KAKAK PEREMPUANKU MEREBUT TOKO ROTI WARISAN KELUARGA DAN MENGUSIRKU TANPA MENYISAKAN APA PUN… TAPI SATU PANGGILAN TELEPON MALAM ITU MENGUBAH SEGALANYA
Aku pikir aku sudah terbiasa diperlakukan tidak adil.
Namun pada hari kakak perempuanku menyerahkan sebuah amplop kepadaku dan berkata,
“Ambil saja ini.”
Saat itulah aku menyadari bahwa ada luka yang, meskipun telah kau tahan selama bertahun-tahun, tetap mampu menimbulkan rasa sakit yang luar biasa.
Isi amplop itu hanya sedikit uang.
Bahkan jumlahnya lebih kecil daripada hasil yang kudapat dari satu kue pernikahan yang kukerjakan siang dan malam hingga selesai.
Aku mendongak menatapnya.
Dia berdiri di tengah toko roti paling terkenal di kota, mengenakan pakaian kantor yang mahal.
Dulu, tempat ini adalah impian kedua orang tua kami.
Aku juga tumbuh besar di sini.
Tetapi sekarang, di atas semua dokumen kepemilikan, hanya namanya yang tercantum.
“Mulai sekarang, kau tidak perlu kembali ke sini lagi.”
Dia mengatakannya dengan tenang, seolah-olah sedang memberiku sebuah kebaikan.
“Aku sudah merawatmu cukup lama.”
Para karyawan di sekitar kami hanya menunduk dalam diam.
Tak seorang pun berani menatapku.
Karena mereka semua tahu kenyataannya.
Kue-kue paling terkenal di toko ini adalah hasil buatanku.
Resep-resep yang membuat antrean panjang setiap akhir pekan adalah hasil karyaku.
Namun yang muncul di iklan.
Yang menerima penghargaan.
Yang dipuji media.
Selalu dia.
Perlahan aku melepaskan celemekku.
Untuk pertama kalinya setelah bertahun-tahun.
Aku tidak membantah.
Tidak menjelaskan apa pun.
Dan tidak memohon.
Aku hanya mengambil koper lamaku dan keluar dari ruang karyawan.
Tepat saat itu, tunangan kakakku datang.
Tatapannya langsung tertuju pada koperku.
“Jadi kau benar-benar pergi?”
“Aku sudah tidak punya alasan untuk tetap tinggal.”
Dia tertawa kecil.
“Jangan berlebihan.”
“Malam ini ada pesanan kue yang sangat penting.”
“Kakakmu bilang hanya kau yang bisa membuatnya.”
Aku menatap pria yang berkali-kali berjanji akan membantuku mendapatkan hakku.
Namun pada akhirnya selalu berpihak kepada kakakku.
“Aku sudah tidak ada hubungannya lagi dengan semua itu.”
Senyumnya langsung menghilang.
“Kau pikir kau bisa bertahan hidup setelah pergi dari sini?”
“Kakakmu mengenal semua pemasok bahan baku.”
“Tidak akan ada yang mau bekerja sama denganmu.”
Aku tidak menjawab.
Karena aku tahu dia benar.
Tetapi ada saat-saat ketika, meskipun kau tahu di depanmu ada jurang, kau tetap harus melangkah maju.
Karena kembali ke belakang terasa jauh lebih menakutkan.
Sore harinya.
Aku pergi melihat sebuah ruko kecil di kawasan tua kota.
Pintu kayunya sudah lapuk.
Atapnya berlubang di sana-sini.
Dan debu tebal menutupi meja serta kursi.
Satu-satunya teman yang masih bertahan di sisiku ikut datang bersamaku.
Dia menghela napas panjang.
“Biayanya akan sangat besar untuk memperbaiki tempat ini.”
“Aku tahu.”
“Kau masih ingin membuka toko rotimu sendiri?”
“Ya.”
Dia menatapku lama.
Lalu menggelengkan kepala.
“Kakakmu tidak akan membiarkanmu sukses.”
Aku tersenyum.
