AKU MENINGGALKAN ISTRI DAN ANAK-ANAKKU SELAMA SATU MINGGU DEMI WANITA YANG BERJANJI AKAN MEMBERIKANKU SEORANG ANAK LAKI-LAKI — SAAT AKU PULANG, TIGA PUTRIKU DUDUK DI RUANG TAMU DENGAN SUNYI, SEAKAN MENJAGA RAHASIA YANG MENGHANCURKAN DUNIAKU.
Bagian 1
Dulu aku berpikir bahwa aku adalah orang yang tidak beruntung karena hanya memiliki anak perempuan.
Menyakitkan untuk didengar. Memalukan untuk diakui. Namun itulah kenyataan yang kusimpan dalam hati selama bertahun-tahun.
Namaku Renato, berasal dari Cavite. Aku tumbuh dalam keluarga yang percaya bahwa laki-laki sejati harus memiliki anak laki-laki. Seseorang yang akan meneruskan nama keluarga. Seseorang yang akan menyalakan lilin di makam saat kau sudah tiada. Seseorang yang akan berdiri di depan sanak saudara dan melanjutkan garis keturunanmu.
Ayahku memiliki tiga saudara laki-laki.
Kakekku konon memiliki lima anak laki-laki.
Setiap kali ada pesta atau acara keluarga di lingkungan kami, selalu ada kerabat yang bercanda:
— Renato, rumahmu penuh bunga ya. Tapi bunga tidak meneruskan nama keluarga.
Semua tertawa.
Aku juga ikut tertawa.
Namun di dalam hati, rasanya seperti ada sesuatu yang menusuk.
Ketika anak pertama kami lahir, seorang perempuan. Kami menamainya Mayumi. Awalnya aku bahagia.
— Tidak apa-apa. Anak pertama perempuan. Dia bisa menjaga adik-adiknya nanti.
Ketika anak kedua lahir, perempuan lagi. Namanya Trisha.
Aku masih tersenyum, tetapi tidak lagi seperti dulu.
Saat anak ketiga lahir, Nina, perempuan lagi.
Ketika kami membawanya pulang dari rumah sakit, ibuku menatap selimut merah muda yang membungkusnya lalu menghela napas panjang.
Tidak ada yang berkata apa-apa.
Namun ada keheningan yang lebih tajam daripada hinaan.
Lorna bukan perempuan yang malas.
Setiap dini hari, ia berjualan bubur dan roti di dekat terminal. Siang hari, ia mencuci pakaian tetangga untuk tambahan penghasilan. Malam hari, ia membantu ketiga anak kami mengerjakan PR di bawah cahaya lampu kuning di rumah kecil beratap seng.
Sementara aku bekerja serabutan di proyek konstruksi.
Kadang ada penghasilan.
Kadang tidak ada.
Namun seberat apa pun hidup kami, Lorna tidak pernah membiarkan anak-anak kelaparan.
Mayumi, anak sulung kami, berusia empat belas tahun. Pendiam, tetapi sangat pintar. Setiap kali aku pulang dalam keadaan mabuk atau sedang emosi, dialah yang pertama membawa Trisha dan Nina masuk ke kamar.
Aku tidak suka cara dia memandangku.
Seolah-olah dia tahu semua kepahitan yang kusimpan.
Suatu malam, setelah ibuku menelepon dan kembali menyindir bahwa ia tidak punya cucu laki-laki yang bisa dibanggakan di gereja, aku pulang dengan hati kesal.
Aku melihat Lorna duduk di meja.
Ia sedang menghitung lembaran uang Rp30.000 dan Rp50.000 yang tersusun rapi di bawah gelas plastik.
Itu adalah uang sekolah Mayumi.
Mayumi diterima di kelas khusus dan membutuhkan biaya tambahan untuk modul serta perlengkapan sekolah.
Aku menatap uang itu.
Lalu tanpa berpikir panjang aku berkata:
— Untuk apa sekolah tinggi-tinggi? Dia juga perempuan. Nanti akhirnya menikah juga.
Lorna menatapku.
Wajahnya tampak lelah.
Namun ia tidak menangis.
— Renato, dia anakmu. Dia bisa mendengarmu.
Aku melempar helm ke kursi.
— Apa yang kukatakan salah? Di keluarga ini, siapa yang akan meneruskan nama keluargaku?
Rumah mendadak sunyi.
Di ambang pintu kamar, aku melihat Mayumi masih mengenakan seragam sekolah lamanya. Di tangannya ada buku matematika.
Dia tidak menangis.
Dia hanya menatapku.
Lorna berdiri.
— Anak tetaplah anak. Tidak ada yang salah karena lahir sebagai perempuan.
Aku tersenyum sinis.
