Posted in

ASISTEN MUDA SUAMIKU MENGHANCURKAN YACHT BARU YANG BARU SAJA KUBELI, LALU MENANGIS SEOLAH-OLAH DIA KORBANNYA

ASISTEN MUDA SUAMIKU MENGHANCURKAN YACHT BARU YANG BARU SAJA KUBELI, LALU MENANGIS SEOLAH-OLAH DIA KORBANNYA

Suamiku bahkan memeluknya di depan seluruh keluarga dan berkata, “Itu cuma sebuah yacht.”

Namun saat aku menelepon satu nomor…

Seluruh keluarganya langsung panik.

Yacht mewah senilai lebih dari 30 miliar rupiah yang baru saja kubeli di Teluk Manila diam-diam dicoba dikendarai oleh asisten muda suamiku, lalu ditabrakkannya langsung ke dermaga hingga lambung kapal pecah.

Ini sudah menjadi properti mewah keempat yang dirusaknya hanya dalam waktu dua bulan.

“Aku sudah memaafkanmu tiga kali. Tapi sekarang, bagaimana kamu akan mengganti kerugian ini?”

Mata asisten bernama Sofia langsung memerah. Tubuhnya gemetar seperti anak kucing yang dibuang di jalanan.

“Kak Valeria… maafkan saya… saya akan bekerja seumur hidup untuk membayar semuanya…”

Namun suamiku, Adrian Reyes, yang dulu selalu menuruti setiap perkataanku, segera menarik Sofia ke belakangnya dan melindunginya.

“Valeria, apa kamu harus membesar-besarkan masalah ini?”

“Ini cuma sebuah yacht.”

Sebelum aku sempat menjawab, Sofia menatapku dengan sorot mata penuh tantangan.

“Lagipula, uang yang Kakak pakai juga uangnya Pak Adrian, kan?”

“Mau minta dia bayar lagi?”

Aku tertawa.

Mereka memakai uangku sendiri untuk membiayai hubungan mereka, lalu sekarang menganggap aku sebagai parasit.

Saat seorang pria mulai menggigit tangan yang memberinya makan, tidak ada alasan lagi untuk mempertahankannya.

Aku berbalik dan meninggalkan dermaga.

Begitu masuk ke mobil, aku langsung menelepon pengacaraku.

“Bekukan semua rekening keluarga Reyes yang dijamin oleh perusahaan keluargaku.”

“Sekarang juga.”

1

Namaku Valeria Castillo.

Keluargaku adalah pemilik jaringan resor terbesar di Palawan.

Tiga tahun lalu, aku bertemu Adrian saat perusahaannya hampir bangkrut karena terlilit utang bank.

Dia berlutut di depan ayahku semalaman demi meminta investasi.

Saat itu aku menganggapnya sebagai pria yang ambisius, tahan banting, dan yang terpenting, tahu berterima kasih.

Karena itulah aku menikah dengannya.

Setelah pernikahan kami, akulah yang menyuntikkan modal ke Reyes Holdings dan membantu Adrian masuk ke kalangan elite Manila.

Mansion yang ditinggalinya, mobil yang dikendarainya, bahkan jaringan bisnis yang dimilikinya sekarang…

Semuanya dibukakan oleh keluarga Castillo.

Namun belakangan ini Adrian mulai berubah.

Dan perubahan itu dimulai sejak Sofia datang.

Dua bulan lalu Sofia menabrakkan Porsche milikku ke pembatas jalan.

Sebulan lalu dia menenggelamkan jet ski edisi terbatas milikku di perairan Boracay.

Dan minggu lalu dia menghancurkan koleksi wine-ku yang nilainya lebih dari 10 miliar rupiah.

Setiap kali kejadian itu terjadi, Adrian selalu mengatakan hal yang sama.

“Sofia masih muda.”

“Dia tidak sengaja.”

Sampai hari ini.

Yacht baruku yang bahkan belum sempat kurayakan peresmiannya sudah hancur karena Sofia.

Saat tiba di dermaga, aku melihat Adrian berdiri di sampingnya sambil dengan hati-hati menyampirkan jaket ke bahunya.

Sementara Sofia menangis seolah dialah korban.

Begitu melihatku, Adrian langsung mengernyit.

“Kenapa kamu ada di sini?”

Aku menunjuk yacht yang hancur.

“Tanyakan pada asistenmu.”

Sofia langsung menunduk.

“Saya cuma ingin mencoba mengemudi sebentar… saya tidak tahu remnya bermasalah…”

Aku menjawab dingin.

