AKU MENCINTAINYA SELAMA DELAPAN TAHUN, TAPI PADA HARI PERNIKAHAN KAMI DIA MENGIRIMKU KE MANSION KELUARGA LACUESTA UNTUK MENYELAMATKAN WANITA YANG SEBENARNYA DIA CINTAI
Aku mencintai Marco Velasco selama delapan tahun.
Aku pikir pada hari pernikahan kami, akulah wanita paling penting dalam hidupnya.
Namun pada malam sebelum pernikahan, aku mendengar sendiri suaranya berbisik kepada teman-temannya:
“Besok, setelah Althea naik ke mobil pengantin, jangan bawa dia ke gereja. Langsung saja ke mansion keluarga Lacuesta di Tagaytay.”
Tubuhku membeku di balik pintu.
“Lacuesta?” tanya sepupunya. “Bukankah Bianca akan dinikahkan dengan Don Arturo di sana?”
Marco menarik napas panjang.
“Keluarga Bianca tenggelam dalam utang. Mereka berutang hampir Rp24 miliar kepada keluarga Lacuesta. Orang tuanya ingin menikahkannya dengan pria tua itu agar utangnya dihapus. Aku tidak sanggup melihat hidupnya hancur.”
“Tapi kau sanggup menghancurkan hidup Althea?”
Lama sekali dia tidak menjawab.
Lalu aku mendengar jawaban yang menghancurkan sisa kepercayaanku.
“Dia hanya perlu bersabar. Don Arturo sudah berusia sembilan puluh tahun dan sedang sakit. Mungkin setahun lagi dia sudah tiada. Setelah semuanya selesai, aku akan kembali kepada Althea. Aku tidak akan meninggalkannya meskipun dia sudah menjadi istri orang lain.”
Rasanya seperti ada air es yang disiramkan ke seluruh tubuhku.
Delapan tahun.
Delapan tahun aku mempercayai pria itu.

Delapan tahun aku selalu mengerti setiap kali dia lebih memprioritaskan Bianca Reyes, putri bosnya.
Ketika Bianca mengambil proposal yang kukerjakan siang dan malam di kantor, Marco berkata,
“Sudahlah, itu hanya masalah kecil.”
Ketika Bianca merusak makan malam ulang tahun hubungan kami karena katanya sedang sedih, dia berkata,
“Cobalah mengerti keadaannya.”
Ketika Bianca memberi makanan berbahaya kepada kucing peliharaanku hingga mati, dia tetap berkata,
“Jangan dibesar-besarkan.”
Semuanya dianggap masalah kecil.
Sampai akhirnya aku sadar bahwa akulah yang akan dikorbankan demi wanita yang benar-benar dia cintai.
Kupikir itulah rasa sakit terbesar.
Ternyata belum.
Keesokan harinya, Marco datang ke rumahku di Quezon City dengan mengenakan barong putih yang kupilih sendiri untuk pernikahan kami.
Bersamanya ada teman-teman, sepupu, videografer, dan—Bianca.
Begitu Bianca masuk ke kamarku, dia sudah menangis.
“Kak Althea,” katanya sambil menghapus air mata, “kau sangat beruntung. Kau bisa menikahi orang yang kau cintai. Sedangkan aku hampir dijual keluargaku kepada pria tua yang hampir meninggal.”
Dia memandang Marco lalu tersenyum tipis.
“Tapi syukurlah ada seseorang yang menyelamatkanku tadi malam. Kami sudah menikah secara sipil. Sekarang keluarga Lacuesta tidak bisa mengambilku lagi.”
Duniaku seakan berhenti berputar.
Mereka sudah menikah.
Jadi bukan hanya mengirimku kepada pria lain.
Dia bahkan sudah menjadi suami Bianca sebelum datang menjemputku sebagai “pengantin”.
Sahabatku, Mika, langsung menggenggam tanganku.
“Althea, kenapa wanita itu ada di sini? Ini hari pernikahanmu. Kenapa dia menangis di sini seolah-olah dia tokoh utama?”
Aku tersenyum tipis.
“Biarkan saja.”
Karena sebenarnya, ini bukan pernikahanku.
Ini hanyalah sandiwara.
Sebuah sandiwara agar aku masuk ke mobil pengantin dan dikirim menuju kehancuranku.
Ketika tiba saat mencari sepatu pengantin, teman-teman Marco menemukannya dengan cepat.
Namun alih-alih memakaikannya kepadaku, Marco memberikannya kepada Bianca.
