Posted in

Sebelum kalian bertiga bermim pi terlalu jauh untuk hidup bahagia di sini, apa Mas Reno yang terhormat ini sudah memberi tahu kamu, adik ma du?” tanyaku, sengaja menjeda kalimat dengan senyuman miring yang kutunjukkan pada Gita.

Perempuan ber-make up tebal itu menyipitkan mata dengan rahang yang tampak menge ras.

“Kamu harus tahu, kalau ru mah ini dan mo bil yang terparkir di depan, secara hu kum mutlak adalah milikku!” ucapku dengan te gas.

Mas Reno tampak mene gang, raut wajahnya seketika pias seperti tak dialiri da rah. Namun, aku belum selesai menelan jangi har ga dirinya.

“Semua aset ini dibe li atas nama data pribadiku, dan murni dari seluruh u ang hasil kering at dari tabung anku sendiri.”

Detik itu juga, suasana ruang ta mu seketika senyap seperti kubu ran. Sering ai kemenangan di wajah Reno run tuh total, berganti dengan rahang yang jatuh dan sepasang mata yang melo tot sempurna karena rahasia bu suknya kini terbongkar habis di depan istri sirinya!

“N-Nina … kamu jangan mengada-ada, ya!” Mas Reno akhirnya bersuara, meskipun terdengar berge tar mena han rasa pa nik yang luar biasa.

Pria itu melangkah maju, mencoba meraih lenganku dengan ka sar. Namun, aku segera berke lit dengan lincah. Wajahnya yang tadi memerah ang kuh, kini pu cat pasi dengan keringat dingin yang mulai memba sahi pelipisnya.

“Kamu gak usah ngelantur karena cem buru dan st res gara-gara kegu guran! Semua orang juga tahu kalau ru mah ini murni hasil bonus dari kantorku!” teri ak Reno, suaranya sengaja dikeraskan, seolah-olah dengan berte riak dia bisa mengubah fakta hu kum yang ada. Dia sedang berusaha ma ti-ma tian menjaga mukanya di depan Gita.

Aku hanya memba las teria kan frustra sinya dengan sebuah kekehan si nis. “Oh, ya? Masih mau berbo hong di depan istri barumu, Mas? Mau aku ambilkan sertif ikat ru mah dan B P K B mo bilnya sekarang juga dari dalam brankas? Biar adik ma duku ini bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, nama siapa yang tertera di sana?”

“Mas, apa-apaan ini?!” pekik Gita, suaranya melengking memo tong perdebatan kami.

Perempuan bergaun brokat itu melangkah mendekati suamiku, lalu memu kul da da Mas Reno dengan tasnya dengan kasar. Wajah cantiknya kini tampak merah padam karena mur ka.

“Sa yang, dengar dulu … Nina itu bo hong! Dia cuma mau menghan curkan pernikahan kita!” Mas Reno memohon-mohon, memegang kedua pundak Gita dengan ekspresi mem elas yang sangat menji jikkan.

Hilang sudah wibawa pria ang kuh yang tadi menyuruhku berlu tut.

Sementara itu, Mama Ani yang sejak tadi berdiri di belakang Reno tampak mematung dengan mulut melongo sempurna.

Akan tetapi, dasar wanita tu a bermuka tembok. Rasa syok di wajah Mama Ani tidak bertahan lama. Detik berikutnya, beliau langsung menegakkan punggung, memasang kembali gurat keang kuhannya sembari melangkah mendekati suamiku dan istri sirinya yang sedang bersitegang.

“Sudah, sudah! Reno, Gita, kalian jangan emo si dulu. Tidak usah diri butkan!” sela mertuaku dengan suara lan tang, sengaja memo tong amu kan Gita demi menyelamatkan muka anak kesa yangannya.

Wanita tu a itu menge lus pundak Reno dan Gita bergantian, lalu menatapku dengan sorot mata memicing yang sarat akan keben cian mendalam.

“Untuk apa kalian pusing memikirkan har ta dari perempuan man dul ini? Toh, sekarang kalian berdua sudah resmi menikah!” ucap mertuaku, nadanya kembali meninggi dan terdengar sangat som bong.

Beliau beralih melirik ke arah Gita, lalu mengulas senyum manis yang dipaksakan. “Iya, kan, Gita sa yang? Kemarin papamu bilang, setelah kalian menikah, maka papamu akan langsung mengangkat Reno menjadi General Manager di perusahaan tempat kalian bekerja.”

Mama Ani melipat kedua tangannya di da da, lalu melempar pandangan meremehkan ke arahku.

