Posted in

TIGA HARI SETELAH AKU MENGHILANG DARI PERUSAHAAN, DIA MENGUNGGAH FOTO PERTUNANGANNYA. AKU HANYA MENULIS “SELAMAT”, DAN KEESOKAN HARINYA ADA 417 PANGGILAN TAK TERJAWAB DI PONSELKU**

TIGA HARI SETELAH AKU MENGHILANG DARI PERUSAHAAN, DIA MENGUNGGAH FOTO PERTUNANGANNYA. AKU HANYA MENULIS “SELAMAT”, DAN KEESOKAN HARINYA ADA 417 PANGGILAN TAK TERJAWAB DI PONSELKU**

“Benarkah kamu sudah resign?”

Aku sedikit menjauh dari ponsel karena teriakan keras Angela Cruz di seberang sana.

Saat itu aku berada di apartemen kecil sewaan dekat pantai.

Di sekelilingku hanya ada beberapa koper tua dan kardus-kardus yang belum sempat kubuka.

“Iya.”

Jawabanku singkat.

“Tapi kenapa? Kamu sudah bekerja di perusahaan itu selama lima tahun. Semua orang bilang kamu calon regional manager berikutnya. Banyak orang bermimpi mendapatkan posisi seperti itu!”

Aku diam sambil memandangi laut di balik jendela.

Pemandangan jauh tertutup awan gelap yang tebal.

“Mungkin aku cuma lelah.”

“Jangan bohongi aku.”

Dia belum selesai berbicara ketika ponselku bergetar.

Dia mengirim sebuah foto.

Aku membukanya.

Sebuah pesta pertunangan mewah.

Di tengah aula megah, seorang pria sedang memasangkan cincin ke jari seorang wanita cantik.

Di bawahnya tertulis:

*”Akhirnya aku menemukan orang yang akan menemaniku seumur hidup.”*

Yang mengunggah foto itu adalah Gabriel Villanueva.

Pria yang sudah lima tahun bekerja bersamaku.

Pria yang diam-diam kucintai selama aku selalu berdiri di belakangnya.

Aku menatap foto itu cukup lama.

Sampai jari-jariku perlahan terasa dingin.

“Kamu baik-baik saja?”

Tanya Angela pelan.

Dengan tenang aku menekan tombol reaksi.

Aku meninggalkan ucapan selamat yang sederhana.

Lalu menjawab dengan tenang,

“Mereka cocok.”

“Bella…”

“Sudahlah. Besok kamu masih kerja. Aku juga harus membereskan barang-barangku.”

Aku mengakhiri panggilan.

Lalu menutup semua akun media sosialku.

Malam itu…

Aku tidur dengan nyenyak.

Tanpa mimpi.

Tanpa kenangan.

Tanpa Gabriel.

Keesokan paginya…

Aku terbangun karena suara ponsel yang terus berbunyi.

Masih mengantuk, aku bangkit dari tempat tidur.

Sinar matahari menembus celah tirai.

Aku mengambil ponsel untuk melihat jam.

Namun begitu layar menyala, aku langsung terduduk kaget.

417 panggilan tak terjawab.

Lebih dari dua ratus pesan.

Puluhan pesan suara.

Semuanya dari satu orang.

Awalnya aku mengira mataku salah melihat.

Aku bahkan menguceknya beberapa kali.

Tetapi nama yang tertera tetap sama.

**Gabriel Villanueva.**

Pria yang baru saja mengumumkan pertunangannya semalam.

Jantungku langsung berdegup lebih cepat.

Bersamaan dengan rasa gelisah yang aneh.

Ponselku kembali berdering.

Angela menelepon.

Begitu kuangkat, dia langsung berteriak.

“Akhirnya! Kamu buka ponsel juga!”

“Ada apa sebenarnya?”

“Ada apa? Gabriel hampir gila!”

Aku mengernyit.

“Gila?”

“Dia menelepon semua orang yang mengenalmu semalaman. Mantan rekan kerja, teman kuliah, bahkan partner bisnis. Dia cuma menanyakan satu hal.”

“Apa?”

“Di mana kamu?”

Dunia terasa berhenti berputar.

Udara di dalam apartemen mendadak terasa dingin.

“Kenapa dia mencariku?”

“Mana aku tahu?”

Tiba-tiba panggilan lain masuk.

Aku melihat namanya di layar.

**Gabriel.**

Aku menatapnya lama.

Tidak mengerti kenapa telapak tanganku mulai berkeringat.

“Angkat saja.”

Desak Angela.

Aku ragu beberapa detik.

Lalu menolak panggilan itu.

Angela langsung terdiam.

