DOKTER JENIUS DI RUMAH SAKIT TERBESAR DI FILIPINA MENGEJUTKAN SEMUA ORANG SAAT MENOLAK MENGOPERASI MERTUANYA SENDIRI…
Sang istri diam-diam mengurus seluruh pemakaman dan kremasi tanpa air mata, tanpa keributan.
Hingga suatu hari, ia memutar sebuah rekaman suara di hadapan seluruh staf rumah sakit…
Di Kota Quezon, semua orang mengenal Dr. Adrian Villareal.
Ia adalah seorang ahli jantung ternama sekaligus wakil direktur termuda di rumah sakit swasta terbesar di kota itu.
Tak terhitung nyawa pasien yang berhasil ia selamatkan dari ambang kematian.
Sementara itu, istrinya, Liana Reyes, hanyalah wanita biasa.
Mereka telah menikah selama tiga belas tahun.
Dan selama tiga belas tahun itu, Liana nyaris mengorbankan seluruh hidupnya demi mendukung sang suami.
Mulai dari merawat ibu mertua yang terbaring sakit, hingga bangun setiap malam untuk menyiapkan makanan sebelum Adrian menjalani jadwal jaga.
Semua orang mengatakan bahwa Liana adalah wanita yang sangat baik.
Terlalu baik…
Sampai tidak ada yang percaya bahwa ia benar-benar bisa pergi.
Hingga hari ketika ayahnya meninggal tepat di luar ruang operasi milik suaminya sendiri.
—
“Dr. Villareal… Nyonya Reyes sendiri yang mengurus seluruh prosesi pemakaman ayahnya.”
Suara kepala administrator rumah sakit terdengar dingin.
“Selama tiga hari beliau terus menelepon Anda, tetapi semua panggilannya ditolak oleh asisten Anda, Marco Santos.”
“Saat ayahnya mengalami serangan jantung mendadak, beliau bahkan berlutut di depan ruang operasi dan memohon agar Anda kembali.”
“Tetapi pada saat itu… Anda berada di ruang gawat darurat kosmetik bersama Kepala Perawat Vanessa Cruz.”
Adrian menggenggam kunci mobilnya erat-erat.
Logam keras itu menusuk telapak tangannya.
Ia terdiam.
Hanya satu kalimat yang terus bergema di kepalanya.
Mertuanya… sudah meninggal?
—
Tujuh hari sebelumnya, Liana bertanya kepadanya saat mereka berada di dapur.
“Minggu depan Papa akan menjalani operasi jantung.”
“Bisakah kamu yang langsung mengoperasinya?”
Saat itu Adrian sedang sibuk memeriksa jadwal rapat.
Ia menjawab tanpa antusias.
“Aku sudah tahu.”
Liana menatapnya lama.
“Aku tidak bertanya apakah kamu tahu.”
“Aku bertanya apakah kamu bisa berjanji.”
“Papa sangat percaya padamu.”
Adrian mulai kesal.
“Liana, rumah sakit tidak dijalankan dengan perasaan.”
“Aku dokter. Bukan pelayan pribadi keluargamu.”
Liana terdiam cukup lama sebelum berkata pelan.
“Tapi beliau juga keluargamu.”
Adrian tidak menjawab.
Ia mengambil jasnya lalu keluar rumah.
Mereka tidak pernah menyangka…
Bahwa itu adalah malam terakhir ayah Liana masih hidup.
—
Suhu di ruang jenazah bawah tanah rumah sakit terasa sangat dingin.
Liana duduk sendirian di luar ruang perpisahan.
Hanya selimut abu-abu tipis milik rumah sakit yang membungkus tubuhnya.
Di pangkuannya terdapat sebuah guci hitam kecil.
Ia tidak menangis.
Ia juga tidak berteriak.
Namun ketenangannya justru terasa lebih menakutkan.
Beberapa langkah darinya berdiri Adrian.
Dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya…
Ia takut untuk mendekat.
Liana mengangkat wajah.
Tatapannya sedingin es.
“Akhirnya kamu datang juga.”
Tenggorokan Adrian terasa kering.
“Liana…”
Liana mengusap guci itu perlahan.
“Papa sudah ringan sekarang.”
“Seluruh dirinya kini hanya muat di dalam kotak kecil ini.”
Suara Adrian bergetar.
“Aku tidak tahu ternyata kondisinya separah itu…”
Liana tersenyum.
Senyum yang sangat tipis.
“Kamu tidak tahu yang mana?”
“Bahwa Papa menunggumu?”
“Bahwa aku berkali-kali meminta bantuan?”
“Atau kamu tidak tahu kalau luka Vanessa hanya lecet di lutut?”
Wajah Adrian langsung pucat.
Ia buru-buru menjelaskan.
“Dia bilang pusing… sesak napas…”
“Dan pada saat yang sama jantung Papaku berhenti berdetak.”
Liana menatapnya lurus.
“Dr. Villareal.”
“Pusing dan serangan jantung.”
“Kamu benar-benar tidak bisa membedakannya?”
