PADA HARI PERNIKAHANKU, SAHABAT TERBAIK MEMPELAI PRIA MENYEMPROTKU DENGAN APAR—TAPI SAAT DIA MENYEBUTNYA “HANYA LELUCON”, SATU KEPUTUSANKU MENGHANCURKAN MEREKA SEMUA**
Selama dua puluh detik penuh, aku disemprot dengan alat pemadam api tepat di hari pernikahanku.
Saat aku membuka mata, yang kulihat hanyalah kabut putih. Aku bahkan tidak bisa lagi melihat pria yang seharusnya menjadi suamiku.
Namun alih-alih segera membawaku ke rumah sakit, tunanganku justru tertawa di depan lebih dari tiga ratus tamu.
“Maaf semuanya,” katanya. “Pengantinku memang tidak pandai menerima lelucon.”
Saat itulah aku melepas cincin pertunanganku.
Dan untuk pertama kalinya dalam empat tahun, aku berhenti menjadi orang yang selalu mengerti dan memaafkan.
Sejak pagi, ballroom megah sebuah hotel bintang lima di Jakarta telah dipenuhi bunga.
Di luar bridal suite, terdengar alunan biola yang lembut dan langkah kaki para koordinator acara yang sibuk. Sementara itu, aku duduk diam di depan cermin besar, merapikan sapuan terakhir lipstikku.
Aku mengenakan gaun pengantin model mermaid berwarna putih yang telah kutabung berbulan-bulan untuk membuatnya pada seorang desainer lokal. Kerudung panjang terpasang rapi di rambutku yang ditata dengan sempurna. Telapak tanganku dingin dan sedikit gemetar.
Empat tahun.
Empat tahun sejak aku bertemu Gabriel Montero di sebuah kedai kopi kecil tempat kami sama-sama bekerja saat baru memulai karier.
Aku menemaninya saat ia belum memiliki mobil. Saat kami harus berbagi satu porsi pasta karena berhemat. Saat ia begadang menyiapkan presentasi besar pertamanya dan aku yang mencetak slide presentasinya sementara ia tertidur di sofa.
Karena itu, ketika ia mengatakan siap menikahiku, aku percaya hari itu akan menjadi awal babak paling bahagia dalam hidup kami.
Tiba-tiba pintu terbuka.
Masuklah Bianca Alvarado, sahabat masa kecil Gabriel.
Ia mengenakan gaun bridesmaid berwarna champagne yang dipilihnya sendiri. Sepatu hak tingginya tampak sempurna, begitu pula rambut ikalnya yang tertata rapi. Di satu tangannya ada segelas sparkling wine.
Tangan satunya tersembunyi di belakang punggung.
“Gugup?” tanyanya sambil tersenyum melalui pantulan cermin.
“Sedikit,” jawabku.
Aku sudah lama mengenal Bianca.
Dialah wanita yang selalu pertama kali dihubungi Gabriel setiap kali ada kabar baik. Dialah yang selalu mendapat tempat istimewa dalam setiap acara keluarga Montero.
Saat aku pernah mengatakan bahwa aku tidak nyaman jika Bianca menjadi maid of honor, Gabriel langsung menegurku.
“Bianca sudah seperti saudara perempuanku sendiri,” katanya. “Jangan berpikir macam-macam.”
Aku memilih untuk percaya.
Kini Bianca tersenyum di belakangku seolah tidak pernah ada ketegangan di antara kami.
“Aku punya kejutan kecil untuk pengantin wanita,” katanya.
Ia mengeluarkan benda yang selama ini disembunyikannya.
Sebuah alat pemadam api berwarna putih.
Aku mengernyit.
“Bianca, itu apa?”
Ia tidak menjawab.
Ia mengangkat noselnya.
Dan sebelum aku sempat berdiri, ia menekan tuasnya.
Semburan bubuk putih tebal langsung menghantam wajahku.
“Bianca!”
Aku memejamkan mata dan menjerit.
