Naima yang sedang melipat jemuran menoleh. Ia melihat gurat kecemasan di wajah mertuanya. Diana bukan takut Naima terganggu, tapi ia takut Naima “salah bicara” di depan para penguasa gosip desa yang dipimpin oleh Ibunya Madani, Hj. Pardi.
”Kenapa Naima harus di kamar, Bu? Naima mau bantu siapkan camilan. Naima sudah buatkan Eclair isi vla keju,” jawab Naima lembut.
Diana ragu. “Kue kota lagi? Apa mereka doyan? Biasanya di sini cuma ada pisang rebus sama kacang.”
”Coba dulu, Bu. Kalau tidak habis, biar dimakan Juang,” canda Naima.
Satu jam kemudian, ruang tamu sudah penuh sesak. Aroma parfum murah bercampur bau minyak kayu putih memenuhi udara. Di pojok ruangan, Hj. Pardi duduk paling tegak, sesekali melirik Naima yang sedang sibuk membagikan piring kecil berisi kue cantik berwarna cokelat mengkilap.
”Waduh, Jeng Diana. Menantunya rajin sekali ya. Tapi sayang, dandanannya terlalu polos untuk ukuran orang Jakarta. Apa Sugeng nggak sanggup belikan emas?” sindir Hj. Pardi sambil memamerkan rentetan gelang keroncong di lengannya.
Ibu-ibu lain tertawa kecil. Diana hanya tersenyum kecut, hatinya mulai panas.
”Emas itu investasi, Bu Haji. Tapi kalau dipakai berlebihan saat arisan, kasihan yang belum bayar iuran, nanti makin silau matanya,” balas Naima sambil meletakkan piring terakhir dengan gerakan sangat halus.
Hj. Pardi tersedak kue eclair-nya. “Maksud kamu apa? Kamu menyindir saya?”
”Oh, bukan, Bu Haji. Maksud Naima, kue ini memang manis, tapi jangan sampai bikin tensi naik. Naima dengar Koperasi Simpan Pinjam di desa sebelah lagi banyak masalah keuangan, ya? Takutnya ibu-ibu di sini kepikiran,” lanjut Naima dengan nada yang sangat polos.
Suasana mendadak hening. Semua mata tertuju pada Hj. Pardi. Rahasia umum tentang macetnya koperasi yang dikelola Madani mulai terangkat ke permukaan.
”Itu cuma rumor! Madani itu pintar sekolahnya!” seru Hj. Pardi, wajahnya mulai merah padam.
”Tentu saja pintar, Bu Haji. Makanya Naima kagum, kok bisa dana talangan dari Bu Diana bulan lalu belum tercatat di buku laporan ya? Apa Naima salah lihat?” Naima bertanya sambil menunjukkan layar ponselnya—sebuah foto buku kas yang diam-diam ia ambil saat membereskan meja kerja Diana pagi tadi.
Diana melotot. Ia baru sadar Naima sudah tahu tentang uang yang ia pinjamkan pada Madani tanpa sepengetahuan Sugeng.
Hj. Pardi terdiam seribu bahasa. Ia tidak menyangka menantu yang terlihat “polos” ini punya senjata rahasia di kantongnya. Ibu-ibu arisan mulai berbisik-bisik, bukan lagi membicarakan pakaian Naima, tapi membicarakan integritas keluarga Hj. Pardi.
”Sudah, sudah. Kita kocok saja arisannya!” Diana mencoba menengahi, meski di dalam hati ia merasa sangat terbela oleh Naima.
Saat arisan selesai dan semua tamu pulang, Diana duduk lemas di kursi jati. Ia menatap Naima yang sedang tenang membereskan piring kotor.

”Naima… dari mana kamu tahu soal uang itu?” tanya Diana pelan.
”Naima cuma perhatikan catatan Ibu di bawah kalender. Ibu orangnya rapi, setiap uang keluar pasti ditulis,” jawab Naima. “Ibu tidak perlu takut sama Bu Haji. Ibu itu orang baik, jangan biarkan kebaikan Ibu dimanfaatkan untuk menutupi lubang orang lain.”
Naima mendekat, lalu memijat bahu mertuanya. “Uang itu akan Naima bantu tagih lewat Juang. Biar Juang yang bicara sama Madani. Mereka seumuran, bicaranya lebih nyambung.”
Diana memegang tangan Naima. Untuk pertama kalinya, ia merasa tidak perlu menjadi “wanita perkasa” di rumahnya sendiri. Ia punya menantu yang bukan hanya cerdik, tapi juga pelindung.
”Terima kasih, Naima. Maafkan Ibu yang tadi sempat malu mengakuimu di depan mereka,” bisik Diana tulus.
Di balik pintu, Juang mendengarkan segalanya. Ia mengepalkan tangan. Besok, ia punya tugas baru dari “Mbak Bos”-nya, dan kali ini bukan soal mesin motor.