Posted in

Setelah Aku Mengundurkan Diri, Bos yang Diam-Diam Kucintai Dikabarkan Menikah; Aku Hanya Meninggalkan Satu Reaksi Hati, Tetapi Keesokan Paginya, 328 Panggilan Tak Terjawab Menungguku**

Setelah Aku Mengundurkan Diri, Bos yang Diam-Diam Kucintai Dikabarkan Menikah; Aku Hanya Meninggalkan Satu Reaksi Hati, Tetapi Keesokan Paginya, 328 Panggilan Tak Terjawab Menungguku**

Tiga hari setelah aku menyerahkan surat pengunduran diriku, aku melihat foto akta pernikahan mantan bosku di Facebook Story.

Aku tidak menangis.

Aku tidak berkomentar.

Aku hanya memberikan satu reaksi hati.

Keesokan paginya, saat membuka ponsel, ada 328 panggilan tak terjawab yang menungguku.

“Alina! Akhirnya kamu mengangkat telepon juga!”

Itu suara Mira, sahabatku sejak kuliah. Nadanya panik seperti sedang menghadapi kebakaran besar.

Saat itu aku baru saja masuk ke studio apartemen kecil yang baru kusewa di Mandaluyong. Kotak terakhir berisi barang-barangku dari kondominium lama masih berada di tanganku. Selama empat tahun terakhir aku tinggal di sana sambil bekerja di Valtierra Holdings.

Aku sangat lelah.

Tetapi hatiku jauh lebih lelah.

“Kenapa?” tanyaku sambil menyandarkan punggung ke dinding yang dingin.

“Kenapa? Kamu masih tanya kenapa? Benarkah kamu sudah keluar dari perusahaan? Aku kira kamu hanya cuti ke Baguio!”

“Aku sudah resign.”

“Kamu gila? Posisi kamu di dekat Pak Gabriel itu impian semua orang. Kamu orang yang paling dia percaya. Hampir semua proyek besar ada di bawah pengawasanmu. Bonusmu saja cukup untuk membeli mobil baru!”

Aku tertawa pelan.

Tanpa sedikit pun kebahagiaan.

Di luar jendela, langit mendung. Seolah hujan ingin turun tetapi terus tertahan.

Persis seperti perasaanku.

“Aku lelah, Mira.”

Dia terdiam beberapa saat.

Lalu suaranya melembut.

“Ini bukan karena Gabriel, kan?”

Aku tidak menjawab.

Sebelum dia sempat berbicara lagi, notifikasi Messenger masuk.

Sebuah tangkapan layar.

Aku membukanya.

Di sana ada unggahan Gabriel Valtierra.

Latar belakang merah.

Dua tangan saling menggenggam.

Sebuah akta pernikahan.

Di sampingnya berdiri seorang wanita yang sangat kukenal.

Bianca Salcedo.

Putri pemilik Salcedo Realty, mitra terbesar Valtierra Holdings dalam proyek kasino dan hotel terbaru di Entertainment City.

Caption-nya sederhana:

*”Untuk selamanya, aku memilihmu.”*

Aku menatap unggahan itu lama sekali.

Sangat lama.

Sampai mataku terasa panas, tetapi tidak ada air mata yang jatuh.

“Alina?” suara Mira terdengar pelan. “Sudah lihat?”

“Sudah.”

“Mau bagaimana sekarang?”

“Mereka cocok,” jawabku. “Nama mereka sama-sama besar. Dunia mereka juga sama luasnya.”

Setelah itu aku membuka unggahan Gabriel.

Di antara ratusan ucapan selamat, aku meninggalkan satu reaksi hati berwarna merah.

Tidak lebih.

“Sudah,” kataku kepada Mira. “Aku mau tidur. Besok masih harus membereskan barang.”

“Alina, tunggu—”

Aku menutup telepon.

Lalu mematikan ponsel.

