Posted in

Aku Dibesarkan Sebagai Pewaris Keluarga, Tetapi Dibuang ke Pegunungan Agar “Belajar Susah”; Saat Ibuku Kembali Menjemputku, Yang Tersisa dari Lengan Kananku Hanya Sebelah Lengan Baju

Aku Dibesarkan Sebagai Pewaris Keluarga, Tetapi Dibuang ke Pegunungan Agar “Belajar Susah”; Saat Ibuku Kembali Menjemputku, Yang Tersisa dari Lengan Kananku Hanya Sebelah Lengan Baju

Aku adalah anak tunggal dari keluarga terkaya di San Aurelio, tetapi aku tumbuh seperti pengemis di rumahku sendiri.

Jika ada nasi yang tersisa di piringku, Ibu akan menyuruhku pergi ke ladang untuk mencangkul tanah.

Jika aku menghabiskan uang lebih dari Rp3.000, aku akan dihukum berlutut di bawah terik matahari.

Namun gadis “anak asuh berprestasi” kesayangannya, Bianca Salcedo, setiap tahun menerima miliaran rupiah darinya.

Pada malam ketika aku hampir menjadi korban kejahatan karena tidak memiliki ponsel, aku menangis dan bertanya kepadanya:

“Kenapa Bianca mendapatkan segalanya, sementara aku, anak kandungmu sendiri, harus meminta izin hanya untuk membeli pulpen murah?”

Wajah Ibu langsung mengeras.

“Karena suatu hari nanti semua ini akan menjadi milikmu. Jika aku tidak mendidikmu sekarang, kamu akan tumbuh menjadi orang yang tidak berguna.”

Keesokan harinya, ia membawaku ke sebuah desa terpencil di pegunungan Quezon.

“Bianca tumbuh di tempat seperti ini sebelum aku membantunya,” katanya dingin. “Di sinilah kamu akan belajar arti penderitaan yang sebenarnya.”

Aku menangis.

Aku berpegangan pada pintu mobil.

Aku mengejar mobilnya sampai sandal jepitku robek dan kakiku berdarah.

Namun ia tidak menoleh.

Bahkan tidak sekali.

Tiga tahun berlalu.

Saat mendengar namaku dipanggil dari kaki bukit, tanganku yang sedang memetik daun ubi langsung membeku.

“Lia…”

Kupikir itu hanya halusinasi.

Perlahan aku menoleh.

Di sana berdiri Ibu.

Mengenakan blus putih mahal, kacamata bermerek, dan kalung berkilauan di lehernya.

Di sampingnya berdiri seorang gadis seusiaku dengan kulit mulus, rambut rapi, dan gaun desainer meskipun berada di tengah lumpur.

Bianca.

Gadis yang dulu hanya menerima belas kasihan Ibu, kini tampak lebih seperti seorang putri daripada aku.

Sedangkan aku?

Bertelanjang kaki.

Kurus.

Kulit terbakar matahari.

Ujung gaunku robek.

Dan lengan kanan bajuku menggantung kosong.

Ibu menghampiriku dengan mata yang dipenuhi air mata.

“Lia, Nak… apa kamu tidak mengenaliku?”

Aku tidak menjawab.

Aku hanya memeluk erat sayuran yang kubawa seolah itulah satu-satunya harta yang masih kumiliki di dunia ini.

Ia menggenggam pergelangan tangan kiriku.

“Nak, kita pulang. Tiga tahun sudah cukup. Sekarang kamu pasti mengerti betapa sulitnya mencari uang.”

Ia terengah saat melihatku dari atas sampai bawah.

“Tahun depan aku akan menyerahkan perusahaan kepadamu. Kamu akan menjadi presiden Velasco Holdings.”

Aku tertawa pelan.

Bukan karena bahagia.

Melainkan karena semuanya terdengar seperti lelucon yang kejam.

“Tidak perlu.”

Keningnya berkerut.

“Kamu masih marah? Semua yang kulakukan demi kebaikanmu. Aku ingin kamu menjadi kuat.”

Ia kembali meraih tanganku.

Kali ini tangannya menyentuh lengan kanan bajuku.

Ia terdiam.

Lalu menarik kain itu.

Lengan baju itu jatuh.

Tidak ada lengan.

Semua warna seakan menghilang dari wajahnya.

“Lia…” suaranya gemetar. “Di mana lenganmu?”

Aku belum sempat menjawab ketika terdengar teriakan dari bawah bukit.

“Hei, bodoh! Cuma bawa satu kantong sayur saja lama sekali! Mau dipukul lagi, ya?”

Hanya dari suara itu saja, seluruh tubuhku langsung gemetar.

Daun-daun ubi yang kubawa jatuh ke tanah.

Aku berlari menuruni bukit.

Namun sebelum sempat pergi jauh, Bianca menarik lenganku.