“Bianca terkilir tadi pagi,” katanya. “Sepatunya rusak. Althea, pinjamkan dulu sepatumu kepadanya.”
Itu bukan sekadar sepatu.
Itu adalah sepatu yang dibuat Marco untukku ketika kami berusia dua puluh tahun.
Dia menjahitnya sendiri dengan tangan, lengkap dengan mutiara-mutiara kecil di sisinya.
Dulu dia sering berkata:
“Ketika kita menikah nanti, aku ingin kau memakai sepatu yang kubuat sendiri. Supaya kau tahu bahwa hanya kaulah wanita yang ingin kutemani seumur hidup.”
Sekarang, dengan tangannya sendiri, dia melepaskan impian itu dariku dan memakaikannya kepada wanita lain.
Dia meletakkan sepasang sandal kain sederhana di hadapanku.
“Hanya sepatu saja,” katanya. “Kau tidak akan pelit, kan?”
Mika sangat marah.
“Marco, itu sepatu pengantin!”
Tapi aku menghentikannya.
“Tidak apa-apa,” kataku. “Berikan saja kepadanya.”
Bianca tersenyum sambil mengenakan sepatuku, sementara aku berdiri memakai sandal murah yang menggesek kulit kakiku.
Beberapa saat kemudian, ibu Marco, Tante Liza, masuk membawa semangkuk sup panas.
“Althea,” katanya lembut, “makanlah dulu. Biar tidak pusing selama perjalanan.”
Aku menatap sup itu.
Aku tahu apa yang ada di dalamnya.
Tadi malam aku mendengar mereka membicarakan obat tidur yang akan dicampurkan ke dalam makanan.
Namun aku tetap tersenyum.
Aku mengambil sendok.
Dan menelan suapan pertama.
Marco tidak tahu bahwa ada satu hal yang dia lupakan.
Aku memang yatim piatu.
Tetapi sebelum diasuh keluarganya, aku adalah putri seorang perawat di kampung. Aku tahu cara mengenali bau obat.
Dan sebelum memakan sup itu, aku sudah mengambil langkah pencegahan.
Setelah itu, Marco menuntunku keluar.
Dia tidak menggendongku sampai ke mobil pengantin.
Di tengah tangga, dia melepaskan tangannya.
“Althea,” katanya sambil merapikan kerudung pengantinku. “Aku hanya bisa mengantarmu sampai di sini. Jalan berikutnya harus kau lalui sendiri.”
Aku menatapnya.
Dulu aku sering tertidur di bahunya ketika menangis.
Dulu dia adalah anak laki-laki yang berjanji tidak akan pernah meninggalkanku.
Sekarang dia adalah orang yang mendorongku menuju gerbang neraka.
Aku masuk ke mobil pengantin bersama Mika.
Ketika pintu tertutup, Marco tidak ikut masuk.
Katanya dia akan mengikuti dari belakang untuk “mengawasi.”
Baru beberapa menit perjalanan, Mika menyadari rutenya.
“Tunggu!” teriaknya kepada sopir. “Pak, ini jalan yang salah! Ini bukan arah ke gereja!”
Aku menggenggam tangannya.
“Jalannya tidak salah, Mika.”
Dia menatapku.
“Apa maksudmu?”
“Mereka tidak akan membawaku ke gereja,” kataku pelan. “Mereka akan membawaku ke mansion keluarga Lacuesta. Aku akan menggantikan Bianca.”
Wajah Mika memerah karena marah.
“Marco benar-benar iblis!”
Sebelum aku sempat menjawab, mobil melambat.
Di depan kami berdiri gerbang hitam raksasa milik keluarga Lacuesta.
Ada penjaga berpakaian hitam.
Mobil-mobil mewah.
Dan sebuah mansion tua yang menjulang seperti kastel di tengah kabut Tagaytay.
Gerbang terbuka.
Mobil berhenti di depan tangga utama.
Seorang pelayan tua mendekat sambil membawa daftar tamu.
Ketika melihatku, wajahnya berubah.
“Anda Nona Althea Santos?”
Aku mengangguk.
Dia langsung mundur setengah langkah.
“Ya Tuhan,” bisiknya. “Kami kira Anda tidak akan datang.”
Mika mulai merasa tidak nyaman.
“Apa maksud Anda?”
Pelayan itu memandangku dengan suara gemetar.
“Bukan Don Arturo yang menunggu Anda di dalam. Beliau meninggal tadi malam.”