Aku melemparkannya ke atas kasur dan berbaring di lantai karena kasur utamaku bahkan belum sempat dipasang.

Dalam gelapnya kamar kecil itu, aku memeluk diriku sendiri.

Empat tahun.

Empat tahun aku berada di sisi Gabriel.

Saat dia masih menjadi assistant manager, akulah yang menyiapkan presentasinya.

Saat dia hampir kehilangan dukungan dewan direksi, akulah yang mencari kesalahan dalam laporan keuangan hingga dini hari.

Saat dia jatuh sakit ketika inspeksi proyek di Cebu, akulah yang membawanya ke rumah sakit.

Dan ketika dia pernah berkata,

“Alina, kalau suatu hari aku menjadi CEO, kamulah orang pertama yang ingin tetap berada di sisiku.”

Aku mempercayainya.

Dia tidak pernah mengatakan itu sebagai seorang pria kepada wanita yang dicintainya.

Dia tidak pernah mengatakan bahwa dia mencintaiku.

Tetapi kadang-kadang, ketika hati terlalu lelah, sedikit kehangatan saja bisa terasa seperti rumah.

Keesokan paginya aku terbangun karena sinar matahari yang menyilaukan wajahku.

Kepalaku berdenyut seolah semalam aku menghabiskan sebotol minuman keras, padahal yang masuk ke perutku hanya air putih.

Aku meraih ponsel.

Menyalakannya.

Begitu layar menyala, notifikasi langsung membanjiri.

Ponselku berdering.

Bergetar.

Hampir terjatuh dari tanganku.

Aku terpaku pada angka merah di riwayat panggilan.

**328 panggilan tak terjawab.**

Semuanya dari satu nama.

**Gabriel Valtierra.**

Dari pukul 01.17 dini hari hingga 07.04 pagi.

Aku langsung duduk.

Suami yang baru menikah menelepon mantan karyawannya lebih dari tiga ratus kali pada malam pernikahannya?

Sebelum aku sempat memproses semuanya, Mira menelepon lagi.

“Alina! Syukurlah! Aku pikir kamu menghilang!”

“Ada apa sebenarnya?”

“Gabriel! Dia meneleponku sepanjang malam. Dia mencarimu. Dia seperti kehilangan akal. Katanya kamu harus menjawab teleponnya. Katanya dia harus bertemu denganmu.”

Aku mengernyit.

“Aku tidak melakukan apa-apa.”

“Tidak melakukan apa-apa? Kamu cuma memberi reaksi hati?”

“Iya.”

“Kamu tidak berkomentar? Tidak memakinya? Tidak mengirim surat panjang tentang patah hati?”

“Patah hati?” Aku tertawa kecil. “Mira, kami tidak pernah berpacaran.”

Dia terdiam.

Itulah kenyataan yang paling menyakitkan.

Kami tidak pernah menjadi apa-apa.

Walaupun seluruh kantor tahu bahwa saat Gabriel marah, hanya aku yang bisa menenangkannya.

Walaupun dalam setiap rapat direksi dia selalu mencari tatapanku sebelum mengambil keputusan penting.

Walaupun setiap malam di lift pribadi, dia sering berkata,

“Untung ada kamu.”

Tetap saja.

Tidak pernah ada hubungan di antara kami.

Tiba-tiba sebuah panggilan masuk.

**Gabriel Valtierra.**

Aku menatap nama itu.

Rasanya seperti besi panas.

“Dia?” bisik Mira.

Aku tidak menjawab.

Aku menekan tombol tolak.

Panggilan kedua.

Tolak.

Panggilan ketiga.

Tolak.

Setelah itu aku membuka pengaturan ponsel dan memblokir nomornya.

Sunyi.

Akhirnya.

“Kamu memblokirnya?” Mira hampir berteriak.

“Iya.”

“Ya Tuhan, Alina.”

“Dia sudah menikah,” kataku tenang. “Kalau dia punya masalah, seharusnya dia menelepon istrinya.”

