AKU MENINGGALKAN ISTRIKU YANG LUMPUH SELAMA SEPULUH HARI DEMI PERGI BERSAMA WANITA LAIN… TAPI SAAT AKU PULANG, DIA SUDAH TIDAK ADA DI TEMPAT TIDURNYA, DAN APA YANG KUTEMUKAN DI KAMAR KAMI MENGHANCURKAN HIDUPKU**
Saat aku membuka pintu rumah kami, kukira yang akan tercium adalah aroma obat-obatan, minyak gosok, dan kesedihan.
Tapi yang menyambutku berbeda.
Aroma lilin.
Aroma bunga.
Dan di tengah ruang tamu, ada sebuah amplop putih di atas meja dengan tulisan:
**“Untuk Rafael. Bacalah saat kamu ingat bahwa kamu masih punya istri.”**
Aku langsung terdiam.
Namaku Rafael Soriano, 35 tahun, seorang manajer penjualan di perusahaan properti di Makati. Jika kau bertanya kepada teman-temanku saat itu, mereka akan bilang aku suami yang baik. Bertanggung jawab. Rajin. Ramah.
Namun terkadang, orang yang terlihat paling baik dari luar justru menyimpan dosa paling besar.
Istriku, Mira, adalah wanita tercantik yang pernah kukenal. Dia tidak banyak bicara. Tidak suka bertengkar. Lembut, perhatian, dan selalu berkelas meski hanya mengenakan pakaian sederhana.
Kami telah menikah selama tiga tahun.
Belum memiliki anak, tetapi hidup kami penuh rencana. Kami ingin membeli tanah di Cavite. Membuka kedai kopi kecil. Menabung untuk perjalanan impian ke Eropa yang selalu diinginkannya.
Sampai suatu malam, saat kami pulang dari Tagaytay, sebuah truk menabrak mobil kami di daerah Silang.
Aku hanya mengalami luka ringan.
Tapi Mira…
Dia tidak pernah bisa berjalan lagi.
Sisi kiri tubuhnya lumpuh. Sejak saat itu dia hanya bisa terbaring di tempat tidur. Harus dibantu makan, mandi, berganti pakaian, dan minum obat. Bahkan untuk minum air pun terkadang dia harus memanggilku.
Pada bulan pertama, aku merawatnya.
Aku menyuapinya makan. Membersihkan wajahnya. Merapikan bantalnya. Menggenggam tangannya ketika dia menangis di malam hari.
Namun seiring waktu, ada beban yang terus tumbuh di dalam dadaku.
Aku lelah.
Aku kesal.
Dan yang paling buruk, aku mulai membenci kehidupan yang harus kami jalani.
Aku tidak pernah mengatakannya kepada siapa pun. Karena aku tahu itu salah. Aku tahu seorang suami tidak berhak mengeluh hanya karena kesulitan mencintai seseorang yang terluka.
Tetapi di dalam pikiranku, aku terus berkata:
**Kenapa aku? Kenapa hidupku harus seperti ini? Aku masih muda. Aku juga butuh kasih sayang. Aku juga butuh seorang wanita.**
Mira tidak pernah menuntut apa pun.
Dia tidak pernah memaksaku.
Dia tidak pernah marah saat aku pulang terlambat.
Dia hanya menatapku dari tempat tidur dengan tenang, seolah selalu tahu bahwa aku perlahan-lahan menjauh darinya.
Lalu datanglah Clarisse.
Dia adalah adik perempuan rekan kerjaku, Joel. Dia ikut dalam sebuah acara perusahaan di Batangas sebagai tamu.
Masih muda.
Cantik.
Tawanya keras dan ceria.
Dan dia sangat tahu bagaimana memandang seorang pria yang haus perhatian.
Semuanya berawal dari obrolan sederhana.
“Bagaimana kabar istrimu?”
“Kamu pasti lelah.”
“Kamu juga berhak bahagia, Pak Raf.”
Aku tahu itu salah.
