Posted in

“Aaaarrgh! Lepaskan tanganku, **breng sek**!” raung Bagas saat lengannya diputar paksa ke belakang.

Balok kayu itu jatuh ke aspal dari cengkeramannya yang melemah tak berdaya. Pengawal ber **ba dan** besar itu tak bergerak sedikit pun dari posisinya, justru menekan lengan suamiku lebih tinggi mendekati belikat.

Vina menjerit histeris. Ia melangkah mundur perlahan hingga kakinya tersandung pot bunga dan terjengkang ke tanah.

“Aduh …, aww! Pinggangku!”

Aku berdiri diam dalam kehangatan jas mahal ini, menatap wajah Bagas yang memucat menahan **sa kit**.

“S-**sa kit**! Aw-awwas patah, woy! Lepasin, **bang sat**! Kalian nggak tahu berurusan sama siapa?!” maki Bagas dengan napas terputus-putus.

Suamiku itu berusaha me **nen dang** ke belakang, tapi ujung sepatu pengawal itu lebih dulu menekan lipatan lutut Bagas hingga ia nyaris tersungkur. Urat leher Bagas menonjol. Wajahnya memerah padam menahan malu ditundukkan bagai maling ayam di pekarangannya sendiri.

Vina yang berada di sudut teras tampak menelan ludah. Matanya yang **gi la** harta sempat melebar takjub melihat iringan tiga mobil mewah mengkilap di depan pagar. Namun, sifat angkuh menutupi ketakutannya.

“Heh, siapa kalian?! Berani-beraninya nyerang suamiku?!” teriak Vina, menunjuk rombongan pria berpakaian hitam di depan kami dengan jari bergetar. “Kalian pikir mobil rentalan kayak gini bisa bikin kami takut?! Suamiku ini manajer pabrik kosmetik paling besar di kota ini!”

Hahaha. Suami katanya? Teruslah mengarang cerita, Vina. Belum resmi saja sudah berani mengklaim.

“Aku laporin polisi kalian semua atas tuduhan penganiayaan berat! Kami punya banyak **u ang** buat menjarain kalian sampai membusuk di **ta han an**!” tambah Vina melengking.

Lagi-lagi ke **bo hong** an yang menggelikan. Bagas, yang separuh **tu buh** nya sudah membungkuk menahan **sa kit**, justru terkekeh sambil menyeringai sinis menatap Bastian.

“Heh, Bos! Kau pikir kau siapa, hah?! Datang ke rumah orang malam-malam bawa preman!” tuduh Bagas dengan ludah menyembur ke aspal. “Kau dibayar berapa sama gembel cacat ini buat sandiwara murahan?! Kau pasti cuma sopir taksi *online* yang disewa pakai **u ang** receh!”

Bagas tertawa sumbang, terdengar menyedihkan di tengah rasa **sa kit** yang mendera bahunya.

“Dibayar berapa, hah? Seratus ribu? Hahaha! Jangan mau ditipu sama perempuan penyakitan ini! Dia cuma gembel melarat yang baru saja kuusir karena nyusahin keluargaku!”

“Hati-hati ketularan panu dan nanah busuk di mukanya itu! Jangankan bayar kalian, makan besok saja dia harus mengais tong sampah!” tambahnya lagi seakan tak puas meluapkan kekesalannya.

Makian vulgar terus keluar dari mulut mereka, berusaha menjatuhkan **har ga** diriku ke titik paling rendah di depan pria asing ini.

Aku menundukkan kepala dalam-dalam, memeluk erat lembar foto orang tuaku di depan **da da**. Bahuku sengaja kubuat sedikit bergetar, merapatkan jas kebesaran Bastian seolah aku adalah istri lemah yang trauma.

Mulutku terkunci rapat. Aku membiarkan mereka menggali sendiri lubang ke **hi na** annya makin dalam malam ini.

Teruslah menggonggong, Mas. Fitnah istrimu ini sesuka hatimu. Biarkan pria di sebelahku ini mendengar langsung seberapa busuk mulut manajer rendahan sepertimu. Sebentar lagi, bukan cuma **har ga** dirimu yang dihancurkan, tapi seluruh sumber kesombongan dan **u ang** harammu.

Bastian, yang sedari tadi berdiri tegak bak patung pualam di sampingku, akhirnya membuka suara. Suara pria itu berat, tenang, dan sama sekali tak terpancing oleh teriakan kampungan suamiku atau ancaman hukum konyol dari Vina.

Ia bahkan tidak menoleh ke arah Bagas, seolah pria yang sedang mengerang ke **sa kit** an itu hanyalah tumpukan sampah basah.

“Singkirkan sampahnya. Menghalangi jalan,” perintah Bastian tanpa nada emosi sedikit pun.

Pengawal ber **tu buh** tinggi besar itu mengangguk kaku. Dalam satu gerakan cepat, ia melepaskan kuncian di lengan Bagas. Namun, sebelum suamiku sempat bernapas lega, ujung sepatu bot pengawal itu menghantam **ke ras** bagian belakang lutut Bagas.

Bruk!

Bagas kehilangan keseimbangan seketika dan jatuh berlutut di aspal **ka sar**. Wajahnya menunduk, nyaris men **ci um** genangan air pel bau yang tadi ia siramkan padaku dengan bangga.

Bastian melangkah maju. Sepatu kulit mahalnya sengaja menginjak genangan air kotor di dekat lutut Bagas. Cipratan sisa air pel itu melayang pelan memercik tepat ke wajah dan kemeja rapi suamiku. Bagas mengumpat tertahan sambil mengusap matanya yang perih, tak berani mendongak.

Bastian membukakan pintu mobil hitam mengkilap untukku dengan gestur yang sangat elegan. Aku melangkah masuk perlahan, membawa serta kehangatan jas mahalnya dan martabatku yang tersisa. Ujung daster lusuhku menyapu udara di depan wajah Bagas yang masih berlutut tak berdaya.

“Besok pagi surat cerai kita kuurus, Cacat! Jangan harap kau dapat sepeser pun dari pabrik kosmetikku!” teriak Bagas, berusaha **ke ras** menyelamatkan sisa **har ga** dirinya di hadapan se **ling kuh** annya. “Kau bakal **ma ti** kelaparan di pinggir jalan!”

Aku sama sekali tidak menoleh ke belakang, membiarkan punggungku menjadi jawaban mutlak atas segala ancaman murahan suamiku. Kubawa **tu buh** ku masuk ke dalam interior mobil yang hangat, duduk di bangku depan, me **ning gal** kan pekarangan itu selamanya.

Aroma *peppermint* dan *musk* dari pengharum mobil mewah mengusir bau anyir air pel yang menempel di bajuku. Bastian duduk di sebelahku. Kaca tebal mobil ini merangkak naik perlahan, meredam raungan suamiku di luar sana hingga senyap sepenuhnya.

Mobil mulai melaju. Aku menoleh pada pria di sebelahku, mengusap sisa air kotor di rahangku dengan punggung tangan.

Sorot mataku yang tadi meredup ketakutan, kini me **na jam** bak mata elang.

“Siapkan tim terbaik besok pagi, Bastian,” ucapku dingin. “Kita hancurkan mereka semua sampai ke akar-akarnya. Siapkan juga tim audit dan semua yang kubutuhkan. Aku akan menyegel pabrik kecilku itu. Waktunya dia tahu siapa aku yang sebenarnya.”