AKU DIUSIR OLEH SAHABAT TERBAIKKU DARI SUITE TEPI PANTAI SAAT LIBURAN
Dia bahkan melakukan siaran langsung untuk mempermalukanku dan menyebutku sebagai penumpang gratisan di depan ribuan penonton.
Sampai akhirnya sebuah email rahasia mengungkap identitas asli pacarnya…
Aku dan sahabat terbaikku sepakat pergi berlibur ke sebuah resort pantai terkenal.
Namun baru saja kami menerima kartu kunci kamar, dia langsung menyerahkannya kepada seorang pria yang bahkan tidak kukenal.
“Cari saja hostel murah,” katanya dingin.
“Ken tidurnya sensitif. Kalau dia tidak nyaman, kepalanya bisa sakit.”
Aku terpaku.
Padahal sejak awal kami sudah sepakat membagi biaya perjalanan.
Tetapi mulai dari tiket pesawat, reservasi hotel, hingga seluruh itinerary, semuanya aku yang bayar.
Dia bahkan tidak mengeluarkan satu rupiah pun.
Dan sekarang, dia ingin mengusirku dari kamar yang kubayar sendiri.
Aku berusaha menahan emosi.
“Aku yang memesan suite ini. Kenapa justru aku yang harus pergi?”
Wajah Mira langsung berubah masam.
“Cuma satu kamar saja, kenapa pelit sekali? Sudah lupa berapa kali aku membantumu mencari diskon online?”
Pria di sampingnya tertawa meremehkan sambil melempar tusuk gigi ke lantai.
“Temanmu murahan sekali.”
Mira langsung merangkul lengannya.
“Maklum, dia cuma pegawai kantoran. Beli kopi saja masih hitung-hitungan.”
Lalu mereka berdua tertawa sambil berjalan menuju lift.
Aku berdiri sendirian di tengah lobi hotel, menggenggam ponsel erat-erat.
Bukan karena marah.
Melainkan karena beberapa detik sebelumnya, layar ponsel pria itu sempat menyala.
Wallpaper-nya adalah foto keluarga.
Dan aku mengenali wanita yang berdiri di sampingnya.
—
Perlahan aku membuka daftar kontak.
“Halo, Kak Rosa… apa kabar?”
Suara lembutnya segera terdengar.
“Baik. Memangnya kenapa?”
Aku menarik napas sebelum bertanya.
“Suami Kak Rosa sedang perjalanan dinas sekarang?”
“Iya,” jawabnya.
“Katanya ada pertemuan bisnis di kawasan resort.”
Aku menatap lift yang baru saja tertutup.
“…Begitu ya.”
Awalnya aku ingin langsung mengirim foto yang kuambil.
Namun jariku terhenti di tombol kirim.
Aku menghapus foto itu.
Lalu mengirim pesan yang berbeda.
“Tidak apa-apa. Aku hanya ingin menyapa.”
—
“Nona, ada yang bisa kami bantu lagi?”
Suara resepsionis mengembalikanku ke kenyataan.
Aku meletakkan kartu identitasku di meja.
“Saya pemesan presidential suite. Tolong cabut akses semua pengguna lain.”
Resepsionis hanya melirik lalu tersenyum sinis.
“Maaf, Bu. Miss Mira mengatakan Anda hanya asistennya.”
Asisten?
Aku sampai tertawa karena kesal.
“Pemilik kartu kredit yang digunakan untuk reservasi ini adalah saya.”
Namun dia hanya mengangkat bahu.
“Pihak manajemen sudah memverifikasi Mr. Ken. Beliau pebisnis penting.”
Setelah itu, dia mengambil radio komunikasi.
“Security, mohon ke lobi.”
Dua petugas keamanan segera mendatangiku.
Aku menarik koper dan berjalan ke sudut lobi tanpa berkata apa-apa.
Tepat saat itu ponselku bergetar berkali-kali.
Tiga notifikasi transaksi kartu kredit muncul berturut-turut.
**[Layanan Anggur Premium — Rp4.300.000]**
**[Paket Spa Pasangan — Rp10.200.000]**
**[Makan Malam Seafood VIP — Rp15.400.000]**
Belum sampai sepuluh menit, mereka hampir menghabiskan limit kartu tambahanku.
Aku langsung menelepon Mira.
Begitu dia mengangkat telepon, suara dentingan sampanye terdengar jelas.
“Oh, kenapa?” katanya mengejek.
“Hujan di sana? Mau minta izin tidur di lantai?”
Diam-diam aku menyalakan perekam suara.
“Kalian menghabiskan uang untuk apa saja?”
Tiba-tiba suara pria itu menyela.
“Cuma sedikit uang. Anggur, seafood, spa. Memangnya kenapa?”
“Keberatan? Harga satu jam tanganku lebih mahal daripada gajimu seumur hidup.”
Mira terkikik.
“Dia memang terbiasa hidup susah.”
Lalu nada suaranya menjadi dingin.
“Dengar. Ken itu direktur regional di perusahaan besar. Kalau kamu mau membayar semua biaya liburan ini dengan baik, mungkin dia bisa mencarikanmu pekerjaan sebagai resepsionis.”
