Saya pulang dari rumah sakit, tetapi ibu mertua saya sudah mengklaim kondominium saya sambil mengenakan baju tidur saya — mereka tidak tahu bahwa membuka sebuah laci terkunci akan mengungkap kejahatan mengerikan mereka!**
*(Terjemahan bahasa Indonesia dari bagian cerita yang Anda kirimkan)*
—
Nenek saya memberikan sebuah jam tangan tua kepada saya sebelum beliau meninggal.
Beliau menatap saya dan membisikkan enam kata:
**“Jam ini, jangan tunjukkan kepada siapa pun.”**
Tiga hari setelah pemakaman, paman saya sudah mulai mengobrak-abrik lemari nenek.
Saya hanya berdiri di ambang pintu, menyaksikannya melempar setiap potong pakaian nenek ke lantai.
Sementara bibi saya yang berdiri di sampingnya terus memberi arahan.
“Periksa laci paling bawah. Cari baik-baik.”
Pada saat-saat terakhir hidupnya, nenek menggenggam tangan saya.
Tangannya dingin.
Beliau menatap saya dan mengucapkan enam kata itu.
**“Jam ini, jangan tunjukkan kepada siapa pun.”**
“Simpan baik-baik.”
Nenek meninggal pada dini hari hari Rabu.
Saya menerima telepon ketika sedang lembur di kamar kos.
Saat saya tiba di rumah sakit, beliau sudah tiada.
Paman saya berdiri di koridor sambil berbicara di telepon.
Suaranya keras.
“Ibu sudah meninggal… Ya, hari ini… Cepat pulang, kita harus membicarakan soal warisan.”
Ia menutup telepon lalu menoleh kepada saya.
“Nini, kamu sudah datang?”
“Iya, Paman.”
“Mana ayahmu?”
“Sedang dalam perjalanan.”
Paman mengangguk lalu kembali menelepon orang lain.
Saya masuk ke kamar perawatan.
Nenek terbaring tenang di ranjang.
Wajahnya terlihat damai.
Di atas meja kecil di samping tempat tidur terdapat sebuah jam tangan tua.
Dialnya sudah menguning dan tali kulitnya retak-retak.
Itulah jam tangan yang diberikan nenek kepada saya sehari sebelumnya.
Kemarin beliau masih bisa berbicara.
Beliau meraba bagian bawah bantalnya, mengambil jam tangan itu, lalu memaksanya masuk ke tangan saya.
“Nini.”
“Ya, Nek?”
“Ini untukmu.”
Jarinya menggenggam pergelangan tangan saya erat.
“Jangan tunjukkan kepada siapa pun.”
“Simpan baik-baik.”
Saat itu saya mengira beliau hanya mengigau.
Sekarang beliau sudah tiada.
Saya menggenggam jam itu erat-erat di telapak tangan saya.
Paman saya muncul di pintu.
“Nini, bantu kami beres-beres. Mobil rumah duka akan segera datang.”
—
Malam duka berlangsung selama tiga hari.
Semuanya diurus oleh paman tertua saya.
Paman bungsu saya buru-buru pulang dari kampung.
Istrinya ikut bersamanya.
Namun matanya tidak pernah tenang.
Tatapannya terus mengarah ke kamar nenek.
Ayah saya datang paling akhir.
Beliau bekerja di pabrik dan sulit mengambil cuti sehingga harus kehilangan upah tiga hari.
Saat tiba, beliau berdiri lama di depan peti jenazah tanpa berkata apa-apa.
Matanya memerah.
Paman tertua menepuk bahunya.
“Adik, kuatlah.”
Ayah saya hanya mengangguk.
Pada hari ketujuh setelah kematian nenek, paman saya mengusulkan pembagian warisan.
“Ibu sudah tidak ada. Kita harus memperjelas soal harta peninggalannya.”
Ia duduk di tengah ruang tamu rumah nenek.
Di sampingnya duduk istrinya.
Paman bungsu dan istrinya duduk berhadapan.
Ayah saya duduk di bangku kecil di sudut ruangan.
Saya berdiri di dekat pintu.
Paman menoleh kepada saya.
“Nini, pergi ke dapur dan rebus air.”
“Tapi, Paman, saya—”
“Orang dewasa sedang bicara. Kenapa kamu ikut mendengarkan?”
tambah bibi saya.
Saya menoleh ke arah ayah.
Beliau hanya menunduk dan tidak berkata apa-apa.
Saya pergi ke dapur.
Namun saya masih bisa mendengar pembicaraan mereka.
Suara paman saya sangat keras.
“Semua aset atas nama Ibu sudah saya periksa. Rumah tua di depan Quiapo masih atas nama beliau. Ada juga buku tabungan yang saya temukan di laci, isinya sekitar **₱320.000** (sekitar **Rp96 juta**). Sisanya hanya barang-barang lama.”
