Posted in

AYAH SELALU MEMANGGILKU “ANAKKU”… TAPI TERNYATA AKU BUKAN ANAK KANDUNGNYA

AYAH SELALU MEMANGGILKU “ANAKKU”… TAPI TERNYATA AKU BUKAN ANAK KANDUNGNYA

“Anakku, cepat makan sebelum sarapannya dingin.”

Aku berhenti di ambang pintu dapur.

Selama lima belas tahun, aku mendengar kalimat itu setiap hari.

Namun ada sebuah rahasia yang hampir diketahui semua orang di lingkungan kami.

Aku bukan anak kandung Ayah.

Namaku Mia.

Usiaku dua puluh enam tahun.

Aku tinggal bersama Ayah di sebuah rumah sederhana di kota kecil yang tenang.

Ibu sudah lama tiada.

Setidaknya itulah cerita yang selalu kudengar sejak kecil.

Ayah menjadi ayah sekaligus ibu bagiku selama bertahun-tahun.

Berangkat bekerja sejak pagi.

Pulang malam hari untuk memasak, mencuci, dan memastikan semua kebutuhanku terpenuhi.

Kami tidak kaya.

Tetapi dia tidak pernah membiarkanku kekurangan apa pun.

Saat tumbuh dewasa, aku mulai menyadari sesuatu yang aneh.

Setiap kali aku melewati para tetangga, mereka tiba-tiba terdiam.

Beberapa bahkan menatapku dengan sorot mata penuh iba.

Berkali-kali aku bertanya kepada Ayah tentang hal itu.

Dia hanya tersenyum.

— Jangan memikirkan hal-hal yang tidak penting.

Lalu dia mengusap kepalaku seperti biasa.

Sampai suatu hari semuanya berubah.

Suatu sore, aku membersihkan ruangan tua di belakang rumah.

Itu adalah tempat yang sejak kecil dilarang keras untuk kumasuki.

Ayah selalu berkata bahwa ruangan itu hanya berisi barang-barang rusak.

Saat memindahkan sebuah lemari tua, aku menemukan ruang tersembunyi di belakangnya.

Di sana terdapat sebuah kotak besi kecil.

Jantungku langsung berdegup kencang.

Seolah ada sesuatu yang memperingatkanku untuk tidak membukanya.

Tetapi aku tetap melakukannya.

Begitu terbuka, aku menemukan puluhan foto lama.

Foto-foto yang belum pernah kulihat sebelumnya di rumah ini.

Ada seorang bayi perempuan.

Ada seorang wanita cantik yang menggendongnya.

Dan ada seorang pria yang berdiri di samping mereka.

Mereka tersenyum bahagia.

Aku menatap bayi dalam foto itu.

Itu aku.

Aku yakin.

Tetapi pria dalam foto itu…

Bukan Ayah.

Tanganku mulai gemetar.

Di bawah tumpukan foto terdapat sebuah amplop tua.

Di bagian depannya tertulis:

“Buka hanya jika Mia sudah mengetahui kebenarannya.”

Duniaku seakan berhenti.

Aku membaca tulisan itu berulang kali.

Kebenaran apa?

Dan kenapa surat itu ditujukan untukku?

Saat itulah aku mendengar langkah kaki di belakangku.

Ketika menoleh, aku melihat Ayah berdiri di ambang pintu.

Wajahnya pucat.

Dia menatap kotak itu seolah sedang melihat hal yang paling ditakutinya dalam hidup.

Keheningan terasa begitu berat.

Beberapa saat kemudian, dia berkata pelan.

— Seharusnya kau tidak menemukan itu.

Aku menggenggam amplop itu erat-erat.

— Yah… apa ini?

Dia tidak menjawab.

Aku belum pernah melihatnya seperti itu.

Pria yang selalu kuat kini tampak gemetar.

— Siapa pria dalam foto itu?

Dia tetap diam.

— Yah, jawab aku!

Untuk pertama kalinya dalam hidupku, aku meninggikan suara kepadanya.

Matanya memerah.

Lalu dia mengatakan sesuatu yang menghancurkan seluruh dunia yang selama ini kukenal.

— Karena… aku bukan ayah kandungmu.

Semua suara di sekelilingku seakan menghilang.

Yang tersisa hanyalah detak jantungku sendiri.

— Kalau begitu… siapa sebenarnya Ayah?

Dia menatapku.

Matanya dipenuhi rasa sakit.

— Aku adalah orang yang berjanji akan melindungimu apa pun yang terjadi.

Perlahan aku membuka amplop itu.

Hanya ada sebuah surat.

Dan sebuah alamat.

Tulisan tangan itu milik wanita dalam foto.

Di bagian paling bawah tertulis:

“Jika kau membaca surat ini sekarang, berarti kami tidak lagi bisa menyembunyikan rahasia ini. Datanglah ke alamat ini dan kau akan mengetahui mengapa kita harus berpisah.”

Aku menatap Ayah.

— Apakah Ibu masih hidup?

Dia tidak menjawab.

Tetapi diamnya jauh lebih menakutkan daripada jawaban apa pun.

Tiba-tiba teleponnya berdering.

Nomor yang muncul tidak dikenal.

Begitu dia mengangkatnya, ekspresi wajahnya langsung berubah.

Seolah seluruh darah menghilang dari wajahnya.

Telepon itu bahkan terjatuh dari tangannya.

Aku mendengar suara samar dari seberang sana.

Hanya satu kalimat.

— Kami sudah menemukannya.

Aku membeku.

Siapa?

Wanita dalam foto itu?

Ibu kandungku?

Atau seseorang yang telah menghilang selama dua puluh enam tahun?

