Posted in

Ketika Aku Mengetahui Suamiku Membelikan Rumah Senilai Sepuluh Juta Peso untuk Selingkuhannya, Aku Membawa Orang Tua Mertuaku ke Depan Pintu—Tapi Dia Tidak Tahu Bahwa Map di Tanganku Akan Menghancurkan Semua Kebanggaannya*

*Ketika Aku Mengetahui Suamiku Membelikan Rumah Senilai Sepuluh Juta Peso untuk Selingkuhannya, Aku Membawa Orang Tua Mertuaku ke Depan Pintu—Tapi Dia Tidak Tahu Bahwa Map di Tanganku Akan Menghancurkan Semua Kebanggaannya**

—Sepuluh juta peso?

Aku menatap notifikasi dari bank sambil duduk di dalam mobilku di basement parkir kantor kami di BGC.

Aku tidak menangis.

Aku juga tidak langsung menelepon suamiku.

Karena sebelum amarahku benar-benar meledak, aku ingin tahu seberapa dalam lubang yang sengaja ia gali untuk dirinya sendiri.

“Pembelian properti selesai. Jumlah terdebet: ₱10.000.000.”

Jam 09.17 pagi.

Aku seharusnya sedang menghadiri rapat kuartalan dengan dewan Villareal Holdings, perusahaan yang didirikan kakekku dan diwariskan ayahku sebelum beliau meninggal. Seharusnya pikiranku ada pada proyek komersial baru kami di Pasig.

Tapi hanya satu pertanyaan yang terus berputar di kepalaku.

Mengapa Anton Robles, suamiku, mengambil sepuluh juta peso dari rekening yang kami akses bersama—tanpa berbicara denganku?

Aku langsung menelepon relationship manager bank.

—Bu Mara, apakah Anda yakin ingin meninjau transaksi ini? —tanyanya hati-hati.

—Ya. Kirimkan semua detailnya. Siapa penjualnya? Atas nama siapa properti itu? Dan otorisasi apa yang digunakan?

Ada jeda beberapa detik.

Lalu ia berbicara lebih pelan.

—Bu… rumah itu tidak langsung atas nama Pak Anton. Melalui perusahaan manajemen properti.

—Siapa beneficary-nya?

—Seseorang bernama Bianca Sison.

Seperti air es dituangkan ke tengkukku.

Aku mengenal nama itu.

Usia 27 tahun. Rambut panjang. Suara lembut. Selalu rapi seolah siap pemotretan.

Dia diperkenalkan Anton kepadaku lima bulan lalu di sebuah showroom furnitur di Makati.

—Ini Bianca, sayang. Dia konsultan interior yang membantu lounge kantor kita.

Aku bahkan tersenyum dan menjabat tangannya saat itu.

Sekarang aku baru mengerti “lounge” seperti apa yang sebenarnya mereka bangun bersama.

Selama tiga hari, aku tidak bertanya pada Anton.

Aku pulang ke rumah mansion kami di Ayala Alabang seolah semuanya normal. Aku makan malam dengannya dan anak kami yang berusia 10 tahun, Paolo. Aku mendengarkan ceritanya tentang rapat-rapatnya. Bahkan aku menyiapkan kopinya keesokan hari.

Aku membiarkannya tersenyum.

Membiarkannya berpura-pura menjadi pria yang membangun hidup yang ia banggakan.

Dalam delapan tahun pernikahan, ia perlahan terbiasa mengambil kredit atas semuanya.

Saat ada tamu, dialah yang berbicara soal bisnis.

Saat reuni keluarga, dia disebut “Robles paling sukses.”

Saat orang bertanya tentang rumah kami, dia selalu berkata:

—Kami membangunnya bersama.

Padahal dia tidak pernah menyebut bahwa aku sudah membeli rumah itu jauh sebelum kami menikah.

Dia juga tidak menyebut bahwa sebagian besar investasi yang ia kelola berasal dari dana keluargaku.

Tapi aku diam.

Aku pikir tidak masalah memberi suami rasa harga diri.

Aku tidak tahu bahwa harga diri yang kuberikan justru ia gunakan sebagai topeng untuk mengkhianatiku.

Pada hari ketiga, aku menelepon mertuaku.

—Doña Celia, Don Roberto, apakah kalian ada waktu sore ini? Ada sesuatu yang ingin saya tunjukkan.

—Apa itu? —tanya mertuaku. —Investasi baru?

—Lebih baik jika dilihat langsung.

Aku menjemput mereka di rumah mereka di Parañaque.

Di perjalanan menuju sebuah perumahan eksklusif di Nuvali, hampir tidak ada yang berbicara. Don Roberto hanya menatap keluar jendela. Doña Celia terus bertanya.

—Mara, kamu yakin tidak mau bilang dulu kita mau ke mana?

Aku hanya tersenyum tipis.

—Kita sudah hampir sampai.

Kami berhenti di depan sebuah rumah modern dengan kaca besar, cat putih abu-abu baru, dan taman mewah.

Doña Celia tampak kagum.

