“Bu, jemput aku… keluarga suamiku memaksaku menandatangani dokumen untuk menyerahkan seluruh hartaku.”
Panggilan itu bahkan belum berlangsung sepuluh detik sebelum tiba-tiba terputus.
Namun kalimat singkat itu sudah cukup membuat seluruh tubuhku membeku.
Aku langsung berdiri dari meja kerjaku.
Sebagai seorang CEO wanita dari perusahaan besar, aku sudah menghadapi berbagai badai dalam dunia bisnis.
Tetapi belum pernah sekalipun aku merasakan ketakutan seperti ini.
Yang meneleponku tidak lain adalah putri tunggalku—Sofia.
Anak yang kubesarkan seorang diri setelah ayahnya meninggal saat ia masih kecil.
Anak yang selalu berusaha agar tidak merepotkan ibunya.
Jika dia tidak benar-benar terpojok, dia tidak akan pernah meneleponku dengan nada setakut itu.
Aku segera masuk ke mobil dan menuju sebuah rumah sakit swasta dekat kawasan perumahan tempat Sofia tinggal.
Hujan deras mulai turun.
Butiran air besar menghantam kaca depan mobil tanpa henti.
Semakin dekat aku ke sana, semakin kuat firasat burukku.
Sesampainya di rumah sakit, aku melihat Sofia duduk sendirian di kursi luar ruang gawat darurat.
Wajahnya pucat.
Ada memar di sudut bibirnya.
Bekas kemerahan terlihat jelas di pergelangan tangannya.
Pakaian mahal yang dikenakannya kusut seolah baru saja melalui pertengkaran hebat.
Begitu melihatku, dia langsung menangis.
— Bu…
Aku segera memeluknya.
— Apa yang terjadi?
Dengan tubuh gemetar, Sofia menjawab:
— Mereka ingin memindahkan seluruh saham yang Ayah wariskan untukku ke atas nama mereka…
Aku terdiam.
Saham?
Itu adalah aset paling berharga yang ditinggalkan almarhum suamiku untuk putri kami.
Sejak Sofia menikah dengan Adrian, aku sudah berkali-kali mengingatkannya agar aset itu tetap dipisahkan.
Namun dia begitu mempercayai suaminya.
Dia percaya bahwa keluarga harus berbagi segalanya.
Aku tidak pernah menyangka kepercayaan itu justru akan dimanfaatkan.
Sambil menangis, Sofia menceritakan semuanya.
Setelah menikah, keluarga suaminya terus menanyakan soal saham tersebut.
Awalnya hanya seperti percakapan biasa.
Kemudian menjadi sindiran.
Lalu berubah menjadi tekanan yang terang-terangan.
Ibu mertuanya mengatakan bahwa pasangan suami istri harus menyatukan semua harta.
Kakak iparnya mengatakan bahwa Sofia tidak mengerti bisnis sehingga saham itu hanya terbuang sia-sia jika tetap atas namanya.
Bahkan Adrian, yang dulu berjanji akan melindunginya seumur hidup, perlahan berubah.
Dia terus mendesak Sofia untuk menandatangani dokumen.
Saat Sofia menolak, seluruh keluarga langsung menunjukkan wajah asli mereka.
Mereka memutus akses kartu kreditnya.
Mengontrol teleponnya.
Tidak mengizinkannya keluar rumah sendirian.
Tiga hari yang lalu, mereka bahkan membawa seorang pengacara ke rumah.
Di atas meja tergeletak map tebal berisi dokumen.
— Tanda tangani saja dan semuanya akan baik-baik saja.
Itulah kalimat terakhir Adrian sebelum meninggalkan Sofia terkunci di sebuah kamar.
Aku mengepalkan tangan kuat-kuat.
Amarah mulai membakar dalam diriku.
Saat itu juga, suara sepatu hak tinggi terdengar menggema di koridor.
Seorang wanita paruh baya berjalan mendekat.
Di belakangnya ada Adrian dan kakak laki-lakinya.
Mereka semua mengenakan pakaian mahal.
Dan tidak sedikit pun terlihat rasa bersalah di wajah mereka.
Ibu mertua Sofia tersenyum.
— Akhirnya kau datang juga.
Aku berdiri di depan putriku.
