Posted in

KAKAK PEREMPUANKU MENINGGAL DI HARI PERNIKAHANKU — SEMINGGU KEMUDIAN, REKAN KERJANYA MENELPON DAN BERKATA: “DIA MENINGGALKAN SEBUAH PONSEL DAN SURAT UNTUKMU. SEGERA DATANG KE KANTOR!”**

KAKAK PEREMPUANKU MENINGGAL DI HARI PERNIKAHANKU — SEMINGGU KEMUDIAN, REKAN KERJANYA MENELPON DAN BERKATA: “DIA MENINGGALKAN SEBUAH PONSEL DAN SURAT UNTUKMU. SEGERA DATANG KE KANTOR!”**

Kakak perempuanku, **Camille**, dan aku tidak pernah benar-benar dekat.

Kami saling menyayangi sebagai saudara, tetapi kepribadian kami sangat berbeda.

Dia serius.

Aku lebih ramah dan mudah bergaul.

Dan ketika aku memperkenalkan tunanganku, **Adrian**, kepada keluargaku, ada sesuatu yang aneh yang langsung kusadari.

Camille bersikap dingin padanya.

Sangat dingin.

Di setiap acara keluarga, dia hampir tidak pernah berbicara dengan Adrian.

Dan kalaupun berbicara, nada suaranya selalu tajam.

Aku tidak mengerti alasannya.

Padahal Adrian baik.

Atau setidaknya, itulah yang kupikirkan.

Saat kami sibuk mempersiapkan pernikahan di sebuah gereja di Quezon City, Camille semakin menjauh.

Dia tidak ikut sesi fitting gaun.

Tidak pernah membalas pesan grup keluarga.

Dan sering menghilang setiap kali pembicaraan beralih ke Adrian.

Saat itu aku mengira dia hanya sedang menghadapi masalah pribadi.

Sampai malam pesta bridal shower-ku.

Dia mendatangiku ketika para tamu sedang asyik mengobrol dan tertawa.

Wajahnya pucat.

Matanya seperti seseorang yang sudah berhari-hari tidak tidur.

Dia menggenggam tanganku erat.

“Isabel.”

Suaranya pelan, tetapi penuh keputusasaan.

“Batalkan pernikahan ini.”

Rasanya seperti disiram air es.

“Apa?”

Aku langsung berdiri karena terkejut.

“Kenapa Kakak bilang begitu?”

Dia tidak langsung menjawab.

Dia melihat ke sekeliling terlebih dahulu.

Seolah takut ada yang mendengar.

“Aku belum bisa menjelaskannya sekarang.”

“Tapi tolonglah.”

“Jangan menikahi Adrian.”

Darahku langsung mendidih.

“Kak, aku mencintainya.”

“Pernikahan tinggal seminggu lagi.”

“Hentikan omongan seperti itu.”

Air mata menggenang di matanya.

Tetapi dia tidak berkata apa-apa lagi.

Dia pergi dalam diam.

Dan itulah percakapan serius terakhir kami.

Karena aku tidak mempercayainya.

Aku memilih mempercayai pria yang kucintai.

Hari pernikahan akhirnya tiba.

Upacaranya sangat indah.

Gereja dipenuhi keluarga dan sahabat.

Saat aku berjalan menuju altar, Adrian tersenyum kepadaku.

Dan saat itu aku merasa hidup bahagia baru saja dimulai.

Setelah upacara selesai, semua tamu berangkat menuju lokasi resepsi di Tagaytay dengan kendaraan masing-masing.

Satu per satu tamu berdatangan.

Para saksi datang.

Kerabat datang.

Teman-teman datang.

Tetapi Camille tidak muncul.

Awalnya kami mengira dia hanya terjebak macet.

Tiga puluh menit berlalu.

Kami mulai khawatir.

Satu jam kemudian…

dia masih tidak mengangkat telepon.

Tidak membalas pesan.

Sampai akhirnya ponsel ibuku berdering.

Seorang polisi berada di ujung telepon.

Katanya telah terjadi kecelakaan di jalan.

Seakan seluruh suara di sekelilingku lenyap.

Kami segera menuju lokasi.

Saat itu hujan turun sangat deras.

Menurut hasil penyelidikan, Camille mengambil rute yang berbeda.

Jalanan licin.

Dia kehilangan kendali atas mobilnya.

Dan kendaraan itu jatuh ke sungai yang sangat dalam.

