“SUAMIKU MEMBAWA SELINGKUHANNYA KE RUMAH KAMI DAN MENYURUHKU PERGI SAAT ITU JUGA. DIA MENGIRA AKU TIDAK BERDAYA HANYA KARENA AKU SEORANG ‘IBU RUMAH TANGGA’ YANG DIANGGAP TIDAK BERGUNA. NAMUN KETIKA ANAK KAMI YANG BERUSIA ENAM TAHUN KELUAR DARI KAMARNYA SAMBIL MEMEGANG SESUATU DAN BERBICARA, PARA IBLIS DI HADAPANKU SEAKAN KEHILANGAN NAPAS DAN TAK MAMPU BERDIRI.”
**Kepulangan yang Tak Tahu Malu**
Namaku Clara, tiga puluh dua tahun. Aku telah menikah dengan Anton selama lima tahun. Selama lima tahun itu, aku memilih menjadi ibu rumah tangga biasa. Aku merawat putri kami, Lily, dan mengurus semua kebutuhan Anton hingga akhirnya ia dipromosikan menjadi General Manager di Imperial Holdings, salah satu perusahaan terbesar di negara ini.
Aku mengira cinta dan pengorbananku sudah cukup untuk membuat keluarga kami bahagia. Namun malam ini, dia menghancurkan semuanya.
Pukul delapan malam, aku sedang memasak makan malam ketika pintu rumah mewah kami terbuka dengan keras. Anton masuk, tetapi dia tidak sendirian. Seorang wanita yang lebih muda, mengenakan gaun merah ketat, menggandeng lengannya. Dia adalah Vanessa, sekretaris barunya.
“A-Anton? Siapa dia?” tanyaku dengan suara gemetar sambil mengusap tangan di celemekku.
“Kemasi barang-barangmu, Clara,” perintah Anton dengan dingin dan tanpa belas kasihan. Ia melemparkan sebuah map cokelat ke atas meja. “Itu dokumen pembatalan pernikahan. Hubungan kita sudah selesai. Mulai malam ini, Vanessa akan tinggal di sini.”
**Kesombongan Para Pengkhianat**
Rahangku seakan terlepas.
“A-Apa yang sedang kamu katakan?! Ini rumah kita! Aku istrimu!”
Vanessa tertawa mengejek sambil menatapku dari atas hingga bawah.
“Rumah kalian? Permisi, Anton yang membayar semua tagihan di sini! Lalu kamu siapa? Hanya benalu yang hidup dari hasil kerja orang lain! Akulah yang pantas mendampingi pria sukses seperti Anton. Jadi pergilah sebelum aku melempar semua pakaian usangmu ke luar!”
“Dia benar, Clara,” sela Anton sambil tersenyum sinis. Ia mendekati Vanessa dan mencium pipinya.
“Kamu tidak pernah berkontribusi pada kekayaanku. Aku yang bekerja. Aku General Manager Imperial Holdings. Kamu tidak punya hak atas rumah ini. Jadi bawa anakmu yang berisik itu dan keluar dari rumahku sekarang juga!”
Seluruh tubuhku gemetar.
Aku menatap pria yang telah menerima lima tahun pengabdian dan cintaku.
Ternyata uang dan jabatan memang mampu mengeluarkan iblis yang sesungguhnya dari dalam diri seseorang.
Aku hendak berbicara ketika tiba-tiba pintu kamar di lantai dua terbuka.
**Penyelamat Kecil yang Tak Terduga**

Dari tangga, putriku yang berusia enam tahun, Lily, perlahan berjalan turun.
Ia mengenakan piyama tidurnya dan menggenggam erat sebuah benda yang sangat tipis, berwarna hitam, dan berkilau di tangan mungilnya…
Ini hanyalah sebagian dari cerita.
Lanjutan cerita dari sudut pandang Clara:
Benda tipis, berwarna hitam, dan berkilau di tangan mungil Lily ternyata adalah sebuah tablet pintar edisi terbatas milik mendiang kakekku—pendiri utama dari Imperial Holdings.
Selama ini, Anton mengira kakekku hanyalah seorang pensiunan pegawai negeri biasa, karena keluarga kami selalu mendidik anak-cucunya untuk hidup membumi dan tidak memamerkan kekayaan. Anton bahkan tidak pernah tahu bahwa nama belakang ibuku adalah nama pemilik sah dari 60% saham perusahaan tempat ia bekerja sekarang.
Lily berjalan mendekat ke arahku, mengabaikan tatapan tajam dari Anton dan Vanessa. Suara kecilnya memecah keheningan ruang tamu dengan kedewasaan yang mengejutkan untuk anak seusianya.
“Ibu, jangan menangis,” kata Lily lembut sambil mengusap air mataku dengan tangan kirinya, sementara tangan kanannya menyodorkan tablet itu kepadaku.
