Posted in

Ketika Suamiku yang Seorang Pengacara Memilih Mantan Istrinya daripada Aku dan Bayi Kami yang Baru Lahir, Dia Tidak Tahu bahwa Tombol Terakhir yang Kutekan di Ponsel Bukanlah Panggilan Minta Tolong—Melainkan Awal dari Kejatuhannya**

Ketika Suamiku yang Seorang Pengacara Memilih Mantan Istrinya daripada Aku dan Bayi Kami yang Baru Lahir, Dia Tidak Tahu bahwa Tombol Terakhir yang Kutekan di Ponsel Bukanlah Panggilan Minta Tolong—Melainkan Awal dari Kejatuhannya**

Pada tahun ketiga pernikahan kami, mantan istri suamiku menyerbu pusat pemulihan pascamelahirkan tempat aku dirawat di Jakarta.

Aku baru saja menjalani operasi caesar. Bahkan untuk berdiri pun aku masih kesulitan.

Namun wanita itu menarikku turun dari ranjang, menjambak rambutku, dan berteriak di depan bayi kami yang baru lahir.

“Perempuan perebut suami! Kamu merebut suamiku, sekarang bahkan membawa anak segala?”

Namanya Mara Alcantara.

Secara hukum, dia sudah lama bercerai dari suamiku, Rafael Villarama, seorang pengacara terkenal. Namun dalam pikirannya, karena amnesia yang dialaminya setelah kecelakaan, dia masih menganggap dirinya sebagai istri sah Rafael.

Dan aku?

Aku adalah tokoh jahat dalam dunia yang dia ciptakan sendiri.

Awalnya, aku merasa kasihan padanya. Rafael bilang aku hanya perlu memahami keadaannya. Dia mengatakan bahwa Mara tidak bersalah karena kebingungannya. Dia juga bilang semua ini hanya sementara.

Namun yang “sementara” itu berubah menjadi tiga tahun.

Tiga tahun aku hidup dengan serangannya.

Tiga tahun menahan telepon-teleponnya di malam hari.

Tiga tahun menghadapi keributan yang dia buat di kantor Rafael.

Tiga tahun menghadapi kemunculannya yang tiba-tiba di apartemen kami sambil berteriak bahwa akulah wanita simpanan.

Dan setiap kali itu terjadi, Rafael memeluknya.

Bukan aku.

Padahal aku adalah istri sahnya.

Padahal aku yang sedang mengandung anaknya.

Padahal aku yang menangis diam-diam di kamar mandi agar dia tidak mendengarnya.

Hari itu, baru dua hari sejak aku melahirkan putri kami, Amihan.

Tubuhku masih lemah.

Luka jahitan di perutku masih terasa sangat sakit.

Kakiku masih gemetar setiap kali mencoba berdiri.

Amihan berada di sampingku, terbungkus selimut kecil berwarna kuning.

Dia begitu mungil.

Begitu tenang.

Pipinya begitu lembut.

Aku pikir itu adalah awal kehidupan baru kami.

Sampai pintu kamar tiba-tiba dibanting terbuka.

Mara masuk seperti badai.

Rambutnya berantakan.

Matanya merah.

Di tangannya ada ponsel yang menampilkan tangkapan layar unggahanku.

Padahal unggahan itu sangat sederhana.

Hanya foto tangan kecil Amihan dengan caption:

**“Selamat datang di dunia ini, Nak. Mommy mencintaimu.”**

Namun bagi Mara, itu adalah bukti bahwa aku telah mencuri kehidupannya.

Sebelum aku sempat berkata apa pun, dia menendang sisi ranjangku.

Botol air minum terlepas dari tanganku dan jatuh ke lantai.

Seorang perawat berteriak, tetapi dalam sekejap Mara sudah menarikku turun dari ranjang.

“Dia bukan suamimu!” teriaknya. “Rafael milikku!”

Punggungku menghantam lantai yang dingin.

Rasanya seperti ada sesuatu yang robek di dalam tubuhku.

Aku menjerit kesakitan.

“Nyonya, dia baru selesai operasi!” teriak perawat itu.

