Posted in

Mama Anita menatap ta jam ke arahku.

“Din! Kamu ini bicara apa?!” Papa Mukti maju selangkah, wajahnya merah padam.

Kulihat Mas Randy berusaha bangun dari pembaringannya, melupakan rasa sa kit di tu buhnya. Wajahnya panik. Nampak bukan tengah berakting panik, tapi benar-benar panik.

“Kenapa, Din?!” teriak Mas Randy, mengarah padaku.”Aku sudah ingat semuanya, aku sudah kembali dan siap melanjutkan hidup bersamamu dan Ellea. Tapi kenapa kamu malah minta ce rai?!”

Aku tersenyum pahit.”Aku tidak bisa bersama dengan laki-laki yang memiliki wanita lain dalam hidupnya, Mas.”

“Tapi itu bukan mauku, Din. Aku menikahi Clarissa dalam kondisi tidak ingat apa-apa pun!” sergah Mas Randy, menoleh pada Clarissa yang duduk pucat di kursi roda.

“Kalau begitu, aku minta Mas ce raikan Clarissa,” ucapku, datar.

Sontak, wanita yang baru beberapa hari melahirkan itu bangkit dari duduknya.”Aku tidak mau dice raikan, Mas!” tegasnya, dengan sorot mata ta jam tertuju padaku.

Mas Randy terdiam.

“Kamu jangan egois, Din. Clarissa baru saja melahirkan. Sebagai sesama perempuan, apa kamu tidak kasian padanya?” Mama Anita memperlihatkan kepeduliannya pada menantu barunya.

“Aku mohon, Din. Percayalah, situasi ini bukan mauku. Sungguh, aku masih butuh kamu di sisiku!” Mas Randy memelas.

Aku terdiam sejenak. Lalu perlahan mendekat pada Mas Randy. Membungkukkan badan, mendekatkan wajahku ke wajahnya.

Jarak kami hanya tinggal beberapa sentimeter. Dari jarak yang sangat dekat aku bisa melihat pori-pori wajahnya, mencium bau keringat dingin yang mulai membasahi dahinya.

Matanya bergerak gelisah menatap mataku yang tak berkedip.

”Aku sudah tahu semuanya, Mas,” ucapku, setengah berbisik.

“Maksud kamu?”

Aku menyunggingkan senyum miring,”Mau aku yang buka semuanya di hadapan Papa dan Mama, atau kamu sendiri yang melakukannya?”

“Kamu ini bicara apa, Din? Aku tidak mengerti!” Mas Randy memasang wajah bingung.

“Jadi, Mas lebih memilih untuk terus bersandiwara di depanku?” Aku kembali berdiri tegak.

“Sandiwara apa yang kamu maksud, Din? Sungguh, aku tidak mengerti apa yang kamu maksud!” Mas Randy tetap dengan sandiwaranya.

“Baiklah. Jika Mas tetap ingin melanjutkan drama yang Mas buat bersama dia, silakan. Aku sudah tidak peduli!” Sekilas aku menoleh pada Clarissa, lalu beranjak menjauh.

“Dinda, tunggu! Aku benar-benar tidak mengerti apa yang kamu katakan. Drama apa yang kamu maksud?” Mas Randy berusaha menghentikan langkahku.

Aku berhenti.”Tadinya aku berpikir akan memaafkanmu jika kamu menyudahi sandiwaramu dan meminta maaf dengan tulus padaku. Tapi ternyata kamu lebih memilih bertahan dengan sandiwara bu sukmu, Mas!” ucapku, lalu gegas melanjutkan langkah tanpa sempat menoleh pada wajah-wajah syok di belakangku.

Langkahku cepat, menuju pintu keluar. Saat tanganku sudah menyen tuh gagang pintu dan hendak memutarnya, suara gaduh di belakangku me le dak.

Brak!

Suara tiang infus yang terban ting keras menghan tam lantai, diikuti bunyi tubuh yang ambruk dengan debuman yang menya kitkan.

“Dinda! Aku mohon, jangan pergi!”

Teriakan Mas Randy terdengar pecah.

“Randy!” Pekikan his teris Mama Anita menyusul kemudian. “Da rah! Ya Allah, Pa! Da rahnya banyak sekali!”

Naluri kemanusiaanku, dan sumpah profesiku sebagai dokter seketika mengambil alih kendali, mengalahkan ego dan sakit hati yang membara di da da. Kakiku berhenti otomatis. Jantungku mencelos mendengar kepanikan orang-orang di belakangku.

Aku menoleh.

Pemandangan di depanku membuat napas tercekat.

Mas Randy tidak lagi di ran jang. Dia terka par di lantai, tepat di sisi tempat tidur. Wajahnya meringis menahan sa kit. Kedua matanya menatapku dengan sorot putus asa yang menge rikan.

Di tangan kirinya, selang infus sudah terlepas. Bukan terlepas pelan-pelan, melainkan dica but paksa. Ja rumnya pasti mero bek pembuluh da rahnya, karena da rah segar kini mengu cur deras, menetes, mengotori baju pasien dan lantai di bawahnya.

“Astaghfirullah!” seruku tertahan.

Naluri medisku bergerak lebih cepat daripada keben cianku. Aku tidak boleh membiarkan Mas Randy ma ti konyol di depanku.

