Posted in

SEBELUM AKU PULANG UNTUK ULANG TAHUN IBU MERTUAKU, SEBUAH PERINGATAN MUNCUL DI DEPAN MATAKU—MAKA AKU MENABRAKKAN MOBILKU SENDIRI UNTUK MENGHANCURKAN RENCANA SEMPURNA SUAMIKU*

*SEBELUM AKU PULANG UNTUK ULANG TAHUN IBU MERTUAKU, SEBUAH PERINGATAN MUNCUL DI DEPAN MATAKU—MAKA AKU MENABRAKKAN MOBILKU SENDIRI UNTUK MENGHANCURKAN RENCANA SEMPURNA SUAMIKU**

Jangan pulang.

Itulah kalimat pertama yang muncul di depan mataku saat aku berhenti di lampu merah EDSA.

Itu bukan pesan teks. Bukan notifikasi. Bukan halusinasi.

Melainkan deretan komentar yang tampak seperti sedang muncul di sebuah siaran langsung:

**[Mia, jangan pulang! Begitu kamu masuk rumah, kamu akan dituduh atas apa yang terjadi pada ibu mertuamu!]**

Seluruh tubuhku membeku.

Namaku Mia Santos. Tiga puluh dua tahun. Seorang akuntan di perusahaan logistik di Makati. Selama seminggu aku ditugaskan ke Iloilo untuk mengaudit cabang perusahaan kami. Seharusnya aku sudah sangat lelah, tetapi aku tetap buru-buru mengemudi pulang ke Quezon City karena hari itu adalah ulang tahun ibu mertuaku.

Ibu Cely berusia enam puluh lima tahun.

Beliau baik kepadaku pada tahun-tahun awal pernikahanku dengan Adrian. Meski terkadang mulai pelupa dan sering bertanya apakah aku sudah makan, aku tidak pernah menganggapnya sebagai beban.

Karena itu, ketika Adrian mengatakan bahwa kami hanya akan mengadakan perayaan sederhana di apartemen untuknya, aku langsung setuju.

“Pulanglah cepat, Sayang,” katanya melalui telepon sore tadi. “Mama senang kalau kamu yang memotong kuenya.”

Namun sekarang, saat tanganku menggenggam setir, komentar-komentar aneh itu terus bermunculan.

**[Begitu kamu masuk unit apartemen, Adrian akan pergi. Dia akan meninggalkanmu sendirian bersama Ibu Cely.]**

**[Tepat pukul 19.10, Ibu Cely akan jatuh dari balkon.]**

**[Sidik jarimu ada di gelas, pagar balkon, obat-obatan, pisau, dan pintu. Kamu tidak akan bisa lolos.]**

**[Adrian dan Trisha yang merencanakannya. Trisha adalah sahabatmu, tetapi dia juga selingkuhan suamimu.]**

Seolah ada air es yang disiramkan ke punggungku.

Trisha?

Trisha Reyes, sahabatku sejak kuliah.

Dia adalah bridesmaid di pernikahanku.

Orang pertama yang kuberi tahu saat aku keguguran anak pertamaku.

Dia menangis bersamaku di pemakaman simbolis yang kami buat untuk bayi yang bahkan belum sempat memiliki nama.

Tidak.

Mustahil.

Namun sebelum aku berhasil meyakinkan diriku sendiri, ponselku berbunyi.

Pesan dari Adrian.

**Sayang, sudah dekat?
Ada urusan darurat di kantor.
Aku harus pergi sebentar.
Tolong potong kue dulu bersama Mama. Aku segera kembali.**

Aku menatap layar.

Dalam beberapa detik, semua suara di sekitarku menghilang.

Aku tak lagi mendengar klakson, deru motor, atau teriakan petugas lalu lintas.

Semuanya persis.

Sama seperti yang dikatakan komentar-komentar itu.

Aku melihat jam.

Pukul 18.40.

Masih ada tiga puluh menit sebelum kejadian yang disebutkan.

Jika aku pulang, aku akan masuk ke unit apartemen.

CCTV lobi akan merekamku.

Kamera lift akan merekamku.

Tetangga akan mendengar keributan yang bahkan tidak kulakukan.

Lalu seseorang akan jatuh dari balkon.

Dan aku akan menjadi penjahat dalam cerita yang mereka susun.

Aku tidak tahu apakah aku sudah gila.

Aku tidak tahu apakah semua ini hanya delusi karena kelelahan.