Namun kesalahan yang dibungkus dengan perhatian terkadang terasa seperti tempat beristirahat.
Ketika perusahaan mengadakan retret bisnis selama sepuluh hari di Baguio, Clarisse ikut.
Dia bukan karyawan, tetapi kami menemukan alasan untuk membawanya.
Aku berkata kepada Mira bahwa aku harus fokus bekerja. Sinyal di sana buruk. Jadwalku padat.
Dia tidak menahanku.
Dia hanya menatapku dengan wajah pucat dan berkata pelan:
“Raf… kamu akan segera pulang, kan?”
Aku tidak berani menatapnya lama.
“Tentu. Jangan khawatir.”
Tapi aku tidak pulang.
Selama sepuluh hari, aku melupakan bahwa aku memiliki seorang istri yang terbaring tak berdaya di rumah.
Aku membungkam hati nuraniku.
Aku tidak menelepon.
Aku tidak mengirim pesan.
Setiap kali ponselku berdering, aku hanya membalikkannya di atas meja.
Aku menghabiskan malam-malam dingin di Baguio bersama Clarisse.
Di kedai kopi.
Di lobi hotel.
Di jalan-jalan yang dipenuhi kabut.
Aku tertawa seperti pria lajang.
Aku berbohong seolah Tuhan tidak melihatku.
Dan pada hari kesepuluh, saat perjalanan pulang, ada perasaan aneh di dadaku.
Aku tidak tahu kenapa.
Aku membeli oleh-oleh.
Selai stroberi.
Ubi ungu.
Dan sebuah syal untuk Mira.
Seolah-olah dengan hadiah kecil itu aku bisa mengampuni diriku sendiri.
Saat tiba di rumah kami di Pasig, seluruh apartemen terasa sunyi.
Terlalu sunyi.
Tidak ada suara televisi yang biasanya sengaja kutinggalkan menyala agar Mira tidak merasa kesepian.
Tidak ada suara lirihnya memanggil, “Raf?”
Tidak ada suara apa pun dari kamar.
Aku melihat bunga-bunga yang sudah mengering.
Lilin yang telah padam.
Segelas air yang tinggal setengah.
Dan amplop putih di atas meja.
Tanganku gemetar ketika membukanya.
Di dalamnya ada tiga benda.
Satu salinan laporan medis.
Satu cetakan tangkapan layar berisi lebih dari seratus panggilan tak terjawab dari Mira.
Dan satu surat tulisan tangannya.
Tulisan itu tampak buruk dan bergetar, seolah setiap huruf ditulis dengan susah payah.
**“Saat aku membutuhkanmu, kamu memilih untuk tidak mendengarku.”**
Seluruh tubuhku langsung terasa dingin.
Aku berlari menuju kamar.
“Mira?”
Tidak ada jawaban.
Aku membuka pintu.
Dia tidak ada di tempat tidur.
Selimutnya rapi.
Bantalnya tertata.
Tidak ada obat di meja samping tempat tidur.
Hanya ponselnya yang tertinggal, disandarkan pada sebuah gelas, dengan layar masih menyala.
Ada sebuah video yang berhenti di tengah.
Aku menekan tombol putar.
Wajah Mira muncul di layar.
Dia tampak pucat.
Pipinya basah oleh air mata.
Napasnya terdengar berat.
Dengan suara lemah, dia berkata:

**“Rafael… kalau kamu menonton video ini… berarti kamu sudah pulang.”**
Aku mundur selangkah.
Lalu tiba-tiba terdengar suara dingin dari belakangku.
… Aku tersentak. Seluruh bulu kudukku berdiri. Perlahan, dengan jantung yang berdegup kencang hingga memekakkan telinga, aku membalikkan badanku.
Di ambang pintu kamar, berdiri dua orang pria berseragam polisi dan seorang wanita paruh baya dengan mata sembab. Wanita itu adalah Aling Teresa, tetangga sebelah rumah kami yang memegang kunci cadangan apartemen kami.
