Posted in

Tepat pada saat itu—saat kebenaran tentang tuduhan palsu terhadapku hampir terungkap,

**Tepat pada saat itu—saat kebenaran tentang tuduhan palsu terhadapku hampir terungkap,**

tiba-tiba seorang pria bergegas masuk dan memerintahkan semua orang untuk menghentikan apa yang sedang terjadi.

Dan apa yang dia katakan berikutnya…

bahkan membuat darahku sendiri terasa membeku.

Hari itu baru hari ketigaku bekerja di sebuah perusahaan teknologi di Makati, tetapi seluruh departemen sudah diam-diam menjauhiku.

Semuanya hanya karena satu kejadian saat rapat pagi tadi—CEO kami, Rafael Dela Cruz, tanpa sengaja meminum kopi dari cangkirku.

Seluruh ruang konferensi langsung hening.

Semua orang tahu—dia sangat menjaga kebersihan dan tidak pernah menyentuh barang milik orang lain.

Direktur Teknis, Clarissa Reyes, langsung pucat.

“Pak… itu cangkir milik Lina.”

Semua mata tertuju padaku.

Mereka menunggu.

Menunggu aku dipermalukan.

Menunggu aku dimarahi di depan semua orang.

Tetapi Rafael hanya berhenti sejenak.

Lalu, seolah tidak terjadi apa-apa, dia melanjutkan rapat.

Setelah rapat selesai, mereka menghadangku di toilet wanita.

— Lina, jangan terlalu banyak bermimpi.

— Clarissa sudah lama bersama Rafael. Di mata semua orang, dia hampir seperti pemilik perusahaan.

— Sadari posisimu. Jangan jadi orang ketiga yang memalukan.

Aku menatap mereka dan tersenyum tipis.

— Sudah selesai?

Udara mendadak terasa sunyi.

— Kalau sudah… minggir.

Aku berjalan pergi dan meninggalkan mereka yang masih terpaku.

Di pikiran mereka, pasti sudah tercipta berbagai drama.

Yang tidak mereka ketahui—

Rafael Dela Cruz adalah saudara kandungku.

Keesokan harinya.

Aku masuk ke pantry untuk membuat kopi.

Saat membuka pintu—

Percakapan langsung terhenti.

Tiga rekan kerja keluar bersamaan, seolah-olah aku tidak ada.

— Selamat pagi.

Tidak ada yang menjawab.

Melissa—orang terakhir yang keluar—berhenti sejenak.

— Nak… jauhilah Rafael. Demi kebaikanmu sendiri.

Pintu tertutup.

Aku sendirian.

Ponselku bergetar.

Grup chat kantor—99+ pesan.

Mereka sedang membicarakan makan malam bersama nanti di Haidilao Hot Pot.

“Jam 7 malam ya!”

“Jangan ada yang pulang sebelum mabuk!”

“Clarissa sudah pesan ruang VIP!”

Pesan yang disematkan:

“Semua wajib hadir.”

Tetapi…

Namaku tidak ada.

Pukul 19.00.

Mereka turun bersama-sama.

— Lina, kamu tidak ikut?

tanya seorang anak magang.

Tiba-tiba dia ditarik.

— Ayo, kita sudah terlambat.

Aku ditinggalkan sendirian di kantor.

Malam itu, media sosial dipenuhi foto mereka.

Clarissa berada di tengah.

Caption:

“Keluarga Tech 

❤️

Aku mematikan layar.

Sangat kekanak-kanakan.

Keesokan harinya.

Aku membutuhkan akses ke file proyek.

— Marco, bisa buka aksesku ke Project Orion?

Dia menghindari tatapanku.

— Eh… Clarissa bilang jangan dulu.

— Kenapa?

— Aku tidak tahu.

Pukul 14.00.

Clarissa mendatangiku sambil membawa flashdisk.

Dia tersenyum—tetapi matanya dingin.

— Lina, aku punya tugas penting untukmu.

— Bug ini sudah tiga tahun belum pernah berhasil diperbaiki.

— Kalau kamu bisa menyelesaikannya… aku akan mengakui kemampuanmu.

Dia mendekat dan berbisik.

— Kalau tidak… kamu pasti tahu akibatnya.

Aku membuka file itu.

Kacau.

Tidak masuk akal.

Sebuah jebakan yang sempurna.

Pukul 16.00—aku mulai bekerja.

Pukul 19.00—semua orang pulang.

Pukul 22.00—aku masih di sana.

Pukul 01.00—aku mulai memahami masalahnya.

Pukul 03.00—aku menghapus kesalahan inti.

Pukul 05.00—sistem akhirnya berjalan normal.

Keesokan paginya.

Aku meletakkan flashdisk di mejanya.

— Sudah selesai.

Dia terdiam.

— Apa?

— Sudah aku perbaiki.

Seluruh kantor mendadak sunyi.

— Mustahil…

Sebuah pesan masuk dari Rafael.

“Clarissa mengeluh tentangmu.”

“Terserah kamu.”

Aku membalas:

“Jangan ikut campur.”

Sore harinya.

Aku berada di pantry.

Clarissa ada di sana.

Dia memegang secangkir kopi panas.