Ketika kami tiba…

aku melihat mobil yang sudah hancur.

Tetapi Camille tidak ditemukan.

Tim penyelamat mengatakan arus sungai sangat deras.

Kemungkinan besar dia terseret air.

Dan hampir mustahil seseorang bisa selamat dari kecelakaan seperti itu.

Ibuku menangis histeris.

Ayahku jatuh berlutut.

Sedangkan aku…

bahkan tidak mampu menangis.

Seolah seluruh diriku membeku.

Saat kami pulang, Adrian berusaha menghiburku.

Dia memelukku.

Menghapus air mataku.

Dan terus mengatakan bahwa semuanya akan baik-baik saja.

Tetapi ada sesuatu yang terasa sangat berat di dadaku.

Seolah ada sesuatu yang belum selesai.

Seolah ada peringatan yang tidak pernah kudengarkan.

Seminggu berlalu.

Seminggu penuh dengan upacara duka, pencarian, dan tangisan.

Hingga suatu pagi…

sahabat sekaligus rekan kerja Camille meneleponku.

Namanya **Marissa**.

Saat itu Adrian sedang berada di kantor.

Dan aku sendirian di rumah.

Nada suaranya terdengar aneh.

Gugup.

Takut.

“Isabel.”

“Kamu harus segera datang ke sini.”

“Kenapa?”

Hening cukup lama.

Lalu dia berbicara.

“Camille meninggalkan sesuatu untukmu.”

“Apa?”

“Sebuah ponsel.”

“Dan sebuah surat.”

Seluruh tubuhku langsung terasa dingin.

Aku segera mengemudi menuju kantornya di Makati.

Tanganku gemetar saat memasuki lift.

Ketika sampai di meja Marissa…

di sana ada sebuah ponsel lama.

Dan sebuah amplop putih.

Namaku tertulis di atasnya.

**Untuk Isabel.**

Jantungku terasa ingin meloncat keluar saat membuka surat itu.

Dan ketika membaca baris pertama…

aku lupa cara bernapas.

*”Isabel, jika kamu membaca surat ini sekarang…”*

*”Itu berarti kebenaran sudah terungkap.”*

*”Dan kemungkinan besar aku sudah mati.”*

Tanganku mulai gemetar.

*”Jangan percaya kepada Adrian.”*

*”Apa pun yang terjadi…”*

*”Jangan pernah percaya padanya.”*

Ruangan terasa berputar.

Ada satu kalimat lagi di bagian bawah.

*”Buka video terakhir di galeri ponsel ini.”*

Darahku terasa membeku.

Aku segera mengambil ponsel itu.

Menyalakannya.

Membuka galeri.

Dan menemukan video paling terakhir.

Jariku bergetar saat menekan tombol PLAY.

Dan pada detik pertama video itu…

aku melihat Camille.

Dia sedang menangis.

Sangat ketakutan.

Dan di belakangnya…

berdiri seorang pria yang baru kukenal beberapa bulan lalu.

Suamiku sendiri.

Adrian.

Dan sebelum kakakku mulai berbicara dalam video itu…

sebuah notifikasi tiba-tiba muncul di layar.

**NOMOR TAK DIKENAL:**

*”Jika kamu sudah menonton video itu…”*

*”Berarti kamu sudah terlambat.”*

Dan saat itulah aku merasakan ketakutan yang sesungguhnya untuk pertama kalinya dalam hidupku.

Notifikasi itu membuatku terkesiap. Belum sempat aku menggeser layar untuk membaca ulang pesan tersebut, pintu ruangan Marissa tiba-tiba terbuka dengan kasar.

Seorang pria berdiri di ambang pintu dengan napas terengah-engah.

Adrian.

“Isabel!” panggilnya dengan suara yang terdengar cemas, namun matanya langsung tertuju pada ponsel lama di tanganku. “Syukurlah kamu di sini. Tadi aku menelepon ke rumah dan kamu tidak ada. Marissa, kenapa kamu membawa istriku ke sini?”

Langkah kaki Adrian mendekat. Refleks, aku menyembunyikan surat Camille di balik tas dan menekan tombol kunci pada ponsel tersebut. Seluruh bulu kudukku berdiri. Pria yang selama ini kupeluk setiap malam, kini terasa seperti orang asing yang paling berbahaya di dunia.

“Adrian… kenapa kamu bisa tahu aku di sini?” tanyaku, berusaha menjaga agar suaraku tidak bergetar.

