Ketika ibu saya menampar istri saya yang sedang hamil karena tidak memasak untuk adik laki-laki saya, saya terdiam selama tiga detik—lalu saya mengatakan sesuatu yang menghancurkan keluarga kami.
Saya tidak berteriak ketika melihat pipi istri saya memerah.
Saya juga tidak panik ketika melihatnya memegangi perutnya dan gemetar di sudut sofa.
Saya hanya terdiam selama tiga detik.
Lalu saya dengan tenang berkata kepada ibu saya:
“Ibu, mulai hari ini, anak-anakmu selain aku… jangan pernah bermimpi menginjakkan kaki di rumahku lagi.”
Seolah-olah udara di ruang tamu berhenti bergerak.
Saya baru saja pulang kerja dari Jakarta. Celana saya masih basah karena kehujanan di tempat parkir. Ketika saya membuka pintu apartemen, hal pertama yang menyambut saya bukanlah aroma makanan atau suasana nyaman rumah keluarga.
Tetapi aroma asap rokok.
Aroma kulit semangka.
Dan aroma sampah yang telah mengendap di ruang tamu yang panas selama berjam-jam. Di tengah kekacauan, aku melihat Mira.
Istriku, hamil enam bulan. Ia duduk di tepi sofa, kepala tertunduk, memegangi perutnya seolah melindungi anak kami dari dunia. Lima sidik jari terlihat jelas di pipi kirinya.
Merah.
Bengkak.
Baru.
Dadaku terasa seperti ditusuk.
Di depannya ada ibuku, Edna, tangan di pinggang. Matanya terbelalak seolah-olah dia adalah korban dalam situasi ini.
“Akhirnya pulang, Carlo,” teriaknya. “Lihat istrimu! Aku hanya memintanya memasak makan siang untuk saudaramu dan dia menolak! Dia hamil dan sudah bertingkah seperti ratu!”

Di satu-satunya sofa, Jun, adik bungsuku, hampir sepenuhnya terkulai.
Ia berusia dua puluh tiga tahun, tetapi bertingkah seperti anak kecil yang bahkan tidak bisa mengambil segelas air sendiri.
Kakinya disandarkan di sandaran kursi. Satu tangan memegang telepon, tangan lainnya biji semangka. Ia bahkan tersenyum lebar saat melihatku.
“Kakak, aku hanya lapar,” katanya polos. “Aku hanya ingin makan ayam adobo. Mira memasak masakan favoritku. Tapi dia marah. Itu sebabnya Ibu kesal.”
Aku tidak langsung menanggapi kata-kata Jun. Pandanganku beralih ke lantai, melihat bagaimana kulit biji semangka yang dia ludahkan berserakan di atas karpet mahal yang dibeli Mira dengan uang tabungannya sendiri.
Tiga detik.
Satu detik untuk menyadari bahwa lima tahun pengorbananku membiayai kuliah Jun dan mengirim uang bulanan ke kampung tidak pernah dihargai.
Dua detik untuk melihat air mata Mira yang menetes ke daster hamilnya, menyadari bahwa aku hampir gagal melindungi satu-satunya wanita yang tulus mencintaiku.
Dan detik ketiga untuk mematikan seluruh rasa hormat dan kasih sayang yang tersisa di dalam dadaku untuk mereka.
Lalu, kalimat itu keluar begitu saja dari mulutku. Tenang, dingin, tanpa ada nada tinggi sedikit pun.
“Ma, mulai hari ini, siapa pun anak Mama selain aku… jangan pernah bermimpi bisa masuk ke rumahku lagi.”
Ibuku tertegun. Detik berikutnya, wajahnya memerah karena merasa otoritasnya sebagai seorang ibu ditantang.
“Carlo! Apa maksudmu?! Kamu berani mengusir adikmu sendiri demi perempuan egois ini? Dia cuma ditampar sedikit karena tidak tahu sopan santun! Ibu mana yang tidak kesal melihat menantunya malas-malasan saat adiknya kelaparan?!” teriak Ibu, suaranya melengking memenuhi ruang tamu.
Jun yang tadi menyeringai kini menurunkan kakinya dari sandaran sofa. Wajah polosnya mendadak tegang. “Bang, abang bercanda, kan? Aku kan bulan depan mau magang di Jakarta. Aku sudah bilang ke teman-temanku kalau aku bakal menumpang di apartemen mewah Abang ini.”
Aku melangkah melewati mereka seolah mereka hanyalah hembusan angin lalu. Aku berlutut di depan Mira, menyentuh pipinya yang bengkak dengan sangat hati-hati. Tubuh istriku masih bergetar.
“Kita ke rumah sakit sekarang ya, Sayang,” bisikku lembut.
Mira hanya mengangguk pelan, mencengkeram kemeja kerjaku yang masih agak basah. Aku membantunya berdiri, mengambil tas dan dokumen kehamilannya, lalu menuntunnya menuju pintu keluar.
“Carlo! Ibu sedang bicara denganmu!” jerit Ibu, mencoba menarik lenganku.
Aku berhenti tepat di ambang pintu, menepis tangan Ibu dengan gerakan perlahan namun tegas. Aku menatap lurus ke dalam matanya yang dipenuhi keserakahan dan ego.