“Bagaimana dengan rumahnya?” tanya paman bungsu.
“Saya anak tertua,” kata paman saya. “Rumah itu milik saya.”
“Kalau buku tabungannya?”
“Buat kalian saja,” jawab paman tertua.
Kemudian ia melirik ke arah ayah saya.
“Untuk keluarga anak kedua…”
Ia berhenti sejenak.
“Kalian sedang kesulitan ekonomi. Ibu tahu itu. Jadi kalian ambil saja barang-barang lama.”
Ruangan langsung sunyi.
Saya keluar dari dapur sambil membawa ketel air.
“Paman.”
“Ya?”
“Kalau saya?”
Bibi saya tertawa keras.
“Kamu? Kamu cuma cucu. Warisan apa yang kamu harapkan?”
“Saya yang merawat Nenek selama delapan tahun—”
“Itu memang tugasmu sebagai cucu,” potongnya.
“Siapa yang bilang kamu pewaris?”
Tatapannya jatuh pada jam tangan tua di pergelangan tangan saya.
“Bukankah Nenek sudah memberimu jam itu?”
Ia tertawa lagi.
“Jam rusak.”
“Setidaknya Nenek masih mengingatmu.”
Istri paman bungsu ikut tertawa.
“Nini, jangan dipikirkan. Kalau memang kamu sangat berarti bagi Nenek, kenapa cuma jam tangan yang diberikan kepadamu?”
Lalu bibi saya menambahkan dengan nada dingin:
“Memang nasib perempuan seperti itu. Nenek tahu kamu tidak akan menjadi apa-apa.”
Saya hanya berdiri diam.
Ketel di tangan saya bergetar.
Akhirnya ayah saya mengangkat kepala.
Namun beliau hanya melihat kakaknya sebentar lalu kembali menunduk.
Beliau tidak mengatakan apa-apa.
Pembagian warisan pun berakhir begitu saja.
Paman tertua mendapat rumah.
Paman bungsu mendapat buku tabungan.
Ayah saya mendapat perabotan lama.
Dan saya mendapat sebuah jam tangan tua.
—
Malam itu, setelah pulang ke apartemen, saya duduk di tepi ranjang.
Saya meletakkan jam tangan itu di bawah cahaya lampu meja.
Jam itu memang sangat tua.
Jarum detiknya masih bergerak.
**Tik… tik… tik…**
Saya membalik bagian belakangnya.
Ada banyak goresan tua.
Namun ada satu bagian yang terlihat berbeda.
Di sisi bawah penutup belakang terdapat celah kecil.
Seolah pernah dibuka berkali-kali.
Saya menyorotinya dengan lampu ponsel.
Di dekat celah itu terdapat ukiran kecil.
Bukan goresan biasa.
Melainkan angka.
Sangat kecil.
Saya memperbesar tampilan dengan kamera ponsel.
Enam angka.
**1 9 3 8 0 7**
Saya menatap angka itu lama sekali.
Jantung saya mulai berdegup lebih cepat.
Kata-kata terakhir nenek kembali terngiang.
**“Jam ini, jangan tunjukkan kepada siapa pun.”**
Beliau tidak mengigau.
Beliau sedang meninggalkan sebuah petunjuk.
Saya tidak langsung memberitahukannya kepada siapa pun.
Hari itu ayah membawa pulang perabotan lama yang diberikan kepadanya.
Menjelang subuh, beliau mengirim pesan kepada saya.
“Nini, simpan baik-baik jam tangan yang diberikan Nenek.”
“Iya, Yah.”
“Itu kenang-kenangan dari Nenekmu.”
“Iya.”
Tetapi saat itu saya mulai curiga.
Mungkin jam tangan itu bukan sekadar kenang-kenangan.
Mungkin angka **193807** adalah kunci menuju sesuatu yang selama ini dicari oleh seluruh keluarga saya….
Berikut adalah kelanjutan cerita yang menyatukan potongan teka-teki jam tangan nenek dengan konfrontasi dramatis di kondominium Anda:
Rahasia yang Terkunci
Angka 193807 ternyata bukan nomor acak. Itu adalah nomor seri obligasi kuno pra-perang dan koordinat brankas deposit pribadi atas nama nenek yang tidak pernah diketahui oleh paman-paman saya. Melalui proses hukum yang panjang dan senyap menggunakan kunci kecil yang tersembunyi di dalam mesin jam tangan tersebut, saya dan ayah berhasil mencairkan aset yang nilainya melesat ratusan kali lipat.
Dengan uang itu, saya membeli sebuah kondominium mewah di pusat kota, membelikan ayah rumah yang layak, dan memulai hidup baru. Saya kemudian menikah dengan seorang pria yang saya kira tulus. Namun, sifat asli keluarga suaminya baru terlihat setelah pernikahan.