— Apa yang kalian lakukan pada anakku?
Wanita itu tertawa kecil.
— Jangan dibesar-besarkan.
— Kami hanya membantunya mengambil keputusan yang benar.
Adrian melipat kedua tangannya.
— Bu, Sofia salah paham.
— Kami hanya ingin mengelola aset itu dengan lebih baik.
Aku menatapnya tajam.
— Mengelola? Atau merampas?
Senyumnya langsung menghilang.
Kakaknya maju selangkah.
— Hati-hati dengan ucapanmu.
— Nama keluarga kami tidak bisa sembarangan dicemarkan.
Perlahan ibu mertuanya mengeluarkan map tebal dari tas mewahnya.
Dia meletakkannya di atas kursi.
— Semua dokumennya ada di sini.
— Satu tanda tangan Sofia, dan semuanya selesai dengan damai.
Aku bahkan tidak melirik dokumen itu.
— Dan jika dia tidak menandatangani?
Wanita itu tersenyum.
Senyum penuh keyakinan.
— Kami punya banyak kenalan.
— Wartawan.
— Pengacara.
— Pengusaha.
— Hanya perlu satu rumor, dan reputasi putrimu akan hancur.
Tiba-tiba Adrian berbicara.
— Dan jangan lupa…
— Dia sedang hamil.
Duniaku seakan berhenti.
Aku langsung menoleh ke arah Sofia.
Dia menunduk sementara air mata terus mengalir.
— Aku baru mengetahuinya minggu lalu…
Saat itu aku langsung memahami semuanya.
Bukan hanya saham yang mereka incar.
Mereka juga ingin menggunakan bayi itu untuk mengendalikan seluruh hidup putriku.
Pada saat itulah ibu mertuanya mendorong map tersebut ke arah Sofia.
— Tanda tangani sekarang.
— Atau kami akan memastikan hidupmu menjadi sangat sulit.
Udara di koridor terasa membeku.
Sofia menggenggam tanganku erat.
Tatapan Adrian dingin terhadap istrinya.
Ibunya tersenyum penuh kemenangan.
Dan aku…
Perlahan membuka tas tanganku.
Aku mengeluarkan sebuah amplop kuning.
Begitu melihat stempel resmi di atasnya, wajah Adrian langsung pucat.
Seluruh warna menghilang dari wajahnya.
Kakaknya buru-buru mendekat.
— Tunggu…
Bahkan ibu mereka ikut membeku.
— Dari mana kau mendapatkan itu?
Aku meletakkan amplop tersebut dengan tenang di atas meja.
Lalu menatap mereka satu per satu.
Perlahan.
Sampai akhirnya aku berkata:
— Sebelum kalian memaksa putriku menandatangani dokumen apa pun, mungkin kalian ingin menjelaskan terlebih dahulu kenapa seluruh keluarga kalian masuk dalam penyelidikan khusus.

Di luar rumah sakit, kilat menyambar dan membelah langit malam yang gelap.
Dan untuk pertama kalinya sejak kami bertemu…
Senyum di wajah keluarga suaminya benar-benar lenyap.
Ibu mertua Sofia mencoba meraih amplop itu dengan tangan yang gemetar, tetapi aku dengan cepat menahannya dengan ujung jariku.
“Jangan sembarangan menyentuh barang bukti,” ucapku, suaraku sedingin es yang memotong keheningan koridor rumah sakit.
Kakak Adrian menelan ludah dengan susah payah. “P-Penyelidikan apa maksudmu? Perusahaan keluarga kami bergerak di bidang legal! Kau jangan mencoba menggertak kami dengan dokumen palsu!”
Aku tersenyum tipis, sebuah senyuman yang biasa kugunakan di ruang sidang direksi saat bersiap menghancurkan lawan bisnis yang serakah.
“Kalian pikir aku duduk di kursi CEO selama puluhan tahun hanya untuk membiarkan putri tunggalku dinikahi oleh sembarang orang tanpa menyelidiki latar belakangnya?” Aku menatap Adrian yang kini berkeringat dingin. “Adrian, kau ingat proyek investasi pelabuhan fiktif yang dilakukan perusahaan keluargamu enam bulan lalu? Proyek yang menggunakan dana investor asing?”