—Indah sekali. Untuk siapa ini?

Aku tidak menjawab.

Aku turun dari mobil, merapikan blazer kremku, dan mengambil map tebal dari kursi depan.

Lalu aku menekan bel.

Beberapa detik kemudian, pintu terbuka.

Anton muncul.

Dia memakai celana pendek dan kaus longgar. Tanpa alas kaki. Memegang segelas jus jeruk seperti tidak ada masalah di dunia.

Tapi begitu melihatku, wajahnya langsung kaku.

Saat melihat orang tuanya di belakangku, dia langsung pucat.

—M-Mara?

Dari dalam rumah terdengar suara perempuan.

—Sayang, siapa itu?

Bianca muncul.

Dia memakai dress krem tipis. Rambut rapi. Gelang emas di pergelangan tangan. Di belakangnya, ruang tamu penuh furnitur mahal yang baru dibeli.

Di meja makan ada dua piring.

Ada bunga di tengah meja.

Ada foto mereka berdua dalam bingkai.

Ini bukan sekadar rumah investasi.

Ini rumah kedua suamiku.

Aku melangkah masuk dan menatap Bianca dari atas sampai bawah.

Lalu aku menoleh ke mertuaku.

—Doña Celia, Don Roberto… kalian kenal pelayan baru kita ini?

Wajah Bianca memerah.

—Permisi?

—Oh maaf —kataku dingin— aku kira kamu karyawan. Karena aku tidak mengerti kenapa kamu tinggal di rumah yang dibayar dengan uang hasil kerja keras keluargaku.

—Mara, dengar dulu —potong Anton. —Ini bukan tempat untuk membuat drama.

Aku tersenyum.

—Drama? Anton, kamu yang membelikan rumah untuk wanita lain. Kamu yang membawa orang tuamu sendiri ke sini. Aku hanya datang mengetuk pintu.

—Nak, apa maksud semua ini? —tanya Don Roberto marah.

Anton tidak langsung menjawab.

Tapi Doña Celia tidak terlihat terkejut.

Itu hal pertama yang kusadari.

Dia tidak menatap Bianca seperti orang yang baru melihatnya.

Dia juga tidak bertanya siapa dia.

Dia justru menghindari pandanganku.

Aku perlahan membuka map.

—Bagus kalian semua ada di sini —kataku. —Karena ada dokumen yang lebih baik dibaca bersama.

Aku mengeluarkan salinan akta jual beli.

Nama Bianca tercantum sebagai penerima properti.

Namun di halaman kedua, ada tanda tangan saksi.

Tanda tangan Doña Celia.

Mata Don Roberto membesar.

—Celia?

Mertuaku tidak bergerak.

Lalu aku meletakkan dokumen berikutnya di meja.

Sebuah perjanjian pinjaman.

Yang menyatakan bahwa mansion kami di Ayala Alabang dijadikan jaminan untuk membiayai pengeluaran lain Anton.

Dan di bawah namaku, ada tanda tangan.

Tanda tanganku—yang palsu.

Aku menatap Anton tepat di matanya.

—Kamu masih punya satu masalah lagi, Anton.

Aku mendekat dan menunjuk tanda tangan itu.

—Aku tidak pernah menandatangani ini.

Sebelum dia sempat bicara, aku mengeluarkan amplop terakhir.

—Jadi sekarang ini bukan hanya tentang selingkuhanmu.

Aku menarik napas dalam.

—Ini sudah menjadi kasus pemalsuan, penipuan… dan penjara.

Berikut adalah kelanjutan dan penyelesaian (ending) dari cerita di atas:

Babak Akhir: Runtuhnya Istana Pasir Anton Robles

Suasana di dalam ruang tamu mewah itu seketika menjadi sehening kuburan. Detak jarum jam dinding terdengar seperti bom waktu yang siap meledak.

Wajah Anton yang tadinya pucat kini berubah pasi, abu-abu seperti debu. Gelas jus jeruk di tangannya gemetar hebat hingga cairannya tepercik ke lantai marmer yang baru saja dibeli dengan uang haramnya.

“M-Mara… ini bisa dibicarakan baik-baik,” suara Anton bergetar, kehilangan semua wibawa pria sukses yang selama ini ia pamerkan kepada dunia. “Jangan bawa-bawa hukum. Kita ini keluarga. Pikirkan Paolo!”

Aku tertawa. Sebuah tawa renyah tanpa beban yang justru terdengar mengerikan di telinga mereka semua.

“Keluarga?” aku mengulang kata itu dengan sarkasme yang kental. “Kamu memikirkan Paolo saat memalsukan tanda tanganku? Kamu memikirkan Paolo saat memindahkan aset masa depannya ke atas nama perempuan ini?” Aku menunjuk Bianca dengan ujung map di tanganku.

Bianca melangkah mundur, wajah cantiknya kini dipenuhi ketakutan. Gelang emas di pergelangan tangannya tak lagi terlihat mewah, melainkan seperti borgol yang menantinya. “Anton, kamu bilang istrimu tidak akan pernah tahu! Kamu bilang rumah ini aman!” rajuk Bianca dengan suara yang kini melengking panik.