Aku bahkan belum selesai berbicara ketika mantan rekan kerjaku, Kaye, menelepon.

“Alina, benar kamu sudah resign?” tanyanya terengah-engah. “Kantor kacau. Pak Gabriel mencarimu ke mana-mana. Dia tidak datang ke sarapan bersama keluarga Salcedo pagi ini. Dan—”

Dia mendadak berhenti.

“Dan apa?”

“Alina…” suaranya bergetar. “Dia ada di lobi apartemenmu sekarang. Basah kuyup karena hujan. Dia membawa surat pengunduran dirimu.”

Aku membeku.

“Apa?”

“Dia berteriak kepada petugas keamanan supaya diizinkan masuk ke unitmu.”

Jari-jariku mendadak dingin.

Aku bahkan belum sempat mengakhiri panggilan ketika terdengar ketukan di pintu.

Tiga kali.

Keras.

Berat.

Sangat familiar.

Dan dari balik pintu, aku mendengar suara Gabriel.

“Alina, tolong buka pintunya. Tolong. Aku tidak jadi menikah.”

Kata-kata itu menghantam pintu kayuku seperti petir di siang bolong.

“Aku tidak jadi menikah.”

Aku tertegun di tengah ruangan, ponselku masih menempel di telinga, tetapi suara Kaye di seberang sana sudah tidak terdengar lagi. Jantungku berdegup begitu kencang hingga rasanya menyakitkan. Aku melangkah perlahan mendekati pintu, jemariku gemetar saat memegang kenop.

Dari lubang intip, aku bisa melihatnya.

Gabriel Valtierra. Pria yang selalu tampil sempurna dengan setelan jas mahal dan rambut klimis, kini berdiri di lorong apartemenku yang sempit dalam kondisi kacau balau. Kemeja putihnya basah kuyup, menempel di tubuhnya. Rambutnya berantakan, dan lingkaran hitam di bawah matanya menceritakan bahwa dia sama sekali tidak tidur semalaman. Di tangan kanannya, dia mencengkeram selembar kertas yang sudah lecek dan basah: surat pengunduran diriku.

Aku menarik napas dalam-dalam, mencoba mengumpulkan seluruh sisa harga diriku, lalu membuka pintu.

“Pak Gabriel,” kataku, memanggilnya dengan sebutan formal yang sengaja kupasang sebagai benteng pertahanan. “Ada apa ini? Dan apa maksud pernyataan Anda tadi?”

Begitu melihatku, sepasang mata Gabriel yang biasanya tajam dan penuh wibawa mendadak melunak, digantikan oleh rasa lega yang teramat sangat, bercampur dengan kepedihan yang mendalam. Tanpa aba-aba, dia melangkah maju dan mencengkeram kedua bahuku.

“Kenapa kamu pergi, Alina?” suaranya serak, bergetar menahan emosi. “Kenapa kamu mengundurkan diri secara tiba-kira? Dan kenapa… kenapa kamu hanya meninggalkan reaksi hati di foto itu?”

Aku melepaskan cengkeraman tangannya dari bahuku dengan tenang, lalu mundur satu langkah. “Anda sudah menikah, Pak. Foto akta itu ada di Facebook Anda. Saya hanya mengucapkan selamat sebagai mantan karyawan yang tahu sopan santun. Sekarang, tolong pulang. Istri Anda, Bianca, pasti sedang mencari Anda.”

“Itu bukan akta pernikahanku!” Gabriel setengah berteriak, frustrasi. Dia mengangkat kertas lecek di tangannya. “Itu akta pernikahan sepupuku, Gavin Valtierra dan Bianca Salcedo! Kemarin adalah acara makan malam keluarga besar untuk merayakan persatuan bisnis mereka, bukan pernikahanku!”

Aku membeku. Kepalaku mendadak kosong. “Apa?”