“Kamu bahkan tidak tahu cara mengemudikan yacht. Kenapa menyentuh milikku?”

Adrian segera berdiri di depannya.

“Cukup, Valeria.”

“Kamu selalu menggunakan uangmu untuk menindas orang lain.”

“Sofia berasal dari keluarga sederhana. Dia tidak seperti kamu.”

Aku menatapnya lama sebelum tertawa.

“Adrian.”

“Kamu membela selingkuhanmu di depanku?”

Wajahnya langsung menggelap.

“Hati-hati dengan ucapanmu.”

“Dia cuma asistanku.”

Sofia buru-buru menggeleng sambil menangis.

“Kak Valeria, Kakak salah paham… hubungan saya dan Pak Adrian bersih…”

Namun tepat saat itu layar ponselnya menyala.

Di layar kunci terlihat jelas foto selfie mereka berpelukan di atas yacht.

Adrian membeku.

Sedangkan aku tertawa keras.

2

Malam harinya, seluruh keluarga Reyes datang menyerbu mansion milikku.

Begitu masuk, ibu Adrian langsung menunjukku sambil berteriak.

“Valeria!”

“Hanya karena masalah kecil, kamu membekukan semua rekening kami?!”

Adik perempuan Adrian juga ikut berteriak marah.

“Tahu tidak, tadi kartuku ditolak di Greenbelt!”

“Aku ditertawakan teman-temanku!”

Ayah Adrian menghentakkan tongkatnya ke lantai.

“Keluarga Castillo benar-benar sombong!”

Aku hanya duduk tenang di sofa sambil menyeruput teh.

“Sombong?”

“Kalau bukan karena keluarga Castillo, kalian masih tinggal berdesakan di apartemen tua di Quezon City.”

Ruang tamu langsung sunyi.

Wajah ibu Adrian memerah karena marah.

“Kamu…”

Adrian mendekat dan memegang bahuku dengan nada yang lebih lembut.

“Sayang, jangan diperbesar lagi masalah ini.”

“Kembalikan akses rekening mereka.”

“Kita keluarga, bukan?”

Aku menepis tangannya.

“Keluarga?”

“Kamu memakai kartu tambahanku untuk membelikan jam tangan bagi Sofia.”

“Kamu memakai uangku untuk menyewakan apartemen mewah untuknya.”

“Dan sekarang kamu bahkan menggunakan uangku untuk membeli yacht demi selingkuhanmu.”

“Adrian, dari mana kamu mendapatkan keberanian untuk menyebutku keluarga?”

Ekspresinya langsung berubah.

Karena selama ini aku tidak pernah membicarakan semua itu.

Dia mengira aku tidak tahu.

Padahal semua transaksi dari Castillo Bank dikirim langsung kepadaku setiap hari.

Tak lama kemudian Sofia masuk dari luar.

Dia mengenakan gaun putih dan membawa tas desainer edisi terbatas yang dulu kupesan langsung dari Paris.

Begitu melihatku, dia langsung membungkuk sopan.

“Kak Valeria… saya membawakan makan malam untuk semua orang.”

Nada suara ibu Adrian langsung berubah hangat.

“Sofia memang gadis yang tahu cara menghargai orang lain.”

“Tidak seperti istri tertentu yang tidak peduli pada suaminya.”

Sofia pura-pura malu.

“Jangan bilang begitu, Tante… saya hanya kasihan pada Pak Adrian karena beliau bekerja terlalu keras…”

Aku menatap tas yang dibawanya.

Lalu bertanya perlahan.

“Tas itu… bagaimana kamu membelinya?”

Sofia langsung membeku.

Adrian buru-buru menyela.

“Aku yang membelikannya.”

Aku tertawa.

“Kamu?”

“Adrian, kemarin saldo rekening pribadimu bahkan belum mencapai 50 juta rupiah.”

“Dari mana kamu mendapatkan 2 miliar untuk membeli tas itu?”

Ruangan langsung hening.

Aku mengambil ponselku dan melemparkan salinan transaksi bank ke atas meja.

Nama pembayar terlihat jelas.

VALERIA CASTILLO.

Wajah Sofia langsung pucat.

Bahkan ibu Adrian ikut terdiam.

Aku bersandar dan menatap mereka dengan dingin.

“Kalian memakai uangku untuk memelihara selingkuhan di depan mataku sendiri.”

“Keberanian kalian memang luar biasa.”

3

Adrian akhirnya kehilangan kesabaran.

“Cukup, Valeria!”

“Kamu selalu memakai uangmu untuk mengendalikan orang lain!”

