AKU MENYUSUI ANAK DARI MANTAN SUAMIKU KARENA ISTRINYA MENINGGAL SAAT MELAHIRKAN. NAMUN KETIKA BAYI ITU MENEMPEL DI DADAKU DAN MEMBUKA MATA, AKU MENYADARI BAHWA DIA DATANG BUKAN UNTUK MEMINTA TOLONG… MELAINKAN UNTUK MENGEMBALIKAN SESUATU YANG KUKIRA TELAH HILANG SELAMANYA.
Saat membuka pintu dan melihat Marco menggendong seorang bayi kecil, rasanya seluruh luka yang selama ini kupendam kembali terbuka.
Seolah takdir datang lagi untuk menagih penderitaanku.
Atau mungkin sedang mempermainkanku.
Marco basah kuyup.
Kemeja polonya kusut.
Ada noda susu di bahunya.
Matanya merah.
Dan dia tampak seperti sudah berhari-hari tidak tidur.
Di pelukannya ada seorang bayi yang baru lahir.
Kecil.
Lemah.
Dan sangat membutuhkan pelukan seorang ibu.
“Tolong, Andrea…” katanya dengan suara serak.
“Aku tidak punya siapa-siapa lagi untuk dimintai bantuan.”
Aku hampir tertawa.
Bukan karena lucu.
Tetapi karena terkadang, ketika rasa sakit sudah terlalu besar, yang keluar justru reaksi yang salah.
Tentu saja.
Dari semua orang yang bisa mengetuk pintuku…
Mantan suamikulah yang datang.
Sambil menggendong bayi.
Tiga bulan setelah aku menguburkan anakku.
Dua bulan setelah suamiku yang sekarang meninggalkanku karena katanya dia tidak sanggup lagi melihatku menangis setiap malam.
Dan lima tahun setelah Marco meninggalkanku demi wanita yang lebih muda.
Wanita yang dia pilih menggantikanku.
Wanita yang membuatku merasa tidak lagi berharga.
Sekarang wanita itu sudah meninggal.
Dan anaknya berada dalam pelukanku.
Saat menyusui bayi itu, aku berusaha keras menahan arus kenangan.
Anakku, Miguel.
Aku hanya sempat menggendongnya selama dua belas menit.
Dua belas menit.
Setelah itu…
Yang kubawa pulang hanya sebuah kotak kenangan.
Dan sepasang payudara yang penuh susu untuk bayi yang sudah tiada.
Ketika bayi itu selesai menyusu, dia perlahan membuka matanya.
Dan saat itulah duniaku mulai runtuh.
Ada tahi lalat kecil di bawah mata kirinya.
Persis seperti milik Miguel.
Sama persis.
Lokasi yang sama.
Bentuk yang sama.
Ukuran yang sama.
Seolah ada sesuatu yang mencengkeram jiwaku.
“Siapa namanya?” tanyaku.
Marco menelan ludah.
“Gabriel.”
“Kapan dia lahir?”
“Tiga hari yang lalu.”
Tiga hari.
Dan minggu itu seharusnya Miguel tepat berusia tiga bulan.
Aku mencoba meyakinkan diriku sendiri.
Ini hanya kebetulan.
Tetapi ada sesuatu yang aneh pada Marco.
Dia tidak terlihat seperti duda yang kehilangan istrinya.
Dia terlihat seperti pria yang menyimpan rahasia.
Rahasia besar.
Pandanganku turun ke gelang kaki bayi itu.
Dan saat itulah napasku benar-benar terhenti.
Di sana tidak tertulis nama Gabriel.
Yang tertulis adalah:
**”Baby Boy Reyes.”**
Dan di bawahnya…
Ada nomor yang ditulis dengan pulpen biru.
Nomor yang tidak mungkin kulupakan.
Karena nomor itu masih menempel sampai sekarang pada kotak kenangan Miguel.
Nomor yang sama.
Nomor yang sama.
Nomor yang sama.
Seluruh tubuhku terasa dingin.
Seolah udara di sekitarku menghilang.
“Marco…”
kataku pelan.
“Kenapa nomor berkasnya sama dengan anakku?”
Wajahnya langsung pucat.
Seolah baru saja melihat hantu.
“Andrea…”
“Jangan.”
Dia mendekat.
“Ini tidak seperti yang kau pikirkan.”
“JADI AKU HARUS BERPIKIR APA?!”
Bayi itu mulai menangis.
Aku memeluknya erat.
Dan saat itulah aku menyadari sesuatu yang menakutkan.
