Posted in

Suamiku Memblokir Semua Kartuku Beberapa Menit Sebelum Ibuku Masuk Ruang Operasi.**

Dia pikir aku akan berlutut dan memohon seperti biasanya.

Dia tidak tahu… hanya perlu satu panggilan telepon untuk menghancurkan seluruh perusahaan yang selama ini ia banggakan.

Dulu aku percaya, meskipun pernikahan kami tidak sempurna, setidaknya masih bisa menjadi tempat bersandar.

Sampai adik angkat suamiku kembali.

Namanya Sofia.

Selama tiga tahun dia menghilang setelah ikut pacar kayanya ke luar negeri. Saat itu, Marco memelukku dan berkata bahwa akulah satu-satunya keluarga yang tersisa baginya.

Aku mempercayainya.

Aku mempercayainya begitu dalam sampai setelah kami menikah, aku menyerahkan pengelolaan bisnis restoran keluarga kepadanya.

Bahkan vila pantai yang atas namaku sendiri, kubiarkan dia gunakan kapan pun dia mau.

Namun sebulan yang lalu, Sofia kembali.

Dia datang membawa tumpukan utang judi dan menangis tepat di depan rumah kami.

Dan seperti biasa, Marco langsung memihaknya.

—Aku satu-satunya keluarga yang dia miliki.

Sejak hari itu, rasanya Sofia yang menjadi perempuan utama di rumah itu.

Dia berjalan-jalan di dalam mansion milikku dengan gaun tidur sutra, memakai parfumku, dan cara dia memanggil Marco dengan sebutan “Kakak” terdengar memiliki makna yang berbeda.

Beberapa kali aku memprotes.

Namun Marco hanya menatapku dingin.

—Bisakah kamu berhenti berpikiran sempit? Sofia sudah cukup menderita.

Sampai malam itu tiba.

Aku sedang menghadiri rapat bisnis ketika rumah sakit menelepon.

Ibuku terkena stroke.

Dia harus segera dioperasi.

Kepalaku berdengung saat berlari keluar gedung sambil terus mencoba menghubungi Marco.

Dia tidak menjawab.

Saat tiba di rumah sakit, aku langsung mengeluarkan kartu tambahan untuk membayar operasi.

Namun ketika kartu digesek—

“Transaksi ditolak.”

Tubuhku membeku.

Kasir menatapku heran.

—Maaf, Bu. Kartu ini sudah diblokir.

Tanganku gemetar saat kembali menelepon Marco.

Kali ini dia akhirnya menjawab.

Namun tidak ada sedikit pun rasa khawatir dalam suaranya.

Yang terdengar hanya kesal.

—Ada apa lagi?

Hampir menangis, aku berkata,

—Marco… Ibu ada di ruang gawat darurat. Kenapa kartunya diblokir?

Dia diam beberapa detik.

Lalu aku mendengar tawa pelan Sofia.

—Oh… jadi dia belum tahu ya.

Seluruh tubuhku mendadak dingin.

Kemudian Marco berkata dengan nada datar,

—Aku yang memblokirnya.

—Sofia sedih karena gelang berlian hadiah dariku hilang. Jadi aku membelikannya yang baru dulu.

Duniaku seperti berhenti berputar.

—Kamu memakai uang operasi ibuku… untuk membeli perhiasan?!

Dia menghela napas panjang seolah aku yang tidak masuk akal.

—Ibumu belum meninggal, kan?

—Jangan berlebihan.

Saat itu juga rasanya seperti ada pisau es yang menancap di dadaku.

Aku menatap surat kondisi kritis di tanganku.

Lalu aku tertawa.

Tawa yang bahkan membuat perawat di sampingku berhenti bergerak.

Begitu telepon ditutup, aku langsung menghubungi pengacara pribadi ayahku.

—Pak Arif.

—Bekukan semua aset yang atas namaku.

Dia terdiam.

—Bu… apakah Anda yakin?

Aku menatap lampu merah di atas ruang operasi.

Dengan suara pelan aku menjawab,

—Ya.

Baru sepuluh menit berlalu—

Telepon dari Marco masuk bertubi-tubi.

Aku tidak mengangkatnya.

Sampai panggilan ketiga belas.

Begitu kuangkat, dia langsung berteriak marah.

—Apa kamu sudah gila?!

—Kenapa semua rekening perusahaan dibekukan?!

—Bahkan kartu-kartuku tidak bisa dipakai!

Aku duduk di lorong rumah sakit yang dingin lalu menjawab tanpa emosi,

—Benarkah?

—Mungkin karena… aku pemilik sebenarnya dari semuanya.

Tiba-tiba dia terdiam.

Lalu terdengar suara Sofia yang mulai panik.

—Marco… kartunya ditolak…

Diikuti suara dingin seorang pramuniaga:

—Maaf, Pak. Semua akun Anda sedang dibekukan.

Terdengar suara gelas pecah yang keras.

Sepertinya gelas sampanye Sofia terjatuh.

Aku memejamkan mata.

Untuk pertama kalinya setelah tiga tahun menikah…

Pikiranku terasa sangat jernih.

Namun tepat pada saat itu—

Lampu ruang operasi berkedip cepat.

Seorang dokter bergegas keluar.

—Siapa wali pasien?!

—Perdarahannya sangat hebat! Kami membutuhkan tanda tangan segera!

Aku langsung berdiri.

Namun ponselku bergetar.

Nomor tak dikenal.

Hanya ada satu foto.

Di foto itu—

Marco sedang berlutut di depan Sofia di dalam sebuah toko perhiasan.

Dan di atas meja…

Terletak stempel resmi dokumen pengalihan perusahaan keluargaku.

Darahku terasa membeku saat membaca pesan di bawahnya:

> “Kamu pikir menang hanya karena membekukan rekening?”
>
> “Perusahaan itu adalah target Marco sejak awal.”

Pada saat yang sama—

Terdengar langkah kaki cepat mendekat dari ujung lorong.

Aku menoleh.

Dan benar-benar terpaku ketika melihat siapa yang datang.

Orang yang selama ini kukira telah meninggal lima tahun lalu…

sedang berdiri di sana sambil membawa map hitam tebal berisi dokumen.

Dan ketika mata kami bertemu, dia hanya mengucapkan satu kalimat:

—”Jangan tanda tangani apa pun dulu. Aku punya bukti bahwa Marco dan Sofia sudah merencanakan semuanya sejak hari pertama mereka kembali.”