“Aku meminta tim humas mengunggah foto itu sebagai bentuk pengumuman resmi perusahaan atas kemitraan Valtierra dan Salcedo,” Gabriel mengacak rambutnya dengan frustrasi, napasnya memburu. “Aku tidak tahu kalau caption yang mereka buat malah menimbulkan salah paham. Aku baru menyadarinya tengah malam, saat aku membuka ponsel dan melihat satu-satunya reaksi hati darimu.”

Gabriel melangkah mendekat lagi, kali ini tatapannya mengunci mataku sepenuhnya.

“Saat aku melihat reaksi hati darimu, hatiku rasanya runtuh, Alina. Aku sadar, kamu mengira aku telah pergi. Aku langsung memeriksa sistem HRD dan menemukan surat pengunduran diri ini di mejaku. Detik itu juga, aku tahu aku harus mencarimu. Aku meneleponmu ratusan kali, tetapi ponselmu mati. Aku mendatangi kondominium lamamu, dan resepsionis bilang kamu sudah pindah ke sini. Aku menghabiskan sisa malamku di lobi, menunggumu.”

Aku menatapnya, bibirku kelu. “Tetapi… kenapa? Kenapa Anda sampai seperti ini hanya karena saya mengundurkan diri? Saya hanya seorang sekretaris, Pak Gabriel. Perusahaan bisa mencari pengganti saya dalam waktu dua puluh empat jam.”

“Karena aku tidak butuh sekretaris baru, Alina!” Gabriel berteriak, air mata akhirnya menetes di pipinya yang basah karena air hujan. “Aku butuh kamu! Empat tahun ini, aku selalu berpikir aku punya waktu. Aku berpikir, setelah aku berhasil mengamankan posisi CEO dan menstabilkan perusahaan, aku akan berlutut di depanmu dan memintamu menjadi pendamping hidupku. Aku terlalu bodoh… Aku terlalu fokus pada pekerjaan hingga mengabaikan ketakutanmu.”

Dia meraih tangan kananku, menggenggamnya dengan kedua tangannya yang dingin dan gemetar.

“Malam ini, saat aku mengira aku kehilanganmu untuk selamanya, duniaku rasanya kiamat. Persetan dengan saham, persetan dengan Valtierra Holdings. Jika di puncak kesuksesanku tidak ada kamu di sisiku, maka semua ini tidak ada artinya. Tolong, Alina… jangan pergi. Kembalilah padaku. Bukan sebagai sekretarisku, tetapi sebagai wanita yang memegang seluruh hatiku.”

Mendengar pengakuan yang keluar dari lubuk hatinya yang paling dalam, pertahanan yang kubangun selama empat tahun ini runtuh seketika. Air mata yang sejak kemarin kutahan, akhirnya tumpah membasahi pipiku. Rasa lelah, sesak, dan ketakutan yang kupendam selama ini menguap begitu saja, digantikan oleh kehangatan yang luar biasa.

Aku tidak menjawab dengan kata-kata. Aku hanya melangkah maju, membiarkan tubuhku yang kering mendekap tubuhnya yang basah kuyup oleh hujan. Gabriel memelukku balik dengan sangat erat, seolah-olah jika dia melepaskannya sedikit saja, aku akan menghilang lagi dari hidupnya.

Di lorong apartemen yang sempit dan dingin itu, aku tahu perjalanan kami ke depan tidak akan mudah. Akan ada selentingan kabar di kantor, akan ada mata-mata sinis dari dewan direksi. Namun, saat mendengar detak jantung Gabriel yang berdegup kencang di dadaku, aku tahu aku tidak perlu takut lagi.

Tiga ratus dua puluh delapan panggilan tak terjawab semalam bukan lagi tanda keputusasaan, melainkan sebuah kepastian: bahwa cinta yang kupendam diam-diam selama empat tahun ini, ternyata telah menemukan jalan pulangnya.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.