Aku hanya menjawab satu kata.
“Baik.”
Aku menatap bayanganku di layar ponsel.
“Semoga kalian menikmati liburan ini sepuasnya.”
—
Malam itu, karena musim liburan dan semua hotel penuh, aku terpaksa mencari penginapan murah dekat terminal.
Saat membuka pintu kamar, aroma lembap dan jamur langsung menyambutku.
Aku duduk di atas kasur keras lalu membuka ponsel.
Dan hampir gemetar karena marah.
Mira baru saja mengunggah sembilan foto.
Dia dan Ken mengenakan bathrobe sambil berpelukan di balkon suite.
Caption-nya berbunyi:
**[Terima kasih untuk pacarku yang memesankan suite termahal

Ada seorang pengemis yang ingin numpang, tapi kami usir~]**
Kolom komentar langsung penuh.
“Pacarmu kaya banget!”
“Temanmu pasti iri setengah mati!”
Dan Mira bahkan membalas:
**“Orang yang suka hidup dari uang orang lain memang seperti itu.”**
Aku menyimpan tangkapan layar semuanya.
Setiap unggahan.
Setiap komentar.
Tidak ada yang terlewat.
—
Keesokan harinya, aku pergi ke dermaga yacht pribadi sesuai itinerary yang juga kubayar sendiri.
Namun begitu tiba, aku langsung melihat Mira mengenakan bikini sambil berpose di atas dek.
Aku mendekati area boarding, tetapi kapten kapal menghentikanku.
“Maaf, Bu. Yacht hari ini sudah dipesan penuh oleh Mr. Ken.”
Aku menunjukkan bukti reservasi.
“Saya yang membayar ini.”
Dia bahkan tidak melihatnya.
Mira melihatku lalu tertawa keras.
“Ya ampun, kamu seperti lintah saja!”
Pria itu mengeluarkan dua lembar uang kusut dan melemparkannya ke bawah.
“Nih. Naik feri umum saja.”
Beberapa orang tertawa.
Sikap kapten langsung berubah.
“Kami dibayar oleh Mr. Ken. Pergilah.”
Petugas keamanan segera mendorongku.
Lenganku membentur pagar besi hingga berdarah.
Sementara aku kesakitan, Mira mulai melakukan siaran langsung.
“Lihat mantan sahabatku ini! Dia benar-benar mengikuti kami hanya untuk numpang naik yacht!”
Komentar berdatangan tanpa henti.
“Memalukan.”
“Gagal jadi pemburu harta.”
Aku diam-diam memungut uang kusut yang mereka lempar.
Membersihkan debunya.
Lalu memasukkannya ke saku.
Setelah itu aku mengangkat ponsel dan mengambil sebuah foto.
“Apa yang kamu foto?!” teriak Mira.
Aku tidak menjawab.
Aku hanya berbalik dan berjalan pergi.
Namun sebelum keluar dari dermaga—
Ponselku tiba-tiba bergetar.
Sebuah email baru masuk.
**[Bu, seluruh informasi yang Anda minta sudah berhasil kami kumpulkan.]**
Aku membuka lampirannya.

Di dalamnya terdapat—
Kontrak kerja palsu.
Kartu nama palsu.
Dan catatan utang dalam jumlah fantastis milik pria yang selama ini berpura-pura menjadi seorang eksekutif sukses.
Di dalam lampiran email itu, kenyataan pahit tentang “Mr. Ken” alias Hendra terbuka lebar. Dia bukanlah direktur regional, melainkan seorang mantan staf penjualan di perusahaan paman Kak Rosa yang dipecat karena kasus penggelapan uang. Seluruh kemewahan yang dia tunjukkan di media sosial adalah hasil dari tumpukan utang judi online dan sisa uang yang berhasil dia tipu dari Kak Rosa—istri sahnya yang kaya raya.
Yacht yang mereka naiki, sampanye yang mereka minum, semuanya dibayar menggunakan kartu kreditku yang limitnya sengaja belum kututup untuk memancing mereka lebih dalam.
Aku berdiri di pinggir dermaga, menatap yacht yang perlahan bergerak menjauh ke tengah laut. Di atas dek, Mira masih asyik mengarahkan kamera ponselnya ke wajahnya, tertawa lebar melakukan siaran langsung, tanpa tahu bahwa badai terbesar dalam hidupnya baru saja dimulai.
Aku langsung meneruskan email laporan investigasi itu, lengkap dengan foto mesra Mira dan Hendra di atas yacht yang baru kuambil, langsung ke nomor Kak Rosa.
Pesan balasan dari Kak Rosa masuk dua menit kemudian: [Terima kasih, Claire. Aku dan tim pengacaraku akan tiba di resort itu dua jam lagi. Tolong aktifkan kembali kartu kreditmu sementara waktu, biarkan mereka membuat tagihan sebanyak mungkin agar tuntutan pasalku semakin berat.]
Aku tersenyum tipis. Dengan senang hati.
Dua Jam Kemudian: Presidential Suite
Malam harinya, aku kembali ke resort mewah tersebut. Kali ini, aku tidak datang sendiri. Aku berjalan di belakang Kak Rosa, yang datang bersama dua pengacara handal dan tiga petugas kepolisian berpakaian preman.