Namun Mara tidak peduli.

Dia menarik rambutku lalu mendorong tempat tidur bayi Amihan.

Dorongannya tidak terlalu keras.

Tetapi cukup untuk mengguncang tubuh kecil putriku.

Amihan menangis pelan.

Lalu tiba-tiba diam.

Saat itulah aku mulai panik.

“Amihan…” bisikku.

Aku berusaha merangkak ke arahnya.

Tetapi tubuhku tidak lagi mau bergerak.

Perutku terasa panas.

Saat aku menunduk, kulihat pakaianku mulai dipenuhi darah.

Tak lama kemudian Rafael datang bersama dua petugas keamanan.

Aku pikir dia akan berlari menghampiriku.

Aku pikir dia akan memeluk putri kami.

Namun dia langsung menuju Mara.

Kedua tangan Mara dipegang petugas keamanan, tetapi dia menangis seolah dialah korbannya.

Begitu Rafael melihatnya, ekspresinya langsung berubah.

“Mara,” katanya pelan. “Aku di sini. Tenanglah.”

“Rafa, apa kamu benar-benar meninggalkanku?” isaknya. “Kamu punya anak dengannya?”

Aku melihat wajah Rafael melunak.

Dia tidak melihatku.

Dia tidak melihat darah di lantai.

Dia tidak melihat Amihan yang sudah berhenti menangis.

Kepala perawat mendekatinya.

“Pak Villarama, kami harus segera membawa Nyonya Villarama ke unit gawat darurat. Jahitannya terbuka. Dan bayinya—”

“Bayinya hanya tidur,” potong Rafael. “Jangan berlebihan.”

Rasanya seperti ada tangan dingin yang mencengkeram jantungku.

“Rafael…” panggilku lirih.

Dia menoleh sekilas.

Namun yang kulihat di matanya bukan belas kasihan.

Melainkan kekesalan.

“Lira, sudah cukup,” katanya. “Jangan memperkeruh keadaan. Kamu tahu kondisi Mara. Kalau dia terpicu, dia bisa kejang.”

“Tapi… anak kita…” suaraku hampir tak terdengar.

“Wanita mana pun akan kehilangan akal saat melihat suaminya punya anak dengan perempuan lain,” katanya. “Cobalah memahami perasaannya.”

**Perempuan lain.**

Aku adalah istrinya.

Namun dalam kalimat itu, akulah yang dianggap orang ketiga.

Aku mengambil ponselku dari lantai.

Tanganku gemetar.

Layarnya retak, tetapi masih menyala.

Aku tidak tahu siapa yang harus kuhubungi.

Ibuku?

Ambulans?

Polisi?

Namun sebelum sempat menekan nomor apa pun, Rafael merebut ponsel itu.

“Kamu mau memanggil polisi lagi?” tanyanya dingin. “Seperti terakhir kali? Lira, jangan mengujiku.”

Terakhir kali, Mara mendorongku dari tangga apartemen.

Alisku robek.

Ada rekaman CCTV.

Rafael melihat semuanya.

Tetapi dia memohon kepadaku.

Demi bayi yang ada dalam kandunganku.

Demi agar Mara tidak masuk penjara.

Demi mengakhiri semua keributan.

Karena itu aku mengatakan kepada polisi bahwa aku hanya terpeleset.

Dan itulah kesalahan terbesar dalam hidupku.

Rafael kemudian menggendong Mara keluar seperti seorang putri yang terluka dalam peperangan.

Sebelum pergi, dia menoleh kepada para perawat dan staf.

“Tidak ada yang boleh membantu Lira,” perintahnya. “Biarkan dia belajar dari ini. Jika kalian membantunya, aku akan menuntut pusat pemulihan ini. Kalian tahu siapa aku.”

Semua orang terdiam.

Dia adalah pengacara litigasi terkenal.

Memiliki banyak koneksi.

Banyak orang takut padanya.

Kepala perawat menggigit bibirnya yang gemetar.

“Pak… kondisi beliau berbahaya…”

“Saya sudah bilang,” potong Rafael. “Tidak ada yang boleh membantu.”

