Suamiku Membawa Selingkuhannya ke Reuni dan Memperkenalkannya Sebagai “Calon Istri”
Dia mengira dirinya sudah menang… sampai sebuah USB muncul di tengah pesta…
—
Reuni sepuluh tahun angkatan kami diadakan di sebuah hotel mewah di pusat kota pesisir.
Begitu aku membuka pintu ruang acara, suara tawa dan dentingan gelas langsung menyambutku.
Suamiku — Marco Villanueva — duduk di meja paling tengah, memegang segelas wine dengan seorang gadis muda di sampingnya yang mengenakan gaun krem ketat.
Senyumnya begitu santai saat berbicara.
“Perkenalkan, ini pacarku, Alexa. Kami berencana menikah sebelum akhir tahun ini.”
Seluruh meja langsung bertepuk tangan.
Tak seorang pun menyebut bahwa aku masih istri sahnya.
Aku hanya berdiri di dekat pintu sambil memegang sekotak pastry yang tadi dia suruh kubeli.
Kotaknya masih hangat.
Tetapi seluruh tubuhku sudah terasa dingin.
Alexa tersenyum malu-malu sambil menyapa para tamu. Rambut panjangnya tergerai indah, dan di lehernya tergantung sebuah kalung berlian yang sangat kukenal.
Aku langsung mengenalinya.
Itu kalung yang tahun lalu dikatakan Marco sudah “habis terjual di mana-mana” saat hari jadi pernikahan kami.
Ternyata bukan habis.
Dia hanya tidak ingin membelikannya untukku.
Aku berjalan masuk perlahan.
Kukletakkan kotak pastry itu di atas meja.
Lalu aku mengeluarkan sebuah map dari dalam tasku.
“Karena kita semua sudah berkumpul di sini,” kataku dingin, “sekalian saja tanda tangani ini.”
Aku meletakkan surat perceraian di depannya.
Ruangan langsung hening.
Senyum di wajah Marco membeku.
“Claire… apa yang sedang kamu lakukan?”
“Aku hanya membantumu berhenti berpura-pura.”
Aku tersenyum tipis.
“Kamu sudah memperkenalkan selingkuhanmu sebagai calon istri. Untuk apa lagi sandiwara ini?”
Seorang teman sekelas mencoba tertawa canggung.
“Eh, mungkin ini cuma salah paham…”
Mata Alexa langsung memerah.
“Kak, jangan salahkan Marco… Aku baru pulang dari luar negeri dan tidak punya siapa-siapa di sini…”
Saat berbicara, dia perlahan menyandarkan kepalanya ke bahu suamiku.
Jam tangan di pergelangan tangannya berkilau terkena cahaya.
Itu adalah jam yang kuberikan kepada Marco saat dia mendapat promosi.
Dan sekarang…
dipakai oleh wanita simpanannya.
Aku tertawa keras.
“Bagaimana? Barang-barangku cocok dipakai olehmu?”
Suasana ruangan semakin tegang.
Marco mengernyit.
“Claire, cukup dengan dramanya.”
“Drama?”
Aku mengambil ponselku lalu memutar sebuah rekaman suara.
Suara Marco terdengar jelas memenuhi seluruh ruangan.
—
“Tunggu saja sampai dia memindahkan kondonya atas namaku.”
“Setelah itu aku akan menceraikannya.”
“Tabungannya cukup untuk membuka restoran buat kita.”
—
Wajah Marco langsung pucat.
Dia berdiri dan berusaha merebut ponselku.
Namun aku mundur selangkah.
Orang-orang mulai berbisik.
Beberapa menatap Alexa dengan wajah tak percaya.
Yang lain pura-pura sibuk minum.
Marco menggigit bibirnya keras.
“Kamu menguntitku?”
“Kamu hanya sedang sial.”
Aku menatapnya.
“Sama seperti nasib burukmu ketika aku mengetahui bahwa uang yang katanya untuk biaya pengobatan ibuku justru dipakai untuk menyewa apartemen bagi selingkuhanmu.”
Tatapan semua orang langsung berubah.
Seorang pria di meja sebelah tak bisa menahan diri untuk bertanya.
“Tunggu… bukankah tahun lalu kamu meminjam uang karena katanya ibu mertuamu harus operasi?”
Aku tersenyum dingin.
“Ibuku sudah meninggal.”
“Dan tidak pernah ada operasi apa pun.”
Seolah seluruh ruangan berhenti bernapas.
Alexa panik dan menoleh ke arah Marco.
“Kamu bilang kamu masih lajang…”
“Alexa, dengarkan aku—”
Dia belum sempat menyelesaikan kalimatnya ketika ponselku bergetar.
Pesan dari bank.
Seluruh saldo rekening bersama kami telah ditarik.
Aku perlahan menatap Marco.
Pada saat yang sama, ponselnya juga berdering.
Begitu dia mengangkatnya, wajahnya langsung berubah drastis.
“Apa?!”
Bahkan teriakan dari seberang telepon hampir terdengar oleh semua orang.
“Pak Marco! Restorannya terbakar!”
“Gudang stok juga ikut terbakar!”
“Semua uang tunai dan dokumen habis terbakar!”
Ponselnya terlepas dari tangannya.
BRAK!
Layar ponsel itu pecah berkeping-keping di lantai.
