Posted in

DUA UNIT KONDOMINIUM YANG KUSEMBUNYIKAN SEBELUM MENIKAH DIMINTA OLEH IBU CALON SUAMIKU UNTUK ADIKNYA—TAPI MEREKA TIDAK TAHU ADA SATU KWITANSI YANG AKAN MENJATUHKAN SELURUH KELUARGA MEREKA**

DUA UNIT KONDOMINIUM YANG KUSEMBUNYIKAN SEBELUM MENIKAH DIMINTA OLEH IBU CALON SUAMIKU UNTUK ADIKNYA—TAPI MEREKA TIDAK TAHU ADA SATU KWITANSI YANG AKAN MENJATUHKAN SELURUH KELUARGA MEREKA**

Dua hari sebelum pernikahan sipil kami, barulah mereka menyuruhku duduk di meja makan.

Awalnya kukira itu jamuan untuk merayakan hari pernikahan yang semakin dekat.

Sampai calon ibu mertuaku tersenyum, menuangkan sup asam ke mangkukku, lalu berkata dengan lembut:

“Nak, dua unit kondominiummu di Pasig itu… pindahkan dulu ke atas nama Adrian. Kita kan sudah keluarga, bukan?”

Tanganku yang memegang sendok langsung terhenti.

Di sampingku, Adrian Villamor, pria yang seharusnya kunikahi, menundukkan kepala dan berpura-pura sibuk makan.

Dia tidak terkejut.

Dan itulah hal pertama yang menusuk dadaku.

Dia tidak terkejut.

Namaku Mara Santiago, dua puluh tujuh tahun, seorang content strategist di sebuah agensi periklanan di Makati.

Aku bukan orang kaya.

Aku tidak tumbuh di rumah mewah.

Aku dibesarkan di apartemen sederhana yang uang sewanya selalu terlambat dibayar, bersama ibu yang berjualan kue tradisional setiap pagi dan ayah yang sudah lama menghilang dari kehidupan kami.

Karena itulah, saat aku berhasil membeli dua unit studio kecil di Pasig, itu bukan hadiah dari siapa pun.

Itu hasil darah dan keringatku.

Hasil begadang.

Empat tahun bekerja freelance setelah jam kantor.

Empat tahun hidup dengan mi instan, naik MRT, jeepney, dan menolak semua kemewahan.

Tidak ada yang tahu selain sahabatku, Liza, seorang auditor di firma akuntansi besar di BGC.

Hari saat aku menerima sertifikat kepemilikan unit-unit itu, dia menarikku ke samping dan berkata:

“Mara, jangan beri tahu siapa pun. Terutama Adrian.”

Saat itu aku malah tertawa.

“Berlebihan. Kami akan menikah.”

Tatapannya semakin tajam.

“Delapan tahun aku bekerja sebagai auditor. Aku sudah melihat banyak perempuan masuk pernikahan dengan tabungan, tanah, apartemen, atau bisnis. Saat keluar dari pernikahan, yang tersisa hanya nama mereka. Properti itu milikmu sebelum menikah. Kalau keluarga yang salah mengetahuinya, mereka tidak akan melihat cinta. Mereka akan melihat ATM.”

Aku tidak sepenuhnya percaya.

Sampai malam itu.

Aku duduk di rumah keluarga Villamor di Quezon City.

Rumahnya kecil tetapi bersih.

Di meja tersedia ikan goreng, menudo, ayam adobo, salad mangga, dan sup udang asam—semua makanan favoritku.

Terlalu mewah untuk makan malam biasa.

Ibu Adrian, Aling Cora, tersenyum seolah tidak sedang meminta hasil kerja keras hidup orang lain.

“Nak, jangan salah paham. Adik Adrian, Benjie, juga akan menikah. Tapi keluarga calon istrinya tidak setuju kalau mereka belum punya rumah. Dua unit kondominiummu itu kan kecil saja. Studio. Kalau dipindahkan ke nama Adrian, tetap saja milik kalian berdua.”

Aku menoleh ke Adrian.

Dia tidak berkata apa-apa.

“Kamu tahu soal ini?” tanyaku.

Genggamannya pada gelas mengencang.

“Mara, makan dulu.”

“Kamu tahu soal ini?”

Aling Cora berdeham.

“Nak, jangan marahi dia. Saya yang mengusulkan. Lagi pula masuk akal, bukan? Adrian akan menjadi suamimu. Kalau kamu mencintainya, kenapa masih ada ‘milikku’ dan ‘milikmu’?”

Jari-jariku terasa dingin.

“Tidak bisa dipindahkan,” kataku perlahan. “Masih ada pinjaman bank.”

Itu bohong.

Kedua unit itu sudah lunas.

Sertifikat aslinya kusimpan di safety deposit box bank.