Wajah Adrian memutih sempurna. Dia mundur selangkah, hampir menabrak adiknya.
“Kau… bagaimana kau bisa tahu?” bisik Adrian dengan suara parau.
“Aku bukan hanya tahu, Adrian. Aku adalah pemilik saham pengendali terselubung di perusahaan asing yang kalian tipu tersebut,” jawabku lantang. “Selama dua kuartal terakhir, aku sengaja diam. Aku membiarkan keluargamu yang serakah ini terus memindahkan dana, memalsukan tanda tangan, dan melakukan pencucian uang melalui rekening cangkang di luar negeri. Aku hanya menunggu waktu yang tepat untuk menarik talinya.”
Aku membuka sedikit isi amplop kuning tersebut, memperlihatkan lembaran kertas dengan logo resmi Kejaksaan Agung dan Badan Pemeriksa Keuangan.
“Di dalam sini ada surat perintah penyidikan dan pembekuan seluruh aset keluarga kalian yang ditandatangani satu jam lalu. Alasan kenapa kartu kredit Sofia diblokir oleh kalian bukan karena kalian ingin menghukumnya, bukan?” Aku menatap ibu mertua Sofia dengan tatapan menghina. “Tetapi karena seluruh rekening utama perusahaan kalian sebenarnya sudah dibekukan oleh bank sejak tadi pagi akibat indikasi fraud. Kalian panik, kalian berada di ujung kebangkrutan, dan satu-satunya cara menyelamatkan diri adalah dengan merampas saham warisan almarhum suamiku yang ada pada Sofia!”
Mendengar kenyataan itu, Sofia mendongak dengan mata terbelalak. Dia memandang suaminya dengan rasa tidak percaya yang mendalam. “Adrian… jadi selama ini… pernikahan kita hanya sebatas rencana cadangan untuk menyelamatkan utang keluargamu?”
Adrian tidak berani menatap mata istrinya. Dia hanya menunduk, gemetar hebat.
Ibunya, yang beberapa menit lalu tersenyum penuh kemenangan, kini menjatuhkan tas mewahnya ke lantai. Dia bersujud di depanku, kehilangan seluruh harga dirinya.
“Nyonya… tolong saya mohon… jangan serahkan dokumen itu ke kejaksaan. Kita bisa bicarakan ini baik-baik. Adrian sangat mencintai Sofia! Demi calon cucumu…” ratap wanita tua itu sambil mencoba memegang kakiku.
Aku menarik kakiku mundur dengan jijik.
“Saat kalian memukuli putriku, memar di bibirnya, dan menyekapnya di kamar, apakah kalian mengingat bayi di dalam kandungannya?” suaraku meninggi, menggema di seluruh koridor rumah sakit. “Kalian menggunakan anak yang belum lahir untuk mengancam ibunya! Manusia jenis apa kalian ini?!”
Tepat setelah kalimatku selesai, pintu lift di ujung koridor berdenting terbuka. Langkah kaki sekelompok pria berseragam dinas kepolisian dan petugas kejaksaan terdengar mendekat dengan cepat.
“Itu mereka,” kataku sambil menunjuk ke arah keluarga Adrian.
Petugas kepolisian segera maju dan membacakan hak-hak mereka sebelum memasangkan borgol di pergelangan tangan Adrian, kakaknya, dan ibunya. Jeritan histeris ibu mertua Sofia dan makian kakak iparnya memenuhi koridor, namun aku tidak peduli lagi.
Aku berbalik, berlutut di depan kursi tempat Sofia duduk, lalu menggenggam kedua tangannya yang dingin.
“Semuanya sudah selesai, Sayang. Mereka tidak akan pernah bisa menyentuhmu atau anakmu lagi,” bisikku sambil menghapus air matanya.
Sofia memelukku erat, menumpahkan seluruh rasa takut yang sempat menderanya. Di luar, suara guntur menggelegar, membersihkan sisa-sisa malam yang kelam. Aku bersumpah dalam hati, dengan seluruh kekuasaan dan harta yang kumiliki, aku akan memastikan keluarga penjahat itu membusuk di penjara, dan aku akan membesarkan cucuku di dalam dunia yang jauh lebih aman dan terhormat.