Pintu kamar VIP itu tertutup rapat, menyisakan keheningan yang mencekam. Langkah kaki Rafael yang menjauh bersama Mara terdengar seperti ketukan palu hakim yang menjatuhkan vonis mati atas pernikahan kami.

Di lantai yang dingin, di atas genangan darahku sendiri, aku menatap langit-langit.

Semua orang di ruangan itu membeku. Ancaman Rafael sebagai pengacara papan atas Jakarta telah mengunci pergerakan para perawat. Mereka ketakutan.

Namun, Rafael melupakan satu hal. Dia mengira dia telah merebut ponselku dan memotong seluruh aksesku ke dunia luar. Dia tidak tahu bahwa sebelum dia merenggut ponsel di tangan kananku, tangan kiriku yang gemetar telah meraba saku jubah rumah sakitku.

Di sana, ada ponsel kedua. Ponsel kerja yang jarang kugunakan, namun terhubung otomatis dengan sistem smart-home apartemen kami, kamera dasbor mobilnya, dan yang terpenting: akun penyimpanan awan (cloud) rahasia milikku.

Dengan sisa tenaga yang menguap bersama darah yang terus mengalir, aku menekan satu tombol pintas di samping ponsel. Triple-click.

Itu bukan panggilan darurat ke polisi. Itu adalah tombol aktivasi “Protokol Penghancuran” yang sudah kusiapkan sejak Mara mendorongku dari tangga beberapa bulan lalu.

Seketika, layar ponselku yang redup memunculkan notifikasi singkat: Upload Complete. Broadcast Live.

Aku tersenyum tipis, merasakan kesadaran yang perlahan meredup. “Kamu salah, Rafael. Aku tidak sedang memanggil bantuan. Aku sedang menguburmu.”

Tiga Jam Kemudian: Ruang ICU

Saat aku membuka mata, bau antiseptik yang menyengat menyambutku. Rasa sakit di perutku sudah mati rasa akibat obat bius. Di samping ranjangku, seorang dokter senior dan kepala perawat yang tadi dilarang Rafael sedang mengawasi monitor dengan wajah pucat.

“Nyonya Villarama? Anda sudah sadar?” bisik perawat itu, matanya berkaca-kaca. “Maafkan kami… tadi kami harus menunggu Pak Rafael pergi jauh sebelum berani memindahkan Anda dan bayi Anda.”

“Amihan…” suaraku serak, nyaris tak terdengar.

Seorang perawat lain mendorong inkubator kecil ke dekatku. Di dalamnya, Amihan sedang tertidur dengan selang oksigen kecil di hidungnya.

“Putri Anda mengalami trauma ringan akibat guncangan, tapi dia pejuang yang kuat. Dia selamat,” kata dokter dengan nada lega. “Dan… Anda harus melihat ini.”

Dokter itu menyalakan televisi di sudut ruangan ICU.

Layar menampilkan berita utama di seluruh stasiun televisi nasional dan media sosial: “Skandal Besar Pengacara Kondang Rafael Villarama: Percobaan Pembunuhan Istri Sah dan Bayi Baru Lahir.”

Tombol Terakhir

Tombol yang kutekan di pusat pemulihan tadi memicu beberapa hal sekaligus:

  1. Siaran Langsung Tersembunyi: Ponsel di saku jubahku ternyata telah merekam seluruh kejadian sejak Mara mendobrak pintu. Suara histeris Mara, benturan tubuhku di lantai, tangisan Amihan, dan yang paling mematikan—suara dingin Rafael yang melarang staf medis menolongku demi melindungi mantan istrinya. Semuanya tersiar langsung (Live) di akun media sosialku yang memiliki ribuan pengikut.
  2. Pelepasan Enkripsi Data: Rekaman CCTV asli saat Mara mendorongku dari tangga apartemen (yang dulu dipaksa Rafael untuk kuhapus) ternyata telah tersimpan aman di cloud. Bersamaan dengan siaran langsung tadi, seluruh dokumen bukti kekerasan Mara dan keterlibatan Rafael dalam menghalangi keadilan (obstruction of justice) terkirim otomatis ke email Dewan Kehormatan Peradi (Persatuan Advokat Indonesia) dan divisi propam kepolisian.