Aku berlari kembali ke sisinya. “Apa yang kamu lakukan, Mas?! Kamu sudah gi la?!”

Aku langsung berlutut di sampingnya, mengabaikan rasa sa kit di hatiku. Tanganku dengan sigap menekan pangkal lengan kirinya untuk menghambat aliran da rah, sementara tangan kananku meraih tisu di nakas untuk menekan luka bekas ja rum infus.

“Mama panggil perawat! Sekarang!” teriakku pada Mama Anita yang hanya bisa menangis his teris.

Papa Mukti yang lebih sigap segera berlari keluar memanggil bantuan.

“Puas kamu, Din?!” Mama Anita menatap ma rah padaku, telunjuknya menuding wajahku dengan gemetar. “Kamu mau bu nu h suami kamu?! Dia baru sadar, Din! Dia baru ingat kamu, tapi kamu malah tekan dia sampai dia nekat begini!”

Aku tidak menjawab tu du han itu. Fokusku hanya pada luka Mas Randy.

Namun, Mas Randy tidak peduli pada lukanya. Tangan kanannya yang bebas tiba-tiba menceng keram pergelangan tanganku dengan kuat.

“Sakit, Din …” rintihnya, napasnya memburu. Keringat dingin membanjiri pelipisnya. “Tapi lebih sakit kalau kamu pergi meninggalkan aku …”

Aku menatap matanya. Ada genangan air mata di sana.

“Lepaskan, Mas. Aku harus hentikan penda ra hannya,” ucapku tegas, berusaha tetap profesional.

“Nggak!” Mas Randy menggeleng lemah, tapi cengkeramannya makin kuat. “Biarkan aku ma ti kalau kamu tetap mau ce rai. Buat apa aku hidup kalau tidak ada kamu dan Ellea lagi bersamaku?” sambungnya.

Lalu, Mas Randy menoleh ke arah Clarissa yang pucat di kursi roda. “Aku minta kamu tinggalkan aku dan Dinda. Maaf, sepertinya aku tidak bisa memenuhi janjiku padamu, Sa. Aku sadar sepenuhnya, jika sampai detik ini hanya Dinda satu-satunya yang aku inginkan.”

“Apa maksud kamu, Mas?” Clarissa menegakkan badannya.

“Ma, tolong bawa Clarissa ke luar,” pinta Mas Randy, seraya memalingkan wajahnya dari wanita itu.

Aku tertegun sejenak.’Sandiwara apa lagi yang kamu buat, Mas?’

“Tidak! Aku mau bersama Mas Randy di sini, Ma!” Clarissa menyingkirkan tangan Mama Anita yang hendak meraih kursi rodanya.

“Biarkan kondisi Randy tenang dulu, Sa. Mama mohon!” pinta Mama Anita, lalu membawa Clarissa meninggalkan ruangan.

Kini, Mas Randy menatapku lagi masih dengan mata berkaca-kaca. “Lihat, Din. Aku sudah memilihmu. Duniaku hanya kamu dan Ellea. Tolong, beri aku kesempatan.”

Aku menatap matanya dalam-dalam.

Ingatanku langsung memutar ulang percakapan Mas Randy dengan Clarissa. Suara yang sama, nada yang sama, tapi kalimat yang berbeda.

Dasar pembo hong ulung.

Baru beberapa hari lalu dia bilang dunianya hanya Clarissa dan ba yi laki-laki yang dilahirkannya. Sekarang, begitu mendengar aku akan meminta ce rai darinya, tiba-tiba dunianya berubah jadi aku?

Aku tidak luluh. Sama sekali tidak. Rasa ji jik justru merayap naik ke kerongkongan.

Tapi aku sadar posisiku.

Jika aku pergi sekarang dan Mas Randy nekat menya kiti dirinya lagi, atau lebih tepatnya pura-pura menyakiti dirinya lagi, akulah yang akan jadi penja hat di mata hukum dan keluarganya. Dan yang paling aku takutkan, Ellea akan mengira ibunya tega membiarkan papanya ma ti.

Aku tidak boleh kalah. Aku harus tetap memainkan sandiwara, mengikuti alur yang Mas Randy buat.

“Janji ya, Din…” Mas Randy mendesak, mengira aku termakan aktingnya. “Janji jangan pergi. Temani aku.”

Aku menarik napas panjang, menekan rasa mual di perutku. Lalu mengangguk pelan.

Aku akan bertahan. Bukan karena cinta. Bukan karena kesempatan kedua.

Tapi karena aku ingin melihat sampai kapan dia bisa bertahan dengan sandiwara yang dia ciptakannya. Dia mau aku di sini? Baik. Aku akan jadi mimpi bu ruk yang duduk di samping tempat tidurnya.

“Baiklah,” jawabku datar. Dingin. Tanpa emosi. “Aku tidak akan pergi.”

Mas Randy tersenyum lega, mengira mani pu lasinya berhasil. Dia tidak tahu, di balik tatapan tenangku, aku sedang menyusun rencana pemakaman untuk pernikahan kami, pelan-pelan dan menya kitkan.

“Biar dokter periksa luka kamu, Mas,” ucapku sambil melepaskan tangannya dengan gerakan cepat.

Aku berdiri, mundur beberapa langkah, membiarkan perawat dan Dokter yang menangani Mas Randy melakukan tugasnya.

Bersambung….