Namun di antara mempercayai suamiku yang tiba-tiba harus pergi dan mempercayai komentar-komentar misterius yang memperingatkanku, aku memilih mempercayai rasa takut yang mencakar dadaku.

Lampu berubah hijau.

Kendaraan mulai bergerak.

Aku menggenggam setir lebih erat.

“Kalau kalian berencana menjebakku di apartemen itu,” bisikku dengan bibir gemetar, “aku tidak akan masuk ke sana.”

Aku menginjak pedal gas.

Mobilku melesat bukan menuju apartemen, melainkan langsung ke sebuah tiang beton besar di pinggir jalan.

Ledakan keras memenuhi telingaku.

Airbag mengembang.

Asap menyebar.

Pandangan berputar.

Cairan hangat mengalir dari dahiku ke pipi.

Orang-orang berteriak.

“Panggil ambulans!”

“Nona, bisa dengar kami?”

Seorang petugas lalu lintas mengetuk jendela yang pecah.

Pengendara motor merekamku dengan ponselnya.

Seorang wanita memegang rosario sambil menangis.

Untuk pertama kalinya malam itu, aku bisa bernapas lega.

Karena meskipun kepalaku sakit dan tubuhku gemetar, aku tahu satu hal:

Aku berada di jalan raya.

Ada banyak saksi.

Ada bukti.

Ada catatan waktu.

Aku tidak berada di apartemen.

Aku dibawa ke rumah sakit di Cubao.

Perawat membersihkan luka di dahiku.

Dokter mengatakan lukanya tidak dalam, tetapi aku tetap harus dipantau karena kepalaku sempat terbentur.

Aku pura-pura memejamkan mata.

Padahal aku terjaga.

Melalui celah bulu mata, aku menatap jam digital di dinding.

19.00.

19.05.

19.09.

Tanganku mengepal di balik selimut.

Dan tepat pukul 19.10…

Tidak ada alarm.

Tidak ada polisi yang masuk untuk menangkapku.

Tidak ada telepon dari apartemen.

Aku menarik napas panjang.

Apakah Ibu Cely masih hidup?

Ataukah mereka tetap menjalankan rencana itu meski aku tidak ada di sana?

Sebelum aku sempat menjawab pertanyaan itu, dua penyidik lalu lintas masuk untuk mengambil keteranganku.

Aku mengatakan bahwa kakiku tidak sengaja menginjak pedal gas saat hendak mengambil ponsel.

Kesalahanku.

Aku akan membayar kerusakan tiang itu.

Aku akan menerima denda.

Biayanya jauh lebih murah daripada masuk penjara.

Jauh lebih murah daripada kehilangan hidupku.

Setelah itu, seorang petugas mengembalikan ponselku yang layarnya retak.

Layar pecah, tetapi masih menyala.

Begitu aku menekan tombol daya, muncul empat belas panggilan tak terjawab dari Adrian.

Dan satu pesan baru.

**Mia, kenapa kamu ada di rumah sakit?**

Lalu pesan kedua masuk.

**Kalau kamu benar-benar di rumah sakit… lalu siapa wanita yang baru saja masuk ke apartemen kita dan wajahnya persis sepertimu?**

Jantungku seakan berhenti berdetak saat membaca pesan terakhir dari Adrian.

Wanita yang wajahnya persis sepertiku?

Tiba-tiba, deretan komentar misterius kembali bermunculan di dinding rumah sakit, melayang tepat di atas ranjangku seperti proyeksi hologram yang menyeramkan:

[PLOT TWIST! Adrian dan Trisha tidak sebodoh itu. Mereka tahu kamu curiga!]

[Wanita itu adalah Trisha! Dia memakai topeng silikon tingkat tinggi dan pakaian yang sama denganmu saat kamu pergi ke Iloilo!]

[Rencana mereka berubah! Karena kamu tidak ada, Trisha menyamar sebagai kamu untuk menjatuhkan Ibu Cely, agar CCTV merekam ‘Mia’ sebagai pembunuhnya!]

Tanganku gemetar hebat. Kamar rumah sakit yang dingin mendadak terasa mencekam. Adrian dan Trisha tidak hanya ingin menyingkirkanku dan Ibu Cely, mereka ingin memastikan aku membusuk di penjara seumur hidup sementara mereka menikmati uang asuransi atau warisan Ibu Cely.