Namun yang membuat bulu kudukku semakin merinding adalah kalimat berikutnya.

— Mereka juga sudah tahu bahwa anak itu masih hidup.

— Dan mereka sedang dalam perjalanan untuk menjemputnya.

Aku bahkan belum memahami apa yang sedang terjadi.

Ketika tiba-tiba terdengar suara rem mobil yang memekik keras di depan rumah.

Satu mobil hitam.

Lalu satu lagi.

Dan satu lagi.

Ayah langsung menarikku ke belakang tubuhnya.

Untuk pertama kalinya, aku melihat ketakutan di wajahnya.

Dia menatap pintu rumah.

Lalu berkata pelan:

— Akhirnya… mereka menemukanmu juga.

Kemudian terdengar ketukan di pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

Satu per satu.

Lambat.

Berat.

Seperti pertanda bahwa sebuah rahasia yang terkubur lebih dari dua dekade akhirnya akan terungkap.

Dan aku sama sekali tidak tahu bahwa orang yang berdiri di balik pintu itu…

Akan mengubah hidupku selamanya.

Pintu depan rumah kami yang terbuat dari kayu tua berderit pelan saat perlahan terbuka.

Ayah—pria yang selama dua puluh enam tahun ini merawatku dengan tangan kasarnya—berdiri di depanku, menjadikannya tameng hidup demi melindungiku. Napasnya memburu, jorokan ketakutan sekaligus tekad bulat terpancar dari punggungnya yang mulai membungkuk.

Seorang pria paruh baya melangkah masuk. Setelan jas hitamnya sangat mahal, kontras dengan lantai semen rumah kami yang sederhana. Rambutnya beralur uban di pelipis, namun wajahnya yang tegas memiliki garis-garis yang… entah mengapa, membuat dadaku mendadak sesak.

Garis rahang itu. Bentuk mata itu.

Dia adalah pria yang sama dengan yang ada di foto lama dalam kotak besi tadi. Ayah kandungku.

Di belakangnya, beberapa pria berbadan tegap berjaga di halaman, menutup seluruh akses jalan keluar.

Pria berjas itu menghentikan langkahnya beberapa meter dari kami. Matanya langsung tertuju kepadaku yang bersembunyi di balik punggung Ayah. Seketika itu juga, keangkuhan di wajahnya runtuh, digantikan oleh genangan air mata yang tertahan.

“Mia…” suaranya bergetar hebat. “Kau… kau sangat mirip dengan ibumu.”

Aku tidak bisa bersuara. Lidahku kelu.

Pria itu kemudian mengalihkan pandangannya kepada Ayah. Tatapannya berubah menjadi campuran antara rasa bersalah dan hormat yang mendalam. “Dua puluh enam tahun, Baskoro. Kau benar-benar menepati janjimu untuk menyembunyikannya dari dunia. Dari mereka.”

Ayah—yang dipanggil Baskoro—mengepalkan tinjunya. “Aku berjanji pada mendiang isterimu untuk menjaganya dengan nyawaku, Tuan Angga. Dan aku tidak akan membiarkan siapa pun membawanya ke tempat terkutuk yang membunuh ibunya!”

Tuan Angga menunduk, air matanya akhirnya jatuh. “Kekuasaan keluarga besar kita yang telah membunuh ibunya, Baskoro. Tapi sekarang, dalang di balik kecelakaan dua puluh enam tahun lalu itu sudah tiada. Aku sudah merebut kembali segalanya. Aku datang bukan untuk menyakitinya… Aku datang untuk menjemput putriku pulang.”

Duniaku rasanya berputar balik. Aku keluar dari balik punggung Ayah, menatap kedua pria itu bergantian dengan air mata yang mulai mengalir.

“Apa… apa maksud semua ini?” suaraku bergetar. “Siapa kalian sebenarnya? Dan siapa yang membunuh ibuku?!”

Sebelum Tuan Angga sempat menjawab, salah satu pengawal di luar tiba-tiba berteriak panik. “Tuan Besar! Mobil dari kediaman utama keluarga Wijaya baru saja memasuki jalan ini! Mereka berhasil melacak kita!”

Wajah Tuan Angga dan Ayah seketika memucat.

“Sial, mereka tidak berniat membiarkan pewaris sah garis keturunan ini hidup!” geram Tuan Angga. Dia langsung berbalik menatap Ayah. “Baskoro, bawa Mia lewat pintu belakang! Mobil rahasiaku ada di gang seberang. Aku akan menahan mereka di sini!”

Ayah tidak membuang waktu. Dia langsung menyambar pergelangan tanganku. “Cepat, Mia! Ikut Ayah!”

“Tapi, Yah—”

“Tidak ada waktu lagi, Nak! Ayah akan menjelaskan semuanya di jalan, tapi sekarang, kau harus hidup!” pekik Ayah dengan suara yang belum pernah kudengar seumur hidupku.

Saat Ayah menarikku berlari menuju dapur, aku sempat menoleh ke belakang untuk terakhir kalinya. Di ambang pintu depan, sekelompok pria asing berwajah bengis mendobrak masuk, dan pria yang mengaku sebagai ayah kandungku itu langsung pasang badan menghadang mereka demi memberi kami waktu untuk lolos.

Malam itu, di bawah raungan sirine dan suara benturan keras di depan rumah, aku menyadari satu hal di tengah kepanikan yang mendera: status darah mungkin bisa membedakan siapa yang melahirkanku, tetapi pria yang sedang menggenggam erat tanganku di tengah kegelapan ini adalah satu-satunya orang yang rela menantang maut demi menyebutku…”Anakku”.