“Tuan Rafael Soriano?” salah satu polisi melangkah maju dengan wajah dingin tanpa ekspresi. “Kami sudah menunggu Anda sejak kemarin.”
“Di… di mana istriku? Di mana Mira?” suaraku bergetar hebat. Aku menjatuhkan ponsel yang masih memutar video Mira ke atas lantai.
Aling Teresa tiba-tiba terisak, menutupi wajahnya dengan saputangan. “Raf… tega sekali kamu… Kamu meninggalkan Mira sendirian tanpa obat dan makanan selama sepuluh hari…”
Polisi itu mengeluarkan sebuah kantong plastik transparan berisi beberapa botol obat kosong dan sebuah surat resmi dari rumah sakit.
“Istri Anda, Nyonya Mira Soriano, mengalami serangan jantung akut dan komplikasi akibat terlambat meminum obat rutinnya. Berdasarkan catatan digital, dia mencoba menghubungi Anda sebanyak 114 kali dalam tiga hari pertama. Saat kondisinya memburuk dan dia tidak bisa bergerak, dia menggunakan sisa kekuatannya untuk merangkak jatuh dari tempat tidur demi menjangkau ponsel.”
Polisi itu menatapku dengan pandangan jijik yang menghunjam langsung ke lubuk jiwaku.
“Dia ditemukan oleh Aling Teresa pada hari kelima karena bau menyengat dari dalam rumah—bukan bau kematian, tapi bau lilin dan bunga yang sengaja dia nyalakan sebelum tenaganya habis, seolah tahu dia akan pergi. Mira sempat dilarikan ke rumah sakit Makati Medical Center, namun…” Polisi itu menghela napas berat. “…dia dinyatakan meninggal dunia tiga hari yang lalu.”
Meninggal dunia.
Kata-kata itu menghantam dadaku seperti godam raksasa. Pandanganku seketika menggelap. Dunia seolah runtuh menimpa pundakku. Istriku… Mira-ku yang malang… mati sendirian dalam kesakitan dan pengabaian, sementara aku memeluk wanita lain di dinginnya kota Baguio.
“Ini belum selesai, Tuan Soriano,” polisi satunya menimpali sambil mengeluarkan sepasang borgol besi. “Kami tidak hanya ke sini untuk memberi kabar. Saudara kandung almarhumah telah mengajukan tuntutan hukum resmi atas tindakan kelalaian berat yang menyebabkan kematian (grave felony negligence). Anda sengaja memutus komunikasi dan menelantarkan orang sakit yang bergantung total pada Anda.”
Saat borgol besi yang dingin itu mengunci kedua pergelangan tanganku, mataku menatap ke lantai. Layar ponsel yang retak masih menyala, menampilkan akhir dari video yang direkam Mira sebelum dia kehilangan kesadarannya.
Di dalam video itu, Mira tersenyum getir, air matanya jatuh membasahi bantal.
“Raf… aku tahu tentang Clarisse. Aku melihat pesan di ponselmu sebelum kamu pergi. Aku sengaja tidak menahanmu karena aku ingin melihat, apakah masih ada sedikit saja rasa cinta tersisa di hatimu untukku… Tapi kamu tidak pernah menelepon. Maafkan tubuh lumpuhku yang merepotkanmu. Sekarang, aku membebaskanmu…”
“Tidak… Mira! MIRA!” aku menjerit histeris, jatuh berlutut di lantai kamar yang dingin.
Aku menangis sejadi-jadinya hingga dadaku sesak, memohon ampun pada ruangan yang kosong. Syal dan selai stroberi yang kubeli dari Baguio berserakan di lantai—sebuah simbol kemunafikan yang menjijikkan.
Aku mendapatkan kebebasan yang selama ini kuinginkan di dalam pikiran busukku. Namun, harga yang harus kubayar adalah nyawa wanita yang pernah berjanji sehidup semati bersamaku, dan sisa hidupku yang kini hancur, mendekam di balik jeruji besi, selamanya dihantui oleh bayangan seratus empat belas panggilan tak terjawab yang sengaja kuabaikan.