— Mudah bagimu mengatakan itu. Bukan kamu yang ditertawakan seluruh keluarga besarku.
Malam itu, Lorna tidak tidur di sampingku.
Ia membawa Nina masuk ke kamar.
Aku duduk sendirian di ruang tamu, mendengarkan hujan yang menghantam atap seng.
Aku tidak tahu kapan semuanya dimulai.
Namun perlahan-lahan, aku mulai mencari perasaan bahwa aku masih seorang laki-laki di luar rumah.
Namanya Rhea.
Ia bekerja di sebuah pegadaian dan pusat pengiriman uang dekat tempat kerjaku. Kulitnya putih, rambutnya ikal, dan ia selalu memakai lipstik. Saat berbicara, ia selalu membuatmu merasa didukung.
Awalnya hanya bercanda.
Lalu makan siang bersama.
Kemudian saling mengirim pesan setiap malam.
Ia tahu aku sudah menikah. Ia tahu aku memiliki tiga anak perempuan.
Ketika mendengarnya, ia hanya mengerucutkan bibir.
— Kasihan sekali kamu. Seorang pria harus punya anak laki-laki. Supaya ada pewaris yang sesungguhnya.
Hanya satu kalimat.
Namun bagiku, rasanya seperti untuk pertama kalinya ada seseorang yang memahami perasaanku.
Aku semakin sering pulang larut malam.
Perlahan-lahan, anak-anakku tidak lagi berlari menyambutku.
Lorna juga tidak lagi bertanya apakah aku sudah makan atau belum.
Suatu Jumat sore, Rhea menarikku ke belakang pegadaian. Ia menyerahkan sebuah baju bayi kecil berwarna biru.
— Belum pasti sih… tapi kata orang-orang, sepertinya bayi yang kukandung laki-laki.
Napas seolah berhenti.
Aku memegang baju kecil itu sambil membayangkan diriku menggendong seorang putra yang mirip denganku, membawa nama keluargaku, dan membungkam semua orang yang pernah merendahkanku.
Rhea menyandarkan kepala di bahuku.
— Aku tidak seperti Lorna. Aku akan memberimu seorang anak laki-laki.
Malam itu aku pulang terlambat.
Lorna sedang menjahit rok sekolah Trisha di meja makan. Uang sekolah Mayumi masih tersimpan di bawah gelas plastik.
Aku menatapnya lama.
Keesokan harinya, aku mengambil semuanya.
Sebanyak Rp11.400.000.
Uang yang dikumpulkan Lorna selama hampir setengah tahun.
Aku meyakinkan diriku bahwa aku hanya meminjamnya. Setelah Rhea melahirkan anak laki-laki, semuanya akan kubereskan. Aku akan memiliki keluarga baru. Keluarga yang dianggap sempurna oleh orang-orang.
Namun sebelum siang tiba, Lorna sudah mengetahuinya.
Ia menelepon berkali-kali.
Aku tidak menjawab.
Malam harinya, aku pulang hanya untuk mengambil beberapa pakaian.
Lorna berdiri di tengah rumah.
Wajahnya pucat.
— Renato, di mana uang sekolah Mayumi?
Aku mengalihkan pandangan.
— Ada tagihan yang harus kubayar.
— Tagihan seperti apa yang lebih penting daripada pendidikan anakmu?
Aku mulai kesal.
— Anak, anak, anak! Yang kau pikirkan hanya anak-anak perempuanmu!
Ia terdiam.
Di belakangnya, aku melihat Mayumi mengepalkan tangan.
Aku menunjuk Lorna.
— Kalau saja kau memberiku anak laki-laki, aku tidak akan menjadi seperti ini.
Rasanya seperti seluruh rumah hancur berkeping-keping.
Trisha menangis di kamar.
Nina memeluk boneka usangnya erat-erat.
Dan Mayumi…
Dia hanya menatapku.
Lalu Lorna bertanya dengan suara pelan namun jelas:
— Jika kau punya anak laki-laki dari perempuan lain, apakah kau benar-benar akan meninggalkan kami?
Aku tidak menjawab.
Namun diamku sudah menjadi jawaban.
Malam itu aku mengambil tasku dan pergi.
Rhea menungguku di sebuah motel kecil dekat Tagaytay. Ia memelukku, menciummu, dan berulang kali berkata bahwa mulai sekarang aku harus memikirkan “kami berdua dan bayi kami”.
Selama satu minggu penuh aku tidak pulang.
Banyak panggilan tak terjawab.
Dari Lorna.
Dari Mayumi.
Bahkan ada satu nomor yang tidak kukenal.

Aku mematikan ponselku.
Aku tidak ingin kembali ke rumah yang penuh tagihan, keluhan, air mata, dan anak-anak perempuan yang menurutku tidak bisa meneruskan nama keluargaku.