Bubuk itu masuk ke hidungku. Menempel di bibirku. Mataku terasa seperti digosok pasir halus dari dalam kelopak.
Aku menutupi wajahku dengan kedua tangan.
Tapi ia tidak berhenti.
Semburan itu terus berlanjut.
Lagi.
Dan lagi.
Dan lagi.
Aku mundur hingga punggungku membentur meja rias. Beberapa botol parfum jatuh. Kursi terguling. Salah satu sudut cermin pecah.
“Berhenti!” teriakku.
Aku bahkan tidak tahu berapa lama waktu berlalu sebelum alat pemadam itu akhirnya berhenti menyembur.
Orang-orang berlarian masuk dari luar.
“Apa yang terjadi?”
“Ya Tuhan, pengantinnya!”
“Cepat ambil air!”
Aku berlutut di lantai sementara air mataku terus mengalir. Aku tidak bisa membuka mata dengan benar. Setiap kali mencoba, rasa sakitnya semakin menjadi.
Seseorang menyiramkan air minum kemasan ke wajahku. Seseorang memegang bahuku. Ada yang menyuruh memanggil ambulans.
Di tengah kekacauan itu, aku mendengar suara Bianca.
“Aku tidak sengaja!”
Ia menangis.
Atau berpura-pura menangis.
“Aku kira itu snow spray! Aku cuma ingin memberi kejutan. Aku menemukannya di ruang penyimpanan. Aku tidak tahu kalau itu alat pemadam api!”
Tak lama kemudian Gabriel datang.
Aku mendengar langkah cepatnya menginjak pecahan kaca.
“Lara!”
Ia menghampiriku dan memegang lenganku.
“Lara, lihat aku.”
“Aku tidak bisa melihatmu,” kataku.
Ia terdiam.
“Dia menyemprotku dengan alat pemadam api,” lanjutku. “Bukan cuma satu detik. Itu bukan kecelakaan. Dia tidak berhenti meskipun aku sudah berteriak.”
Gabriel menarik napas panjang.
Kupikir ia akan memarahi Bianca.
Kupikir ia akan langsung memanggil ambulans.
Kupikir ia akan memelukku dan mengatakan bahwa keselamatanku adalah hal yang paling penting.
Namun ia malah menghampiri Bianca.
“Kenapa kamu melakukan itu?” tanyanya.
“Aku tidak sengaja, Gab,” isak Bianca. “Aku benar-benar mengira itu cuma spray. Aku bodoh sekali. Maaf. Maaf banget.”
Beberapa detik ia terdiam.
Lalu aku mendengar suara Gabriel yang lembut.
“Sudahlah. Jangan menangis lagi.”
Seolah ada sesuatu yang dingin mengiris dadaku.
Ia kembali ke sampingku.
“Lara,” katanya, “cuci muka dulu. Masih ada makeup artist. Kita bisa memperbaiki semuanya.”
Aku mencengkeram sisi meja.
“Apa?”
“Semua orang sudah menunggu di ballroom. Ada klien ayahku, teman-teman keluarga, juga para eksekutif perusahaan. Kalau kita membatalkan sekarang—”
“Aku tidak bisa melihat wajahmu, Gabriel.”
“Mungkin cuma karena panik. Itu hanya bubuk, bukan asam.”
“Aku tidak bisa melihat wajahmu.”
Kali ini aku tidak berteriak.
Aku juga tidak menangis.
Tiba-tiba semuanya menjadi sangat jelas.
Ia tidak melindungiku.
Ia tidak mengutamakanku.
Reputasi keluarganya, para tamu, dan air mata Bianca jauh lebih penting baginya daripada wanita yang mengenakan gaun pengantin di depannya.
Aku berdiri meski lututku gemetar.
Ia menarik tanganku.
“Mau ke mana?”
“Ke ballroom.”
“Lara, jangan membuat keributan.”
Aku tidak menghiraukannya.
Aku meraba dinding saat berjalan keluar dari bridal suite. Yang kulihat hanya bayangan putih. Pipiku basah. Rambutku penuh bubuk. Riasanku sudah hancur.