“Kakek buyut pernah bilang, kalau ada orang jahat yang mencoba mengusir kita dari rumah ini, Lily harus menekan tombol hijau di layar ini. Lily sudah menekannya tadi di kamar.”
Mendengar ucapan Lily, Vanessa mendengus remeh dan tertawa sinis. “Lucu sekali. Anak kecil membawa mainan rusak dan kalian pikir bisa menakuti kami? Anton, cepat usir mereka sekarang! Aku sudah lelah melihat drama miskin ini.”
Namun, tawa Vanessa langsung terhenti ketika layar tablet di tangan Lily mendadak menyala terang, menampilkan siaran panggilan video langsung yang terhubung dengan ruang rapat utama dewan komisaris Imperial Holdings.
Di dalam layar, tampak wajah kakek buyutku—yang dikira Anton sudah meninggal, padahal beliau hanya memalsukan kematiannya di mata publik untuk menguji loyalitas orang-orang di sekitarnya—bersama dengan jajaran direksi tertinggi perusahaan.
“A-Anton… itu… bukankah itu Komisaris Utama?” bisik Vanessa, suaranya tiba-tiba bergetar hebat.
Wajah Anton yang tadinya dipenuhi kesombongan mendadak berubah pucat pasi, seolah seluruh darah di tubuhnya telah menguap. Lututnya gemetar hingga ia harus berpegangan pada pinggiran sofa agar tidak terjatuh.
Dari pengeras suara tablet, suara bariton kakekku terdengar menggelegar dan sangat berwibawa:
“Anton Wijaya. Lima tahun lalu, kamu hanyalah seorang staf biasa yang beruntung bisa menikahi cucu tunggalku, Clara. Kami sengaja menyembunyikan identitas asli Clara dan mempromosikanmu hingga menjadi General Manager, hanya untuk melihat apakah kamu pria yang tulus atau seekor serigala berbulu domba.”
Kakek berhenti sejenak, tatapannya di layar begitu dingin hingga menusuk tulang.
“Dan malam ini, kamu membuktikan bahwa kamu tidak lebih dari seekor parasit yang tidak tahu diuntung. Rumah mewah yang kamu tempati itu dibeli atas nama yayasan keluarga Clara, bukan uang pribadimu. Dan jabatanmu di Imperial Holdings? Detik ini juga, kamu resmi dipecat dengan tidak hormat, tanpa pesangon sepeser pun.”
“Kakek! Tolong dengarkan penjelasan saya dulu! Ini semua salah paham!” Anton berteriak histeris, langsung menjatuhkan dirinya bersimpuh di lantai di hadapan tablet yang kupegang. Air mata penyesalan mulai mengalir di wajahnya yang kini tampak menyedihkan.
“Clara! Sayang! Aku khilaf! Wanita ini yang merayuku! Tolong maafkan aku demi Lily!” Anton mencoba meraih ujung celekemku, namun aku melangkah mundur dengan jijik.
Vanessa yang menyadari bahwa pria kaya raya yang dipujanya kini telah menjadi gelandangan miskin dalam sekejap, langsung melepaskan gandengannya. Ia melangkah mundur dengan panik, bersiap untuk melarikan diri dari pintu depan.
Namun sebelum ia sempat menyentuh gagang pintu, dua orang petugas keamanan berseragam lengkap bersama pengacara keluarga kami sudah berdiri di sana.
“Nona Vanessa, Anda dituduh melakukan konspirasi penggelapan dana sekunder perusahaan bersama Tuan Anton. Silakan ikut kami ke kantor polisi,” ujar pengacara kami dengan tegas.
Vanessa menjerit frustrasi saat borgol besi melingkari pergelangan tangannya. Sementara itu, Anton terus menangis dan memohon di lantai, kehilangan seluruh harga diri dan masa depan yang baru saja ia sombongkan beberapa menit lalu.
Aku menunduk, menatap map dokumen pembatalan pernikahan yang tadi dilemparkannya ke meja. Aku mengambil pena, menandatanganinya dengan coretan yang tegas, lalu melemparkannya tepat ke wajah Anton.
“Kamu benar, Anton. Hubungan kita sudah selesai,” kataku dengan suara yang sangat tenang namun penuh penekanan. “Sekarang, ambil wanitamu, ambil kesombonganmu yang sudah hancur itu, dan keluar dari rumahku sebelum aku memanggil pihak berwajib untuk menyeretmu.”
Malam itu, para iblis yang mengira bisa menginjak-injak seorang ibu rumah tangga akhirnya keluar dari rumah kami dengan merangkak tanpa sisa napas keangkuhan.
Aku mematikan tablet, menggendong Lily erat-erat ke dalam pelukanku, dan tersenyum. Aku bukan lagi Clara yang lemah; aku adalah seorang ibu yang siap memimpin masa depanku sendiri bersama putriku.