“Diam kamu!” bentak Don Roberto. Pria tua itu gemetar menahan amarah, matanya merah menatap anak dan istrinya bergantian. “Celia! Jelaskan padaku! Apa yang kamu lakukan?!”

Doña Celia mulai menangis, menyembunyikan wajahnya di balik tas desainer yang—aku tahu pasti—juga dibeli menggunakan uang bulanan dari perusahaanku. “Roberto… Anton memohon padaku… Dia bilang dia butuh modal dan Mara terlalu ketat mengawasi keuangan…”

“Jadi Anda membantunya memalsukan tanda tangan pemilik sah Villareal Holdings?” potongku tajam, menatap ibu mertuaku tanpa rasa iba sedikit pun. “Tindakan Anda, Doña Celia, menjadikannya persekongkolan kriminal dalam hukum perbankan. Ancaman hukumannya tidak main-main.”

Doña Celia hampir luruh ke lantai, memegangi lengan suaminya, namun Don Roberto menepisnya dengan kasar. Pria tua yang terhormat itu menatapku dengan mata berkaca-kaca, penuh rasa malu. “Mara… Ayah tidak tahu apa-apa soal ini. Ayah bersumpah.”

“Aku tahu, Yah,” kataku, melunakkan sedikit suaraku hanya untuk Don Roberto. “Itulah kenapa aku membawa Ayah ke sini. Agar Ayah melihat sendiri ke mana perginya ‘kehormatan’ keluarga Robles yang selalu dibanggakan Anton.”

Anton mencoba mendekatiku, lututnya berlutut di atas lantai. “Mara, tolong… aku akan mengembalikan semuanya. Aku akan menjual rumah ini, aku akan memutuskan hubungan dengan Bianca. Tolong, jangan hancurkan reputasiku. Proyek di Pasig… dewan direksi akan mendepakku jika ini mencuat!”

Aku menatap suamiku yang bersujud di bawah kakiku. Pria yang selama delapan tahun ini menikmati semua fasilitas kemewahan dari keluargaku, namun membalasnya dengan belati di punggung.

“Kamu salah, Anton,” bisikku sambil melangkah mundur, menghindari sentuhannya seolah dia adalah wabah penyakit. “Kamu tidak perlu mengkhawatirkan dewan direksi didepak dari proyek Pasig. Karena per jam delapan pagi tadi, dewan direksi telah resmi memecatmu secara tidak hormat dari Villareal Holdings atas dugaan penggelapan dana.”

Anton mendongak, matanya terbelalak. “Apa?!”

“Dan soal mansion di Ayala Alabang…” Aku tersenyum manis, senyuman paling mematikan yang pernah kuberikan padanya. “Pengacaraku sudah menghubungi pihak bank. Karena ini adalah kasus pemalsuan bersertifikat, transaksi jaminan itu batal demi hukum. Dan rekening bersama kita? Sudah kubekukan.”

Aku melirik Bianca yang kini mulai menangis histeris, menyadari bahwa rumah sepuluh juta peso ini akan segera disita oleh negara sebagai barang bukti tindak pidana pencucian uang.

“Kalian berdua boleh menikmati sisa hari ini di rumah indah ini,” kataku sambil merapikan blazer kremku, lalu berbalik arah menuju pintu keluar.

“Mara! Mara, tunggu! Jangan lakukan ini padaku!” teriak Anton, mencoba mengejarku.

Namun langkahnya terhenti. Dari luar pagar, dua mobil sedan hitam dan satu mobil polisi baru saja berhenti. Empat orang pria berpakaian sipil dengan lencana Biro Investigasi Nasional (NBI) melangkah masuk ke halaman rumah.

Aku berhenti di ambang pintu, menoleh sedikit ke arah Anton untuk terakhir kalinya.

“Map di tanganku ini bukan hanya berisi dokumen, Anton. Salinannya sudah berada di meja kepala penyidik NBI sejak dua jam yang lalu.”

Aku berjalan melewati Don Roberto yang hanya bisa tertunduk lesu memegang dadanya, meninggalkan Doña Celia yang histeris, dan Anton yang kini jatuh terduduk di lantai saat petugas kepolisian mulai membacakan hak-haknya atas tuduhan penipuan, pemalsuan dokumen, dan penggelapan.

Saat aku masuk ke dalam mobilku, matahari sore Nuvali menerpa wajahku. Aku menarik napas dalam-dalam, merasakan udara kebebasan yang sesungguhnya.

Anton Robles mengira dia bisa membangun istana di atas tanahku, menggunakan uangku, dan menghancurkan harga diriku. Namun dia lupa satu hal: Aku adalah seorang Villareal. Dan kami tidak pernah membiarkan siapapun mencuri apa yang menjadi milik kami tanpa membayar harganya—sampai peso terakhir.

Disclaimer : This content may be created by AI for entertainment purposes. Any resemblance to real persons, events, or places is coincidental.