Aku tidak menggendongnya seperti anak Marco.
Aku menggendongnya seperti anakku sendiri.
Dan itulah yang paling menakutkan.
Aku melirik tas perlengkapan bayi.
Ada map berwarna merah muda yang sedikit terlihat keluar.
Dengan cepat aku mengambilnya sebelum Marco sempat menghentikanku.
“Andrea, jangan!”
Tetapi sudah terlambat.
Aku membuka map itu.
Dan di dalamnya terdapat dokumen-dokumen.
Catatan medis.
Dokumen pemindahan.
Foto-foto.
Dan satu foto yang membuat jantungku berhenti berdetak.
Aku.
Berbaring di ranjang rumah sakit.
Lelah.
Kurang tidur.
Dan sedang menggendong Miguel.
Foto yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Mereka tidak pernah memberikannya kepadaku.
Aku bahkan tidak tahu foto itu ada.
Di balik foto tersebut terdapat tulisan tangan.
Sangat familiar.
Tulisan tangan istri Marco.
Bianca.
Dan yang tertulis di sana adalah:
**”Itu dia. Jangan pernah lepaskan dia dari pengawasan kalian.”**
Kepalaku terasa meledak.
Aku segera membalik halaman-halaman berikutnya.
Dan di situlah aku melihat akta kematian Miguel.
Dokumen yang membuatku menguburkan anakku sendiri.
Namun ada secarik catatan kuning yang ditempel di bagian bawah.
Dan ketika membacanya…
Tubuhku langsung gemetar.
Tertulis:
**”Bayi tersebut tidak meninggal. Dipindahkan ke bangsal lain pukul 02.17 dini hari.”**
Bayi itu tidak meninggal.
Dipindahkan.
Tidak meninggal.
Dipindahkan.
Tidak meninggal.
Dipindahkan.
Air mataku mulai jatuh.
Satu.
Dua.
Tiga.
Saat aku menatap bayi yang tertidur di pelukanku.
Tahi lalatnya.
Wajahnya.
Hidungnya yang mirip ayahnya.
Dan matanya yang hampir sama denganku.
Perlahan aku menoleh ke arah Marco.
Dia sudah berlutut di lantai.
Menangis.
Hancur.
Kalah.
Dan sebelum aku sempat berbicara…
Dia terisak.
“Andrea…”
“Tolong…”
“Jangan lakukan tes DNA.”
Seolah dunia berhenti berputar.
Semua suara menghilang.
Aku hanya bisa mendengar napasku sendiri.
“Jangan?”
ulangku pelan.
Dia mengangguk sambil menangis.
Lalu mengucapkan satu kalimat yang mengguncang seluruh hidupku.
**”Karena jika hasilnya keluar… kau akan tahu siapa sebenarnya yang memerintahkan penculikan Miguel darimu pada malam itu.”**

Dan untuk pertama kalinya…
Bukan Marco yang kutakuti.
Melainkan nama yang aku tahu akan keluar dari mulutnya berikutnya.
“Siapa, Marco?” suaraku bergetar hebat, nyaris seperti bisikan yang mencekik tenggorokanku sendiri. “Katakan siapa!”
Marco tidak berani menatap mataku. Dia menyembunyikan wajahnya di kedua telapak tangannya, bahunya berguncang hebat karena tangis ketakutan. “Istrinya… maksudku, mendiang Bianca… dia tidak mandul, Andrea. Dia sengaja memalsukan kondisinya agar aku kasihan. Tapi motifnya jauh lebih mengerikan dari itu.”
Aku mengeratkan pelukanku pada Miguel—bukan Gabriel, dia adalah Miguel-ku yang sempat kunyatakan mati—merasakan detak jantung kecilnya yang berdegup ritmis di dadaku. Kehangatan ini, tahi lalat ini, nomor berkas ini… semuanya nyata. Anakku masih hidup.
“Bianca hanyalah boneka, Andrea,” isak Marco, suaranya dipenuhi penyesalan yang terlambat. “Malam itu, di rumah sakit, orang yang membayar dokter kandungan, orang yang memalsukan surat kematian Miguel, dan orang yang menyerahkan bayi ini ke tangan Bianca… adalah suamimu yang sekarang. Lucas.”
BUM!
Kata-kata itu menghantamku seperti petir di siang bolong. Kepalaku berdenging hebat.