Ketika musik di ballroom berhenti, aku tahu aku sudah berada di tengah panggung.
Aku menggenggam mikrofon yang dingin.
“Selamat siang,” kataku dengan suara yang berusaha tetap tenang. “Saya minta maaf kepada semuanya. Pernikahan ini tidak akan dilanjutkan.”
Para tamu langsung gempar.
“Apa?”
“Ada apa dengan wajahnya?”
“Mana mempelai pria?”
Aku melanjutkan.
“Beberapa menit yang lalu, saya disemprot alat pemadam api oleh maid of honor. Saat ini saya hampir tidak bisa melihat. Saya akan pergi ke rumah sakit. Semua hadiah yang telah diterima akan kami kembalikan sepenuhnya.”
Gabriel segera menghampiriku dan mencengkeram pergelangan tanganku.
“Lara, cukup,” bisiknya. “Jangan mempermalukan kami.”
“Lepaskan aku.”
“Banyak orang penting di sini.”
“Lepaskan aku.”
Ia tidak bergerak.
Maka aku melepas cincin pertunanganku dan meletakkannya di telapak tangannya.
“Aku tidak akan menikah denganmu.”
Seluruh ballroom mendadak sunyi.
Lalu Gabriel tertawa kaku dan menghadap para tamu.
“Maaf semuanya,” katanya. “Lara hanya sedang emosional. Kalian tahu sendiri, dia memang tidak bisa diajak bercanda.”
Beberapa tamu tertawa canggung.
Saat itulah aku tersenyum.
Bukan karena perkataannya lucu.
Tetapi karena ada bagian dalam diriku yang mati saat itu juga—bagian yang selalu memaafkan, selalu memahami, dan selalu diam.
“Camille,” panggilku.
Dari barisan depan, sahabatku segera berdiri.
“Aku di sini,” jawabnya.
“Tolong antar aku ke rumah sakit.”
Ia menggenggam tanganku dan membantuku turun dari panggung.
Sebelum pintu ballroom tertutup di belakang kami, aku masih sempat mendengar suara Gabriel.
“Lara! Kembali ke sini!”
Aku tidak menoleh.
Di unit gawat darurat sebuah rumah sakit swasta di Jakarta, aku langsung dibawa ke bagian oftalmologi.
Setelah beberapa pemeriksaan, dokter meletakkan senter yang digunakannya.
“Nona de Leon,” katanya, “ada iritasi kimia dan beberapa goresan pada kornea Anda. Saya belum bisa memastikan seberapa besar dampak permanennya.”
Jari-jariku terasa dingin.
Camille memegang bahuku.
Namun dokter belum selesai.
“Kita harus terus memantau penglihatan Anda. Ada kemungkinan penglihatan Anda tidak langsung kembali normal.”
Aku tidak mampu menjawab.
Tepat saat itu, pintu ruang konsultasi terbuka.
Gabriel masuk.
Ia tidak membawa bunga.
Ia juga tidak tampak khawatir.
Ia membawa sebuah map.
Dan di belakangnya, Bianca mengikuti—wajahnya sudah bersih, rambutnya rapi, dan tangannya melingkar di lengan Gabriel seolah dialah yang membutuhkan dukungan.
Gabriel meletakkan map itu di ranjangku.
“Lara,” katanya, “tinggal tanda tangan ini saja supaya masalahnya tidak semakin besar.”
Aku meraba berkas itu.
“Apa ini?”
Ia tidak langsung menjawab.
Camille mengambil map tersebut.
Beberapa detik ia terdiam saat membaca isinya.
Lalu ia mengumpat.

“Lara,” katanya dengan suara bergetar karena marah, “mereka ingin kamu menandatangani pernyataan bahwa semua ini hanyalah kecelakaan dan kamu tidak akan menuntut siapa pun.”
Kemudian ia menggenggam tanganku.
“Tapi ada satu hal yang Gabriel tidak tahu.”