Aku diam mengamati wajahnya yang semakin pucat sebelum tersenyum tipis.
Lalu aku mengeluarkan satu benda lagi dari dalam tas.

Sebuah USB hitam kecil.
“Kurasa…”
“Reuni ini akan jauh lebih menarik setelah mereka melihat isi USB ini.”
Aku menancapkan USB tersebut ke laptop operator yang terhubung langsung dengan proyektor besar di depan aula reuni.
Layar proyektor yang tadinya menampilkan video kenangan masa sekolah, dalam sekejap berubah menjadi barisan dokumen keuangan, mutasi rekening, dan rekaman CCTV digital berpiksel tinggi.
“Marco, kamu pikir aku memindahkan kepemilikan kondo itu atas namamu?” suaraku menggema lewat mikrofon ruangan. “Kondo itu sudah kujual dua minggu lalu. Dan uang di rekening bersama yang baru saja kamu kuras? Itu adalah rekening jebakan yang sengaja kubuat untuk memancingmu melakukan penggelapan dana perusahaan.”
Di layar besar, terpampang jelas bukti transfer dari rekening operasional perusahaan tempat Marco bekerja ke rekening pribadi milik Alexa. Jumlahnya ratusan juta rupiah, lengkap dengan memo palsu yang ia buat.
Seluruh teman angkatan kami langsung riuh. Bisikan-bisikan sinis yang tadinya ditujukan kepadaku, kini berbalik sepenuhnya menghujam Marco dan Alexa.
“Kamu… kamu menjebakku?!” teriak Marco, wajahnya yang semula pucat kini memerah padam karena murka dan malu.
“Aku tidak menjebakmu, Marco. Kamu yang masuk sendiri ke dalam lubang yang kamu gali,” jawabku tenang. “Isi USB ini tidak hanya berisi bukti perselingkuhan kalian, tapi juga seluruh bukti korupsi dan penggelapan pajak yang kamu lakukan di perusahaan tempatmu bekerja selama tiga tahun terakhir. Dan tebak siapa yang baru saja kukirimi salinannya? Pemilik perusahaan… yang kebetulan adalah pamanku sendiri.”
Alexa menjerit pelan, langsung melepaskan cengkeramannya dari lengan Marco. “Marco! Kamu bilang kamu pemilik saham terbesar! Kamu bilang semua fasilitas ini milikmu!”
“Diam kamu, Alexa!” bentak Marco frustrasi.
Belum sempat Marco melangkah untuk merebut USB itu, pintu aula reuni terbuka lebar. Dua orang pria bertubuh tegap mengenakan kemeja rapi masuk bersama tiga petugas kepolisian.
“Saudara Marco Villanueva?” tanya salah satu petugas dengan tegas. “Kami menerima laporan atas dugaan penggelapan dana dalam jabatan, penipuan, serta pembakaran aset dengan sengaja untuk klaim asuransi.”
Marco terbelalak. “Pembakaran? Tidak! Restoranku terbakar karena kecelakaan! Aku baru saja mendapat telepon—”
“Restoran itu terbakar karena sistem listrik sabotase yang kamu perintahkan kepada orang suruhanmu sore tadi, agar kamu bisa mencairkan uang asuransi malam ini, kan?” potongku sambil melirik layar proyektor yang kini menampilkan isi pesan singkat antara Marco dan seorang montir sewaan. “Sayangnya, aku sudah memindahkan seluruh barang bukti fisik keluar dari gudang itu sejak kemarin. Yang terbakar malam ini hanyalah gedung kosong dan bukti kejahatanmu sendiri.”
Alexa, yang menyadari situasi sudah tidak terkendali, mencoba menyelinap pergi lewat pintu samping. Namun, seorang petugas wanita langsung menghadangnya.
“Nona Alexa, Anda juga diminta ikut ke kantor polisi sebagai saksi sekaligus terduga penikmat aliran dana gelap.”
Saat polisi memborgol tangan Marco, dia menatapku dengan mata yang memancarkan penyesalan yang mendalam campuran rasa takut. Harga dirinya sebagai pria sukses yang ia pamerkan di awal acara, kini hancur berkeping-keping di depan seluruh teman lamanya.
“Claire… tolong aku… kita bisa bicarakan ini baik-baik. Aku khilaf, Claire!” ratapnya sambil terseret keluar.
Aku tidak menjawab. Aku berjalan mendekati meja tengah, mengambil kembali surat perceraian yang sudah kutandatangani, lalu memungut kalung berlian yang sempat terjatuh dari leher Alexa saat dia meronta tadi.
Aku menatap teman-teman seangkatan kami yang kini mematung karena syok.
“Maaf telah mengacaukan acaranya,” ucapku dengan senyuman paling manis yang pernah kuberikan malam ini. “Silakan lanjutkan makan malamnya. Pesta ini… sudah resmi selesai untukku.”
Aku berjalan keluar dari hotel mewah itu dengan langkah seringan angin laut. Di belakangku, Marco kehilangan segalanya dalam satu malam—kariernya, reputasinya, kekasih simpanannya, dan masa depannya. Dia mengira dia bisa membawaku ke jurang, tanpa sadar bahwa akulah yang memegang kendali atas seluruh rute perjalanannya sejak awal.