“Biarkan saja dia mencoba.”
Pada saat itulah.
Sebuah mobil mewah berhenti di depan bangunan.
Asisten pribadi kakakku turun dari mobil.
Bersamanya ada pemilik ruko itu.
Pria itu tampak sangat tidak enak hati.
“Maaf.”
“Saya tidak bisa menyewakan tempat ini kepada Anda.”
Aku langsung mengerti apa yang terjadi.
Asisten itu meletakkan sebuah kontrak di atas meja.
“CEO kami sudah menyewa seluruh deretan bangunan di kawasan ini.”
“Lebih baik Anda menyerah saja.”
“Tidak ada yang akan menyewakan tempat kepada Anda.”
Suasana langsung terasa berat.
Temanku sangat marah.
Namun aku hanya mengambil kontrak itu.
Lalu merobeknya menjadi dua.
Asisten itu tersenyum penuh kemenangan.
“Akhirnya Anda menerima kekalahan juga?”
Aku membuang potongan kertas itu ke tempat sampah.
“Tidak.”
“Aku hanya tidak ingin berbisnis di dekat orang-orang yang merusak selera makanku.”
Senyumnya langsung menghilang.
Tiba-tiba ponselku berdering.
Nomornya tidak kukenal.
Aku mengangkat telepon itu.
Seorang wanita tua berada di seberang sana.
“Apakah Anda yang membuat kue ulang tahun cucu saya tahun lalu?”
Aku terkejut.
“Benar, Bu.”
“Saya sudah lama mencari Anda.”
Suaranya pelan namun jelas.
“Saya dengar Anda sedang mencari tempat untuk memulai lagi.”
Jantungku berdetak semakin cepat.
“Siapa Anda?”
Dia tertawa kecil.
“Saya pemilik bangunan tua di tepi pantai.”
“Banyak orang ingin menyewanya, tetapi belum ada satu pun yang saya izinkan.”
“Datanglah besok.”
“Saya rasa saya punya kesempatan yang tidak akan bisa dihentikan oleh kakak Anda.”
Sebelum sempat bertanya lebih jauh.
Tiba-tiba serangkaian mobil hitam berhenti di luar.
Temanku langsung pucat.
Bahkan asisten kakakku pun terdiam.
Karena pria yang turun dari mobil pertama…
Adalah seorang pengusaha super kaya yang sudah tiga tahun tidak pernah muncul di hadapan publik.
Namun yang paling mengejutkan semua orang…
Adalah ketika dia berjalan lurus ke arahku.

Dan saat berhenti tepat di depanku, dia sedikit menundukkan kepala lalu berkata:
“Akhirnya aku menemukanmu.”
Seolah-olah dia sudah mengenalku sejak lama…
Pria paruh baya itu mengenakan setelan jas buatan penjahit terbaik, namun wajahnya yang tegas memancarkan kelelahan yang mendalam. Di belakangnya, beberapa pengawal berbadan tegap menjaga area ruko tua yang kumuh ini, membuat asisten kakakku mendadak menciut di pojokan.
Aku mengerutkan kening, sama sekali tidak mengenali wajahnya. “Maaf, Anda siapa? Dan apa maksud Anda mencari saya?”
Pria itu tidak langsung menjawab. Dia menatap ruko berdebu ini, lalu beralih menatap jari-jariku yang kapalan akibat bertahun-tahun menguleni adonan. Senyum tipis, penuh rasa hormat dan kelegaan, muncul di wajahnya.
“Nama saya Abraham Wijaya,” ucapnya lirih.
Mendengar nama itu, asisten kakakku memekik kecil hingga menjatuhkan tas kerjanya. Abraham Wijaya. Dia adalah raja properti sekaligus pemilik jaringan hotel bintang lima terbesar di negara ini. Tiga tahun lalu, dia menarik diri sepenuhnya dari publik setelah kehilangan putra tunggalnya dalam sebuah kecelakaan tragis.
