Posted in

Gundik suamiku, ternyata selingkuhan ayahnya sendiri. Akan aku bongkar setelah suamiku resmi menikahinya. Ku ingin lihat, bagaimana reaksinya….

Plak!

“Kurang ajar!”

Tamparan keras itu langsung mendarat di pipiku, tepat saat layar besar itu baru mulai menyala.

“Apa semua ini ulah kamu, Tiara?!” bentak Bu Yulia.

Aku langsung tercekat.

Pipiku terasa panas.

Tanganku bahkan refleks ingin membalas tamparan itu.

Namun aku menahannya, di tengah puluhan pasang mata yang kini menatap ke arah kami.

Dan detik berikutnya—

Bisik-bisik mulai terdengar di seluruh ballroom.

“Dia kan menantu pertamanya Bu Yulia ya?”

“Iya… katanya dia mandul.”

“Pasti nggak terima suaminya nikah lagi. Makanya bikin kekacauan di acara nikahan.”

Degh.

Setiap bisikan itu menusuk telingaku seperti sebuah vonis.

Seolah-olah…

Akulah penjahat di tempat ini.

“Tiara…”

Mas Rey melangkah mendekat dengan wajah penuh kejengkelan.

“Kamu apa-apaan sih? Matikan lampu di acara pernikahanku?”

Ia menatapku penuh kesombongan.

“Kalau kamu memang nggak terima aku menikah lagi, bilang aja.” hardiknya.

“Nanti kamu bisa ajukan rujuk dan jadi istri keduaku.”

Degh!

Dadaku langsung meledak.

“CUKUP!!”

Bentakanku menggema keras memenuhi ballroom.

Semua orang langsung terdiam.

Aku menatap mereka satu per satu dengan napas memburu.

“Kalian semua! Perhatikan baik-baik layar itu! Jangan cuma sibuk menghakimi satu orang!” suaraku bergetar menahan emosi

Aku menunjuk monitor besar di depan.

Suasana ballroom langsung hening.

Perlahan…

Semua tamu kembali menoleh ke arah layar besar di depan kami.

Di sana terlihat rekaman CCTV lorong hotel.

Masih dari jarak jauh.

Dan mulai terlihat, siluet dua orang berjalan berdampingan.

Awalnya para tamu masih terlihat bingung.

Namun semakin dekat…

Semakin jelas wajah mereka. Seorang pria tua dengan seorang wanita muda.

Dan tepat saat kamera menyorot penuh wajah mereka.

Degh!

Seseorang langsung berseru keras.

“Itu kan… Pak Harlan?!”

Suasana ballroom seketika meledak.

“Astaga!”

“Beneran Pak Harlan!”

“Yang perempuan siapa?!”

Wajah Bu Yulia langsung berubah pucat.

Sementara Mas Rey terlihat mengerutkan kening, tajam menatap layar.

Dan saat wanita di samping Pak Harlan itu perlahan mengangkat wajahnya…

Degh!

Raut wajah Mas Rey langsung membeku total.

“A-apa ini…?”

Suara Mas Rey bergetar.

Aku malah perlahan menaikkan sudut bibirku.

“Eits… Jangan kaget dulu dong, Mas. Ini baru permulaan. Lihat dulu adegan berikutnya,” ujarku santai.

Aku kembali menunjuk layar besar itu.

Semua orang langsung menoleh ke arahku.

Lalu kembali menatap layar.

Dan detik berikutnya—

Suasana ballroom langsung pecah.

Di video itu terlihat, Pak Harlan dan wanita tersebut berpelukan sangat mesra di depan pintu kamar hotel.

Lalu…

Adegan mesra yang semakin tidak wajar. Bibir mereka saling bertaut, dan nampaknya mereka saling menikmati satu sama lain.

Aku melihat Bu Yulia langsung menganga lebar.

“Astaga…”

Beberapa tamu langsung berseru kaget.

“Ugh…”

“Ya ampun…”

Entah karena mereka jijik, atau justru menikmati drama besar di depan mata mereka.

“Eh… tunggu…” seru salah satu tamu.

“Itu wajah perempuannya kok mirip sama…”

“Iya ya!” seseorang lain menimpali, dengan berseru keras. “Kok mirip menantu barunya Bu Yulia ya?!”

Semua kepala langsung menoleh bersamaan ke arah Riana.

Dan di situlah—

Aku bisa melihat wajah wanita itu langsung pucat pasi, membuat aku tertawa kecil.

“Itu bukan mirip, Bapak-bapak Ibu-ibu…” seruku lantang sambil menunjuk Riana. “Memang dia orangnya!”

Degh!

Suasana semakin meledak.