“Ya, keluarga Castillo memang membantu kami dulu!”

“Tapi sekarang Reyes Holdings hampir melantai di bursa saham!”

“Tanpa dirimu pun aku bisa hidup dengan baik!”

Aku menatapnya lama lalu tersenyum.

“Benarkah?”

“Adrian… apa kamu benar-benar berpikir IPO perusahaanmu akan disetujui?”

Senyumnya sedikit membeku.

Aku meletakkan cangkir teh di atas meja.

“Tahu tidak kenapa selama tiga bulan bank belum menyetujui dokumen IPO kalian?”

Adrian mengernyit.

Aku memiringkan kepala sedikit.

“Karena semua aset jaminan Reyes Holdings… terdaftar atas nama keluarga Castillo.”

“Kalau aku mencabut jaminan itu…”

“Besok pagi juga perusahaanmu akan tenggelam dalam utang.”

Seluruh keluarga Reyes langsung pucat.

Bahkan Sofia yang berdiri di belakang Adrian mulai benar-benar panik.

Namun tepat saat itu ponsel Adrian berdering.

Begitu mengangkat telepon, wajahnya langsung berubah drastis.

“Apa?!”

“Semua investor menarik diri secara bersamaan?!”

“Bank menghentikan jalur kredit kita?!”

Suasana di mansion langsung membeku.

Perlahan Adrian menoleh ke arahku.

Sementara aku hanya tersenyum tipis.

“Adrian…”

“Permainan ini baru saja dimulai.”

Berikut adalah kelanjutan dan babak akhir dari kisahmu:

BABAK AKHIR: Kehancuran Istana Pasir Keluarga Reyes

Suara ponsel Adrian yang bergetar hebat di tangannya terdengar seperti lonceng kematian. Di seberang telepon, suara direktur keuangannya berteriak histeris, cukup keras hingga bisa didengar oleh seluruh orang di ruang tamu.

“Pak Adrian! Dokumen pengajuan IPO kita resmi ditolak oleh otoritas bursa! Bank-bank utama di Manila tidak hanya membekukan kredit, mereka juga menuntut pelunasan seluruh utang lama dalam waktu 1×24 jam! Jika tidak, besok pagi mereka akan menyita seluruh aset Reyes Holdings!”

Plak.

Ponsel di tangan Adrian terlepas dan jatuh ke atas karpet mahal milikku. Lutut pria yang tadinya begitu sombong itu mendadak lemas. Ia mundur beberapa langkah hingga menabrak meja kaca.

Ibu Adrian yang tadinya berkacak pinggang langsung maju dengan wajah pucat pasi. “Adrian… apa yang terjadi? Investor menarik diri? Itu tidak mungkin, kan? Perusahaan kita kan sudah besar!”

“Besar karena ditopang oleh pilar keluarga Castillo, Ibu,” ujarku tenang, sambil menuangkan kembali teh hangat ke dalam cangkirku. “Tanpa fondasi dari keluargaku, Reyes Holdings hanyalah sebuah cangkang kosong yang rapuh.”

Adik perempuan Adrian, yang tadi merengek karena kartunya ditolak di Greenbelt, kini mulai menangis ketakutan. “Kak Valeria… kamu bercanda, kan? Kamu tidak benar-benar menghancurkan kami, kan? Kita ini keluarga!”

“Keluarga?” Aku berdiri dari sofa, menatap mereka satu per satu dengan pandangan merendahkan. “Saat asisten murahan ini menghancurkan Porsche, jet ski, koleksi wine, hingga yacht 30 miliar milikku, kalian tertawa dan bilang ‘itu cuma barang’. Sekarang, saat aku menarik kembali semua fasilitasku, kenapa kalian menangis? Ini juga ‘cuma perusahaan’, bukan?”

Sofia, yang sejak tadi berdiri bersembunyi di belakang ibu Adrian, gemetar hebat. Tas desainer Paris senilai 2 miliar yang dipegangnya mendadak terasa seperti bara api yang membakar tangannya.

“Kak Valeria… tolong jangan lakukan ini pada Pak Adrian…” Sofia menangis, mencoba memasang wajah memelas seperti anak kucing, taktik yang selalu berhasil meluluhkan Adrian. “Ini semua salah saya… saya yang salah… saya akan mengembalikan tas ini, saya akan keluar dari perusahaan…”

“Keluar?” Aku berjalan mendekatinya, lalu dengan kasar menyentak tas Paris itu dari tangannya. “Tentu saja kamu harus keluar. Tapi bukan cuma dari perusahaan, melainkan dari apartemen mewah yang kamu tinggali. Dan jangan harap kamu bisa lari dari tanggung jawab hukum atas perusakan empat properti mewah milikku. Pengacaraku sudah mengajukan gugatan pidana dan perdata atas namamu.”