“Tiga tahun lalu, dunia saya runtuh,” kata Pak Abraham, suaranya agak bergetar. “Putra saya koma selama berbulan-bulan di rumah sakit. Di hari ulang tahunnya yang terakhir sebelum dia pergi, dia terbangun selama beberapa jam. Dia tidak mau makan apa pun, kecuali satu hal… dia merindukan kue sus buatan ibunya yang sudah lama meninggal.”
Jantungku berdegup kencang. Kenangan tiga tahun lalu mendadak berputar di kepalaku.
“Saya frustrasi dan mendatangi toko roti keluarga Anda, memohon dibuatkan kue sus dengan resep kuno,” lanjut Pak Abraham. “Kakak Anda yang menerima saya saat itu. Dia menyanggupinya demi kontrak besar, tetapi kue yang dia bawa malamnya ditolak mentah-mentah oleh putra saya. Rasanya salah, katanya.”
Pak Abraham melangkah satu tindakan lebih dekat. “Tetapi tengah malam itu, seorang gadis dengan celemek kotor menyelinap ke ruang perawatan. Gadis itu membawa sekotak kecil kue sus hangat yang dia buat dengan seluruh hatinya setelah mendengar ada anak yang sekarat. Ketika putra saya memakannya, dia tersenyum. Dia bilang, ‘Ini rasa yang kuingat.’ Dia pergi dengan tenang setelah itu.”
Air mataku hampir menetes. Aku ingat malam itu. Aku menentang perintah kakakku yang melarangku mencampuri urusannya, lalu membuat ulang kue itu dari nol dan mengantarkannya sendiri ke rumah sakit.
“Kakak Anda mengambil seluruh credit dan bayaran atas kejadian malam itu. Dia bahkan mengklaim resep itu miliknya,” Pak Abraham mengepalkan tangannya, matanya menatap tajam ke arah asisten kakakku. “Tetapi putra saya tidak bisa dibohongi. Sebelum mengembuskan napas terakhir, dia menggenggam tangan saya dan memberikan ini.”
Pak Abraham membuka telapak tangannya. Di sana ada sebuah jepit rambut kecil berbentuk bunga melati yang terjatuh di kamar rumah sakit malam itu. Jepit rambut milikku yang hilang tiga tahun lalu.
“Saya menghabiskan waktu bertahun-tahun untuk menyelidiki siapa pemilik asli jepit ini, dan siapa sebenarnya otak di balik semua resep jenius toko itu. Dan pencarian saya berakhir hari ini, tepat saat saya mendengar kakak Anda mencoba memboikot Anda dari seluruh kota,” Pak Abraham menoleh ke asisten kakakku yang sudah pucat pasi.
“Pulanglah, dan katakan pada bosmu,” suara Pak Abraham mendadak sedingin es. “Mulai detik ini, seluruh pasokan bahan baku ke tokonya dihentikan karena sayalah pemilik utama jalur distribusi tersebut. Dan semua sewa tanah untuk cabang tokonya di atas lahan milik Wijaya Group… dibatalkan.”
Asisten itu gemetar hebat, langsung berbalik dan berlari tunggang-langgeng keluar dari ruko.
Pak Abraham kembali menatapku, matanya kini kembali hangat. “Wanita tua yang menelepon Anda tadi adalah ibu mertua saya, pemilik bangunan di tepi pantai. Tempat itu bukan ruko biasa, melainkan kompleks kuliner terbaik yang sengaja kami siapkan untuk Anda.”
Dia membungkuk sedikit, memberikan sebuah kunci berlapis emas kepadaku.
“Mari kita bangun toko roti yang sesungguhnya. Toko yang dihargai karena jiwa pembuatnya, bukan karena keserakahannya. Apakah Anda siap, Nona?”
Aku menatap kunci di tanganku, lalu menatap temanku yang kini tersenyum lebar dengan mata berkaca-kaca. Kesedihan dan rasa sakit hati akibat diusir kakakku menguap begitu saja, digantikan oleh api semangat yang membara.
Aku menggenggam kunci itu erat-erat. “Ya. Saya siap.”