Senyum Aling Cora langsung memudar.

“Masih kredit?”

“Iya. Saldo pinjamannya masih besar. Bank tidak akan mengizinkan pemindahan nama.”

Aling Cora dan Adrian saling berpandangan.

Aku melihatnya.

Cepat.

Singkat.

Tapi jelas.

Seolah sebuah rencana baru saja gagal.

“Berapa sisa utangnya?” tanyanya.

“Masih lebih dari setengah.”

“Kalau begitu biar Adrian yang membayar. Pindahkan saja dulu ke namanya, nanti dia yang mengurus cicilannya.”

“Mama,” kata Adrian tiba-tiba dengan suara terlalu keras. “Sudah cukup.”

“Sudah cukup?” Aling Cora mengangkat alis. “Kamu anak sulung. Kamu harus membantu adikmu. Kamu akan menikahi perempuan yang punya properti, tapi kita tidak bisa memanfaatkannya untuk membantu Benjie bangkit?”

Bukan “membantu”.

Bukan “meminjam”.

Tapi “memanfaatkan”.

Saat itulah aku mendengar kata yang sebenarnya.

“Maaf,” kataku sambil meletakkan sendok. “Saya tidak bisa melakukan itu.”

Meja makan langsung sunyi.

Setelah makan malam selesai, Adrian mengantarku keluar.

Jalanan gelap.

Terdengar suara becak motor dari ujung gang.

Udara berbau hujan.

Dia memegang lenganku.

“Mara, jangan dimasukkan ke hati. Mama hanya khawatir pada Benjie.”

Aku menatapnya.

“Bagaimana dia tahu soal kondominium itu?”

Wajahnya menegang.

“Apa?”

“Aku tidak pernah memberi tahu dia. Aku bahkan tidak memberi tahu siapa pun. Jadi bagaimana dia tahu?”

Lama sekali sebelum dia menjawab.

“Suatu kali aku melihat kwitansi iuran apartemen di laci mejamu. Aku hanya sempat menyebutkannya kepada Mama. Tidak ada niat buruk.”

Menyebutkannya.

Satu kata kecil untuk sebuah pengkhianatan.

“Kenapa kamu membuka laciku?”

“Aku tidak membukanya. Aku mencari charger.”

“Di laci dokumen pribadiku?”

Dia tidak menjawab.

Aku pulang tanpa pelukan.

Tanpa ciuman.

Tanpa ucapan selamat malam.

Sesampainya di apartemen sewaanku di Mandaluyong, aku mengunci pintu, duduk di lantai, lalu menelepon Liza.

Aku bahkan belum selesai bercerita ketika dia langsung berkata:

“Aku sudah bilang.”

“Aku harus bagaimana?”

“Jangan berikan apa pun. Katakan masih kredit. Katakan ada penyewa. Katakan tidak bisa disentuh selama lima tahun. Dan Mara, dengarkan aku—ini bukan percobaan terakhir mereka.”

“Kamu pikir mereka akan mencoba lagi?”

“Bukan pikir. Aku yakin. Pertama ibunya. Berikutnya adiknya. Kalau kamu tetap menolak, Adrian sendiri yang akan menangis memohon di depanmu.”

Keesokan paginya, Liza ternyata benar.

Benjie menelepon.

“Kak Mara! Selamat atas pernikahannya! Aku cuma mau minta bantuan kecil…”

Aku memejamkan mata.

“Kalau soal kondominium, aku sudah memberi jawaban pada Tante Cora. Tidak bisa.”

Dia tertawa, tetapi tidak terdengar senang.

“Kak, kita keluarga. Bukan minta gratis. Hanya pinjam. Kalau tidak bisa dipindahkan, jual saja. Setidaknya uang muka rumah untuk aku dan Trisha.”

Jual saja.

Seolah dia sedang meminta blender bekas.

“Aku tidak akan menjualnya.”

Nada suaranya langsung berubah.

“Kak, jangan pelit. Kalau Kakak benar-benar mencintai Kak Adrian, Kakak pasti membantu kami. Lagi pula ternyata Kakak kaya. Kenapa disembunyikan?”

Aku tidak menjawab.

Aku langsung menutup telepon.

Satu jam kemudian, Adrian mengirim pesan.

**Mara, kita harus bicara malam ini. Tolong. Demi pernikahan kita.**

Aku melihat kalender.

Besok seharusnya kami menikah.

Namun malam itu, saat aku tiba di sebuah kafe kecil di Katipunan, aku melihat Adrian duduk di ujung meja.

Di sebelahnya ada Aling Cora.

Di sebelah mereka ada Benjie.

Dan di tengah meja terdapat sebuah amplop cokelat.

Terbuka.

Di dalamnya ada fotokopi sertifikat salah satu kondominiummku.