Wajah Sofia seketika berubah abu-abu. Ia menatap Adrian, berharap pria itu akan melindunginya seperti di dermaga tadi. “Pak Adrian… tolong saya…”

Namun Adrian bahkan tidak menoleh ke arahnya. Pria itu kini merangkak di atas lantai marmer, mencoba menggapai kakiku. Wajahnya dipenuhi air mata dan keringat dingin.

“Valeria… aku mohon… aku mengaku salah,” ratap Adrian, suaranya parau penuh penyesalan. “Aku khilaf. Sofia yang menggodaku duluan! Aku tidak pernah mencintainya, dia hanya asisten! Tolong beri aku satu kesempatan lagi… selamatkan Reyes Holdings. Aku akan berlutut di depan ayahmu lagi jika perlu!”

Mendengar ucapan Adrian, Sofia terkesiap. “Pak Adrian?! Anda bilang Anda mencintai saya! Anda bilang istri Anda hanya wanita sombong yang tidak punya perasaan!”

“Diam kamu, pelacur!” teriak ibu Adrian, berbalik dan langsung menjambak rambut Sofia dengan penuh emosi. “Gara-gara perempuan sialan sepertimu, keluarga kami hancur! Berani-beraninya kamu menggoda anakku!”

Suasana di ruang tamu mansionku mendadak berubah menjadi arena cakar-cakaran yang sangat menyedihkan. Ibu dan adik Adrian meluapkan seluruh kemarahan dan ketakutan mereka kepada Sofia, sementara Sofia berteriak histeris membalas makian mereka. Adrian sendiri masih bersujud di dekat kakiku, terus memohon belas kasihan.

Aku memandang pemandangan kacau di depanku dengan rasa jijik yang mendalam.

“Satpam,” panggilku lewat interkom dinding.

Dalam hitungan detik, empat petugas keamanan berbadan tegap masuk ke dalam ruangan.

“Seret semua orang ini keluar dari mansionku. Jika mereka menolak, hubungi kepolisian Makati atas tuduhan masuk tanpa izin dan membuat keributan,” perintahku dingin.

“Valeria! Jangan lakukan ini! Aku suamimu!” teriak Adrian saat kedua lengannya dikunci oleh petugas keamanan dan diseret paksa menuju pintu keluar. Keluarga Reyes dan Sofia diusir keluar layaknya sampah, disaksikan oleh para pelayan dan tetangga di kompleks elite tersebut.

Tiga Bulan Kemudian

Sinar matahari Palawan terasa begitu hangat di wajahku saat aku berdiri di atas dek yacht baru yang jauh lebih besar dan mewah daripada yang dihancurkan Sofia. Di sampingku, pengacara keluarga Castillo menyerahkan selembar dokumen resmi yang sudah ditandatangani oleh hakim pengadilan Manila.

“Semua proses perceraian sudah selesai, Nyonya Valeria. Anda resmi berpisah dari Adrian Reyes,” ucap sang pengacara dengan hormat. “Selain itu, Reyes Holdings telah dinyatakan pailit. Seluruh sisa aset mereka, termasuk rumah keluarga Reyes di Quezon City dan apartemen yang ditinggali Sofia, telah disita oleh Castillo Bank untuk menutup kerugian Anda.”

Aku tersenyum tipis, menerima dokumen itu. “Bagaimana kabar mantan suamiku dan asistennya?”

“Adrian Reyes kini bekerja sebagai buruh kasar di pelabuhan utara untuk membayar sisa utang yang tidak bisa ditutupi oleh penyitaan aset. Sedangkan Sofia… pengadilan menjatuhkan hukuman tiga tahun penjara atas kasus perusakan barang mewah dan kegagalan membayar ganti rugi.”

Aku menatap hamparan laut lepas Teluk Manila yang biru jernih. Pria yang dulu kuselamatkan dari kebangkrutan telah kembali ke tempat asalnya di dasar terbawah, bersama dengan asisten serakah yang mencoba merebut apa yang bukan miliknya.

Mereka lupa, bahwa akulah yang membangun istana tempat mereka bernaung. Dan dengan satu petikan jari, aku juga bisa meruntuhkannya hingga menjadi debu.

Aku mengangkat gelas sampanyeku tinggi-tinggi, menyambut kehidupan baruku yang bebas, kaya, dan tanpa parasit.