Ketika kami tiba di depan pintu Presidential Suite, terdengar suara musik keras dan tawa dari dalam. Kak Rosa menggunakan kartu akses universal dari pihak manajemen hotel yang kini sudah bekerja sama dengan kami setelah mengetahui identitas asli pemilik kartu kredit utama.
BEEP. Pintu terbuka.
Di dalam, ruangan sudah berantakan. Botol-botol anggur mahal berserakan. Mira, yang masih mengenakan gaun malam, sedang duduk di pangkuan Hendra sambil merekam video TikTok.
“Hendra! Rosa?!” Pekikan pertama keluar dari mulut Hendra saat melihat wanita yang berdiri di ambang pintu. Wajahnya seketika berubah pucat pasi, fobia instan langsung menyerang seluruh tubuhnya. Dia buru-buru mendorong Mira hingga wanita itu tersungkur ke lantai.
“Sayang… kamu… kenapa kamu ada di sini?” Hendra terbata-bata, lututnya gemetar hebat.
Mira yang terjatuh langsung berdiri dengan marah, “Ken! Siapa perempuan tua ini?! Berani-beraninya dia masuk ke kamar kita!”
PLAK!
Satu tamparan keras dari Kak Rosa mendarat telak di pipi Mira hingga dia terdiam seribu bahasa.
“Perempuan tua?” Kak Rosa tertawa sinis, lalu melempar sebundel dokumen tebal ke wajah Hendra. “Dia selingkuhan barumu, Hendra? Setelah menghabiskan uang warisan ibuku, sekarang kamu membawa pelacur ini liburan menggunakan uang curian?”
“Uang curian?” Mira menatap Hendra dengan mata terbelalak. “Ken… apa maksudnya ini? Bukankah kamu direktur regional? Kamu yang memesan semua ini!”
Salah satu pengacara Kak Rosa maju ke depan. “Maaf, Nona Mira. Pria di sebelah Anda ini adalah Hendra Setiawan. Dia tidak memiliki pekerjaan, dan seluruh aset yang dia gunakan atas nama Ken adalah palsu. Lebih dari itu…” Pengacara itu menoleh ke arahku, “…seluruh biaya liburan, spa, anggur, dan yacht yang kalian nikmati sejak kemarin ditagihkan ke kartu kredit milik Klien kami, Nona Claire.”
Siaran Langsung yang Berbalik Menjadi Neraka
Mira menggelengkan kepalanya panik. Ponselnya yang sedari tadi masih menyala dalam mode live streaming terjatuh di atas meja kaca, mengarah tepat ke arah drama penangkapan mereka. Ribuan penonton yang tadi mengejekku sebagai “pengemis” kini menyaksikan kebenaran yang sesungguhnya.
Komentar di layar siaran langsung Mira meledak dengan sangat cepat: “Wah gila! Ternyata cowoknya cuma modal nipu istri sah!” “Jadi yang bayar semuanya itu temannya yang dia usir? Malu banget!” “Ternyata si Mira yang benalu, sok-sokan bilang orang lain pengemis!”
Petugas kepolisian maju dan langsung memborgol kedua tangan Hendra. “Saudara Hendra, Anda ditahan atas dugaan penipuan, penggelapan dana, dan pemalsuan dokumen.”
Hendra menangis, berlutut di kaki Kak Rosa mohon ampun, namun Kak Rosa memalingkan wajahnya dengan jijik.
Mira yang ketakutan mencoba mendekatiku, air matanya mulai mengalir, wajah masamnya berganti menjadi topeng memelas. “Claire… Claire, tolong aku… Aku tidak tahu apa-apa! Aku juga korban penipuan dia! Kita kan sahabat terbaik…”
Aku mundur selangkah, menghindari tangan Mira yang mencoba meraih kemejaku. Aku mengeluarkan dua lembar uang kusut yang siang tadi dilemparkan Hendra ke tanah dari dalam sakuku, lalu menjatuhkannya tepat di depan wajah Mira.
“Nih. Untuk ongkos kamu naik feri umum besok pagi,” kataku dengan suara yang sangat tenang. “Karena setelah ini, pihak hotel akan menuntutmu atas kerusakan fasilitas, dan seluruh akun media sosialmu akan dipenuhi oleh jejak digital sebagai seorang kriminal.”
“Claire! Jangan lakukan ini padaku!” jerit Mira histeris saat petugas keamanan hotel mulai menyeretnya keluar dari kamar bersama Hendra karena masa inap mereka telah dibatalkan secara sepihak.
Aku berjalan menuju balkon suite, menatap hamparan laut malam yang diterangi cahaya bulan. Di belakangku, suara tangisan Mira dan teriakan panik Hendra perlahan menjauh, menyisakan keheningan yang damai.
Mereka mengira bisa mengusirku dari tempat yang kubayar sendiri, tanpa sadar bahwa sejak awal, aku hanya sedang menyewa panggung pertunjukan untuk melihat bagaimana cara mereka menghancurkan diri mereka sendiri.