—
Adrian teringat malam itu.
Vanessa berada di ruang gawat darurat.
Ada sedikit darah di lututnya yang tertutup seragam putih.
Ia menggenggam lengan Adrian erat-erat.
“Kak Adrian… aku takut…”
“Apakah nanti akan meninggalkan bekas luka?”
Tiba-tiba Marco Santos berlari masuk.
“Dr. Villareal! Kepala Perawat Vanessa terpeleset!”
“Dia tidak berhenti menangis!”
Padahal pada saat yang sama, ayah Liana sudah dibawa ke ruang operasi.
Anestesi sudah siap.
Semua sudah siap.
Adrian berkata kepada dokter bedah asistennya:
“Kalian mulai dulu.”
“Aku hanya akan memeriksa sesuatu. Aku segera kembali.”
Ia mengira hanya beberapa menit.
Namun Vanessa terus menahannya.
Katanya ia pusing.
Dadanya sakit.
Ia ketakutan.
Dan hanya Adrian yang bisa menenangkannya.
Beberapa menit itu…
Berakhir menjadi harga yang harus dibayar dengan satu nyawa.
—
Pintu lift tiba-tiba terbuka.
Vanessa datang bersama Marco Santos.
Lututnya masih dibalut perban putih kecil.
Begitu melihat Liana, matanya langsung memerah.
“Kak Liana… maafkan saya…”
“Saya tidak tahu kondisi Om separah itu…”
“Kalau saya tahu, saya tidak akan menahan Kak Adrian…”
Liana menatap perban di lututnya.
Lalu bertanya pelan.
“Masih sakit?”
Vanessa terdiam.
“…Apa?”
Liana tersenyum tipis.
“Lututmu.”
“Masih sakit?”
Vanessa menjawab pelan.
“Sudah hampir tidak sakit…”
Liana menunduk menatap guci di pangkuannya.
“Ayahku juga sudah tidak sakit.”
“Beliau sudah menjadi abu.”
“Rasa sakitnya sudah berakhir.”
Seketika suasana menjadi sangat dingin.
Marco Santos mengernyit.
“Nyonya Reyes, tidak ada yang menginginkan hal ini terjadi.”
“Dr. Villareal hanya menjalankan tugasnya sebagai dokter.”
Perlahan Liana mengeluarkan ponselnya.
Ia memutar sebuah rekaman suara.
Dan suara Marco Santos terdengar jelas di lorong yang sunyi.
“Nyonya Reyes, Dr. Villareal sedang sibuk bersama Kepala Perawat Vanessa.”
“Ayah Anda masih ditangani dokter lain.”
“Tolong berhenti menelepon terus-menerus.”
Rekaman itu selesai diputar.
Wajah Marco langsung pucat.
Vanessa buru-buru berkata,
“Kak Liana… kenapa merekam percakapan itu…”
Liana perlahan mengangkat wajah.
Tatapannya berhenti di wajah Vanessa.
Lalu ia membuka kantong kertas di sampingnya.
Di dalamnya terdapat…
Sebuah jam tangan pria mewah yang berlumuran darah.
Jam tangan milik Adrian.
Jam yang telah ia kenakan setiap hari selama sepuluh tahun terakhir.
Liana menatap suaminya.
Lalu berkata dengan suara dingin.
“Tahukah kamu…”
“Sebelum Papa meninggal…”
“Beliau masih menggenggam jam ini dengan erat.”
“Dan pesan terakhirnya adalah…”
‘Kalau menantuku datang… tolong kembalikan jam ini kepadanya.’
Liana berhenti sejenak.
Kemudian perlahan mengambil selembar dokumen lain dari dalam tas.
Sebuah hasil tes DNA.
Di sana tertulis nama:

Adrian Villareal.
Dan…
Bayi yang sedang dikandung Vanessa Cruz.
BABAK AKHIR: Kehancuran Sang Dokter Jenius
Detak jarum jam dinding di koridor bawah tanah itu mendadak terdengar seperti bom waktu yang siap meledak. Keheningan yang tercipta begitu pekat, hingga suara napas panik dari Adrian, Vanessa, dan Marco terdengar jelas.
Hasil tes DNA itu tergeletak di atas guci abu sang ayah. Tintanya yang hitam tegas seolah mengunci takdir mereka semua.
Adrian menatap kertas itu dengan mata membelalak. Seluruh darah di wajahnya surut seketika. “Liana… ini… dari mana kamu mendapatkan ini?” suaranya bergetar hebat, nyaris seperti bisikan seorang pria yang baru saja dijatuhi hukuman mati.
Vanessa langsung mundur satu langkah. Wajahnya yang tadinya berakting sedih kini memucat pasi. Tangannya refleks menyentuh perutnya yang masih rata. Ia menatap Marco dengan pandangan penuh kepanikan, namun Marco sendiri sudah gemetar ketakutan di sudut dinding.
Liana perlahan berdiri. Tubuhnya yang kurus tampak begitu tegap, memancarkan aura dingin yang mencengkeram.