“Aku… aku melacak lokasi ponselmu, Sayang,” jawabnya sambil tersenyum menenangkan, namun senyum itu kini terlihat seperti topeng yang retak. “Aku khawatir melihatmu pergi terburu-buru. Ayo, kita pulang. Tempat ini hanya akan membuatmu semakin sedih mengingat Camille.”

Aku menatap Marissa. Wajah rekan kerja kakakku itu pucat pasi, matanya memberi kode rahasia agar aku segera pergi dari sana.

“Aku akan pulang bersama Adrian, Marissa. Terima kasih,” kataku, memotong pembicaraan sebelum Adrian mencium keganjilan yang lebih besar. Aku memasukkan ponsel lama Camille ke dalam saku jaket dan menggandeng tangan Adrian, berpura-pura semuanya baik-baik saja. Tangannya terasa sangat dingin.

Misteri di Balik Layar yang Terkunci

Sesampainya di rumah, Adrian langsung mandi. Begitu mendengar suara gemercik air dari kamar mandi, aku berlari ke ruang kerja, mengunci pintu, dan kembali menyalakan ponsel Camille.

Aku menekan tombol PLAY pada video yang sempat tertunda.

Video itu diambil secara sembunyi-sembunyi, sepertinya dari kamera dasbor (dashcam) mobil Camille yang sengaja ia lepas dan hadapkan ke kursi penumpang. Di dalam video, Camille sedang menangis di bawah ancaman Adrian.

Adrian (dalam video): “Jangan lancang, Camille! Kalau kamu berani membuka mulut pada Isabel tentang apa yang terjadi di Singapura, aku bersumpah tidak akan ada pernikahan, dan adikmu tidak akan pernah melihatmu lagi!”

Camille (menangis): “Kamu penipu, Adrian! Kamu mendekati Isabel hanya untuk menguasai dana perwalian (trust fund) warisan kakek kami! Kamu yang menyebabkan kematian mantan tunanganmu di Singapura demi asuransi, dan sekarang kamu mau melakukan hal yang sama pada adikku?!”

Adrian: “Hapus semua bukti itu, atau aku sendiri yang akan menghapusmu dari dunia ini.”

Video itu berakhir dengan suara bantingan pintu mobil.

Dadaku sesak. Air mata yang selama seminggu ini tertahan akhirnya tumpah. Camille tidak menjauh karena membenciku. Dia sedang bertaruh nyawa untuk menyelidiki pria psikopat yang kulabeli sebagai “cinta sejati”. Kecelakaan di Tagaytay itu bukan karena jalanan licin—mobil Camille sengaja disabotase oleh Adrian.

Tiba-tiba, ponsel Camille bergetar lagi. Nomor tak dikenal yang mengirim pesan ancaman di kantor Marissa tadi kembali mengirim teks:

“Jangan menengok ke belakang. Temui aku di dermaga darurat Danau Taal, di bawah tebing Tagaytay, sekarang. Bawa ponsel itu. Dan jangan bawa suamimu jika kamu masih ingin melihat kakakmu hidup.”

Jantungku berhenti berdetak.

Melihat kakakmu hidup?

Apakah Camille masih hidup?!

Jebakan di Tepi Danau

Tanpa berpikir panjang, aku meninggalkan surat tiruan di atas meja makan yang menyatakan aku pergi ke rumah ibuku untuk menenangkan diri. Aku memacu mobilku menembus hujan deras menuju Tagaytay, ke titik koordinat yang dikirimkan oleh nomor misterius tersebut.

Dermaga itu sepi, gelap, dan hanya diterangi oleh satu lampu jalan yang berkedip-kedip. Angin kencang dari Danau Taal membuat suasana semakin mencekam.

Sebuah bayangan bertopi hitam berdiri di ujung dermaga. Saat aku mendekat dengan gemetar, sosok itu berbalik dan membuka topinya.

Marissa.

“Marissa? Jadi kamu yang mengirim pesan itu?” tanyaku terengah-engah. “Di mana Camille?! Apa maksud pesanmu?!”

“Maafkan aku harus memancingmu dengan cara ini, Isabel,” kata Marissa dengan mata berkaca-kaca. “Adrian memasang alat penyadap di ponselmu dan mobilmu. Hanya di tempat terpencil dan berbadai seperti ini sinyal penyadapnya terganggu. Dan tentang Camille…”

Marissa menunjuk ke sebuah perahu nelayan kecil yang bersandar di balik semak-semak dermaga. Dari dalam perahu, sesosok wanita dengan perban di kepala dan tangan yang digendong keluar dengan lemah.