Napas kami terhenti.
Kemudian dia menunjuk pintu besar mansion itu.
“Yang menunggu di altar adalah cucunya, Pengacara Rafael Lacuesta. Dan menurut beliau… dia sudah lama menunggu kedatangan Nona Althea Santos.”
Berikut adalah kelanjutan sekaligus akhir cerita (ending) dari kisah Althea:
Babak Akhir: Balada Pengantin yang Tertukar
Pernyataan pelayan tua itu membuat keheningan di dalam mobil terasa mencekam. Don Arturo—pria tua sembilan puluh tahun yang ditakuti keluarga Bianca—telah tiada. Dan yang menungguku di dalam bukan sebuah akhir, melainkan awal yang sama sekali tidak diprediksi oleh Marco maupun Bianca.
Rafael Lacuesta.
Nama itu mengirimkan gelombang kejut ke benakku. Dia bukan sekadar cucu Don Arturo. Dia adalah pengacara korporat paling kejam di Manila, pria yang dikenal dingin, kalkulatif, dan tidak pernah kalah dalam persidangan maupun perebutan bisnis.
“Althea,” bisik Mika, tangannya gemetar saat mencengkeram lenganku. “Kita harus keluar dari sini. Ini gila!”
“Tidak, Mika,” kataku sambil menatap sandal kain murah di kakiku. Kehancuran delapan tahun cintaku pada Marco telah membakar habis rasa takutku. “Aku tidak akan lari. Mari kita selesaikan pertunjukan yang dimulai oleh Marco.”
Aku membuka pintu mobil, melangkah keluar dengan gaun pengantin putih, mengabaikan tatapan heran dari para penjaga berseragam hitam. Mika bergegas mengikutiku di belakang, memegangi ujung gaunku yang menyapu lantai batu.
Begitu pintu ganda mansion yang megah itu terbuka, aroma bunga lili yang pekat dan lilin duka bercampur menjadi satu. Di ujung aula besar, dekat altar keluarga yang diterangi cahaya temaram, seorang pria berdiri tegak.
Setelan jas hitamnya melekat sempurna pada tubuhnya yang tinggi dan tegap. Ketika dia berbalik, sepasang mata elang yang tajam langsung mengunci pandanganku. Wajahnya tampan namun kaku, memancarkan otoritas yang mutlak. Itulah Rafael Lacuesta.
Perhitungan di Altar
Rafael melangkah mendekat, mengabaikan sandal kain murah yang kupakai. Tatapannya tertuju pada mataku yang jernih—sama sekali tidak menunjukkan tanda-tanda mengantuk akibat obat tidur yang dipaksakan keluarga Velasco kepadaku.
“Kamu tidak tertidur, Nona Santos,” suara berat Rafael menggema di aula yang sunyi. “Dan kamu tahu persis ke mana kamu dikirim.”
“Aku memuntahkan sup itu di toilet sebelum masuk ke mobil, Tuan Lacuesta,” jawabku tenang, mendongak menatapnya. “Marco Velasco dan Bianca Reyes mengira mereka telah memenangkan permainan ini. Mereka mengira mereka mengorbankan seorang anak yatim piatu demi cinta suci mereka.”
Rafael tersenyum tipis—sebuah senyuman dingin yang sanggup membuat nyali siapa pun menciut.
“Mereka bodoh,” kata Rafael, lalu berbalik menuju meja kayu besar di dekat altar. Ia mengangkat sebuah map dokumen tebal. “Keluarga Reyes mengira kakekku menginginkan Bianca. Padahal, kakekku hanya menginginkan aset tanah di Quezon City yang tanpa sengaja… dibeli atas namamu dari warisan kecil ibumu tahun lalu. Tanah itu adalah jalur utama untuk proyek jalan tol pemerintah.”
Aku tertegun. Jadi, seluruh drama pernikahan ini bagi keluarga Lacuesta hanyalah tentang bisnis.
“Bianca Reyes tidak ada nilainya bagiku,” lanjut Rafael, matanya menatapku lekat-lekat. “Begitu pula Marco Velasco. Utang Rp24 miliar itu tetap berjalan, dan tanpa tanah di tanganmu, keluarga Reyes akan bangkrut dalam waktu tiga puluh hari. Tapi sekarang…”
Rafael melangkah mendekat, jarak kami hanya beberapa senti.