“Tidak. Tidak akan kubiarkan,” bisikku, menghapus air mata yang sempat menetes. Rasa takutku kini sepenuhnya berubah menjadi kemarahan yang membakar.

Aku langsung mengetik balasan untuk Adrian dengan tangan gemetar namun penuh perhitungan:

“Aku kecelakaan, Adrian. Mobilku hancur dan aku terluka parah. Polisi, dokter, dan media lokal ada di sini bersamaku sekarang di Rumah Sakit Cubao. Jangan ke mari, urus saja ibumu.”

Aku sengaja menekankan kata polisi dan media.

Sedetik kemudian, komentar baru muncul di depanku:

[Bagus, Mia! Kirim foto dirimu yang terluka ke grup chat keluarga sekarang! Gagalkan alibi mereka!]

Tanpa membuang waktu, aku mengambil foto selfie yang memperlihatkan dahiku yang diperban, selang infus, dan latar belakang ruang rawat darurat yang jelas-jelas menunjukkan papan nama Rumah Sakit Cubao. Aku mengirimkannya ke grup WhatsApp keluarga besar, lengkap dengan tag lokasi real-time.

Efeknya instan.

Ponselku bergetar tanpa henti. Kakak-kakak iparku histeris di grup. Dan yang paling penting: Adrian tidak bisa lagi mengelak. Jam digital di foto itu menunjukkan pukul 19.15. Secara hukum dan logika, mustahil aku berada di apartemen Quezon City pada pukul 19.10 jika aku sedang terbaring lemas di Cubao sejak pukul 18.45 dengan saksi puluhan orang di jalan raya.

Dua menit kemudian, sebuah pesan pribadi masuk dari nomor Adrian. Tapi dari gaya bahasanya, aku tahu ini bukan Adrian. Ini Trisha.

“Sialan kamu, Mia. Kamu menghancurkan semuanya.”

Aku tidak membalas. Aku justru memanggil sersan polisi lalu lintas yang masih berada di luar kamarku. Dengan wajah pucat dan suara yang sengaja dibuat ketakutan, aku memberikan ponselku kepadanya.

“Pak… tolong saya. Suami saya mengirim pesan aneh. Dia bilang ada penyusup yang wajahnya mirip saya masuk ke apartemen kami. Saya takut ibu mertua saya dalam bahaya. Tolong kirim tim ke sana sekarang.”

Polisi itu mengerutkan kening, membaca pesan di ponselku, dan langsung menghubungi markas pusat Quezon City.

Satu jam kemudian, kebenaran pecah seperti bisul yang membusuk.

Adrian dan Trisha tidak sempat membatalkan rencana mereka karena kepanikan yang luar biasa setelah melihat fotoku di grup keluarga. Saat Trisha—yang masih mengenakan pakaian yang mirip denganku—mencoba menyeret Ibu Cely ke balkon, Ibu Cely meronta dan berteriak. Tetangga sebelah unit yang mendengar keributan langsung mendobrak pintu, tepat saat polisi tiba di lokasi.

Trisha tertangkap basah di balkon, dengan topeng silikon yang setengah terbuka karena pergumulan. Adrian, yang bersembunyi di dalam mobil di basement menunggu instruksi, langsung diringkus setelah polisi memeriksa pesan teks di ponsel Trisha yang berisi perintah untuk “menyelesaikan tugas” meskipun Mia yang asli tidak ada.

Dua hari kemudian, aku berdiri di depan cermin kamar mandi rumah sakit, melepas perban di dahiku. Luka jahitannya kecil, akan meninggalkan bekas, tetapi bekas luka itu akan selalu mengingatkanku pada malam aku memilih untuk menghancurkan mobilku demi menyelamatkan hidupku.

Ponselku berdenting. Tidak ada lagi komentar-komentar misterius yang melayang di udara. Layarnya bersih. Hanya ada satu pesan teks dari nomor asing:

[Misi selesai, Mia. Selamat menempuh hidup baru. Kasus ditutup.]

Aku tersenyum tipis, lalu menghapus pesan itu. Ibu Cely kini aman bersamaku, dan Adrian serta Trisha sedang membusuk di sel tahanan menunggu persidangan atas percobaan pembunuhan berencana.

Mereka menginginkan akhir yang sempurna untuk rencana mereka. Tapi mereka lupa, jalanan EDSA punya ceritanya sendiri—dan malam itu, akulah yang memegang kendali setir kehidupanku.