“Camille!” tangisku pecah.

Aku berlari dan memeluk kakakku yang basah kuyup. Dia masih hidup. Malam kecelakaan itu, Camille berhasil keluar dari mobil tepat sebelum mobil itu terjun ke sungai, namun kepalanya membentur batu. Marissa, yang sudah curiga sejak awal, diam-diam mencari Camille di sepanjang aliran sungai bawah sebelum tim SAR resmi datang, dan menyembunyikannya di rumah aman milik keluarganya.

“Isabel…” bisik Camille lemah, suaranya parau. “Maafkan Kakak… Kakak tidak bermaksud merusak hari bahagiamu… Kakak hanya ingin melindungimu…”

“Tidak, Kak. Aku yang bodoh,” kataku sambil menangis histeris. “Aku yang tidak pernah mendengarkanmu.”

“Kita harus pergi sekarang,” potong Marissa panik. “Adrian sudah tahu Camille tidak mati. Dia sedang mencari kalian berdua.”

Namun, kalimat Marissa terlambat.

Sorot lampu mobil yang sangat terang tiba-tiba menembak ke arah dermaga. Suara deru mesin mobil yang sangat kukenal berhenti tepat di belakang mobilku.

Pintu mobil terbuka. Adrian melangkah keluar, memegang sebuah besi dongkrak mobil di tangannya. Senyum ramah yang biasa kulihat kini telah digantikan oleh tatapan dingin seorang predator.

“Kalian pikir, kalian bisa lari dariku setelah memegang semua kartu as-ku?” tanya Adrian sambil berjalan pelan mendekati dermaga. “Sayang sekali, Isabel. Padahal jika kamu tetap menjadi istri yang penurut, kamu tidak perlu berakhir mengenaskan di danau ini bersama kakakmu yang tercinta.”

Pembalasan yang Sempurna

Aku melangkah mundur, melindungi Camille di belakang tubuhku. “Kamu tidak akan bisa lolos, Adrian! Aku sudah melihat videonya! Polisi akan tahu!”

“Polisi?” Adrian tertawa sinis, suaranya beradu dengan petir. “Di tengah badai seperti ini? Siapa yang akan percaya? Kalian berdua akan dinyatakan hilang tenggelam karena kecelakaan beruntun.”

Adrian mengangkat besi dongkraknya, siap mengayunkannya ke arahku.

Namun, tepat sebelum besi itu turun, suara sirine polisi menggema dari arah jalan raya atas. Bukan hanya satu, melainkan lima mobil polisi langsung mengepung area dermaga, mengunci pergerakan Adrian dengan lampu rotator merah-biru yang menyilaukan.

Adrian tersentak, wajahnya seketika pucat. “Bagaimana mungkin…”

Dari balik barisan polisi, ayah dan ibuku keluar dengan wajah penuh amarah, didampingi oleh seorang detektif dari Kepolisian Quezon City.

Aku menatap Adrian sambil mengangkat ponsel lama Camille yang layarnya masih menyala.

“Kamu lupa satu hal, Adrian,” kataku, air mataku mengering, digantikan oleh ketegasan yang diajarkan Camille padaku.

“Sebelum aku pergi ke kantor Marissa, aku sudah curiga karena kamu melacak ponselku. Jadi, aku sengaja menyalin seluruh isi video dasbor itu ke Cloud storage bersama keluarga dan pihak kepolisian sebelum aku menemuimu di sini. Aku tidak memancingmu ke sini untuk mati, Adrian… Aku memancingmu ke sini agar polisi bisa menangkapmu basah atas percobaan pembunuhan.

Detektif polisi langsung meredam perlawanan Adrian, menjatuhkannya ke tanah yang berlumpur, dan memborgol tangannya dengan erat. Adrian berteriak histeris, memaki namaku, namun suaranya tenggelam oleh deru angin dan sirine.

Aku berbalik dan memeluk Camille kembali, kali ini lebih erat dari sebelumnya.

Pernikahanku mungkin hancur di hari yang sama saat hidup baru dimulai, tetapi di tepi danau yang dingin ini, aku tahu aku telah mendapatkan kembali sesuatu yang jauh lebih berharga: kebenaran, keselamatan hidupku, dan kakak perempuan yang mencintaiku lebih dari nyawanya sendiri.