“HAH?!”

“Serius itu Riana?!”

“Ya ampun…”

Aku bisa melihat bagaimana paniknya wajah Riana sekarang.

Tangannya mulai gemetar.

Matanya liar menatap ke segala arah.

Dan entah kenapa…

Melihat kepanikannya membuat dadaku terasa sangat puas.

“SETAN!”

Tiba-tiba suara Pak Harlan meledak keras.

“Apa-apaan ini?!”

Wajahnya merah padam penuh amarah dan panik.

“PARTO!” bentaknya ke arah asistennya. “Cepat matikan video ini!”

Asisten Pak Harlan langsung bergerak panik menuju bagian operator.

Aku sedikit menegang.

Karena video ini, sebenarnya masih panjang.

Masih banyak bagian yang lebih menghancurkan.

Aku langsung mencari cara agar perhatian semua orang tetap tertahan.

“Wah… wah…” Aku terkekeh sambil melipat tangan di dada. “Kayaknya Pak Harlan mulai panik nih.”

“TIARA!”

Bentakan Pak Harlan justru membuat Bu Yulia semakin gemetar.

Dan tepat saat itu…

Video berikutnya kembali terputar.

Di layar terlihat jelas, Pak Harlan menarik tangan Riana masuk ke dalam kamar hotel sambil tertawa mesra.

“Ya ampun… Liat itu!”

Beberapa tamu langsung menutup mulut syok.

Sementara aku malah berseru makin keras,

“Tenang, Bapak-Ibu! Adegan paling klimaksnya sebentar lagi!”

“Ayo…” Aku menatap keluarga Mahendra satu per satu. “Kita tonton sama-sama.”

Dan benar saja…

Video berikutnya memperlihatkan bagian dalam kamar hotel.

Dan adegan itu…

Benar-benar memperlihatkan segalanya, sesuatu yang jauh lebih klimaks.

“PARTO!!”

Suara Pak Harlan menggema penuh amarah.

“PARTO!!”

Pria itu mulai kehilangan kendali.

“Kenapa videonya belum mati juga?!”

Asistennya terlihat panik bukan main.

“Ma-maaf, Pak! Tapi saya udah cari sumbernya, dan ini bukan dari operator acara!” papar asistennya panik.

“TERUS DARI MANA, BODOH?!”

Bentakan Pak Harlan membuat ballroom semakin ricuh.

Sementara itu—

Bu Yulia terlihat semakin hancur.

Wanita elegan itu kini menatap layar dengan tubuh gemetar.

Matanya memerah.

Seolah dunianya runtuh dalam satu malam.

Mas Rey pun sama.

Pria itu membeku di tempat.

Tatapannya kosong menatap layar besar, yang terus memutar adegan menjijikkan di sana

Sedangkan para tamu mulai menunjukkan reaksi berbeda-beda.

“Ya ampun…”

“Astaga…”

Ada yang menutup mulut syok.

Ada yang menggeleng tak percaya.

Ada juga yang sengaja mengalihkan pandangan, karena mungkin terlalu jijik melihat video itu.

Sementara aku…

Aku malah tersenyum tipis.

‘Keren juga kamu, Zay…’ gumamku dalam hati.

Aku benar-benar kagum.

Zay bisa memutar video ini tanpa lewat operator acara.

Lalu sebenarnya dari mana dia memutarnya?

Namun untuk saat ini…

Aku tidak peduli.

Karena semua yang kuinginkan sudah terjadi.

“TIARA!!”

Tiba-tiba suara Pak Harlan meledak tepat di depanku.

“Apa-apaan kamu ini?! Cepat matikan video itu!” hardiknya padaku.

Pria berkuasa itu berjalan menghentak-hentakkan kaki ke arahku, dengan wajah merah penuh amarah.

Benar-benar kehilangan kendali.

Dan detik berikutnya—

Ia mengangkat tangannya hendak memukulku.

Namun tiba-tiba…

Plak!

Sebuah tangan kekar, menangkap pergelangan tangan Pak Harlan, tepat sebelum tamparan itu mendarat di wajahku.

Pak Harlan langsung melotot tak percaya.

“Zay?! Kamu?!”

Pria itu berdiri di depanku dengan tatapan dingin.

“Pak Harlan… Anda itu pejabat daerah. Apa pantas, Anda melakukan kekerasan pada seorang perempuan?” ujarnya dengan suara tenang.

Namun sebelum Pak Harlan sempat bereaksi.

Aku bisa melihat Bu Yulia langsung menarik pundak suaminya, pipinya sudah berlinang dengan air mata. Dan ia menatap Tuan Harlan dengan tatapan tajam.