“Lia, kamu sudah keterlaluan,” katanya dengan nada pura-pura iba, tetapi matanya penuh racun. “Aku tahu kamu marah pada Tante Marissa, tapi apa perlu berpura-pura sengsara seperti ini? Baru tiga tahun tinggal di sini, bukan berarti kamu boleh menyakiti dirimu sendiri lalu menyalahkan beliau.”

Ibu menatapku.

Aku melihat perubahan di matanya.

Rasa iba perlahan berubah menjadi kecurigaan.

“Lia,” katanya tegas, “drama apa lagi ini?”

Aku mundur selangkah.

“Jangan bicarakan itu lagi,” pintaku. “Tolong…”

Namun Bianca hanya tersenyum tipis.

“Karena kejadian di gang itu?” tanyanya pelan. “Saat kamu hampir celaka? Sudah tiga tahun berlalu, Lia. Sampai sekarang masih kamu jadikan alasan?”

Kepalaku seperti meledak.

Malam itu kembali terbayang.

Gang sempit yang gelap di Manila.

Sekelompok pria yang menghalangiku setelah lomba sekolah.

Mereka tahu aku anak pengusaha terkaya di San Aurelio.

Mereka mengira aku membawa banyak uang.

Namun mereka tidak menemukan satu rupiah pun.

Mereka menyuruhku menghubungi Ibu.

Aku tidak punya ponsel.

Karena menurut Ibu, itu adalah kemewahan yang tidak perlu.

Saat mereka mengira aku berbohong, mereka mulai menyakitiku.

Menghinaku.

Memotretnya saat aku gemetar ketakutan dan malu.

Jika seorang pengemudi becak motor tidak lewat dan berteriak menolongku, mungkin aku tidak akan hidup hari ini.

Saat aku pulang malam itu, bibirku berdarah dan seragamku robek.

Namun yang kutemukan adalah pesta ulang tahun Bianca.

Ada kue.

Ada balon.

Ada kalung mewah senilai ratusan juta rupiah.

Aku menghancurkan kuenya.

Aku berteriak.

“Ibu! Aku hampir celaka karena tidak punya ponsel! Kenapa dia mendapatkan segalanya, sementara aku bahkan tidak punya uang untuk membeli pulsa?”

Ibu tidak memelukku.

Ia tidak bertanya apakah aku terluka.

Ia hanya menatapku dingin.

“Kamu iri pada Bianca.”

Dan setelah itu, ia membuangku ke pegunungan.

Di sanalah neraka hidupku dimulai.

Ramon Salcedo, sepupu Bianca, adalah orang pertama yang menyambutku.

Dialah yang mengurungku di sebuah gubuk.

Dialah yang berkata:

“Perintah Bianca. Kamu harus diberi pelajaran.”

Beberapa bulan kemudian mereka memaksaku menikah dengannya.

Aku mencoba kabur.

Sekali.

Dua kali.

Sepuluh kali.

Tetapi seluruh desa berpihak kepadanya.

Mereka dibayar oleh Ibu untuk “menjagaku”.

Ibu mengira mereka merawatku.

Padahal sebenarnya mereka menyerahkanku pada hukuman yang tak berujung.

Pada percobaan kabur terakhirku, Ramon sedang mabuk.

Ia mengejarku hingga ke belakang gubuk.

Di tangannya ada sebilah parang.

Saat aku membuka mata keesokan harinya, setengah hidupku telah hilang.

Dan sekarang…

Ibu berdiri di depanku.

Mencari anak yang tidak pernah ia tanyakan kabarnya selama tiga tahun.

Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon kepala desa.

“Pak Kepala Desa,” katanya dingin, “saya memberikan Rp900 juta untuk menjaga anak saya. Kenapa keadaannya seperti ini? Dan kenapa lengannya hilang?”

Hening beberapa saat.

Lalu terdengar suara Kepala Desa Dario dari speaker.

“Bu Marissa, kami merawat Lia dengan baik. Masalahnya, anak Ibu sangat sulit diatur. Dia cemburu pada Nona Bianca. Dia sering membuat keributan.”

Dadaku terasa sesak.

“Untuk soal lengannya,” lanjut sang kepala desa, “itu kecelakaan. Dia jatuh ke jurang. Kami ingin menghubungi Ibu, tapi dia sendiri yang melarang.”

Ibu lalu menelepon beberapa orang lain di desa.

Semua memberikan jawaban yang sama.

Aku anak pembangkang.

Aku pembohong.

Semua kesalahan ada padaku.

Setelah menutup telepon, Ibu menatapku.

“Lia,” katanya dengan mata merah karena marah, “sampai sekarang kamu masih belum berubah.”

Sebelum aku sempat menjawab, tangannya terangkat.

PLAK!

Sebuah tamparan keras mendarat di pipiku.