“Kalau Reno sudah diangkat jadi General Manager, kita bertiga bisa tinggal di ru mah yang jauh lebih me wah dan me gah!” ci bir Mama Ani tanpa tahu ma lu. “Bukan tempat gu buk seperti ini!”

Beliau terkekeh si nis, lalu menunjuk ke arah halaman luar dengan dagunya yang terangkat ang kuh. “Kita juga bisa membeli berderet mo bil me wah baru secara cash! Tidak perlu kre dit pakai u ang tabung an pas-pasan sampai mende rita seperti yang Nina lakukan!”

Akan tetapi, belum sempat tawa kasihan itu lolos dari bibirku, sepasang mataku menangkap perubahan drastis pada ekspresi wajah Gita.

Bukannya tersenyum mendapat pembelaan dari sang ibu mertua, pelakor itu justru mendengkus ka sar. Dia menyentakkan tangan Mama Ani dari pundaknya dengan gestur yang teramat jij ik. Wajah cantiknya kian memerah padam dengan napas yang membu ru karena mur ka.

“General Manager dari mana, Tante?!” ben tak Gita, suaranya naik beberapa oktav hingga membuat seisi ruangan mendadak hening.

Mama Ani tersen tak mundur, terbela lak menatap menantu barunya dengan bingung. “L-loh, Gita sa yang, kenapa kamu malah ma rah? Bukankah papamu memang berjanji akan mengangkat Reno jadi General Manager setelah kalian menikah?”

“Memang benar papaku menjanjikan jabatan itu untuk Mas Reno!” jawab Gita frust rasi, air matanya kini mulai meru sak riasan tebal di wajahnya.

Perempuan bergaun brokat itu menghapus sudut matanya dengan ka sar, lalu menatap mertuaku dengan pandangan menghi na.

“Papaku melakukan itu karena mengira Mas Reno adalah pria lajang dan sangat mencintaiku! Kalau bukan demi kebahagiaanku karena sudah terlanjur ha mil, Papa tidak akan sudi menyetujui pernikahan siri sore tadi!”

Mas Reno seketika le mas. Wajahnya pucat pasi, dia melangkah mendekati Gita dengan tatapan mem elas. “Sa yang, to long dengarkan aku dul—”

“Diam, Reno!” po tong Gita taj am, tidak su di mendengarkan penjelasan apa pun.

Gita kembali menoleh pada Mama Ani, lalu mendengkus si nis. “Papa bahkan memberikan syarat mutlak pada an ak kesaya ngan Tante, agar membawa aku tinggal di ru mah ini selama kami belum menikah sah secara negara. Papa mau memastikan aku hidup nyaman di ru mah kecil ini!”

Ma duku menjeda kalimatnya, lalu menunjuk ke arah Mas Reno yang sudah berdiri le mas di tempatnya.

“Tapi sa yangnya, aku baru tahu malam ini kalau an ak kesa yangan Tante ini ternyata cuma para sit tak bermodal!” cecar Gita habis-habisan tanpa memedulikan gurat kepanikan di wajah suaminya.

Ia menarik napas dalam-dalam, mencoba menguasai emo sinya. Sepasang matanya menyipit li cik saat melirik ke arahku, lalu kembali menatap Mas Reno dengan tatapan mendikte. Ambisi dan gengsinya seolah menolak untuk kalah di ru mah ini.

“Aku sudah terlanjur mengan dung a nakmu, dan kita sudah terlanjur nikah siri hari ini,” ucap Gita dengan nada suara yang perlahan mendingin dan penuh penekanan. “Aku tidak mau a nak di dalam kandungan ini lahir tanpa status huk um yang jelas!”

Gita menunjuk dokumen bermeterai yang tergeletak di atas meja dengan dagunya.

“Papaku tidak boleh sampai tahu kalau kamu sudah beristri. Jadi, jangan pusingkan surat polig ami bo doh ini!” perintah Gita mutlak pada Mas Reno. “Sekarang, ce raikan perempuan man dul ini. Detik ini juga kamu harus tal ak dia!”

Mama Ani yang mendengar hal itu langsung berbinar cerah. Beliau mengangguk-angguk setuju dengan ide menantu barunya.

“Kalau kamu sudah resmi mence raikan dia dan menikah sah denganku di mata negara, aku yang akan mera yu papaku untuk tetap mengangkatmu menjadi General Manager,” lanjut Gita, mengulas senyum kemenangan yang terkesan dipaksakan di depan suaminya. “Bagaimana? Pilih mence raikan dia sekarang, atau kariermu han cur dan aku akan menga dukan semua peni puanmu ini pada papaku?”