Netizen mengamuk. Publik Jakarta murka. Narasi tentang “mantan istri yang amnesia” runtuh seketika saat video menunjukkan betapa sadis dan sadarnya Mara saat menyerangku, serta betapa kejamnya Rafael sebagai seorang suami dan ayah.

Kejatuhan Sang Pengacara

Hanya butuh waktu dua puluh empat jam bagi dunia Rafael untuk runtuh total.

Sore harinya, pintu kamar ICU-ku dijaga ketat oleh dua anggota polisi yang diutus langsung oleh Kapolda, memastikan tidak ada satu pun orang yang bisa mengintimidasi aku lagi.

Tiba-tiba, terdengar keributan di luar koridor.

Melalui kaca jendela kamar, aku melihat Rafael. Jas rapi yang biasa dia banggakan kini kusut. Wajahnya pucat pasi, rambutnya berantakan. Dia mencoba menerobos masuk, namun dihadang oleh petugas.

“Lira! Tolong tarik siaran itu! Lira, aku mohon!” teriaknya histeris dari balik pintu kaca. “Klien-klien besarku membatalkan kontrak! Izin praktikku dibekukan sementara! Mara… Mara sudah ditangkap polisi di rumahnya!”

Dia menempelkan kedua telapak tangannya di kaca, matanya yang biasa menatapku dengan keangkuhan kini dipenuhi air mata ketakutan.

“Aku melakukan itu hanya untuk menenangkan Mara, Lira! Aku mencintaimu! Aku tidak bermaksud membiarkanmu mati! Pikirkan karierku, pikirkan masa depan anak kita!”

Aku menatapnya dari atas ranjang rumah sakit. Aku mengelus pipi lembut Amihan yang berada di dekapanku.

Untuk pertama kalinya dalam tiga tahun, aku tidak merasakan ketakutan. Tidak ada lagi air mata untuk pria ini.

Aku memberi isyarat kepada perawat untuk membuka sedikit pintu, hanya agar dia bisa mendengar suaraku dengan jelas.

“Rafael,” panggilku, dingin tanpa emosi. “Kamu bilang, wanita mana pun akan kehilangan akal saat melihat suaminya bersama perempuan lain. Jadi, cobalah pahami perasaanku saat ini.”

Wajah Rafael menegang.

“Kamu adalah pengacara hebat, kan? Maka bersiaplah,” lanjutku sambil tersenyum tipis. “Gunakan seluruh sisa tokomu untuk membela dirimu sendiri di pengadilan. Karena aku tidak hanya menggugat cerai dirimu dan mengambil hak asuh penuh atas Amihan—aku juga memastikan kamu akan mengenakan baju tahanan orange bersama mantan istri tercintaimu.”

“Lira, jangan lakukan ini! Aku bisa hancur!” ratapnya.

“Kamu sudah hancur, Rafael. Sejak kamu melangkah keluar dari kamarku dan membiarkan darahku mengalir, kamu sudah selesai.”

Aku memberi isyarat kepada polisi. Mereka langsung meringkus lengan Rafael, membalikkan tubuhnya, dan memasangkan borgol di tangannya atas tuduhan penelantaran anak dan istri dalam kondisi darurat, serta keterlibatan menyembunyikan tindak pidana.

Rafael diseret sepanjang koridor rumah sakit di bawah kilatan lampu kamera wartawan yang entah bagaimana sudah memenuhi lobi.

Aku bersandar pada bantal, memeluk Amihan erat-erat. Luka di perutku masih terasa perih, tetapi di dalam hatiku, badai telah berlalu.

Ponsel di tanganku bergetar lagi, menampilkan pesan dari pengacara baruku—mantan mentor Rafael yang paling ditakutinya di dunia hukum—yang menulis singkat: “Semua bukti sudah di tangan hakim. Kita menang, Lira.”

Aku mencium kening Amihan. “Kita aman sekarang, Nak. Kita bebas.”