Kepalaku terlempar ke samping.

Dan di belakangnya, aku melihat Bianca sedang tersenyum.

Lalu dari bawah bukit terdengar langkah sepatu yang berat.

Semakin dekat.

Semakin dekat.

Ramon datang.

Di tangannya tergenggam sebilah parang.

Dan kalimat pertama yang ia ucapkan sambil menatap Ibu adalah:

“Bu Marissa… kembalikan istri saya.”

Tamparan Ibu terasa panas di pipiku, tetapi hatiku sudah lama membeku hingga tak bisa merasakan sakit lagi. Di belakangnya, Bianca menyilangkan tangan, menatapku dengan senyuman kemenangan yang samar.

Ramon melangkah maju, memamerkan parang berkarat di tangannya yang dulu merenggut lengan kananku. Bau alkohol menguar pekat dari tubuhnya.

“Istri?” Ibu tertegun, matanya beralih dari Ramon ke arahku, lalu ke arah Bianca. “Apa maksudnya ini? Lia, kamu menikah di tempat seperti ini tanpa seizi-ku?”

“Tante Marissa, aku sudah bilang kan?” Bianca maju, memegang lengan Ibu dengan raut wajah penuh keprihatinan palsu. “Lia itu sudah terpengaruh lingkungan buruk di sini. Dia sengaja menikah dengan sepupuku, Ramon, karena ingin memberontak padamu. Hukuman yang Tante berikan malah membuatnya semakin liar.”

Ibu menatapku dengan kilat kekecewaan yang mendalam. “Lia! Jadi semua laporan kepala desa itu benar? Kamu sengaja menghancurkan dirimu sendiri hanya untuk membalas dendam pada Ibu? Bahkan sampai kehilangan lenganmu… apa kamu sengaja melompat ke jurang agar Ibu merasa bersalah?!”

Aku menatap wanita yang melahirkanku itu. Tiga tahun di gunung, dikurung, disiksa, dan dipaksa melayani pria bejat ini, dan satu-satunya hal yang dipikirkan ibuku adalah harga dirinya yang terluka. Dia lebih mempercayai kata-kata orang asing daripada kehancuran fisik anak kandungnya sendiri.

“Ya,” kataku, suaranya begitu datar dan serak. “Semua salahku. Jadi, silakan pergi. Anggap saja anakmu sudah mati tiga tahun lalu di Manila.”

“Kurang ajar!” Ramon berteriak, maju dan menjambak rambutku dengan tangan kirinya yang kasar. “Heh, perempuan cacat! Berani kamu bicara begitu di depan mertuaku? Kembalikan dia, Bu Marissa! Dia sudah saya beli dengan uang hantaran dari keluarga kalian!”

“Uang hantaran?” Ibu mengerutkan kening. “Uang apa? Aku hanya mengirimkan dana bulanan untuk biaya hidup Lia melalui rekening Bianca!”

Detik itu juga, senyuman Bianca langsung lenyap. Wajahnya mendadak pucat pasi.

Sebelum Bianca sempat mengalihkan pembicaraan, sebuah suara klakson mobil yang sangat nyaring menggema dari arah jalan setapak di bawah bukit. Bukan hanya satu, melainkan iring-iringan lima mobil SUV hitam mewah berpelat nomor militer dan kepolisian pusat.

Pintu-pintu mobil terbuka, dan puluhan anggota polisi bersenjata lengkap langsung berlari mendaki bukit, mengepung tempat kami berdiri. Di depan mereka, memimpin barisan, adalah seorang pria paruh baya mengenakan seragam dinas jenderal bintang tiga.

Dia adalah Jenderal Arnaldo Velasco—kakak kandung mendiang ayahku, paman kandungku yang selama ini dikabarkan hilang tugas di luar negeri.

“Angkat tangan! Jatuhkan senjatanya!” teriak komandan polisi.

Ramon yang ketakutan langsung melepaskan jambakannya pada rambutku dan menjatuhkan parangnya ke tanah. Dia segera diringkus dan ditekan ke atas lumpur oleh dua petugas. Kepala Desa Dario dan beberapa warga desa yang tadinya ikut berbohong lewat telepon, kini digiring mendaki bukit dengan tangan terborgol.

Ibu terkejut melihat kedatangan iparnya. “Kak Arnaldo? Kenapa Kakak bisa ada di sini dengan pasukan polisi?”

Jenderal Arnaldo tidak memedulikan Ibu. Matanya langsung tertuju padaku. Saat melihat tubuhku yang kurus, kaki yang bertelanjang, dan lengan baju kananku yang menggantung kosong, rahang jenderal itu mengeras. Matanya yang tegas seketika berkaca-kaca.