Pada hari ketujuh, hujan turun sangat deras…
Berikut adalah kelanjutan sekaligus akhir cerita (Bagian 2) dari kisah Renato:
Bagian 2: Ketika Rahasia Itu Terungkap
Hujan deras di Tagaytay malam itu terasa aneh—terlalu dingin dan mencekam. Rhea sudah tertidur lelap di ranjang motel, sementara aku duduk di tepi tempat tidur sambil menatap baju bayi berwarna biru yang terletak di atas meja.
Entah mengapa, bayangan wajah Mayumi saat menatapku malam itu terus berputar di kepalaku. Tatapannya tidak lagi memancarkan kemarahan, melainkan sesuatu yang jauh lebih menakutkan: kepasrahan yang mendalam.
Rasa bersalah yang aneh mulai menggerogoti dadaku. Aku menyalakan ponselku yang sudah mati selama berhari-hari.
Begitu layar menyala, ratusan notifikasi pesan dan panggilan tak terjawab masuk secara beruntun. Sebagian besar dari nomor tak dikenal yang ternyata adalah tetangga sebelah rumah kami di Cavite, dan beberapa pesan singkat dari Mayumi yang dikirim tiga hari lalu.
“Papa, pulanglah. Mama butuh uangnya kembali.” “Papa, tolong angkat teleponnya. Ini penting.” “Papa, sudah terlambat.”
Pesan terakhir dari Mayumi membuat darahku berdesir hebat. Jantungku berdegup kencang. Tanpa berpamitan pada Rhea yang masih mendengkur, aku menyambar jaket dan kunci motor, lalu menerobos badai malam itu menuju Cavite. Sepanjang perjalanan, firasat buruk menghantam dadaku bertubi-tubi.
Rumah yang Sunyi
Saat aku tiba di depan rumah kami, waktu sudah menunjukkan pukul tiga dini hari. Rumah kecil beratap seng itu tampak gelap gulita. Tidak ada lampu kuning yang biasanya dinyalakan Lorna untuk menyambutku. Tidak ada aroma bubur atau roti yang sedang dipersiapkan untuk jualan subuh.
Hanya ada keheningan. Keheningan yang begitu pekat, seolah rumah ini telah ditinggalkan selama bertahun-tahun.
Aku membuka pintu depan yang ternyata tidak dikunci. Begitu melangkah ke dalam ruang tamu, aroma lilin mati dan minyak kayu putih langsung menusuk hidungku.
Di tengah ruangan, di bawah temaram sisa cahaya lampu jalan, ketiga putriku sedang duduk melingkar di atas lantai semen. Mayumi (14 tahun), Trisha (10 tahun), dan si kecil Nina (6 tahun).
Mereka bertiga duduk membeku dengan mata sembab. Mereka tidak menangis. Mereka tidak berteriak melihat kepulanganku. Mereka hanya menatapku dengan kesunyian yang mengerikan, seakan mereka sedang menjaga sebuah rahasia besar yang sanggup menghancurkan sisa-sisa duniaku.
“Mayumi… Trisha…” suaraku bergetar, tercekat di tenggorokan. “Di mana… di mana Mama?”
Mayumi tidak menjawab. Ia perlahan berdiri, mengabaikan tubuhku yang basah kuyup karena hujan. Dengan tangan yang kurus, ia menunjuk ke arah meja makan—tempat di mana Lorna biasanya menjahit atau menghitung uang dagangannya.
Di atas meja itu, tidak ada lagi gelas plastik atau tumpukan uang Rp30.000 untuk sekolah.
Yang ada di sana hanyalah sebuah surat kuning dari rumah sakit dan sebuah amplop putih tebal yang diletakkan di samping sebuah kotak perhiasan tua milik mendiang ibuku.
Kebenaran yang Menghancurkan
Dengan tangan gemetar, aku membuka surat rumah sakit itu terlebih dahulu. Itu adalah surat keterangan kematian.
Nama Pasien: Lorna Flores. Penyebab Kematian: Gagal jantung akibat kelelahan ekstrem dan pendarahan dalam. Waktu Kematian: Dua hari yang lalu, pukul 22.15.
Lututku langsung terasa lemas. Aku ambruk ke lantai, memegangi surat itu dengan dada yang terasa seperti dihantam godam raksasa. “Tidak… tidak mungkin… Lorna…”
“Mama sakit sakitan sejak sebulan lalu, Pa,” suara Mayumi terdengar sangat dingin, memecah kesunyian malam. “Tapi Mama tidak mau berobat karena uangnya mau dipakai untuk biaya sekolahku dan kebutuhan Trisha serta Nina. Dan malam setelah Papa pergi membawa semua uang tabungan itu… penyakit Mama kambuh.”