“Kamu benar-benar tidak mau menjawab?”

“Tidak.”

Ponselku kembali berdering.

Masih Gabriel.

Aku menolaknya lagi.

Panggilan ketiga.

Keempat.

Kelima.

Akhirnya aku memblokir nomornya sepenuhnya.

Keheningan langsung menyelimuti ruangan.

Tetapi belum sampai satu menit…

Terdengar ketukan di pintu.

Tok.

Tok.

Tok.

Aku menoleh.

Siapa yang bisa menemukanku di sini?

Aku baru pindah kemarin.

Bahkan Angela tidak tahu alamat lengkapku.

Ketukan itu semakin keras.

Lalu terdengar suara penjaga gedung.

“Nona, ada seseorang yang mencari Anda.”

Aku berdiri.

Perlahan berjalan ke arah pintu.

“Siapa?”

Hening beberapa saat.

Lalu dengan suara gugup dia menjawab,

“Nona… lebih baik Anda lihat sendiri.”

Aku tidak tahu kenapa.

Tetapi dadaku mendadak terasa sesak.

Aku membuka pintu sedikit.

Lalu mengintip ke jalan.

Pada detik itu…

Seluruh tubuhku membeku.

Lebih dari dua puluh mobil hitam terparkir di kedua sisi jalan.

Semua tetangga berdiri menonton.

Dan di tengah-tengahnya…

Berdiri Gabriel Villanueva.

Kemejanya kusut.

Matanya merah seolah tidak tidur semalaman.

Di tangannya ada sebuah map yang sudah lecek karena diremas.

Dia mengangkat kepalanya dan menatap lurus ke arah jendela apartemenku.

Seperti seseorang yang akhirnya menemukan sesuatu yang telah lama hilang.

Lalu dia berbicara.

Suaranya serak.

Tetapi cukup jelas untuk didengar seluruh jalan.

“Aku tahu kamu ada di sana.”

“Kenapa kamu tidak pernah memberitahuku…”

“…bahwa anak kita masih hidup?”

Aku terpaku.

Gelas yang sedang kupegang terlepas dari tanganku.

Jatuh ke lantai.

Dan pecah berkeping-keping.

Suara pecahan gelas yang menghantam lantai marmer terdengar begitu nyaring di dalam keheningan kamarku. Pecahannya berserakan di dekat kakiku, persis seperti rahasia terbesar dalam hidupku yang baru saja hancur berantakan di tengah jalanan sepi ini.

Seluruh tubuhku gemetar hebat. Pertahanan yang kubangun dengan rapi selama tiga hari ini runtuh dalam satu detik hanya karena satu kalimat dari mulut Gabriel.

Bagaimana bisa dia tahu?

Selama tiga tahun ini, aku menyembunyikannya dengan sangat rapi. Ketika dokter mengatakan detak jantung janinku berhenti di bulan keempat kehamilanku—tepat di saat Gabriel sedang berjuang mati-matian di Eropa untuk mengamankan pendanaan proyek terbesarnya—aku hancur sendirian. Namun, mukjizat terjadi dua minggu kemudian. Dokter menyatakan ada kesalahan diagnosis; bayiku bertahan.

Tetapi saat aku melihat Gabriel pulang dengan senyum kemenangan, dikelilingi oleh ambisi dan ekspektasi besar keluarganya yang menuntutnya menikahi wanita dari kalangan sosial atas, aku memilih mundur. Aku tidak ingin menjadi batu sandungan. Aku membiarkan dia mengira anak kami sudah tiada, sementara aku membesarkan putra kami, Liam, secara sembunyi-sembunyi di kota kecil ini.

“Nona Bella…” Penjaga gedung menatapku dengan wajah pucat, ketakutan melihat deretan mobil hitam dan puluhan pria berjas yang mengawal Gabriel.

Aku tidak menjawab. Dengan tatapan kosong, aku melangkah keluar ke balkon kecil apartemenku, menatap langsung ke arah pria yang berdiri di bawah sana.

Gabriel mendongak. Begitu mata kami bertemu, kilat kemarahan, kerinduan, dan rasa bersalah yang luar biasa bercampur menjadi satu di wajahnya. Dia tidak memedulikan bisikan para tetangga. Dia melangkah maju, melewati gerbang kecil apartemen, dan berlari menaiki tangga.

Hanya butuh waktu kurang dari satu menit sampai pintu apartemenku didorong paksa dari luar.

Gabriel berdiri di ambang pintu. Napasnya memburu, dasinya sudah entah ke mana, dan matanya berkaca-kaca. Dia melempar map lecek di tangannya ke atas meja makan kecilku. Map itu terbuka, menampilkan salinan akta kelahiran Liam dan hasil tes DNA yang entah bagaimana bisa dia dapatkan.