Lucas? Pria yang kunikahi dua tahun lalu? Pria yang selalu memelukku setiap kali aku terbangun sambil menangis karena merindukan bayiku? Pria yang dua bulan lalu mengemas koper dan meninggalkanku karena katanya “tidak sanggup lagi melihat kesedihanku”?
“Kamu bohong!” teriakku, air mata kemarahan mulai mengalir deras. “Lucas sangat mencintaiku! Dia yang menemaniku ke pemakaman kosong itu!”
“Dia menemanimu karena dia yang merancang pemakaman itu, Andrea!” Marco mendongak, matanya merah memancarkan keputusasaan. “Kamu tahu kenapa Bianca mendekatiku lima tahun lalu? Karena dia adalah adik sepupu Lucas! Mereka berdua mengincar harta warisan dari mendiang kakekmu yang hanya bisa turun kepada cicit laki-laki pertama yang sah secara hukum!”
Marco merangkak mendekat, namun aku mundur setapak, menatapnya dengan pandangan penuh kewaspadaan.
“Jika kamu melahirkan anak bersamaku, anak itu akan menjadi ahli waris sah tunggal kekayaan keluargamu,” lanjut Marco dengan suara gemetar. “Lucas tahu itu. Dia mendekatimu sejak kita bercerai, merencanakan segalanya. Bianca bertugas mengambil anak itu dari rumah sakit dengan bantuan jaringan ilegal mereka, memalsukan identitasnya sebagai anak kandung kami, sementara Lucas berakting sebagai pahlawan yang menyembuhkan hatimu yang terluka.”
“Lalu kenapa… kenapa kamu membawanya kembali kepadaku sekarang?!” sergahku, napas kejar-kejaran dengan detak jantungku yang menggila.
“Karena Bianca sudah meninggal!” raung Marco. “Dan setelah Bianca tiada, Lucas datang menemuiku kemarin. Dia tidak peduli dengan kematian adiknya. Dia hanya menuntut agar bayi ini diserahkan kepadanya agar dia bisa mengklaim seluruh dana warisan atas nama dirinya sebagai wali sah. Saat itulah aku sadar… jika bayi ini jatuh ke tangan Lucas, dia tidak akan membiarkan anak ini hidup lama setelah uang itu cair.”
Marco bersujud di depanku, dahinya menyentuh lantai marmer yang dingin. “Aku berdosa karena pernah mengkhianatimu dan menutup mata saat Bianca membawa bayi ini pulang dulu. Tapi tolong, Andrea… selamatkan Miguel. Lucas sedang mencarinya. Dia memalsukan kepergiannya dari rumahmu hanya untuk mempersiapkan dokumen adopsi paksa ini!”
Tepat saat kalimat terakhir Marco selesai diucapkan, terdengar suara langkah kaki yang berat dari arah beranda luar.
KLIK.
Pintu depan rumahku yang tidak terkunci perlahan terbuka. Sosok pria dengan mantel panjang hitam berdiri di ambang pintu. Wajahnya yang biasa terlihat lembut kini sedingin es. Di tangannya, ada sebuah map hitam dan sebuah kunci mobil.
Itu Lucas.
Dia menatapku, lalu beralih menatap Marco yang masih bersujud di lantai, dan akhirnya pandangannya tertuju pada bayi di pelukanku.
“Ah, ternyata kamu di sini, Marco. Mempersingkat pekerjaanku,” ucap Lucas dengan nada suara yang sangat tenang, namun begitu mengerikan. Dia melangkah masuk, menutup pintu di belakangnya dengan perlahan.
Lucas menatapku, lalu tersenyum tipis—senyuman yang selama dua tahun ini kupikir adalah simbol cinta, namun kini terlihat seperti seringai iblis. “Andrea, sayang… kembalikan anak itu padaku. Masalah kita sudah selesai, bukan? Kamu tidak perlu lagi menangis setiap malam, karena ‘beban’ itu sudah tidak ada di rumah ini.”
Aku melangkah mundur hingga punggungku membentur tembok. Aku mendekap Miguel seerat mungkin, menutupi tubuh mungilnya dengan kedua tanganku. Detik itu juga, seluruh kesedihan dan kerapuhan yang kupelihara selama tiga bulan ini menguap tanpa bekas. Yang tersisa hanyalah naluri seorang ibu yang siap mencabik siapa saja yang mencoba menyentuh anaknya.
“Jangan pernah… berani mendekat, Lucas,” desisku, mataku menyalang penuh dendam. “Permainanmu sudah berakhir. Anakku… tidak akan pernah pergi kemana-mana lagi.”