Mayumi melangkah mendekat, matanya menatapku tanpa ada lagi rasa hormat seorang anak.
“Mama mencoba mencari uang tambahan dengan mencuci baju di tiga rumah sekaligus dalam sehari semalam demi mengganti uang Papa yang hilang. Mama pingsan di sumur tetangga. Saat kami membawanya ke rumah sakit, dokter bilang kami harus membayar uang muka operasi. Aku mencoba menelepon Papa ratusan kali… tapi ponsel Papa mati demi perempuan itu.”
Aku menangis histeris, memukul lantai semen dengan penyesalan yang membakar jiwa. Aku meninggalkan istriku yang bertaruh nyawa demi anak-anak kami, hanya untuk memeluk perempuan lain di motel murah.
“Lalu… lalu dari mana kalian dapat uang untuk biaya rumah sakit ini?” tanyaku sambil terisak, melihat surat kematian yang menyatakan jenazah sudah diurus.
Mayumi menunjuk amplop putih tebal dan kotak perhiasan di atas meja.
“Itu uang dari paman-paman Papa. Keluarga besar Papa yang selalu Papa banggakan karena mereka punya anak laki-laki,” kata Mayumi dengan senyum sinis yang menyakitkan. “Ketika Mama sekarat, aku pergi ke rumah mereka satu per satu untuk memohon bantuan. Tahu apa yang mereka katakan?”
Mayumi menarik napas dalam, air matanya akhirnya menetes.
“Mereka bilang, ‘Untuk apa kami bantu? Ibumu hanya melahirkan anak perempuan. Tidak ada gunanya membuang uang untuk keluarga yang tidak punya penerus nama.’ Mereka mengusirku, Pa. Keluarga besar yang Papa puja-puja itu membiarkan Mama mati.”
Kalimat Mayumi bagaikan petir yang menyambar tepat di jantungku. Kehormatan pria, nama besar keluarga, anak laki-laki yang selama ini kuagungkan… ternyata tidak lebih dari sekumpulan monster tak berhati yang membiarkan istriku meregang nyawa.
“Lalu… amplop ini?” aku membuka amplop putih tebal itu dengan bingung. Di dalamnya ada uang tunai dalam jumlah besar—bahkan jauh lebih banyak dari Rp11.400.000 yang kucuri.
“Itu uang dari hasil penjualan seluruh organ tubuh Mama yang masih bisa didonorkan, dan sisa tabungan rahasia yang Mama jahit di dalam bantalnya,” ucap Mayumi, suaranya bergetar hebat. “Sebelum Mama tidak sadarkan diri, Mama menandatangani surat donor itu. Mama bilang… ‘Jika ayahmu tidak pulang, setidaknya tubuh Mama masih bisa menghasilkan uang untuk menyekolahkan ketiga putriku.’“
Akhir yang Terlambat
Aku menjerit histeris di tengah ruang tamu yang gelap, memeluk amplop putih itu dengan penyesalan yang tiada akhir. Lorna, wanita yang selalu kurendahkan karena tidak bisa memberiku anak laki-laki, telah mengorbankan seluruh hidup dan sisa tubuhnya hanya untuk melindungi anak-anak perempuan yang kuanggap “tidak berguna”.
Aku melihat ke arah ketiga putriku.
Si kecil Nina memeluk boneka usangnya sambil menatapku dengan mata ketakutan, seolah melihat seorang asing yang mengerikan. Trisha menyembunyikan wajahnya di belakang punggung Mayumi. Dan Mayumi… ia berdiri tegak sebagai pelindung adik-adiknya, mengambil alih peran yang seharusnya menjadi tanggung jawabku.
“Pergi, Pa,” kata Mayumi pelan namun sangat tegas. “Kembalilah ke perempuanmu yang katanya bisa memberi Papa anak laki-laki. Di rumah ini, Papa sudah tidak punya istri. Dan mulai hari ini… Papa juga tidak punya anak perempuan lagi.”
Aku mencoba maju untuk memeluk mereka, namun Mayumi menarik kedua adiknya mundur, masuk ke dalam kamar dan mengunci pintunya dari dalam.
Malam itu, di bawah guyuran hujan Cavite yang tak kunjung reda, aku duduk bersimpuh sendirian di lantai ruang tamu yang dingin. Uang ada di tanganku, nama keluargaku masih utuh, namun duniaku telah hancur berkeping-keping menjadi abu.
Aku mendapatkan ambisiku di luar sana, namun kehilangan satu-satunya tempat di mana aku pernah dicintai dengan tulus. Aku melangkah keluar dari rumah itu sebagai pria yang hancur, membawa kutukan penyesalan yang akan membakar sisa hidupku sampai mati.