“Kenapa, Bella?” suara Gabriel tercekat di tenggorokan, terdengar sangat menyakitkan. “Lima tahun kamu di sisiku. Kamu tahu segala hal tentang hidupku, dari jadwal rapat sampai ukuran sepatuku. Tapi kenapa kamu menyembunyikan putraku dariku?!”

Aku mengepalkan tangan, mencoba menahan air mata yang mendesak keluar. “Putramu? Sejak kapan kamu peduli, Gabriel? Kamu sibuk membangun kerajaanmu. Dan semalam… semalam kamu mengumumkan pertunanganmu dengan wanita pilihan ibumu! Apa yang kamu inginkan sekarang? Menjadikan Liam anak haram di tengah keluarga besarmu yang terhormat?!”

Gabriel tertegun. Dia menatapku dengan tatapan tidak percaya, lalu tawa getir lolos dari bibirnya yang pucat.

“Foto pertunangan itu…” Gabriel melangkah mendekat, mencengkeram kedua bahuku dengan tangan yang gemetar hebat. “Itu bukan pertunanganku, Bella! Itu pesta pertunangan adik sepupuku, Gian Villanueva! Ayahku sengaja menyuruh tim humas menggunakan akun perusahaanku untuk mengunggahnya, memaksa agar namaku disandingkan dengan wanita itu demi menaikkan saham!”

Gabriel mencengkeram bahuku lebih erat, air matanya akhirnya jatuh membasahi pipinya yang berbayang janggut tipis.

“Aku menolak perjodohan itu semalam, Bella. Aku bertengkar hebat dengan ayahku, dan aku keluar dari rumah itu karena aku sadar… aku tidak bisa hidup tanpa kamu. Aku berniat melepaskan posisi regional manager-ku untuk mengejarmu ke sini. Tapi saat aku menggeledah arsip lama di rumah utama untuk mencari dokumenku, aku menemukan surat pemeriksaan medis rahasia yang disimpan ibuku selama tiga tahun ini. Surat yang menyatakan bahwa bayiku… bahwa anak kita sebenarnya selamat.”

Jantungku rasanya berhenti berdetak. Ibunya tahu selama ini dan menyembunyikannya dari Gabriel.

“Ibuku mengancam doktermu dan menyembunyikan fakta ini agar aku tetap fokus pada bisnis,” bisik Gabriel, suaranya hancur lebur oleh rasa bersalah. “Semalaman aku seperti orang gila, Bella. Aku merasa menjadi ayah dan pria paling bajingan di dunia. 417 panggilan itu… itu adalah ketakutanku karena mengira aku telah kehilangan kalian berdua untuk selamanya.”

Tiba-tiba, dari balik tirai kamar tidur yang setengah terbuka, terdengar suara langkah kaki kecil yang mengantuk.

“Bunda… siapa yang berisik?”

Seorang anak laki-laki berusia tiga tahun dengan rambut ikal dan mata yang persis seperti mata Gabriel, berdiri sambil mengucek matanya, memegangi robot mainan tua.

Gabriel seketika membeku. Cengkeramannya di bahuku terlepas. Dia perlahan membalikkan badannya, menatap anak kecil itu dengan pandangan yang tak bisa dilukiskan dengan kata-kata. Tubuh Gabriel merosot, dia berlutut di lantai marmer, menutup mulutnya dengan tangan sementara tangisnya pecah tanpa suara.

Liam memandang pria asing yang menangis di depannya dengan bingung, lalu menatapku. “Bunda, om itu kenapa menangis?”

Aku tidak bisa menahannya lagi. Air mata yang kusimpan selama tiga tahun ini tumpah sepenuhnya. Aku berjalan mendekati Liam, memeluknya erat, lalu menatap Gabriel yang masih bersimpuh di lantai dengan sisa-sisa kehancurannya.

“Dia bukan om, Liam,” kataku dengan suara bergetar, menatap lurus ke arah sepasang mata Gabriel yang dipenuhi penyesalan sekaligus harapan baru. “Dia Ayah. Ayah baru saja pulang dari perjalanan yang sangat jauh.”

Gabriel mendongak, menatap kami berdua dengan senyuman paling tulus yang pernah kulihat selama lima tahun mengenalnya. Di bawah langit pantai yang perlahan mulai cerah, aku tahu bahwa pelarian tiga hariku telah berakhir. Bukan untuk kembali menjadi sekretaris yang bersembunyi di balik bayangannya, melainkan untuk memulai lembaran baru di mana kami akhirnya berdiri sejajar sebagai sebuah keluarga.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.