Ia menarik napas panjang.
“Lara,” kata Camille, suaranya bergetar tetapi terdengar sangat puas, “Gabriel lupa kalau gedung hotel tempat kalian menyewa ballroom dan seluruh area bridal suite itu adalah milik perusahaan keluarga besarku. Dan satu hal lagi… aku baru saja menerima rekaman CCTV koridor dan ruang rias dari tim keamanan hotel.”
Mendengar kata-kata Camille, wajah Bianca yang tadinya tenang langsung berubah pucat pasi. Pegangan tangannya di lengan Gabriel mengendur.
Gabriel ikut menegang. “Camille, apa maksudmu? Jangan ikut campur urusan domestik kami. Ini cuma masalah sepele antara Lara dan Bianca!”
“Masalah sepele?” Camille tertawa sinis, lalu memutar sebuah video di ponselnya dan menghadapkannya ke arah Gabriel dan Bianca.
Meskipun pandanganku masih buram dan perih, aku bisa mendengar suara dari video itu dengan sangat jelas. Itu adalah rekaman suara Bianca di koridor tepat sebelum dia masuk ke kamarku, berbicara dengan salah satu temannya melalui telepon.
“…Tenang saja, hari ini aku akan memastikan gaun mermaid mahalnya itu berubah warna. Biar dia tahu diri, janda miskin atau anak pelayan kafe sepertinya tidak pantas bersanding dengan Gabriel di atas panggung megah itu. Aku yang menemaninya dari kecil, dia tidak boleh merebut Gabriel dariku.”
Suasana di dalam ruang perawatan rumah sakit seketika senyap seperti kuburan. Kebohongan Bianca tentang “tidak sengaja” dan mengira alat pemadam api itu adalah snow spray runtuh berkeping-keping dalam satu detik. Ini adalah tindakan penganiayaan dan sabotase yang direncanakan dengan matang karena rasa cemburu yang busuk.
Gabriel menoleh ke arah Bianca dengan tatapan tidak percaya, namun alih-alih marah besar, dia justru menatapku lagi dengan wajah memelas. “Lara… Bianca memang salah, dia kekanak-kanakan. Tapi tolong, pikirkan karierku. Ayah Bianca adalah investor utama di proyek terbaruku. Kalau kasus ini naik ke media atau hukum, aku bisa hancur!”
Aku memejamkan mataku yang terbalut perban tipis. Rasa sakit di mataku tidak sebanding dengan rasa jijik yang meluap di dadaku mendengarkan pembelaan pria yang hampir menjadi suamiku ini.
“Camille,” panggilku pelan.
“Ya, Lara? Aku di sini.”
“Hubungi Pengacara keluarga kita. Dan kirimkan video rekaman itu langsung ke akun media sosial resmi milik perusahaan keluarga Gabriel, serta tag seluruh jajaran eksekutif dan klien mereka.”
Gabriel panik. Dia mencoba merebut ponsel Camille, namun dua orang petugas keamanan rumah sakit yang dipanggil Camille sejak awal langsung menghadang tubuh Gabriel dan mendorongnya mundur.
“Lara! Jangan gila! Kamu mau menghancurkanku?!” teriak Gabriel, suaranya melengking frustrasi.
“Kamu yang menghancurkan dirimu sendiri, Gabriel, sejak kamu memutuskan untuk menganggap penglihatanku dan harga diriku sebagai sebuah lelucon,” kataku dengan suara sedingin es. “Keluar dari kamarku sebelum aku menambahkan pasal berlapis untuk tuntutan hukum kalian.”
Polisi yang dihubungi oleh Camille tiba sepuluh menit kemudian. Berbekal bukti rekaman CCTV yang menunjukkan Bianca dengan sengaja mengarahkan nosel APAR ke wajahku dalam jarak dekat tanpa henti, Bianca langsung borgol dan digiring keluar dari rumah sakit malam itu juga atas tuduhan penganiayaan berat yang menyebabkan luka fisik permanen. Dia menjerit dan menangis, memanggil nama Gabriel, namun pria itu bahkan tidak berani menoleh karena sibuk meratapi ponselnya yang mulai dibanjiri telepon dari investor yang menarik diri.