Tamu Tak Diundang
Beberapa tahun kemudian, saya harus dirawat di rumah sakit selama seminggu akibat kecelakaan kecil. Ayah bolak-balik menjaga saya, meninggalkan kondominium saya kosong tanpa penjagaan.
Hari ini, saya akhirnya diperbolehkan pulang. Dengan tubuh yang masih agak lemas, saya membuka pintu kondominium menggunakan kartu akses saya. Namun, pemandangan di dalam membuat darah saya berdesir hebat.
Ibu mertua saya sedang duduk santai di sofa ruang tamu sambil menonton televisi. Di atas meja, berserakan cangkir kopi kotor dan remah-remah camilan. Yang membuat dada saya sesak karena amarah: beliau sedang mengenakan baju tidur sutra mahal milik saya.
Di sudut ruangan, kakak ipar saya sedang sibuk memotret sudut-sudut rumah, seolah sedang menginspeksi properti miliknya sendiri.
“Oh, kamu sudah pulang?” tanya ibu mertua saya tanpa rasa bersalah, bahkan tidak beranjak dari sofa. “Mulai hari ini, Ibu dan kakakmu akan tinggal di sini. Kamar utama sudah Ibu tempati. Lagipula, kamu kan cuma anak dari buruh pabrik miskin, tidak pantas tinggal di tempat semewah ini sendirian. Suamimu sudah setuju untuk mengalihkan kepemilikan kondominium ini atas nama Ibu.”
Saya mengepalkan tangan, menahan diri. Pandangan saya langsung tertuju pada pintu kamar kerja saya yang terbuka. Di sana, laci meja kayu jati—perabotan lama peninggalan nenek yang saya bawa dari rumah tua—telah dirusak paksa dengan linggis.
Mereka rupanya telah menggeledah seluruh isi rumah saat saya di rumah sakit. Mereka menemukan jam tangan tua milik nenek yang saya simpan di sana, dan mengira angka enam digit yang terukir di belakangnya adalah pin brankas perhiasan emas.
“Kalian… membongkar laci itu?” suara saya terdengar sangat tenang, namun dingin.
Kakak ipar saya mencibir, “Kami cuma mencari tahu dari mana perempuan miskin sepertimu bisa beli kondominium ini. Jangan-jangan kamu pakai uang haram!”
Balas Dendam Nenek dari Masa Lalu
Saya menarik napas dalam-dalam, lalu seulas senyum tipis muncul di wajah saya. Senyuman yang membuat raut wajah ibu mertua saya mendadak berubah tegang.
“Kalian tidak tahu ya, kenapa nenek saya berpesan agar jam itu tidak diperlihatkan kepada siapa pun?” kata saya sambil melangkah mendekat. “Dan kalian pikir, angka 193807 itu adalah kode harta?”
Angka itu bukan sekadar kode obligasi. Di dalam laci tersembunyi yang mereka rusak paksa, tidak ada emas atau berlian. Yang ada di sana adalah bundel dokumen asli kasus pembunuhan tabrak lari dan penipuan asuransi besar-besaran pada Juli 1993 (1993-07).
Puluhan tahun lalu, nenek saya adalah seorang sekretaris di sebuah perusahaan logistik. Beliau menyimpan salinan dokumen hitam yang membuktikan bahwa pemilik perusahaan tersebut sengaja merekayasa kecelakaan maut demi mencairkan dana asuransi miliaran untuk menyelamatkan bisnis mereka yang sekarat. Akibat kecelakaan rekayasa itu, ibu kandung saya meninggal dunia, dan ayah saya jatuh miskin karena seluruh ganti rugi dimanipulasi.
Pemilik perusahaan logistik yang serakah dan kejam di masa lalu itu… adalah mendiang ayah mertua saya, suami dari wanita yang sekarang berdiri di depan saya mengenakan baju tidur saya.
Nenek menyimpan bukti-bukti itu di dalam laci yang terhubung dengan kode jam tangan miliknya, menunggu waktu yang tepat ketika hukum tidak lagi bisa disuap oleh keluarga mereka.
“Laci itu memiliki sistem pemindai otomatis yang terhubung ke jaringan pengacara saya jika dibuka secara paksa,” ujar saya sambil menunjuk ke arah ponsel saya yang bergetar. Sebuah notifikasi masuk: Dokumen digital kasus 1993 telah berhasil dikirim ke markas besar kepolisian beserta sidik jari penyusup di TKP.
Wajah ibu mertua saya langsung pucat pasi. Baju tidur sutra yang dipakainya mendadak terasa mencekik lehernya.
Dari luar koridor kondominium, suara langkah kaki tegap beberapa petugas kepolisian terdengar mendekat, bersiap mengetuk pintu.
Nenek benar. Jam tangan tua itu tidak boleh diperlihatkan kepada siapa pun, sampai tiba hari di mana musuh sendiri yang datang berjalan masuk ke dalam jebakan untuk membayar kejahatan mengerikan mereka.