“Apartemen ini dibeli atas nama Mira. Semua perabotan di dalam sini dibeli dengan uangnya. Aku bahkan menumpang di sini,” kataku, sengaja menghancurkan ilusi mereka bahwa akulah penguasa tunggal di rumah ini yang bisa mereka setir sesuka hati. “Kalian punya waktu tepat satu jam untuk mengemas barang-barang kalian. Jika saat aku kembali dari rumah sakit kalian masih ada di sini, aku tidak akan segan-segan menyuruh satpam gedung dan polisi untuk menyeret kalian keluar atas tuduhan penganiayaan dan penerobosan wilayah pribadi.”
“Bang! Kamu tega?! Aku ini adik kandungmu! Satu darah!” Jun berteriak dari belakang, wajahnya mulai panik.
“Satu darah yang membiarkan istrimu kelaparan dan memukulnya saat hamil tua tidak layak disebut keluarga, Jun,” jawabku telak.
Aku menutup pintu apartemen dengan rapat, mengunci mereka di dalam untuk menghabiskan satu jam terakhir mereka di tempat itu.
Dua Jam Kemudian: Penghancuran Total
Setelah dokter di rumah sakit memastikan bahwa kandungan Mira aman dan memberikan salep untuk memar di pipinya, aku membawa Mira ke sebuah hotel terdekat untuk beristirahat. Aku tidak ingin dia melihat kekacauan yang akan terjadi selanjutnya.
Aku kembali ke apartemen sendirian. Di depan lobi gedung, aku melihat Ibu dan Jun berdiri di samping dua koper besar mereka yang tergeletak di trotoar. Pihak manajemen apartemen ternyata bergerak lebih cepat setelah aku mengirimkan pesan darurat kepada kepala keamanan.
Begitu melihatku turun dari taksi, Ibu langsung berlari ke arahku. Wajah angkuhnya sudah hilang, digantikan oleh ekspresi ketakutan yang luar biasa.
“Carlo… tolong jangan lakukan ini, Nak. Jun tidak punya tempat tinggal di Jakarta. Uang saku dari kampung sudah habis untuk beli tiket kereta. Kami harus tinggal di mana malam ini? Hujan masih deras, Carlo!” ratap Ibu sambil menangis.
Aku menatap rintik hujan yang membasahi aspal, lalu menatap adik kesayangan Ibuku yang kini berdiri menggigil sambil memegangi ponselnya.
“Ma, selama empat tahun Jun kuliah, siapa yang membayar uang semesternya?” tanyaku dengan suara datar.
Ibu terdiam, air matanya tertahan.
“Aku,” kataku menjawab pertanyaanku sendiri. “Siapa yang mengirim uang obat untuk Ayah di kampung setiap bulan, sampai Rodel dan Kakak tertua kita pura-pura tidak tahu? Aku, Ma. Dan hari ini, anak kesayangan Mama yang tidak tahu diuntung ini memukul istriku karena masalah ayam adobo? Di rumah yang bahkan bukan milikku?”
“Abang, aku minta maaf… aku tidak tahu kalau Kak Mira bakal sesakit itu,” isak Jun, mencoba memegang pundakku.
Aku mundur satu langkah. “Mulai detik ini, Jun, biaya kuliahmu resmi kuhentikan. Aku juga sudah mengirimkan pesan ke grup keluarga besar bahwa aku menarik diri dari semua urusan finansial di kampung. Silakan minta Rodel atau Kakak tertuamu yang selalu Mama puji itu untuk membiayai hidup kalian.”
Wajah Ibu mendadak pucat pasi. Dia tahu persis bahwa tanpa aliran uang dariku, rumah di kampung akan runtuh karena utang bank yang dulu digunakan Rodel untuk modal usaha yang gagal. Kakak-kakakku yang lain sangat pelit dan tidak akan pernah mau mengeluarkan sepeser pun untuk mengurus Ibu dan Jun.
“Carlo! Kamu tidak bisa melakukan ini! Aku ini ibumu! Ibu yang melahirkanmu!” jerit Ibu, histeris di tengah guyuran hujan yang mulai menderu.
“Dan Mira adalah wanita yang mengandung anakku, Ma. Wanita yang menemaniku makan mi instan di kamar kos sempit saat Mama sibuk memeras gajiku demi membelikan Jun motor baru,” kataku, menatap mereka untuk terakhir kalinya. “Jika Mama memilih Jun sebagai satu-satunya anak yang berharga di mata Mama, maka hiduplah dengannya. Jangan cari aku lagi.”
Aku membalikkan badan, berjalan masuk ke dalam lobi apartemen yang dijaga ketat oleh petugas keamanan. Dari balik kaca transparan, aku melihat Ibu terduduk di atas kopernya sambil memukuli pundak Jun yang hanya bisa diam meratapi nasibnya yang kini harus putus kuliah.
Keluarga yang selama ini kubangun dengan keringat dan kesabaran akhirnya hancur malam itu—bukan karena aku kejam, melainkan karena mereka lupa bahwa seorang pria penyabar akan menjadi monster yang paling menakutkan ketika rumah tangga dan darah dagingnya sendiri mulai diusik. Aku bebas, dan fokusku sekarang hanya untuk Mira dan anak kami yang akan segera lahir.