“Lia…” Paman Arnaldo melangkah mendekat, lalu membuka jubah militernya dan menyelimuti tubuhku yang gemetar. “Maafkan Paman, Nak. Paman terlambat. Paman baru kembali ke negara ini dan mengetahui semua kekejaman ini.”

“Kak Arnaldo, apa maksudnya ini?” Ibu mencoba menyela. “Lia hanya sedang dididik—”

“Dididik?!” Jenderal Arnaldo berbalik, suaranya menggelegar bagai guntur, membuat Ibu tersentak mundur. “Marissa! Kamu menyebut penyiksaan, penyekapan, dan mutilasi ini sebagai pendidikan?! Kamu ditipu oleh ular yang kamu pelihara sendiri!”

Paman Arnaldo memberi isyarat kepada seorang asistennya yang membawa sebuah koper besi. Koper itu dibuka di depan Ibu, menampilkan tumpukan dokumen audit keuangan, rekaman obrolan digital, dan bukti transfer bank.

“Tiga tahun lalu, Bianca sengaja menyewa preman di gang itu untuk mencelakai Lia agar Lia terlihat seperti anak pemberontak di matamu!” Paman Arnaldo melemparkan lembaran bukti ke arah Bianca. “Dan uang sembilan ratus juta rupiah yang kamu kirim setiap bulan? Bianca tidak pernah memberikannya kepada kepala desa untuk merawat Lia. Dia menggunakannya untuk membeli barang mewah, sementara dia membayar Ramon dan warga desa ini untuk menyekap, menyiksa, dan memaksa Lia menandatangani surat penyerahan hak waris Velasco Holdings!”

Ibu tertegun, tangannya gemetar saat membaca dokumen tersebut. Di sana ada foto parang Ramon yang berlumuran darahku, dan surat pernyataan dari dokter puskesmas setempat yang disuap Bianca untuk memalsukan laporan bahwa aku “jatuh ke jurang”.

“Bianca…” Ibu menoleh lambat-lambat ke arah gadis asuh kesayangannya. “Ini… ini tidak benar, kan?”

Bianca mundur selangkah, wajahnya kini dipenuhi ketakutan. Dia mencoba berlutut di kaki Ibu. “Tante, tolong dengarkan aku… Aku melakukan ini karena aku ingin menjadi anak yang membanggakan untukmu! Lia tidak pantas mendapatkan Velasco Holdings!”

“Diam!” Jenderal Arnaldo memberi perintah, dan petugas polisi langsung memborgol kedua tangan Bianca dengan kasar. “Bianca Salcedo, Anda ditahan atas pasal konspirasi pembunuhan berencana, penganiayaan berat yang menyebabkan cacat permanen, dan penipuan berskala besar.”

Saat Bianca dan Ramon diseret menuruni bukit sambil menangis histeris, suasana menjadi sangat hening.

Ibu berdiri mematung di tengah lumpur. Kebenaran yang baru saja terungkap menghantamnya seperti godam besar. Dia menatap tangan kirinya yang beberapa menit lalu digunakan untuk menampar pipiku—anak kandungnya yang telah dia hancurkan atas nama “pendidikan keras”.

“Lia…” Ibu melangkah mendekat, air matanya mengalir deras, seluruh tubuhnya gemetar hebat karena penyesalan yang teramat dalam. “Maafkan Ibu, Nak… Ibu salah… Ibu tidak tahu…”

Dia mencoba memelukku, namun Paman Arnaldo menghalanginya dengan tubuh tegapnya.

Aku menatap Ibu dari balik selimut militer Paman. Tidak ada air mata di mataku. Hanya ada kekosongan yang teramat dingin.

“Tiga tahun lalu, saat aku mengejar mobilmu sampai kakiku berdarah, kamu tidak pernah menoleh sekali pun, Ibu,” kataku dengan suara yang teramat tenang, namun menusuk langsung ke dadanya. “Kamu ingin aku belajar arti penderitaan yang sebenarnya? Sekarang aku sudah lulus. Aku sudah menjadi sangat kuat, persis seperti yang kamu inginkan.”

Aku membalikkan tubuhku, berjalan menuruni bukit dibimbing oleh Paman Arnaldo dan pasukan pengawalnya.

“Lia! Jangan tinggalkan Ibu, Nak! Lia!” Jeritan histeris Ibu menggema di seluruh pegunungan Quezon, namun aku terus melangkah maju tanpa sekalipun menoleh ke belakang.

Dia ingin melatih seorang pewaris yang tangguh, tetapi yang dia ciptakan adalah orang asing yang tidak akan pernah sudi lagi memanggilnya “Ibu”. Hak waris Velasco Holdings akan tetap jatuh ke tanganku melalui jalur hukum Paman Arnaldo, tetapi wanita yang telah membuangku itu akan menghabiskan sisa hidupnya dalam penjara penyesalan yang dia bangun dengan tangannya sendiri.