“Dari mana?” Liana tersenyum, namun matanya mati. “Sebagai istri wakil direktur, tidak sulit bagiku untuk meminta sampel darah dari laboratorium rumah sakit ini, Adrian. Terutama setelah aku menyadari Kepala Perawat Vanessa mendadak rajin memeriksa kandungan di jam-jam sepi.”
Liana melangkah mendekati Vanessa. Langkah kakinya yang tenang membuat Vanessa ketakutan hingga hampir terjatuh.
“Kamu sengaja menahannya malam itu bukan karena lututmu terluka, kan?” bisik Liana tepat di wajah Vanessa. “Kamu hanya ingin membuktikan padaku… bahwa bahkan di saat ayahku sekarat, Adrian akan tetap memilihmu dan anak di dalam kandunganmu.”
“Kak Liana… b-bukan begitu…” Vanessa menangis terisak, kali ini air matanya murni karena rasa takut.
Liana mengabaikannya. Ia berbalik dan menatap Adrian yang kini berlutut di lantai, menatap dokumen DNA dan jam tangan berlumuran darah milik ayahnya dengan tatapan kosong.
“Tiga belas tahun, Adrian,” kata Liana, suaranya sangat tenang, tanpa intonasi amarah, dan justru itu yang membuatnya terdengar mengerikan. “Aku memberikan masa mudaku, impianku, dan merawat ibumu yang lumpuh hingga beliau mengembuskan napas terakhir. Aku menerima semua sikap dinginmu karena aku pikir kamu sedang berjuang menyelamatkan nyawa orang lain.”
Liana menjatuhkan cincin pernikahannya tepat di atas dokumen DNA tersebut. Ting. Bunyi logam itu memecah kesunyian.
“Ternyata, sementara aku membersihkan kotoran ibumu di rumah, kamu sedang bersenang-senang dengan perawatmu di rumah sakit ini. Dan puncaknya… kamu membiarkan ayahku mati demi wanita ini.”
“Liana, maafkan aku… demi Tuhan, maafkan aku…” Adrian merangkak, mencoba meraih ujung selimut Liana, namun Liana melangkah mundur dengan jijik.
“Jangan sentuh aku dengan tangan yang sudah membunuh ayahku,” desis Liana.
Pengadilan di Aula Rumah Sakit
Dua jam kemudian.
Liana tidak membawa masalah ini ke jalur pribadi. Ia berjalan langsung menuju ruang auditorium utama rumah sakit, tempat di mana rapat pleno tahunan yang dihadiri oleh Direktur Utama, dewan komisaris, dan seluruh staf medis sedang berlangsung.
Tanpa permisi, Liana berjalan ke mimbar utama. Sebelum petugas keamanan sempat mencegahnya, ia menghubungkan ponselnya ke sistem audio gedung dan proyektor layar besar.
Bzzz.
Layar besar di aula itu menampilkan tiga hal:
- Rekaman suara Marco Santos yang menolak menangani ayah Liana demi menemani Vanessa.
- Lembar hasil tes DNA hubungan gelap antara Adrian dan Vanessa.
- Log aktivitas ruang operasi yang membuktikan Adrian sengaja meninggalkan pasien kritis (ayah Liana) demi alasan pribadi yang tidak darurat.
Gempar. Seluruh aula langsung riuh dengan bisikan dan pandangan syok. Direktur Utama rumah sakit langsung berdiri dengan wajah merah padam karena murka.
Adrian, Vanessa, dan Marco yang baru saja menyusul masuk ke aula, membeku di ambang pintu. Mereka kini menjadi pusat perhatian dan cemoohan dari ratusan rekan sejawat mereka sendiri.
Liana memegang mikrofon. Untuk pertama kalinya, setetes air mata jatuh di pipinya, namun suaranya tetap tegas.
“Inilah Dr. Adrian Villareal yang kalian agung-agungkan sebagai dokter jenius,” ucap Liana lantang, suaranya menggema ke setiap sudut ruangan. “Seorang pria yang melanggar sumpah janji dokternya, mengabaikan nyawa pasien demi menyembunyikan perselingkuhannya. Hari ini, ayah saya meninggal di tangan wakil direktur kalian.”
Liana menurunkan mikrofonnya. Ia menatap Adrian untuk terakhir kalinya—pria itu kini tampak hancur, reputasinya yang ia bangun belasan tahun runtuh dalam hitungan menit. Karir medisnya tamat, dan tuntutan hukum atas malpraktik serta kelalaian sengaja sudah menantinya.
Liana berjalan turun dari mimbar sambil mendekap guci hitam milik ayahnya dengan erat. Saat melewati Adrian yang berdiri mematung dengan air mata penyesalan, Liana berbisik pelan:
“Selamat tinggal, Dr. Villareal. Nikmati sisa hidupmu di penjara bersama kehancuranmu.”
Liana terus berjalan keluar dari rumah sakit, menembus cahaya matahari Kota Quezon. Masa lalunya yang menyakitkan telah usai, dan kini, ia membawa ayahnya pulang ke tempat yang tenang.