“Aku menawarkan sebuah kesepakatan, Althea Santos. Menikahlah denganku hari ini. Aku akan melindungi tanahmu, dan sebagai gantinya, aku akan menggunakan seluruh kekuasaan hukum dan finansial keluarga Lacuesta untuk menghancurkan dua orang yang telah menginjak-injak harga dirimu selama delapan tahun ini. Bagaimana?”
Aku melihat ke arah luar jendela besar mansion. Di kejauhan, aku bisa melihat mobil sedan tua milik Marco baru saja tiba di luar gerbang. Dia datang untuk memastikan “pengorbananku” berjalan lancar.
Aku menoleh kembali ke arah Rafael. Hatiku yang terluka kini mengeras bagai baja. “Aku menerima kesepakatanmu, Tuan Lacuesta. Tapi aku punya satu syarat.”
“Sebutkan.”
“Aku ingin sepatu pengantinku kembali.”
Runtuhnya Istana Pasir
Satu jam kemudian, pintu aula mansion terbuka kasar.
Marco Velasco masuk dengan napas terengah-engah, diikuti oleh Bianca yang berwajah pucat. Mereka mengira akan menemukan Althea yang menangis atau pingsan di pelukan seorang pria tua yang sekarat.
Namun, pemandangan di depan mereka membuat lutut Marco lemas.
Aku berdiri di samping Rafael Lacuesta yang sedang menandatangani dokumen pernikahan kami. Dan di kakiku… sepasang sepatu pengantin putih dengan mutiara kecil—yang tadi dipakai Bianca—kini telah kembali ke tempat yang seharusnya. Dua pengawal Rafael telah merebutnya kembali dari Bianca di depan gerbang beberapa menit yang lalu.
“Althea?!” suara Marco bergetar hebat. “Kamu… apa yang terjadi di sini? Di mana Don Arturo?”
Rafael meletakkan penanya, lalu berjalan maju, melingkarkan tangannya di pinggangku dengan posesif. Aura dominannya langsung menekan Marco hingga pria itu mundur satu langkah.
“Don Arturo telah tiada, Velasco,” kata Rafael dingin. “Dan Nona Althea Santos… kini resmi menjadi Nyonya Rafael Lacuesta.”
Bianca menjerit kecil, mencengkeram lengan Marco. “Tidak! Itu tidak mungkin! Lalu bagaimana dengan utang keluargaku? Tuan Lacuesta, kami sudah menyerahkan Althea kepada kalian!”
“Kalian tidak menyerahkan apa pun,” potongan kalimatku membuat Bianca bungkam. Aku menatap Marco, pria yang kuhabiskan masa mudaku bersamanya, yang kini tampak begitu kecil dan menyedihkan.
“Delapan tahun, Marco,” kataku dengan nada suara yang sangat tenang namun menusuk. “Kamu memintaku bersabar demi wanita lain. Sekarang, giliranmu yang harus bersabar. Surat sita jaminan atas seluruh aset keluarga Reyes dan pemutusan kontrak kerja samamu di firma hukum akan dikirimkan sore ini oleh suamiku.”
“Althea, tolong! Kita bisa bicarakan ini! Aku melakukan ini demi kebaikan kita juga!” Marco memohon, mencoba melangkah maju namun langsung diadang oleh moncong senjata para pengawal Rafael.
“Bawa mereka keluar,” perintah Rafael tanpa emosi. “Mereka mengotori hari pernikahan istriku.”
Marco dan Bianca diseret keluar dari mansion sambil berteriak histeris. Hari itu, pernikahan sipil mereka yang dikira sebagai kemenangan cinta justru menjadi awal dari kemiskinan dan kehancuran absolut yang akan mengikat mereka seumur hidup.
Saat pintu mansion kembali tertutup, suasana menjadi hening. Rafael menatapku, lalu perlahan melepaskan tangannya dari pinggangku dengan penuh penghormatan.
“Kamu melakukannya dengan baik, Nyonya Lacuesta,” ucapnya.
Aku melihat sepasang sepatu buatan tangan di kakiku. Rasa sakit dari sandal murah tadi telah hilang, digantikan oleh kemewahan yang kokoh. Aku mendongak, menatap pria asing yang kini menjadi suamiku.
Mungkin ini bukan pernikahan yang dilandasi cinta dongeng, tetapi di dalam mansion tua di Tagaytay ini, aku tahu satu hal: aku tidak akan pernah menjadi pilihan kedua lagi. Bersama Rafael Lacuesta, aku akan memulai babak baru, di mana mereka yang meremehkan ketulusanku akan bertekuk lutut di bawah kakiku.