Lalu berjalan lurus ke arahku—

“Aah!”

Kopi tumpah.

Tetapi…

ke tangannya sendiri.

Kulitnya langsung memerah.

Dia mulai menangis.

— Lina… apa yang kamu lakukan?!

Semua orang panik.

— Dia menyiram bos?!
— Keterlaluan sekali!

Clarissa berlari menuju kantor Rafael.

Aku ikut di belakang.

Pintu kantor sedikit terbuka.

Di dalam, Clarissa menangis.

— Rafael… aku sudah tidak tahan lagi…
— Dia menyakitiku…
— Lihat ini…

Rafael tetap diam.

Tiga detik.

Lalu dia berdiri.

— Clarissa.

— Pak…

— Kamu seorang direktur.

— Bukan korban.

Ruangan langsung sunyi.

— Soal kopi itu…

Dia menoleh ke arah pintu.

— Ada CCTV.

Tubuh Clarissa membeku.

— Rafael…

Dia menekan remote.

Layar menyala.

Video rekaman muncul.

Terlihat jelas—

Clarissa sendiri yang menabrak.

Dia sendiri yang menumpahkan kopi ke tangannya.

Semua kebohongan langsung runtuh.

Tetapi—

tepat pada saat itu…

Pintu tiba-tiba terbuka.

Seorang pria berjas masuk.

Wajahnya dingin.

— Hentikan semuanya.

Semua orang terdiam.

Dia menatap Rafael.

— Ini bukan sekadar masalah internal perusahaan.

Aku berdiri di luar.

Dadaku terasa sesak.

Karena aku mengenalnya.

Dia adalah—

satu-satunya orang di perusahaan ini…

yang mengetahui identitasku yang sebenarnya.

.. Dia adalah Adrian, Kepala Divisi Audit Global sekaligus tangan kanan ayahku.

“Pak Adrian? Kenapa Anda ada di sini?” Clarissa bertanya dengan suara bergetar, mencoba mencari perlindungan baru. Dia tahu posisi Adrian di korporasi induk jauh di atas Rafael.

Namun, Adrian bahkan tidak melirik Clarissa. Langkah kakinya yang tegas melewati kerumunan dan berhenti tepat di hadapanku. Dia membungkuk hormat—sebuah gestur yang membuat seluruh ruangan, termasuk Clarissa dan rekan-rekan kerja yang mengintip di pintu, menahan napas dalam-dalam.

“Selamat sore, Ibu Adelina Dela Cruz,” ucap Adrian, suaranya menggema jernih di dalam ruangan yang sunyi. “Saya di sini atas perintah langsung dari Komisaris Utama. Mulai hari ini, masa penyamaran dan penilaian lapangan Anda di anak perusahaan ini resmi berakhir.”

“Darahku terasa membeku.” Bukan karena takut, melainkan karena aku tahu apa artinya ini. Ayahku telah bergerak. Permainan kecil ini sudah selesai, dan konsekuensinya akan sangat besar.

Clarissa mundur satu langkah, wajahnya yang semula memerah karena tangisan kini berubah pucat pasi seolah dialiri es. “I-Ibu Adelina? Dela Cruz? Dia… Lina?”

“Lina adalah adik kandungku,” Rafael akhirnya bersuara, melipat tangannya di dada dengan senyum dingin yang selama ini dia sembunyikan. “Dan dia adalah pemilik saham terbesar kedua di Tech Holding Corp. Dia berada di sini bukan sebagai karyawan magang, Clarissa. Dia di sini untuk menilai kelayakanmu sebagai Direktur Teknis.”

Adrian membuka map hitam yang dibawanya dan membacakan keputusan tanpa belas kasihan.

“Berdasarkan bukti sabotase kerja pada Project Orion yang dengan sengaja diberikan kepada Ibu Adelina, pengucilan sistematis di lingkungan kantor, dan tindakan fitnah nyata yang baru saja terekam CCTV… Clarissa Reyes, Anda resmi diberhentikan secara tidak hormat efektif detik ini.”

Clarissa menatapku dengan mata terbelalak, badannya gemetar hebat. “Lina… Pak Rafael… tolong, saya bisa jelaskan—”

“Dan untuk kalian semua,” Adrian menoleh ke arah pintu, menatap tajam rekan-rekan kantor yang sejak kemarin mengucilkanku. Mereka semua tertunduk, mematung dengan rasa bersalah dan ketakutan yang mendalam. “Tech Holding tidak mentolerir bullying dan politik kantor yang kotor. Evaluasi total terhadap seluruh staf departemen ini akan dimulai besok pagi.”

Aku melangkah maju, menatap Clarissa yang kini terduduk lemas di kursi. Senyum tipis yang sama saat di toilet wanita kembali muncul di wajahku.

“Aku sudah bilang, kan? Jangan terlalu banyak bermimpi,” bisikku pelan di dekatnya. “Sekarang… silakan rapikan mejamu.”

Hari ketiga kerjaku di Makati tidak berakhir dengan air mata kekalahan. Hari itu berakhir dengan seluruh departemen yang tertunduk diam, menyadari bahwa orang yang mereka remehkan adalah orang yang memegang kendali atas masa depan mereka.