje bak aku dengan tu duhan pembu nuhan! Sudah! Aku bisa jaga diriku sendiri, ba yiku juga bakal baik-baik saja! Kamu urus saja perempuan selingkuhanmu itu!” ce car Lastri tanpa a mpun.
“Indraaaaa! Kemari sebentar! Kita diu sir nih!”
Te riakan mama Indra tiba-tiba terdengar dari ruang tamu. Terdengar suara mama Indra sedang a du mu lut dengan seseorang.
“Duh! Apalagi sih ini?!” g erutu Indra dengan ge ram dan segera menuju ke ruang tamu.