Tiga Bulan Kemudian: Kehancuran Total
Tiga bulan berlalu. Berkat penanganan dokter yang cepat, penglihatan mata kananku kembali normal 100%, sementara mata kiriku membutuhkan kacamata dengan silinder kecil akibat goresan kornea. Itu adalah harga kecil yang harus kubayar untuk sebuah kebebasan yang tak ternilai.
Keputusanku malam itu di rumah sakit benar-benar menghancurkan mereka semua tanpa sisa.
Video sabotase pernikahan itu menjadi viral di seluruh media sosial. Netizen mengecam tindakan keji Bianca dan sikap pengecut Gabriel. Akibat skandal moral tersebut, saham perusahaan keluarga Montero anjlok drastis dalam waktu satu minggu. Ayah Bianca, yang berusaha menyelamatkan nama baik bisnisnya sendiri, memutuskan hubungan kerja sama dan menarik seluruh investasinya dari proyek Gabriel.
Gabriel dinyatakan bangkrut. Rumah mewah yang baru dia beli dengan sistem kredit untuk kami tinggali setelah menikah terpaksa disita bank.
Sore itu, aku sedang duduk di kafe milikku yang baru saja resmi dibuka di daerah Jakarta Selatan ketika sebuah bayangan berdiri di depan mejaku. Aku mendongak dan melihat Gabriel.
Pria yang dulu selalu tampil rapi dengan setelan jas mahal kini terlihat sangat kacau. Rambutnya berantakan, matanya cekung, dan kemejanya kusut.
“Lara…” bisiknya, suaranya bergetar menahan tangis. “Aku mohon… cabut tuntutanmu pada Bianca. Keluarganya menuntutku untuk membayar ganti rugi atas investasi yang gagal karena mereka menyalahkan aku atas kelakuan Bianca. Aku tidak punya uang lagi, Lara. Aku tidur di mobil sekarang.”
Aku meletakkan cangkir tehku dengan perlahan, menatapnya melalui kacamata tipis yang kini kukenakan.
“Kenapa kamu tidak tertawa, Gabriel?” tanyaku dengan nada datar.
Gabriel tersentak. “Apa?”
“Dulu di depan tiga ratus tamu, kamu tertawa dan bilang aku tidak bisa diajak bercanda saat wajahku melepuh terkena bahan kimia,” kataku, setiap kata yang kuucapkan menghantam wajahnya seperti tamparan. “Sekarang, hidupmu hancur, kariermu mati, dan sahabat tercintamu membusuk di penjara menanti sidang putusan. Bukankah ini lelucon yang sangat lucu?”
Air mata Gabriel akhirnya menetes. Dia berlutut di lantai kafe, memohon di depan beberapa pelangganku yang mulai berbisik-bisik. “Maafkan aku, Lara… Aku menyesal. Tolong beri aku kesempatan kedua. Aku mencintaimu.”
“Kesempatan keduamu sudah habis di atas panggung pernikahan itu, Gabriel,” kataku sambil berdiri dan mengambil tasku. “Saat kamu memilih untuk menenangkan Bianca daripada memesankan ambulans untuk calon istrimu, kamu sudah memilih jalan hidupmu sendiri.”
Aku berjalan melewatinya yang masih menangis tersedu-sedu di lantai. Satpam kafeku segera memegangnya dan menuntunnya keluar dari area kafenya.
Aku melangkah menuju mobilku dengan kepala tegak. Di hari pernikahanku, mereka mengira mereka bisa menginjak-injakku demi sebuah “lelucon”. Namun mereka lupa, aku adalah wanita yang menemani Gabriel merangkak dari bawah; aku tahu bagaimana cara membangun sesuatu, dan aku tahu persis bagaimana cara meruntuhkannya hingga menjadi abu.